Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Deniza Riski XI IPA 3


Nenek Jastini, Pendamping dan Penyemangat Setia Suami

Sebagai seorang murid selama ini saya menilai sejarah bangsa Indonesia hanya dari teks didalam buku. Pengetahuan-pengetahuan tentang berbagai macam peristiwa penting yang terjadi saat itu tidak lebih hanya menjadi sebuah wawasan dan informasi belaka. Perjuangan para pahlawan dan orang-orang yang terlibat disekitarnya terasa begitu jauh. Seakan itu semua terjadi di waktu yang sudah sangat lama dan sama sekali tidak bisa kita rasakan jejaknya.

Terlebih saat ini keadaan Indonesia sudah merdeka, dengan kondisi yang damai dan menuju ke negara modern yang mulai mapan. Sama sekali tidak terpikirkan bagi murid seperti saya yang hidup di era globalisasi seperti ini bagaimana keadaan Indonesia saat memperjuangkan kemerdekaannya dulu. Hanya membayangkan dari sumber bacaan, gambar-gambar foto yang tercetak hitam putih, serta beberapa potongan video dari cuplikan peristiwa-peristiwa sejarah tersebut.

Sebenarnya Indonesia baru berumur 68 tahun sejak teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir. Soekarno di kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta Pusat, yang kini merupakan tempat didirikannya tugu Proklamasi. Setelah disimak kembali, masih banyak pelaku sejarah yang dahulu tinggal di masa perjuangan Indonesia. Masih banyak saksi hidup yang merasakan secara langsung bagaimana Indonesia dimasa awal mula terbentuknya negara ini. Semua pelaku sejarah dan saksi tersebut pasti memiliki sebuah peran kecil bagi negara, tetapi membutuhkan pengorbanan yang luar biasa besarnya dan pasti akan terasa sangat membekas di ingatan para pelaku sejarah dan saksi tersebut.

Pada kesempatan kali ini, untuk memenuhi tugas sejarah wawancara pelaku sejarah, saya mewawancarai adik dari kakek saya. Yang merupakan isteri dari seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Yang menurut saya sangat berpartisipasi untuk memajukan Negara Republik Indonesia sejak awal kemerdekaannya.


I. Biografi
Beliau dilahirkan dengan nama kecil Jastini di Madiun provinsi Jawa Timur. Lahir pada tanggal 24 Agustus 1941. Beliau dahulu menempuh pendidikan terakhir di SGKP (Sekolah Guru Kepandaian Putri) di Madiun. Beliau menikah dengan Bapak Soesilo yang saat itu berdinas sebagai Tentara Nasional Indonesia berpangkat Letnan Satu, dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Pendidikan suami beliau setelah lulus dari SMA, suami beliau masuk menjadi taruna Akademi Militer (Akmil) di Magelang selama tiga tahun, dilanjutkan dengan Akademi Teknik Angkatan Darat selama satu tahun di Bandung. Suami beliau berdinas di ketentaraan selama 28 tahun dengan berbagai jabatan dan tugas yang dijalankan. Jabatan dan pangkat terkahir suami beliau yaitu sebagai Asisten Sosial Politik Daerah Kodam IX Udayana di Denpasar provinsi Bali, dengan pangkat Kolonel. Saat suami beliau memasuki masa persiapan pensiun (MPP), suami beliau ditugaskaryakan di Kertas Kraft Aceh (KAA).

Sepeninggal suami serta anak-anak yang telah mandiri dengan keluarganya masing-masing, beliau mencari kesibukan bergabung dengan teman-teman seangkatannya membentuk yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan, dan saat ini telah memiliki sekolah PAUT (Pendidikan Anak Usia Dini) yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu. Kemudian beliau juga memberikan kursus menjahit dan memasak bagi ibu-ibu didaerah pinggiran kota. Beliau juga turut aktif dalam organisasi persatuan Warakawuri, yaitu organisasi dari isteri para purnawirawan yang suaminya telah meninggal dunia.


II. Peranan
Masa bertugas yang sekian tahun itu dilalui dalam berbagai jabatan yang pernah dijalankan. Diantaranya sebagai Komandan Pleton di Zipur (Zeni Tempur) provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai Komandan Kompi di Zipur provinsi Kalimantan Barat. Jabatan yang diemban berikutnya sebagai Wakil Komandan Seni Kodam (Komando Daerah Militer) di Kodam V Jaya Jakarta. Kemudian beliau menjabat sebagai Komandan Kodim (Komando Ditrik Militer) di Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya menjabat sebagai Kepala Staf Korem (Komando Resor Militer) di Kupang provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian sebagai Asisten Teritorial di Kodam IX Udayana di Denpasar provinsi Bali. Sebagai kepala Staf Kekaryaan Daerah Kodam IX Udayana Denpasar provinsi Bali. Dilanjutkan sebagai Asisten Sosial Politik Kodam IX Udayana Denpasar Provinsi Bali. Kemudian mendapatkan Tugas Karya di Kertas Kraft Aceh (KKA) yang terletak di Lokseumawe dan Takengon.

Beliau sebagai seorang isteri prajurit Tentara Nasional Indonesia yang selalu berpindah-pindah tugas di berbagai daerah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam rangka memberi dukungan dan kesuksesan tugas suami, beliau selalu setia mendampingi dan ikut serta dimana pun suami beliau ditugaskan oleh negara.

Dari sekian jabatan dan tugas yang pernah diemban oleh suami beliau sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (yang pada masa itu bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), menurut beliau ada beberapa daerah yang cukup memberikan kesan disaat beliau mendampingi suami beliau bertugas. Diantaranya saat mendampingi suami beliau bertugas di Kalimantan Barat sebagai isteri Komandan Kompi, beliau sangat terkesan dengan kondisi alam yang masih berupa hutan belantara, dan cukup membuat kekhawatiran tersendiri dengan kondisi lingkungan seperti itu. Daerah lain yang juga memberikan kesan yaitu saat beliau mendampingi suami beliau di Denpasar provinsi Bali, sebagai isteri Asisten Teritorial Kodam IX Udayana. Disana selain mendampingi kunjungan-kunjungan ke daerah pedalaman, juga sering mengantar tamu yang hendak berlibur ke pulau Dewata Bali.

Bagi beliau selama mendampingi suami beliau bertugas, beliau merasa sangat senang, karena bisa mendampingi suami melaksanakan tugas negara, yaitu untuk mengamankan wilayah negara, sekaligus bisa melihat dan merasakan kehidupan dan budaya di daerah-daerah yang sulit dan terpencil di beberapa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Zipur yang merupakan kepanjangan dari Zeni Tempur Angkatan Darat, adalah salah satu kesatuan di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang bertugas membangun infrastruktur utamanya untuk kepentingan Tentara Nasional Indonesia dan masyarakat. Diantaranya bertugas untuk membuat jalan, membuat lapangan terbang, membuat jembatan, membuat lapangan pertanian, dll. Saat menjabat sebagai Komandan Kompi Zipur di Pontianak provinsi Kalimantan Barat, beliau mendampingi suami beliau yang disana bertugas untuk memperbaiki dan memperluas lapangan terbang Supadio yang ada di Pontianak, dengan peralatan yang sederhana dan bahan yang sangat terbatas hanya dengan semangat dan keyakinan yang tinggi serta kekompakkan disemua unsur yang terlibat. Dengan susah payah lapangan terbang yang saat itu kurang terawat dan hanya bisa digunakan untuk pendaratan pesawat-pesawat kecil (pesawat baling-baling) dapat dikembangkan secara optimal. Demikian halnya dengan jalan-jalan yang dibuat saat itu di pedalaman Kalimantan Barat, dapat diselesaikan walaupun sangat banyak hambatan yang dihadapinya. Begitu juga dengan pembukaan lahan pertanian untuk masyarakat disana.

Sedangkan di Aceh, saat mendapat Tugas Karya di Kertas Kraft Aceh (KKA), suami beliau memimpin pembuatan jalan dari Lokseumawe sampai dengan Takengon yang melintasi hutan-hutan dan sungai, yang sampai dengan saat ini telah ditingkatkan menjadi jalan provinsi di wilayah tersebut.

Kondisi kehidupan masyarakat di lingkungan bertugas suami beliau saat itu dimata beliau. Mengingat masa itu merupakan masa-masa sulit setelah kemerdekaan dan daerah-daerahnya  merupakan daerah terpencil di wilayah Indonesia, khususnya di wilayah luar pulau Jawa. Kehidupan masyarakatnya sangat-sangat sederhana dan agak terbelakang, sehingga fungsi Tentara Nasional Indonesia saat itu selain untuk mengamankan kondisi daerah, juga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Antara lain melalui pembukaan lahan-lahan pertanian serta cara bercocok tanam yang baik, membangun sekolah-sekolah untuk anak-anak di pedalaman, dll.

Perhatian pemerintah Republik Indonesia kepada para prajurit Tentara Nasional Indonesia kepada para prajurit yang masih aktif bertugas maupun yang sudah purnawirawan atau purnatugas, secara finansial disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara yang pada saat itu cukup terbatas. Sehingga kehidupan prajurit Tentara Nasional Indonesia dan keluarganya berpola hidup sederhana, disesuaikan dengan pendapatan yang diterima dari negara, bahkan ada keluarga prajurit yang hidup pas-pasan. Namun demikian, sebagian besar keluarga besar Tentara Nasional Indonesia memiliki jiwa kebangsaan dan kebanggan yang tinggi terhadap Tentara Nasional Indonesia yang telah berjasa mempertahankan dan mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingat Tentara Nasional Indonesia merupakan garda terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehidupan Tentara Nasional Indonesia yang sederhana tersebut beliau menanamkan jiwa kemandirian kepada putra-putri beliau untuk menentukan pilihan karir dan masa depannya sesuai dengan keinginan dan minat masing-masing putra-putrinya. Saat ini putra-putri beliau tidak ada yang berkarir di militer, namun sukses di bidang yang lainnya, antara lain sebagai tenaga pengajar (dosen di universitas negeri di Jakarta), dan seorang lagi sebagai dokter yang bertugas di Amerika.

Harapan beliau terhadap anak-anak muda sekarang yang merupakan penerus perjuangan dari pendiri Negara Republik Indonesia ini, beliau berharap agar generasi penerus tersebut lebih peka terhadap lingkungan disekitarnya baik lingkup lingkungan domestik maupun lingkungan nasional, untuk kejayaan Negara Republik Indonesia. Antara lain peka terhadap lingkungan sekitarnya, seperti kondisi kehidupan masyarakat, peduli terhadap anak-anak yang kurang mampu, disiplin terhadap diri sendiri (taat peraturan), menjadi lebih sopan dan bertanggung jawab, menjaga etika dan memiliki moral yang baik, karena itu merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang kurang mendapat perhatian saat ini. Peka terhadap negara, melakukan demokrasi yang bertanggung jawab, tidak hanya memberikan kritik tapi juga memberikan solusi. Dalam belajar, anak-anak . Jadilah generasi, generasi yang jangan mudah menyerah, ambillah semangat para pendahulu (pejuang kemerdekaan) yang pantang menyerah demi tercapainya cita-cita.


Setelah melakukan wawancara bersama dengan saksi pelaku sejarah tersebut, saya merasa dapat sedikit membayangkan bagaiman kondisi di masa perjuangan mereka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dahulu. Saya juga belajar dan memahami beberapa hal, yaitu terutama semangat juang para prajurit yang memang seperti terceritakan oleh buku-buku yang selama ini saya pelajari. Arti sebenarnya dari berjuang keras untuk mendapatkan dan menciptakan sesuatu yang diimpikan, dengan pantang menyerah dan penuh kebersamaan serta kebanggan menjadi bagian dari pejuang Negara Republik Indonesia. Semoga generasi-generasi saat ini akan dapat mengabulkan harapannya untuk terus menjaga kejayaan Negara Republik Indonesia.


Jalan Lokseumawe - Takengon, Aceh
Saat memperbaiki Lapangan Terbang Supadio, Kalimantan Barat
Membuka Lahan Pertanian dan Panen Raya, Kalimantan Barat
Saat Panen Raya, Kalimantan Barat

No comments:

Post a Comment