Friday, 31 May 2013

Tugas 2- Biografi Dicky Duta Hidayat XI IPA 2

 Kita harus bersyukur Jepang ada di Indonesia. Jika tidak ada Jepang, kita mungkin akan tetap terjajah dan tidak merdeka!” -Mbah Narto




Kehidupan di zaman sekarang terasa begitu mudah dan serba berkecukupan bagi sebagian besar orang. Di kehidupan sekarang, kita tidak perlu susah-susah dan khawatir kalau-kalu ada tentara Belanda datang menimbulkan kekacauan.   Namun, kenyataan bahwa Indonesia telah merdeka telah membuat generasi masa kini terlena dengan segala kenyamanan dan kebebesan yang diperoleh dari hasil jerih payah para pejuang-pejuang yang telah rela menumpahkan darah mereka demi kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan.
Seminggu yang lalu saya berkesempatan mewawancarai HR Soenarto Danusumarto namun hanya via telepon mengingat jarak yang tidak memungkinkan. Beliau merupakan ayah dari teman papa saya yang tinggal di  kota Gombong, Kebumen.

   A.    Biografi

H.R.  Soenarto Danusumarto dilahirkan di Desa Tunjungseto, kecamatan Sempor tahun 1927. Mbah Narto, sapaan akrab beliau terakhir menjabat sebagai lurah Gombong.  Kakek 11 cucu ini pun sampai saat ini masih menjabat sebagai ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) cabang Kebumen sekaligus juga sebagai Koordinator LVRI. Mbah Narto ini merupakan saksi sekaligus pelaku sejarah pertempuran Kemit yang ditandai dengan berdirinya Monumen Kemit. Monumen ini berjumlah dua yaitu yang berada di tepi jalan Karanganyar. Menurut keterangan teman papa saya, di kediaman beliau terdapat berbagai macam tombak hasil penggalan Brawijaya, dan beberapa cikal bakal Kebumen lainnya. Di bagian ruang tamunya banyak terpampang foto-foto beliau berjabat tangan bersama Presiden Soeharto, berjabat tangan bersama Presiden SBY, dsb.

 Tidak jauh dari kediaman belau yang terletak di Gang Sindoro III nomor 2 Gombong ini terdapatlah Benteng Van der Wick. Berbeda dengan pemahaman umum mengenai keberadaan Benteng Van der Wick yang dianggap sebagai benteng pertahanan, saya mencari informasi bahwa keberadaan benteng yang didirikan tahun 1818 dahulunya adalah benteng tempat menaruh persediaan pangan untuk kebutuhan ekonomi dan perdagangan. Tidak ada yang tahu siapa yang mendirikan benteng ini. Nama “Van der Wick” adalah nama yang disematkan setelah paska kemerdekaan dengan merujuk bahwa pernah salah satu kapten Belanda bernama Van der Wick meminta namanya disematkan di benteng tersebut setelah berhasil mengalahkan perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Namun beliau merunut lebih jauh bahwa nama yang pernah disandang benteng tersebut dihubungkan dengan nama David Cochius (1787-1876), seorang Jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen yang namanya juga diabadikan menjadi nama Vort (benteng) Generaal Cochius.

Beberapa ratus meter dari benteng ke arah Timur ada areal pemakaman Belanda yang saat ini sudah bercampur dengan makam penduduk. Kondisinya memprihatikan dan tidak terawat. Banyak situs penting hilang dan rusak karena faktor kelalaian dan kejahatan. Faktor kelalaian adalah kurangnya pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab dengan keberadaan makam tersebut dimana ada sejumlah makam yang jatuh ke sungai karena tergerus abrasi air sungai. Sementara faktor kejahatan adalah pencurian situs makam al., patung-patung dan batu-batuan tertentu.


   B.    Peran

Pria berumur 86 tahun ini merupakan salah satu aset dari Gombong dan Kebumen sebagai saksi dan pelaku saksi sejarah. Beliau pernah turut serta dalam menumpas PKI di Madiun pada tahun 1948. Beliau mengatakan bahwa dirinya berhak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, namun dirinya lebih memilih dimakamkan di Gombong apabila kemudian hari kelak Tuhan memanggilnya. Pernyataan Mbah Narto menunjukkan bahwa beliau memang bukan orang sembarangan dalam rangkaian sejarah kemerdekaan.

Mbah Narto ini selalu mempersilakan siapa saja yang ingin bertamu ke kediaman beliau karena menurut beliau rumahnya dapat dianggap sebagai museum hidup yang dapat dikunjungi dan diakses siapa saja dan dapat memberi pengetahuan kepada siapa saja yang mengunjungi kediaman beliau.

Beliau berkata, “Kita harus bersyukur Jepang ada di Indonesia. Jika tidak ada Jepang, kita mungkin akan tetap terjajah dan tidak merdeka!”. Saya pun agak kaget mendengar pernyataan beliau tersebut sesuai dengan hal yang saya ketahui bahwa kedatangan Jepang lebih buruk daripada Belanda karena 350 tahun Belanda memerintah dan berkuasa di Indonesia, sekalipun menjajah dan merugikan, mereka membangun infrastruktur pendidikan dan pembangunan gedung-gedung penting yang selama ini dapat kita saksikan kemegahan dan kelanggengan fungsinya di zaman modern. Sementara Jepang yang hanya memerintah seumur jagung yaitu 3,5 tahun telah melakukan kerusakan hebat dan pembunuhan luar biasa atas rakyat Indonesia. Kelaparan terjadi dimana-mana dan bangsa Indonesia mengalami masa pahit dengan memakan gaplek dan memakai pakaian karung goni.

Saya pun mencoba bertanya kepada beliau sambil memberi penjelasan seperti yang telah saya terangkan di atas mengenai Belanda dan Jepang, beliau pun menjawab demikian, “Memang jika kita hanya melihat dari sudut pandang negatifnya, Jepang memang telah mendatangkan kerusakan. Namun jika kita pandang dari sudut pandang positif, justru melalui Jepanglah kita belajar berperang dan berani melawan tentara Belanda”. Setelah ituoun saya baru mengerti makna dari pernyataan Mbah Narto yang kontroversial ini.

Beliau melanjutkan, “di bawah pemerintahan Jepang, orang Indonesia dilatih berperang dan menyanyikan lagu-lagu yang menimbulkan gelora perlawanan terhadap Belanda. Bukan hanya itu, setiap lulusan militer Jepang dalam tempo 2 bulan sudah menjadi perwira terlatih dalam medan tempur”. Beliau menyebut sejumlah nama dan yang saya ingat hanyalah dua tokoh yaitu Jenderal Sarbini yang namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kebumen karena beliau adalah warga Kebumen dan Jendral Sudirman yang berlatar belakang guru.

Dengan bekal pelatihan tempur oleh Jepang, bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi Belanda kelak. Khususnya dengan didirikannya kesatuan Tentara Pelajar (PETA) yang dikemudian hari akan menjadi pasukan-pasukan perlawanan bersenjata yang ditakuti Belanda.

Percakapan tersebut membuat saya merenungkan satu hal, bahwasanya kita harus memandang sebuah peristiwa dengan obyektif dan menyeluruh. Ada aspek positif dan negatif dibalik semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita hanya melihat aspek negatifnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang sering mengeluh dan menyerah pada takdir dan kenyataan. Namun jika kita melihat dari aspek positifnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang dapat melihat peluang dan kesempatan yang dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin dibalik penderitaan dan kesulitan hidup.

Semangat juang Pak Narto telah membangunkan kembali semangat kebangsaan sebagai kaum muda untuk meneruskan perjuangan pembuka zaman baru yaitu kemerdekaan dengan mengisinya dengan berbagai karya bermanfaat di segala bidang.

Saya teringat pernyataan beliau bahwa adalah suatu kemunafikan bila ada yang mengatakan Indonesia ini belum merdeka. Berbagai bentuk ketidak-merdekaan masih terlihat jelas antara lain kemiskinan, ketidakadilan, dan termasuk korupsi. Namun beliau juga menambahkan bahwa tanpa semangat irasi dari Presiden Soekarno dan pejuang-pejuang lainnya untuk membakar semangat dan emosi rakyat, jangan harap Indonesia akan merdeka. Beliau juga menambahkan bahwa jangan menyamakan Indonesia dengan Amerika yang telah merdeka ratusan tahun yang lalu sedangkan Indonesia sendiri baru merdeka 67 tahun silam .


Tugas kitalah para generasi muda untuk mengisi sebaik mungkin kemerdekaan dan melakukan perjuangan baru dengan mengalahkan kebusukan dan kemalasan serta mentalitas korupsi yang menggerogoti tubuh Indonesia yang telah dimerdekakan oleh para pendahulu kita. Indonesia sudah merdeka baik De Facto maupun De Jure. Namun lemahnya mentalitas bangsa yang telah dimerdekakan harus dikikis habis sebagai bentuk perjuangan tiada akhir dari generasi masa kini dan yang akan datang.

No comments:

Post a Comment