Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Dina Ramadhanti XI IPA 2

Sebuah Jaket Berlumur Darah
Karya Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.

Enam puluh delapan tahun silam Indonesia berhasil meraih kemerdekaan, melalui pidato kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia dengan resmi telah terlepas dari jajahan Jepang pada waktu itu. Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjalanan yang sangat panjang melawan para penjajah yang dengan kejamnya memanfaatkan dan mengeksploitasi rakyat serta kekayaan alam Indonesia. Kalau bukan tanpa pahlawan-pahlawan yang dengan gagah berani melawan para penjajah Indonesia tidak akan berhasil meraih kemenangan mungkin sampai dengan hari ini. Pahlawan yang sering kita dengar dan kita tahu mungkin hanya beberapa seperti Ki Hajar Dewantara, Ahmad Yani, Imam Bonjol dan lain-lain adalah sebagian kecil pahlawan di negeri kita ini, masih banyak pejuang-pejuang kemerdekaan lain yang tidak kita tahu namanya. Pejuang-pejuang tersebut juga dengan gagah berani melawan penjajah dengan atau tanpa gelar pahlawan yang mereka terima. Kita sebagai generasi muda perlu tahu dan menghargai jasa-jasa pejuang kemerdekaan tanpa gelar pahlawan tersebut.
Perang yang dihadapi pejuang di Indonesia tidak selesai sampai dengan tahun 1945 dimana Indonesia sudah mendapatkan kemerdekaannya sendiri, setelah meraih kemerdekaan bangsa Indonesia masih berjuang melawan penjajah seperti pada perang untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda, perang melawan warga negara Indonesia sendiri yang terjadi dalam kasus DI/TII dan masih banyak lagi. Para pahlawan Indonesia yang gagah berani pun tak kenal lelah dalam melawan siapa pun juga yang ingin mengusik keadaan Indonesia kita ini. Para pahlawan dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia turut berperan dalam usaha untuk memerdekakan dan membuat bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang damai dan sejahtera.
Saya berkesempatan untuk mewawancarai kakek saya yang ikut dalam perang pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu dalam perang melawan Irian Barat, perang melawan DI/TII, dan perang di Serang. Pada awal saya mengobrol dengan beliau, beliau sepertinya sudah tidak ingat banyak hal yang terjadi pada masa itu, maklum usia yang sudah semakin tua ikut menggerogoti ingatan masa mudanya. Namun setelah saya tanya beberapa hal kepada beliau, beliau dapat membuka kembali ingatannya tentang masa mudanya saat dengan gagah beraninya beliau ikut perang demi bangsa Indonesia ini.

BIOGRAFI TOKOH
23 Maret 1927 lahirlah seorang bayi laki-laki bernama Sudarta, ya bayi laki-laki itu adalah kakek saya. Kakek saya dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Siti Sarah dan ayah yang bernawa Perwata, beliau tidak mempunyai saudara kandung dan semenjak kecil hidup bersama kedua orang taunya di kawasan Kuningan, Jawa Barat. Beliau mengecam pendidikan sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP) masih di kawasan yang sama yaitu kawasan Kuningan, barulah saat beliau berumur 16 tahun beliau mengikuti pendidikan militer yang diadakan di Bandung, Jawa Barat. Atas dasar kemauan yang kuat dan didukung oleh kedua orang tuanya untuk melepas anak tunggal mereka tersebut, kakek saya pergi ke Bandung untuk mengikuti pendidikan militer, sedangkan kedua orang tuanya pindah ke Cimahi yang lokasinya berdekatan dengan Kota Bandung
Di umur yang terbilang cukup muda tersebut beliau berani memasuki ABRI atau angkatan bersenjata Republik Indonesia untuk melawan para penjajah yang saat itu sedang gencar-gencarnya memasuki dan memerangi bangsa Indonesia. Dari anak remaja biasa yang tidak tahu-menahu tentang angkatan militer dan segala persenjataannya, beliau dengan semangat mengikuti latihan demi latihan untuk dapat ikut membela tanah air kita ini, sampai pada akhirnya beliau ditugaskan untuk menumpas DI/TII yang tidak lain adalah pemberontakan yang dilakukan oleh saudara sebangsa dan setanah air kita sendiri. Dalam kariernya di bidang militer ini beliau sudah mengikuti berbagai perang dan kenangan semasa perang yang paling kakek saya ingat sampai sekarang adalah perangnya di Irian Barat. Sesudah melewati berbagai macam latihan kemiliteran dan mengikuti perang akhirnya pada saaat masa kerja beliau telah habis pangkat terakhir yang dimilikinya adalah Letnan Dua.
Apa, adalah panggilan akrab saya dan saudara-saudara saya kepada beliau, panggilan yang cukupunik bukan? “Apa” adalah singkatan dari kata “Bapak” namun sampai sekarang saya masih tetap memanggilnya Apa. Beliau yang sekarang sudah menginjak usia 86 tahun masih tetap setia menemani istri tercintanya yang bernama Entin Atikah. Melalui pernikahan beliau bersama ibu Entin Atikah, atau yang biasa saya sapa “Ibu”, beliau mendapatkan 5 orang anak. Anak kedua dari pasangan tersebut adalah papa saya yang bernama Dadang Setiabudi. Ibu merupakan seorang ibu rumah tangga dan membuka warung di rumahnya selagi Apa menjadi tentara militer. Dari 5 orang anak Apa sampai sekarang hanya tersisa 3 orang anak, dikarenakan anaknya yang tertua dan yang termuda terserang suatu penyakit sehingga harus menutup usia di umur yang masih muda.
Di usianya sekarang beliau pernah mengidap berbagai penyakit yang salah satu penyakitnya belum sembuh total sampai dengan saat ini, namun di usia ke 86 tahunnya beliau masih tetap tersenyum saat menyapa orang dan sangat ramah. Beliau memang sudah tidak terlalu ingat lagi bagaimana masa mudanya dulu saat menjadi ABRI namun saat saya mencoba untuk wawancarai beliau dapat bercerita sedikit demi sedikit dari ingatan beliau puluhan tahun silam saat dirinya masih muda dan sangat gagah berani untuk berperang demi Indonesia kita yang tercinta ini.

PERANAN
Sedari kecil saya sudah mengetahui bahwa kakek saya adalah anggota angkatan militer atau ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) pada masa mudanya, namun saya tidak pernah diceritakan secara mendetail tentang aktivitas apa saja yang dilakukan kakek saya selama aktif menjadi angkatan militer Indonesia, kakek saya ternyata pernah mengikuti perang-perang melawan Belanda maupun melawan saudara setanah airnya sendiri.
Saat masa mudanya, beliau mengikuti pelatihan militer dan menjadi angkatan militer untuk melawan para penjajah. Pada usia yang cukup muda yaitu 16 (enam belas) tahun beliau sudah mengikuti pendidikan militer, dikarenakan keinginan dari dalam diri sendiri dan dukungan dari orang tua maka beliau dengan sukarela dan senang hati menjadi sukarelawan untuk mengikuti perang yang sedang berlangsung di Indonesia pada saat itu. Pada masa mudanya beliau tinggal dengan orang tuanya di Kuningan, Jawa Barat.
Pada tahun 1940-an terjadi suatu gerakan yang menamakan dirinya sebagai Negara Islam Indonesia atau NII, gerakan ini pada awalnya ikut memerangi Belanda demi Indonesia namun dikarenakan pemimpinnya kurang sejalan dengan Soekarno yang menjadi presiden pada waktu itu, maka pemimpinnya yang bernama S.M. Kartosuwiryo mencetuskan untuk membentuk Negara Islam Indonesia (NII) dengan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII), S.M. Kartosuwiryo pun mulai untuk memisahkan diri dari Indonesia sehingga pada akhirnya pemerintah Indonesia mengirimkan pasukan Siliwangi untuk menumpas gerombolan ini. Bapak Sudarta pada waktu itu ikut memerangi DI/TII dalam operasi pagar betis, beliau ikut menumpas DI/TII di daerah Jawa Barat di Gunung Geber, daerah Majalaya, Jawa Barat. Dengan gagah berani beliau menumpas saudara sebangsanya sendiri yang pada saat itu diingatnya sebagai seorang pemberontak dari negaranya sendiri, dengan taktik perang yang dimiliki beliau dengan pasukannya mengepung Gunung Geber untuk menangkap ketua dari pasukan tersebut. Dengan semangat yang gigih pada akhirnya pasukan beliau dapat mengalahkan pasukan S.M. Kartosuwiryo. Seingat beliau ini adalah perang pertamanya, beliau berpangkat hanya sebagai pasukan bersenjata saja unutk melawan gerakan DI/TII tersebut.
Perang kedua setelah melawan DI/TII yaitu adalah saat terjadi perang perebutan Irian Jaya melawan belanda beliau pun turut ikut serta secara sukarela, dikarenakan Indonesia kekurangan pasukan pada waktu itu maka beliau pun ikut turun ke lapangan melawan belanda. Beliau dikirim ke Irian Jaya masih sebagai anggota perang saja. Sebagai pasukan perang pada saat itu beliau melawan Belanda selama dua tahun di Irian Barat untuk dapat melepaskan Irian Barat dari jajahan Belanda untuk dapat bebas masuk ke Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali.  Atas usahanya selama dua tahun melawan Belanda beliau pun pada akhirnya dapat membebaskan Irian Jaya dari Belanda yang ingin menjajahnya pada waktu itu, untuk jasanya melawan Belanda di Irian Jaya beliau mendapatkan medali dan sertifikat tanda jasanya untuk ikut serta dalam berperang. Saat mengikuti perang di Irian Barat ini beliau meninggalkan 2 anaknya yang masih dibawah umur 10 tahun pada masa itu, berat sekali meninggalkan isteri dan kedua anaknya yang berempat tinggal di Cimahi sementara beliau berada di Irian selama 2 tahun tanpa pernah menengok isteri dan kedua orang anaknya itu demi ikut berperang melawan pasukan Belanda di Irian Barat.
Tidak banyak yang kakek saya dapat ceritakan kepada saya, namun dengan cerita singkat beliau bernostalgia tentang masa-masa muda beliau sebagai ABRI dengan gagah berani melawan para penjajah Belanda saya sangat bangga mendengarnya. Ternyata kita tidak perlu mencari pahlawan jauh-jauh, disekitar kita pun terdapat pahlawan-pahlawan atau veteran perang yang mungkin jasa-jasanya tidak kita ketahui.
Berikut ini saya lampirkan sebagian rekaman percakapan saya saat mewawancarai kakek saya, dikarenakan saya tidak sempat berkunjung ke Cimahi saya mewawancarai beliau lewat telepon: http://soundcloud.com/dina-ramadhanti/record1/s-nbT5n

Terima kasih J


No comments:

Post a Comment