Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Dhia Nada Nabila

WARTAWAN SUKSES


Untuk tugas sejarah kali ini, saya diharuskan untuk mencari seseorang yang pernah merekam sebuah kesaksian sejarah atau dalam kesempatan ini, kebetulan kakak dari nenek saya adalah seorang wartawan kantor PIA dan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) “Antara”. Dalam kesempatan ini saya bertemu dengan nenek saya, Nining Mulyoto, ibu dari ayah saya, yang biasa saya panggil Nini, dalam rangka mewawancarai nenek saya untuk mencari informasi mengenai kakak dari nenek saya yang bernama Gandhi Sukardi yang biasa dipanggil dengan cucu-nya, Aki Andhi. Saya melakukan wawancara mengenai Aki Andhi melalui Nini karena di tahun 2011 Aki Andhi telah meniggal dunia.
Beliau merupakan anak ke lima dari sepuluh bersaudara dari pasangan Didi Sukardi dan H.I Sekarningsih. Beliau diberi nama Gandhi Sukardi, yang biasa di panggil Gandhi atau sekarang biasa di panggil oleh cucu-nya, Aki Andhi. Beliau dilahirkan tanggal 19 Desember tahun 1929 di Sukabumi, Jawa Barat. Nenek saya, Nining Mulyoto merupakan adik dari Aki Andhi yang nomor 5.
Ayah dari 7 anak ini mahir berbahasa Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, German, Portugal dan Jepang. Anak pertamanya bernama Samudra Sukardi, dengan istri Poppy Filsafah Damiri dan memiliki anak yang bernama Putri Manik Maya dan Adi Putra Perkasa. Anak kedua bernama Laksamana Sukardi, dengan istri Rethy Alexandra Wulur dan memiliki anak yang bernama Noorani Handara, Indra Prajna, Galuh Swarna, dan Galih Anugrah. Anak ketiga bernama Wina Amanda Sukardi, dengan istri Amalia Trisnawati dan memiliki anak yang bernama Kausar, Fath, Raad. Anak keempat bernama Boy Cakrawala Sukardi, dengan istri Latifah Bahasuan dan memiliki anak yang bernama Akira Maulana, Akira Fatiya, dan Akiko Sabrina. Anak kelima bernama Panca Putra Sukardi, dengan istri Rina Yoshinta dan memiliki anak yang bernama Kaafi Nugraha. Anak keenam bernama Marcapada Hanuardi Sukardi, dengan istri Gitawati Setianingrum dengan anak yang bernama Ramya Hayasrestha, Raras Dwiyjapa, dan Rafa Prajamanja. Dan yang terakhir anak ketujuh yang bernama Nuke Prihatini, dengan suami Syahrir dan memiliki anak yang bernama M. Bilal, M. Hamzah, Sarah Afifah, Hana Hanifah, dan M. Afisena. 
Beliau memulai pertama kali menulis sejak umur delapan tahun dan masih duduk di kelas 2 SD di sebuah sekolah dasar katolik di Sukabumi, Jawa , ketika diminta oleh seorang gurunya menulis laporan pandangan mata dari atas sebuah pesawat udara “capung”, tentang keindahan alam Parahyangan untuk sebuah majalah sekolah yang terbit di bandung.
Beliau disuruh oleh gurunya yang merupakan orang Belanda yang bernama Felix Bos untuk membuat tulisan tersebut karena beliau adalah satu satunya murid-nya yang paling mahir berbicara dan mengarang cerita dalam bahas Belanda. Karena itulah beliau diberikan hadiah yaitu diajak terbang dengan guru-nya naik pesawat terbang jenis Piper, pesawat yang khusus digunakan untuk olahraga dan hanya bisa memuat tiga penumpang.
Selain bisa naik pesawat terbang, hasil liputan beliau dari udara pun akan diterbitkan. Beliau duduk di belakang instruktur yang sekaligus juga merupakan pilot dari pesawat tersebut. Beliau duduk di pangkuan sang guru, menyaksikan pemandangan indah dari Jawa Barat.
Setelah tulisan pengalaman beliau naik pesawat benar – benar dicetak, beliau merasa bahwa peristiwa itu pula lah yang menjadi awal mula muncul dan tumbuhnya minat serta bakat kewartawanannya.
Menurut beliau, profesi wartawan telah mengajarkan beliau untuk bersikap jujur kepada siapapun. Fakta harus dikemukakan tanpa manipulasi. Bagus harus bagus, jelek juga mesti dikatakan jelek, meskipun melakukannya tidak selalu mudah dan terkadang penuh tantangan ancaman, dan memerlukan keberanian khusus.
Beliau juga pernah bercerita bahwa profesi wartawan mengajarkannya agar tetap berimbang, melihat masalah dari dua sisi yang berbeda agar mendapat prespektif yang lengkap dan tidak picik.
Mungkin karena profesi wartawan telah mendarah daging dalam diri beliau. Darah wartawan mengalir dari ayah beliau, Didi Sukardi, salah seorang tokoh perintis pers Indonesia yang pernah mendirikan surat kabar “Oetoesan Indonesia” pada zaman jajahan Belanda. Dan sekarang, salah satu dari putra beliau, Wina Armada Sukardi, mengikuti jejaknya sebagai wartawan.
Menurut beliau, berprofesi sebagai wartawan memang terbiasa mencari kebenaran, tak peduli datang darimana atau ada dimana saja. Bahkan terkadang beliau meliahat kebenaran harus dengan mendobrak norma yang ada.
            Beliau merupakan seorang yang pembangkang di masa kecilnya. Beliau sangat tidak menyukai kepemimpinan Jepang di Indonesia zaman dahulu. Pada permulaan pendudukan Jepang pada tahun 1942, banyak teman-teman beliau yang pindah sekolah dari Sukabumi ke Bogor untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat sekolah menengah. Dan beliau pula harus ikut tinggal di bogor untuk melanjutkan pendidikannya. Sedari dahulu saat beliau masih bersekolah tingkat sekolah menengah, beliau sudah yakin dengan kebengisan penjajah Jepang saat itu haruslah dilawan.
            Keyakinan beliau bermula saat beliau sedang latihan olahraga dibawah pengawasan tentara penjajah Jepang. Beliau merasakan bahwa cara para tentara Jepang melatih luar biasa ketat. Katanya, itu adalah bentuk latihan disiplin. Sekolah pun setiap pagi diwajibkan untuk mengikuti upacara menghormat kaisar Jepang dengan cara membungkukkan diri ke arah Tokyo. Beliau tidak mau menjalankan praktek semacam itu. Buat beliau, harus ada penjelasan yang masuk akal bahwa Jepang memang sekuat itu. Untuk beliau waktu zaman dahulu itu, lebih baik masuk penjara atau mati daripada melakukan sesuatu yang tidak beliau yakini.
            Untuk mencari kebenaran mengenai hal tersebut, berbagai upaya beliau lakukan. Salah satunya adalah dengan mencari informasi dari buku-buku di luar buku resmi dari sekolah. Tampaknya hanya beliau yang berani mencari buku-buku pelajaran bahasa Inggris di pasar-pasar. Alasannya, Inggris, Amerika dan Belanda adalah musuh-musuh Jepang. Dan pada zaman dahulu semua buku yang berbau sekutu diharamkan oleh tentara Jepang. Semuanya disegel untuk mencegah rakyat mendengar propaganda Amerika, Inggris dan Belanda.
            Setelah di perlakukan dengan sebegitu kerasnya oleh tentara Jepang, beliau merasa tidak takut dan terus menganjurkan teman-teman beliau dan saudara-saudaranya untuk memulai belajar bahasa Inggris secara sendiri-sendiri. Dan setelah beliau membaca berbagai informasi, beliau meramalkan dengan mudahnya bahwa tentara Jepang akan kalah perang melawan sekutu, Amerika dan Inggris.
            Menurut beliau, kebanyakan orang-orang dewasa dan murid-murid tidak percaya dengan ramalan beliau. Beliau juga pernah berkata bahawa mungkin karena saat itu Jepang masih sangat kuat. Bahkan dulu di sekolah beliau, pimpinan tentara Jepang menyelenggarakan kerja bakti dimana murid-murid sekolah beliau diajak ke pantai Pelabuhan Ratu dan disuruh memasang kawat berduri sepanjang pantai untuk mencegah pendaratan tentara sekutu.
            Beliau secara terus menerus menolak ikut bekerja seperti itu. Bahkan tidak jarang pula beliau berusaha mempengaruhi teman-temannya agar tidak ikut kerja bakti mendirikan kawat berduri tersebut di pantai Pelabuhan Ratu. Menurut beliau, Jepang memang telah menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Jepang juga tampak berusaha keras meyakinkan bahwa sekutu akan kalah. Karena beliau mempunyai pendapat yang berbeda dengan orang-orang Jepang, beliau terancam dikeluarkan dari sekolah beliau. Padahal, ketika itu beliau adalah wakil pemimpin umum para murid-murid di sekolah beliau, beliau diangkat oleh guru-guru beliau karena nilai-nilai mata pelajaran beliau cukup bagus.
            Setelah beliau kembali ke Sukabumi, beliau terus belajar bahasa Inggris, German, dan bahasa Prancis dari berbagai buku tua warisan zaman colonial Belanda. Bahkan beliau sampai mahir berbahasa Inggris karena sering mendengarkan radio yang berbahasa Inggris.
Suatu hari, beliau mendengar bahwa tentara Jepang akan melakukan pengeboman di sukabumi, dan daerah yang akan di bom ituadalah sebuah  tempat gudang gas dan bensin. Berjaga-jaga sebelum kejadian terburuk akan terjadi, beliau memberitahukan kepada keluarga dan saudara saudaranya untuk pergi dari Sukabumi sebelum pengeboman terjadi. Dengan keras kepala, beliau memaksa keluarga dan meyakinkan bahwa beliau akan menuggu di rumah saja dengan tentara Indonesia. Syukur Alhamdulillah ternyata tentara Indonesia berhasil menghadang tentara Jepang sebelum masuk ke Sukabumi dan akhirnya pun ledakkan bom yang ternyata memang di rencanakan oleh tentara JEpang, tidak terjadi.
Di usia 17 pada tahun 1945 beliau pergi ke Jogja sendirian karena ingin mempelajari kebudayaan Jawa Timur dan melihat keadaan perang di Jawa Timur saat itu. Beliau pergi ke Jogja tanpa uang yang banyak bahkan beliau sampai bersinggah di istana Jogja. Suatu malam saat hujan deras, beliau hendak kembali ke istana Jogja untuk bermalam di sana, beliau bertemu dengan Ibu Megawati dan beliau diberi susu panas dari Ibu Megawati yang sedang ada di istana Jogja saat itu.
Pada bulan Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah setelah sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan itu membenarkan analisis beliau mengenai turunnya penjajah Jepang.  
Beberapa tahun telah berlalu, beliau ditawarkan untuk sekolah di Belanda oleh pastor Felix Bos yang merupakan guru beliau di masa kecilnya. Di tahun 1947 beliau menyelundup di kapal perang untuk pergi ke belanda sendiri. Di Belanda beliau diizinkan untuk tinggal di rumah orang Jawa yang beristri orang Spanyol. Berhubung pasangan Jawa dan Spanyol tersebut tidak mempunyai anak, beliau dianggap sebagai anaknya sendiri. Disitu beliau mulai menulis segala keadaan yang terjadi di Belanda. Mulai dari perjalanan berangkat sampai bagaimana kehidupan beliau disana. Untuk menutupi biaya hidup, beliau bekerja di restoran Indonesia.
Ketika masih di Belanda, beliau mendengar banyak serangan militer yang ingin menyerang Indonesia, muncul keinginan dalam dirinya untuk meledakkan sebuah mercon besar di halaman gedung parlemen Belanda di Den Haag. Suatu ketika beliau bercerita mengenai keinginannya ke  salah satu kakak dari beliau, Eddy Sukardi, pernah menjadi komandan resimen tiga di jawa barat, bertugas menyertai presiden soekarno sebagai ajudan. Kakak beliau berkata bahwa sebaiknya beliau harus memikirkan niatnya kembali. Akhirnya beliau membatalkan idenya yang cukup ekstrim tersebut.
Setelah beliau kembali ke Indonesia, beliau mulai bekerja menjadi wartawan dan diterima di Lembaga Kantor Berita Nasional  “antara”. Beliau pernah dikirim ke New York Selama beberapa tahun sebagai utuasan dari“antara”, dan di sekolahkan di Wina, Austria karena kecerdasannya. Beliau juga pernah menjadi kepala perwakilan “antara” di Tokyo.
Beliau pernah diundang oleh pemerintah kota Oslo di Norwegia karena beliau selalu mengirim surat ke sahabat sesama wartawan di Oslo mengenai penjajahan yang terjadi di Indonesia dan betapa inginnya beliau untuk Indonesia merdeka keadaan. Surat beliau membuat pemerintah Oslo ingin menderngar ceritanya langsung dari beliau.
Setibanya beliau di rumah Sukabumi tercinta dari perjalanannya si luar negri yang sangat panjang, beliau mendapat kiriman majalah UNICEF dan berisi artikel yang beliau buat beliau mengenai nasib anak-anak Indonesia yang mengalami peperangan.
            Di tahun 2001, beliau memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) sebagai seorang “penulis surat pembaca selama tiga tahun setiap hari tanpa henti di harian Jakarta Post”.
            Di usianya yang ke 74, ketika banyak orang seumur tersebut sudah tidak bergairah lagi, beliau justru baru memulai secara intensif menulis puisi atau sajak. Kumpulan buku sajak atau puisi beliau yang pertama dengan judul “Bintang-bintang di Langit Arafah” terbit setelah usianya yang ke 75 tahun.
Wawancara bersama Nini, Nining Mulyoto adik dari Aki Andhi.

No comments:

Post a Comment