Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - BIOGRAFI Dissa Cahya XI IPA 2

KAKEK KU SEORANG PELAUT


Proklamasi Kemerdekaan negara Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan buah dan puncak perjuangan bangsa Indonesia sejak berbad-abad sebelumnya. Saat itu, Negara Indonesia tidak memiliki pemerintahan dan juga tentara keamanan Negara. Segera sesudah proklamasi, pemerintah yang dibentuk Soekarno-Hatta menciptakan aparatur pemerintahan namun hampir tidak memperhatikan masalah pertahanan Negara.
Pada saat yang sama, jutaan pemuda yang telah dimobilisir selama periode pendudukan Jepang tidak sabar menunggu untuk segera berperan untuk Negara. Namun setelah mereka menyadari kira-kira mereka tidak akan mendapatkan perintah atau mandat dari pemerintah yang sangat di harapkan. Maka pemuda-pemuda itu mengambil prakarsa dan inisiatif sendiri untuk menciptakan alat pertahanan bagi Negara Republik Indonesia yang baru lahir.

Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat. Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR). Mereka semua bersiap-siap untuk dipanggil menjadi prajutir tentara kebangsaan jika telah datang saatnya.

Pada tanggal 5 Oktober 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan tentara kebangsaan yang diberi nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian untuk memperluas fungsi ketentaraan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keamanan rakyat, maka pada tanggal  7 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan penetapan pemerintah No.2/SD 1946 yang mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Pada tanggal 25 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat tentang penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 5 Mei 1947, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan untuk menyatukan Tentara Republik Indonesia besertabarisan-barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.
Pada hari rabu tanggal 29 Mei 2013 saya berkesempatan mewawancarai kakek saya melalui telefon, karena kami belum sempat bertemu karena kesibukan masing-masing.


Autobiografi

H. Ahmad Fadli Soeparto yang biasa saya panggil kakek, lahir pada tanggal 23 Agustus 1941 di Jakarta. Sebenarnya, nama alsi kakek adalah Soeparto, namun pada tahun 1974 saat kakek berkesempan untuk menunaikan ibadah Haji, ada orang arab tak dikenal yang menambahkan nama Ahmad Fadli untuk nama kakek. Ayah kakek yang juga adalah kakek buyut saya, bernama M. Soenjoto bekerja sebagai petugas di kantor pajak dan Ibu kakek yang juga nenek buyut saya, bernama Soetitah menjadi ibu rumah tangga bagi ke dua belas anaknya. Kakek memiliki sebelas saudara kandung, tujuh di antaranya telah wafat dan tiga adik kakek yang bernama Supartini, Eli Sumartini, Heri Sugiarto saat ini tinggal di Surabaya.

Pada tahun 1970 Kakek menikah dengan Hj. Nur Leila yang tidak lain adalah nenek saya. Mereka memiliki 4 anak perempuan yaitu Sutji Ekajanti Leilasari, yaitu mama saya, Intan Dwianna Leilasari, Trimurthi Kencana Leilasari, dan yang terakhir Alverini Caturina Leilasari. Dan memiliki 5 orang cucu. Saya adalah cucu pertama kakek.

Semasa kecil, kakek tinggal di Jakarta bersama keluarganya. Namun pada zaman pendudukan Jepang, kakek dan keluarganya pindah ke Bondowoso, Jawa Timur agar lebih dekat dengan keluarga besarnya. Disana kakek menuntut ilmu hingga tingkat SMP. Namun meneruskan jenjang SMA di Jember, karena di Wonosobo belum ada Sekolah Menengah Atas pada saat itu.

Pada tahun 1962, kakek memasuki AAL atau Akademi Angkatan Laut. Disana, kakek mendapatkan latihan kemiliteran, di plonco atau di tuntut untuk menjadi prajurit yang tangguh selama Sembilan bulan. Kemudian kakek mengikuti pendidikan umum Angkatan Laut untuk mempelajari strata ilmu umum, ilmu kelautan, ilmu pelayaran, ilmu perkapalan, ilmu senjata, ilmu navigasi, ilmu perbengkelan, dan lain lain. Pendidikan umum ini berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun keempat, mengikuti pendidikan khusus Korp Komando Amphibi atau lebih di kenal dengan Marinir. Selama pendidikan khusus tersebut, kakek mengikutin latihan pendaratan di Pantai Selatan Malan, tepat nya di Pantai Ngliyep. Selain ini kakek juga praktek berlayar menggunakan kapal Dewa Ruci. Akhirnya pada tahun 1966, kakek di lantik menjadi perwira pertama.


Peran

Setelah di lantik menjadi perwira pertama, kakek bertugas menjaga keamanan Negara Republik Indonesia. Kakek bertugas menjaga di kapal perang untuk patrol di perairan. Biasanya kakek bertugas di wilayah perairan selama tiga bulan, barulah setelah itu pulang dan berganti shift dengan perwira lain. Kakek sempat bertugas menjaga perbatasan Kalimantan Utara dan pengamanan di perairan Riau.

Pada tahun 1965, kakek bertugas menjaga keamanan Negara pada saat peristiwa G30S. G30S atau Gerakan 30 September adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Saat itu kakek berpatroli untuk pemulihan keamanan wilayah Ibu Kota. Kakek juga pernah mengikuti operasi UNTEA, pembebasan Irian Barat dan operasi Dwikora saat terjadi konflik Indonesia dengan Malaysia. Kata kakek, saat berpatroli, kapal dan prajuritnya sudah siap senjata, namun jarang terjadi baku tembak antar lawan. Kakek berceritan saat beliau bertugas di Kalimantan, pernah terjadi baku tembak dengan Serawak dan pada saat itu kakek bertugas sebagai pemimpin pleton. Dan setelah itu Negara Indonesia aman sehingga kakek melanjutkan rutinitas kemiliteran. Contohnya, pada tahun 1975 kakek bertugas mengawasi operasi Timor Timur di kapal dan mengawal pengantaran logistic. Selama kakek bertugas di Angkatan Laut, nenek dan anak-anaknya tinggal di Jakarta.

Selama bertugas di Angkatan Laut, pastinya kakek sering menaiki kapal. Laut dan Ombak sudah menjadi temannya. Kakek pernah bertugas di kapal dan saat itu terjadi hujan yang sangat besar seperti badai. Hal-hal seperti itu sudah sering di alami kakek. Kakek menceritakan bahwa beliau sering sekali membawa pulang ikan yang besar dan banyak setelah bertugas. 

Pada tahun 1982, kakek beralih tugas dari Angkatan Laut ke departemen pertambangan di unit pelayaran angkutan tambang. Pertama di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Buton. Saat kakek di tugaskan di Buton, nenek dan anak-anak nya juga ikut pindah. Mama dan nenek sering menceritakan saya tentang Buton. Mereka menceritakan keindahan pantai dan kota nya. Di tahun 1983 kakek bertugas mengawasi adanya orang China Hoakiaw yang masuk ke Indonesia. Kemudian pada tahun 1985 kakek dipindah tugas kan di Cilacap untuk mengawasi angkutan tambang pasir besi. Dan tentunya nenek beserta anak-anaknya ikut pindah. Sekitar 3 tahun yang lalu saya berkesempatan ke Cilacap, melihat tempat dimana mama saya menghabiskan beberapa tahun dari masa kecilnya dan mengunjugi rumah tempat mereka dulu tinggal. Dan pindah ke Jakarta pada tahun 1991 dan menjabat sebagai kepala cabang pelayaran angkutan tambang di Tanjung Priok membantu pengangkutan penyebaran bahan-bahan pokok di seluruh Indonesia. Akhirnya kakek pensium pada tahun 1996 dan aktif dalam kegiatan mesjid dan kegiatan masyarakat yaitu membantu BNN dalam menangani narkoba di lingkungan beliau tinggal yaitu di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dan sekarang kakek menjabat sebagai Ketua RT sejak tahun 1996 sampai saat ini.


kakek nenek dan cucu

kakek dan nenek

foto buku yang kakek kirim setelah saya mewawancarai via telfon

dissa dan kakek di kapal



1 comment:

  1. wah, kalo alverini temen saya tuh waktu smp di cilacap. salam ya

    ReplyDelete