Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Demira Kania Sasdira XI IPS 3

Eyang Henny, Saksi Pertempuran di Semarang 

Pada zaman sekarang, kita semua dapat menikmati kehidupan bangsa merdeka dengan tenang dan tentram. Hal ini dikarenakan gigihnya perjuangan para pahlawan pada masa kolonial dan imperialisme dahulu. Untuk itu, sebagai rasa hormat dan terima kasih kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, saya mencoba mencari informasi mengenai pahlawan yang hidup disekitar saya.

Pada saat kata pahlawan diutarakan, pada umumnya yang terpikirkan adalah pemuda yang ikut berperang melawan pasukan Belanda dan Jepang dan mencucurkan darah. Namun sebenarnya pahlawan itu lebih dari sekedar mencucurkan darah untuk negeri tercinta. Menurut situs Wikipedia, kata pahlawan memiliki pengertian sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Namun menurut pendapat saya, orang-orang yang walaupun tidak dikenal, tidak diberi piagam dan tidak dimasukan dalam daftar pahlawan nasional, tetapi telah memberikan kontribusi sekecil apapun untuk bangsa tercinta, juga merupakan pahlawan.

Berpegang pada pendapat saya diatas, saya berpandangan bahwa orang-orang biasa—warga sipil—yang membantu dengan menyediakan tempat perlindungan untuk para pejuang, atau memberi bantuan lain, sekecil apapun, seharusnya juga dihargai sebagai pahlawan. Bagaimanapun, tanpa bantuan mereka, para pejuang tidak akan mampu bertahan hidup, dan Indonesia tidak akan merdeka.

Karenanya saya memilih untuk mewawancarai eyang putri saya, yang bernama Siti Hendradni, karena beliau mengalami masa pendudukan Belanda dan pendudukan Jepang, dan dapat menceritakan pengalamannya sebagai saksi.

A.     Biografi

Pada tahun 1934, di kota Semarang, lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Siti Hendradni dari ayah Mr. Soetikno, dan ibu Soeniati. Anak perempuan yang lebih sering dipanggil Henny ini adalah anak ke-lima dari tujuh bersaudara. Kakak pertama bernama Soemaryatni, kakak kedua Drs. Pramono, kakak ketiga Soetarno, M.A., kakak keempat Siti Woerjani, adik pertama Ir. Deworo, dan adik kedua Haryono, S.E. Beliau, Henny, dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan dan kebutuhan hidupnya terpenuhi, dengan ayahanda yang menjabat sebagai hakim di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Militer di kota Semarang.

Dikarenakan pekerjaan ayahanda dari beliau sebagai pejabat negeri, saat kecil beliau sering berpindah-pindah tempat tinggal. Dari Semarang di Jawa Tengah berpindah ke Purwokerto, lalu ke Bandung di Jawa Barat, kemudian ke Kudus, Jawa Tengah.

Di kota Kudus lah, beliau pertama kali bersekolah, yaitu dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai dengan tingkat sekolah dasar kelas dua SD, di sekolah ELS (Europeesche Lagere School). Beliau bersyukur bahwa dirinya termasuk beruntung, karena pada masa penjajahan tidak semua anak Indonesia dapat mengenyam pendidikan bangku sekolah —beliau dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah karena pengaruh kedudukan ayahanda beliau yang seorang hakim.

Kemudian setelah lulus SD kelas 2 (tahun 1943), beliau kembali ke kota kelahiran, yaitu Semarang. Namun beliau tidak dapat berlama-lama tinggal di Semarang oleh karena pada masa itu terjadi pergantian kekuasaan, dari kekuasaan Belanda ke kekuasaan Jepang. Pada saat pertempuran, beliau mengungsi ke kota Salatiga, selama dua tahun.

Tahun 1945 bangsa Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.  Tetapi walaupun Indonesia telah merdeka, situasi kota Semarang masih belum aman, sehingga beliau kembali mengungsi ke kota Kendal selama dua tahun, dan melanjutkan sekolah di kota tersebut.

Pada saat pertempuran sudah mereda dan situasi kota Semarang sudah aman, beliau kembali ke kota kelahirannya dan melanjutkan sekolah dari tingkat SMP hingga tingkat SMA. Pada saat beliau duduk di bangku SMA kelas 2, ayahanda beliau meninggal dunia. Karena keadaan keuangan keluarga yang tidak seperti dahulu lagi, maka untuk membantu membiayai pendidikan kedua adiknya, setelah lulus dari SMA, beliau bekerja di bagian administrasi kota dan mengambil kursus B1 (Bahasa Inggris) selama setahun.

Pada tahun 1956, beliau pindah ke Jakarta dan mengambil berbagai macam kursus, seperti mengetik, stenographi (menulis pendek dan cepat), dan hitung dagang, sambil bekerja di bagian sekretarial Biro Devisen Perdagangan (sekarang sudah bergabung menjadi Bank Indonesia).
Setelah beberapa tahun bekerja di Jakarta, beliau bertunangan dengan adik dari Prof. Dr. Soepomo, S.H. yang adalah kerabat dari almarhum ayahanda beliau. Soediro Wignyodipuro, nama tunangan beliau, ketika itu menetap di London, Inggris, tinggal bersama kakaknya yang kebetulan setelah menjabat sebagai Menteri Kehakiman Republik Indonesia kemudian ditugaskan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris. Sang tunangan saat itu masih mahasiswa School of Economics, University of Cambridge di kota Cambridge, Inggris, dan adalah orang Indonesia pertama yang berhasil masuk University of Cambridge. Eyang Henny baru menikah setelah sang tunangan lulus dari University of Cambridge (mendapat gelar Bachelor of Arts), dan dari John Hopkins University, Amerika (Master of Arts). 

 Eyang Henny (kiri), dan Eyang Soediro (kanan)

Anak pertama beliau lahir setelah dua tahun pernikahan, dan anak ketiga dan terakhir pasangan ini adalah ibu saya; Mira Diantri. Selama beberapa tahun sang suami mengabdi sebagai pegawai negeri di Departemen Perdagangan, dan sempat menjabat sebagai SekJen Departemen Perdagangan. Selama tinggal di Jakarta, beliau dan keluarga beberapa kali berpindah tempat tinggal, salah satu rumahnya terletak di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru.

Eyang Henny saat masih muda (atas), Eyang Henny bersama keluarga (bawah)


Pada tahun 2007, suami beliau meninggal dunia setelah beberapa bulan bergulat dengan penyakit kanker. Setelah ditinggal sang suami, beliau hidup sendiri selama dua bulan sebelum akhirnya tinggal bersama keluarga anaknya yang ketiga—ibu saya sekeluarga, keluarga saya. Hingga kini beliau tinggal bersama saya.

B.     Peran

Bagi saya, eyang putri saya telah memberi kontribusi yang cukup berarti bagi bangsa Indonesia, walau mungkin tidak sebanding dengan para pahlawan nasional. Selain itu beliau juga saksi dari peristiwa pertempuran Clash ke-I dan Clash ke-II, pada masa-masa mempertahankan kemerdekaan.

Dimulai dari tahun 1942, pada saat Belanda menyerah kepada pasukan Jepang; beliau melihat bahwa pergantian kekuasaan pada masa itu penuh dengan darah. Perlakuan para pasukan Jepang sangat kejam, lebih kejam dibandingkan pasukan Belanda, dan mereka menangkapi kemudian memasukkan prajurit-prajurit Belanda yang ada, ke dalam penjara.

Pada saat peristiwa itu terjadi, eyang putri saya masih duduk di bangku kelas 3 SD. Dikarenakan pertumpahan darah dan bahaya yang terus mengancam di kota Semarang pada saat itu, beliau diungsikan bersama adik-adiknya ke kota Salatiga. Perjalanan menuju ke tempat pengungsian tersebut menggunakan kereta api, kemudian berhenti di stasiun kereta api yang dikenal sebagai Stasiun Tuntang. Selama perjalanan menuju ke tempat pengungsian, beliau sering bertemu dengan pasukan Jepang. Setiap kali bertemu dengan pasukan Jepang, diharuskan untuk menunduk dan memberi salam saikiri.

Bagi beliau, walaupun secara fisik sudah jauh dari pertempuran di Semarang, rasa takut dan khawatir senantiasa membayangi. Suara-suara peluru dan ledakan masih juga terdengar sampai ke tempat pengungsian. Dua tahun berlalu, kemudian beliau kembali ke kota Semarang, namun masih hidup dibawah penjajahan Jepang.

Sampai pada akhirnya datang kabar bahagia melalui radio pada tanggal 17 Agustus tahun 1945; hari Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda bersorak  kemenangan dan kebanggaan atas bangsanya. Namun para pasukan Jepang yang masih menduduki kota Semarang tetap bertahan dan tidak mau menyerahkan kekuasaan. Pertumpahan darah pun tidak dapat dihindari dan terjadilah pertempuran di kota Semarang yang dikenal sebagai Pertempuran 5 Hari.

Pertempuran itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba, sehingga tidak ada kesempatan untuk mengungsi. Maka warga sipil harus berlindung di dalam rumah dan tempat perlindungan (bunker) yang ada. Letak rumah eyang saya berada tepat di depan sebuah sekolah teknik yang dijadikan sebagai tempat persembunyian pemuda-pemuda yang sedang bertempur.

Menurut beliau, pertempuran ini sangat tidak seimbang, karena para pejuang pemuda tidak memiliki senjata apapun, dan tidak mempunyai bekal makanan ataupun perlengkapan medis. Sedangkan pasukan Jepang memiliki senjata dengan berbagai macam bentuk dan perbekalan serta dilindungi oleh penguasa. Beliau menyaksikan sendiri kegigihan para pemuda berjuang menggunakan senjata curian dan bambu runcing, melawan pasukan Jepang yang memiliki senjata lebih canggih.

Untuk membantu para pemuda, selama pertempuran lima hari (atau ada juga yang menyebutnya Clash ke-I) berlangsung, ibu dari beliau memasak persediaan beras dan kecap yang ada di rumah menjadi bubur dan memberikannya kepada para pemuda. Makanan yang ada sangat terbatas, dan semua harus saling berbagi. Selain keterbatasan makanan, akses untuk memberikan makanan kepada para pemuda bukan hal yang mudah. Untuk menyeberang jalan dari rumah beliau sampai ke sekolah teknik tempat pemuda bersembunyi sangatlah susah dikarenakan sering ada prajurit Jepang yang mengintai-ngintai disekitar. Beliau ingat, hanya pada saat keadaan sangat sepi, satu atau dua pemuda akan bergantian dan datang ke rumah beliau untuk makan. Beliau sendiri pun pernah harus menyeberang jalanan seorang diri untuk mengantarkan semangkuk bubur.

Walau pada akhirnya pertempuran 5 hari selesai, tetap masih ada prajurit-prajurit Jepang yang belum mau menyerah. Di beberapa daerah masih terjadi pertempuran kecil-kecil, walau kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan.
Pertempuran besar pun pada akhirnya tidak bisa dihindari dan terjadi Clash ke-II, pada sekitar tahun 1946.

Saat pertempuran kedua ini, eyang saya masih dapat mengungsi keluar dari kota Semarang, ke kota Kendal. Beliau tinggal di kota Kendal selama dua tahun.
Selama masa pengungsian, setiap hari beliau melihat mobil ambulans dan pengungsi-pengungsi lainnya yang datang memasuki kota Kendal. Pada tahun pertama pengungsian di kota Kendal, beliau tidak bersekolah. Dengan bantuan sepupu beliau, pada tahun kedua beliau mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

Setiap hari di sekolah, semua anak diminta untuk membuat krans bunga menggunakan bahan-bahan sederhana seperti batang daun pisang yang diikat, kemudian dihias dengan berbagai macam bunga, seperti; bunga melati, bunga sepatu, bunga sokka—bunga apapun yang ada. Setelah pulang sekolah, sekitar jam dua siang, para murid pergi ke rumah karesidenan, dimana jenazah-jenazah pemuda yang telah gugur saat berjuang untuk bangsa ditempatkan. Kemudian mereka akan mengantarkan jenazah-jenazah tersebut ke makam, dan menaruh krans bunga buatannya di atas makamnya.

Beliau mengatakan bahwa tidak mungkin untuk melupakan banyaknya darah yang mengucur dari jenazah-jenazah pemuda. Ada beberapa yang karena darahnya tidak bisa berhenti mengucur, sehingga bocor petinya. Ada juga yang petinya tidak bisa ditutup karena jenazahnya sudah terlalu kaku.

Pada tahun 1948, pertempuran sudah mulai mereda, dan keadaan sudah berangsur damai. Beliau pun kembali ke kota Semarang dan melanjutkan sekolah. Sedikit demi sedikit prajurit berkebangsaan Belanda yang ditangkap dan dimasukan ke penjara semasa pendudukan Jepang, atas kebijaksanaan pemerintah Indonesia, dipulangkan ke negara asal, walaupun akhirnya lebih banyak yang meninggal sebelum berhasil dipulangkan.

Perang merebut kemerdekaan maupun untuk mempertahankan kemerdekaan meninggalkan kegetiran yang mendalam. Terungkap dari kisah seputar perang mempertahankan kemerdekaan ini adalah, dari semua sisi: Indonesia, Jepang, maupun Belanda, tak terhitung banyaknya korban pertumpahan darah.

 

No comments:

Post a Comment