Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Diva Nabila Arumsari XI IPS 1



“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” – Ir.Soekarno
              
                Sebuah pepatah mengenai angan dan harapan yang dapat dilakukan oleh para pemuda,  yang diutarakan oleh Ir. Soekarno tersebut dapat menginspirasi banyak orang untuk dapat berbuat yang lebih baik lagi di masa yang akan mendatang. 
                Indonesia memang merupakan sebuah Negara yang dipenuhi dengan cerita mengenai masa – masa perjuangan yang dapat menginspirasi para pemuda tahun sekarang untuk dapat mencintai dan melindungi tanah air tercinta Indonesia sebagaimana para pemuda pada tahun 1945 dapat melindungi dan memerdekakan Indonesia.
                Seperti yang telah diutarakan di atas, kemerdekaan Indonesia tidak akan terjadi tanpa adanya para pemuda yang menyalurkan pikiran serta tenaga keras yang tak kunjung berhenti untuk dapat mengibarkan sang saka merah putih.
                Kisah yang akan saya utarakan kali ini adalah sebuah kisah mengenai seseorang yang turut andil dalam perang kemerdekaan Indonesia.  Beliau merupakan eyang saya sendiri, yakni Ir. Soebardi.  Beliau lahir pada tanggal 31 Oktober, 99 tahun silam merupakan anak dari pasangan Hardjoprawira dan istri.  Beliau lahir pada tahun 1914, jika beliau masih hidup beliau akan bertempat tinggal di Jakarta bersama anak, cucu, dan cicitnya.
                Ir. Soebardi menikah dengan Soewardiah seorang ibu rumah tangga biasa yang lahir pada tahun yang sama yakni 1914.  Memiliki 4 orang anak yakni Icke Sri Wasiat, Kuntari Ludiro, Anne Roosie, dan juga Alm. Ais.  Anak – anak dari Ir. Soebardi memiliki bidang pekerjaan yang beragam mulai dari Icke Sri Wasiat sebagai sekretaris, Kuntari Ludiro sebagai dosen, Anne Roosie yang bekerja dalam bidang bisnis, dan juga Alm. Ais yang pernah menjadi atlet basket.
                Dalam tugas wawancara ini, saya memilih eyang saya Icke Sri Wasiat sebagai anak pertama dari pasangan Ir. Soebardi dan Soewardiah, yang merupakan ibunda dari mama saya Metha Octavia sebagai narasumber untuk tugas ini. Saya bertemu dengan eyang saya di rumah eyang saya, akan tetapi saya lupa untuk mengambil foto dengan narasumber. 
                Ir. Soebardi merupakan salah satu dari ribuan pemuda yang mengorbankan dirinya untuk mengikuti perang kemerdekaan 1945.  Beliau mengikuti perang kemerdekaan yang terjadi di Jogjakarta dalam perjuangan melawan Belanda.  Menurut legenda yang ada, konon apabila kakek buyut saya mengenakan jas hujan tertentu maka dia tidak akan terlihat oleh para pejuang yang akan menyerangnya.
                Setelah Indonesia meraih kemerdekaanya pada tahun 1945, sudah habislah masa bakti kakek buyut saya untuk meraih kemerdekaan Indonesia.  Setelah masa pensiun menjadi pejuang, kakek saya mengabdikan dirinya kepada PT. Kereta Api Indonesia ( KAI ).  Beliau bertugas sebagai kepala Daerah Operasi Kereta Api Indonesia ( KADAOP ) untuk seluruh wilayah provinsi Jawa.  Sehari – hari, tugas dari Ir. Soebardi adalah memastikan agar program – program pembinaan dari kereta api ini dapat terselenggara dengan sangat baik dan tidak terjadi permasalahan dalam terselenggaranya perjalanan kereta api.  Kepala daerah operasional juga harus memastikan bahwa seluruh anggota seksinya menjalankan bagannya dengan baik.  Seksi – seksi yang dibawahi oleh kepala daerah operasional (Kadaop) adalah:


·         Seksi Sumber Daya Manusia dan Umum.
·         Seksi Keuangan.
·         Pemeriksaan Kas Daerah.
·         Hubungan Masyarakat Daerah (HUMASDA).
·         Seksi Jalan Rel dan Jembatan.
·         Seksi Operasi dan Pemasaran.
·         Seksi Sinyal, Telekomunikasi dan Listrik

                Pekerjaan Ir. Soebardi sebagai kepala daerah operasional Jawa menuntut dirinya untuk selalu berkeliling mengecek daerah yang ditanganinya. Menurut penuturan narasumber,  narasumber berpindah – pindah tempat tinggal berkali – kali dikarenakan pekerjaan ayahnya.  Narasumber pernah bertempat tinggal di Jogjakarta, Solo, Tegal, dan Brebes.  Akan tetapi Ir. Soebardi lebih sering berada di ibukota Jawa Barat yakni di kota kembang Bandung.
                PT. Kereta Api Indonesia memiliki kantor pusat yang berada di Bandung pada alamat Jalan Perintis Kemerdekaan No. 1 hal tersebut yang membuat Ir. Soebardi harus sering berada di Bandung untuk melakukan rapat – rapat penting.
                Anak Ir. Soebardi dan Soewardiah yang paling bontot yakni yang bernama Arie Soebiarto yang lebih sering dipanggil dengan nama Ais menghembuskan nafasnya yang terakhir pada umurnya yang sekitar 32 tahun.  Terbilang cukup muda dan tentu saja mengejutkan Ir. Soebardi dan Soewardiah sebagai orang tua yang kehilangan anak paling bungsunya itu.
                Memasuki masa pensiunnya, Ir. Soebardi ditawarkan untuk pindah ke Purwokerto.  Akan tetapi, Ir Soebardi dan istrinya Soewardiah menolak untuk tinggal di Purwokerto dan lebih memilih untuk tinggal di Jakarta dan bekerja di Markas Besar Polisi Republik Indonesia ( MABES POLRI ) sebagai kontraktor untuk polisi republik Indonesia. 
                Ir. Soebardi menghembuskan nafasnya yang terakhir pada sekitar tahun 2003, hal tersebut terjadi beberapa tahun setelah istri beliau Soewardiah wafat yang membuat anak – anak beliau merasa kehilangan.
                Tidak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai eyang buyut saya tercinta, berhubung dengan keterbatasan ingatan dari narasumber.  Akan tetapi, setelah saya mendengarkan cerita dari nenek saya mengenai betapa besarnya dedikasi dari kakek buyut saya baik dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bekerja dan bertanggung jawab sebagai kepala operasional, dan bertanggung jawab sebagai ayah dari anak – anaknya merupakan bagian dari kisah kehidupan narasumber yakni nenek saya yang akhirnya dapat mendidik anak – anaknya dengan baik dan diteruskan ke generasi berikutnya.
                Saya harap kehidupan sayapun dipenuhi dengan sikap yang sama dengan kakek saya, yakni penuh tanggung jawab, tidak sombong, rajin membantu.  Semoga kakek saya senantiasa bahagia dan kelak suatu saat nanti saya dapat menjadi panutan sebagaimana kakek saya menjadi panutan untuk saya dan generasi saya.

Jakarta, 31 Mei 2013 – Diva Nabila Arumsari
Narasumber yang memakai kerudung putih, yang memakai baju hitam adalah anak ketiga dari Ir. Soebardi







No comments:

Post a Comment