Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Emil Ditri Bintari XI IPS 2


Hariyono Soeparto, Sosok Pembawa Maju RI


Indonesia. Negara merdeka ini telah memasuki usia 67 tahun. Indonesia tentunya telah mengalami dan melewati beragam peristiwa dan mengalami berbagai fase. Mulai dari periode sebelum merdeka, masa-masa perjuangan untuk melawan jajahan Belanda dan Jepang, hingga periode ketika sudah merdeka. Indonesia, ketika sudah merdeka pun masih mengalami berbagai fase atau masa, yakni masa orde lama di bawah kepemimpinan Soekarno, orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto, serta masa reformasi, yaitu masa setelah turunnya Soeharto.

Fase-fase tersebut dapat terjadi dan terlalui karena adanya peran dari tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Pada kesempatan kali ini, saya diberi tugas untuk mewawancarai orang yang seumuran dengan kakek atau nenek saya. Namun, kakek dan nenek kandung saya lahir sekitar pada tahun 1942, dan yang masih hidup hingga sekarang hanyalah nenek dari ayah saya. Tetapi ia sudah tidak bisa mendengar dengan jelas lagi. Untuk itu, saya mencoba mewawancarai seseorang yang dekat dengan kakek nenek saya, seorang tokoh yang juga bisa membagi kisah hidup yang dijalaninya.

Saya awalnya sempat kebingungan untuk menemukan narasumber yang tepat dan bisa saya mintai bantuan. Kemudian ibu dan ayah saya menganjurkan, “kenapa gak wawancara Eyang Hari aja? Dia kan suka nulis tentang cerita-cerita jaman dulu”. Eyang Hari adalah suami dari Alm. adik kandung perempuan dari nenek dari ibu saya.

Kemudian saya membuka profil beliau di sebuah media sosial, dan ternyata benar adanya. Begitu banyak kolom yang beliau isi dengan cerita-ceritanya. Saya pun langsung meminta bantuan kepada ibu saya untuk menghubungi beliau. Pada saat beliau mengatakan bahwa ia bersedia untuk menjadi narasumber saya, saya pun sangat senang dan lega, karena rupanya beliau juga senang mendapat kesempatan untuk diwawancara.


BIOGRAFI

Hariyono Soeparto, atau akrab disapa Eyang Hari, dilahirkan pada tanggal 12 Maret 1939 di kota Surabaya. Pada tahun 1940, beliau ikut kedua orang tuanya yang pindah ke kota Rembang (Jawa Tengah). Beliau pun menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat (dasar) di Rembang dan lulus pada tahun 1951. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Rembang.

Beliau sekarang berusia 74 tahun dan bertempat tinggal sebuah perumahan di kota Surabaya. Beliau memiliki seorang istri yang bernama Bido, dan 2 orang anak masing-masing bernama Hariyo Prabowo dan Harita Prasasti. Beliau belum memiliki cucu hingga sekarang, dikarenakan anak-anaknya belum ada yang menikah karena masih menyelesaikan pendidikan-pendidikannya di Medan dan juga di Surabaya.

Selepas lulus dari SMA, beliau memasuki Perguruan Tinggi Negeri yaitu Universitas Indonesia dan mengambil Fakultas Ekonomi sebagai jurusan yang didalaminya. Beliau lulus dan mendapat gelar S-1. Kemudian beliau berniat untuk mengejar gelar S-2, akhirnya beliau pun meneruskan pendidikannya ke negara lain. Beliau bersekolah di University of Birmingham di kota Birmingham, Inggris dan lulus serta mendapat gelar S-2.

Setelah mendapatkan gelar S-2, beliau sempat mengikuti sebuah program pendek yaitu Madras Institute of Technology India, George Washington University di Amerika Serikat. Beliau dulu dikenal karena selalu bekerja keras dan tekun dalam menggapai apa yang beliau inginkan. Pada tahun 1969-1979, beliau pun terjun ke dunia karir dan beliau mendarat dalam Pegawai Negeri Departemen Keuangan RI; sebagai Perwakilan Direktorat Akuntan Negara RI di Jerman dan Belgia.

Pada tahun 1980-1995, beliau menempati posisi sebagai Direktorat Pembinaan BUMN. Lalu pada tahun 1995-1998, beliau menduduki posisi sebagai Direktur Keuangan PT (Persero) Perkantoran dan Perhotelan Indonesia. Pada tahun 1998-2004, beliau menjadi Direktur PT Cabot Indonesia, yang merupakan perusahaan patungan antara pemerintah RI dengan perusahaan Cabot USA di Boston.

Dalam kehidupan yang beliau jalani sekarang ini, beliau menetap di rumah seorang diri karena anak-anak beliau sedang menetap sementara di dekat kuliahnya masing-masing. Dengan keadaan ini, tentunya terkadang rasa sepi sering menghantui beliau. Luasnya waktu luang yang dimiliki beliau digunakan untuk (seperti yang saya telah katakan), menulis.

Beliau merasa ia ingin sekali berbagi kisah-kisah hidup yang dilaluinya, sehingga beliau menjadi sering menulis. Karangan tulis yang beliau buat dipost ke dalam sebuah media sosial sehingga banyak orang dapat membacanya. Media tersebut beliau gunakan untuk menyampaikan makna dari kisah-kisah beliau yang sekiranya dapat menjadi bermanfaat bagi generasi sekarang ini. Tidak hanya kisah-kisah tentang hidupnya, beliau sekarang juga gemar menulis tentang hal-hal yang disukainya seperti artis-artis lampau, cerita masa-masa kemerdekaan negara lain pun gemar beliau ceritakan.


KESAKSIAN DAN PERANAN

Saya mendatangi rumah beliau ketika saya pergi ke Surabaya dengan keluarga saya pada 10 April lalu. Pada saat itu saya sudah membuat janji dengan beliau. Sehingga tak lama setelah bersilaturahmi, kami langsung melakukan wawancara ini. Wawancara ini saya awali dengan meminta beliau untuk menjelaskan biografinya. Kemudian beliau pun menceritakan awal perjalanan hidupnya dari mulai usia kecil, pendidikan yang beliau jalani, profesi-profesi yang sempat beliau lakukan, hingga kegiatan beliau di usia sekarang ini.

Setelah mendapatkan data yang cukup lengkap untuk dituliskan sebagai biografi beliau, saya memulai pertanyaan tentang kesaksian beliau saat kemerdekaan. Saya bertanya “Eyang, waktu masih masa-masa perang menuju kemerdekaan, eyang ikut berperan gak? Eyang ngapain aja waktu dulu?” Beliau langsung menyambar jawaban dari pertanyaan tersebut dengan bercerita lengkap tentang kehidupannya dahulu dan apa yang beliau lakukan.

“Belanda itu dulu menyerahkan kekuasaannya pada tentara Jepang pada tanggal 8 Maret 1942. Terus… Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang itu kena bom atom oleh Amerika dan bertekuk lutut. Tentara Jepang di Indonesia juga bertekuk lutut dan nyerahin kekuasaannya kepada tentara Inggris. Kemudian tentara Inggris menyerahkan kepada Belanda. Nah, dengan demikian, eyang masih berumur 3 tahun saat Jepang menyerang Indonesia (dahulu disebut Hindia Belanda). Pada waktu Jepang kena bom atom dan Jepang kalah, eyang baru berumur 6 tahun kira-kira ya SD kelas 1. Karena masih kecil, eyang tidak pernah ikut perang, hanya mendengar dari bapaknya eyang yang dokter dan yang ikut berperang. “

Kemudian beliau melanjutkan ceritanya dengan menjelaskan sistematika kejadian per periode dari semenjak Jepang menyerah pada Inggris pada tahun 1945 sampai Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada tahun 1949. Pastinya, saya terkagum-kagum melihat eyang saya yang masih begitu hafal persis peristiwa-peristiwa yang terjadi serta waktu, tempat, dan suasananya.

Wawancara ini saya lanjutkan dengan menanyakan tentang peran serta kehidupan beliau selama masa perang. Beliau pun membalas kembali pertanyaan saya ini dengan sebuah cerita yang agak terdengar seperti sebuah nostalgia.

“Setelah tentara Jepang dikembalikan ke negaranya, waktu itu tentara Inggris juga meninggalkan Indonesia setelah tugasnya sudah selesai. Pemerintah dan tentara Belanda yang ganti berkuasa. Pada waktu itu terjadi perang dimana-mana, apalagi setelah dilanggar Perjanjian Linggarjati, tahu kan kamu nak? Tanah Indonesia dikuasai sebagian besar oleh Belanda, malah justru sebagian kecil oleh Indonesia. Sebagai contoh : kota Surabaya dan kota Semarang dikuasai Belanda. Tetapi kota Yogyakarta dan kota Solo dikuasai Indonesia (temasuk kota Rembang, tempat eyang dan keluarga bertempat tinggal). Kehidupan dulu susah karena Belanda melarang barang-barang kebutuhan masuk ke daerah Republik dan barang-barang ekspor Indonesia dilarang keluar dari wilayah RI. Jadi ya tidak ada penghasilan devisa. Orang-orang Indonesia yang tinggal didaerah yang di duduki Belanda tidak kekurangan sandang, pangan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Orang Indonesia yang ikut membela Republik Indonesia hidupnya sengsara, tetapi tetap bertahan untuk mempertahankan dan membela Republik Indonesia karena jiwa nasionalisme kuat. Tentara Indonesia banyak yang menyusup ke daerah Belanda untuk mengacau tentara Belanda dengan sistem gerilya yang hit (tembak) and run (lari). Setelah Perjanjian Renville di langgar Belanda dengan melakukan serangan militer ke wilayah RI, seluruh wilayah RI di pulau Jawa dikuasai Belanda. TNI bergerilya di hutan-hutan dengan melakukan perang gerilya yang hit and run.”

Belum sempat saya melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, beliau pun kembali bercerita. Beliau menambahkan sebuah cerita lucu, kenangannya saat masih bersekolah pada zaman penjajahan Jepang.

Selama sekolah pada zaman Jepang, eyang kepalanya “gundul plontos” sesuai dengan perintah Jepang itu, bertopi pet dengan rumbai-rumbai di belakangnya seperti yang dipakai oleh tentara Jepang. Di rumah, eyang dulu tidak mau yang namanya dipanggil Hariyono Kung (junior), tetapi harus dipanggil Hariyono Sang (senior). Tiap hari pergi ke sekolah berjalan kaki cakar ayam sejauh 3 kilometer sekali jalan. Hayo coba bayangkan… Tiap hari eyang juga harus ber-saikere karena melewati seorang tentara Jepang penjaga di depan markasnya yang setiap hari saya lalui, dan kemudian be-saikere lagi di sekolah untuk menghormati Tenno Heika Hirohito di Tokyo nan jauh disana, itu pun kalau tidak berpapasan lagi dengan tentara Jepang yang lain di tengah jalan. Tentara Jepang selalu memakai “setriwel” di atas sepatu bootnya. Itu tuh seperti kain panjang yang dililitkan secara rapi pada kedua kakinya. Eyang sudah dapat menuliskan nama eyang dalam huruf Jepang lho, juga beberapa patah kata dalam bahasa Jepang. Pada zaman itu, banyak orang Indonesia yang mahir membaca, menulis dan berbicara bahasa Jepang, namun sayangnya menjadi lupa setelah Indonesia merdeka. Yang hebat itu, tahu gak kamu? Kedua orang tua eyang, yang tanpa kawatir melepas eyang sendirian yang masih kelas 1 Sekolah Rakyat (dasar) dan saudara-saudara eyang lainnya pergi kesekolah tanpa diantar pergi dan dijemput pulang. Memang eyang itu sejak sekolah ndak pernah mau berangkat bareng bersama dengan kakak-kakak eyang ke sekolah, eyang lebih senang dengan teman-teman sesekolah yang selalu berpapasan di tengah jalan.

Mendengar cerita tersebut saya tersenyum-senyum sendiri membayangkan suasana seperti itu. Jujur memang tidak pernah terlintas di pikiran saya kalau kehidupan di Indonesia dahulu memang begitu. Dan untuk mengakhiri wawancara ini, saya memberikan beliau satu pertanyaan terakhir. Saya menanyakan tentang keadaan beliau dan warga sekitar pada saat proklamasi. Beliau pun membalas lagi.

“Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 baru diketahui secara resmi 1 hari sesudahnya oleh masyarakat kota Rembang karena kesukaran komunikasi. Berita desas-desus memang sudah terdengar saat itu, tapi karena masih trauma akan pengalaman buruk saat Jepang masih berkuasa, tidak seorangpun yang berani membicarakannya sampai ada pengumuman resmi. Selamatan puji syukur baru berani dilakukan setelah ada penyataan resmi. Banyak warga dan rakyat yang hadir karena setiap orang menginginkan dapat makan enak. Maklum selama Jepang berkuasa dari tahun 1942 sampai tahun 1945, makan harus dikurangi dan makan apa adanya. Begitu acara doa selesai, masing-masing dengan cepat mengambil bagiannya dan segera dilahapnya. Tiba-tiba Pak Modin (salah seorang teman dekat beliau) megap-megap tidak dapat bernafas karena daging empal yang dimakannya terlalu besar dan tidak dikunyah sebaik-baiknya namun terus ditelannya. Daging empal tidak dapat masuk ke dalam perut tetapi juga tidak dapat keluar dari mulut. Semua orang geger. Eyang juga ikut dalam acara selamatan itu. Tengkuk Pak Modin kemudian segera dipukul kuat-kuat oleh eyang dengan akibat daging empal sialan itu keluar dari mulut Pak Modin. Pak Modin menyeringai setelah tahu kalau daging empalnya sudah terpental dari mulutnya. Buru-buru Pak Modin mohon diri meninggalkan acara selamatan yang belum selesai karena merasa malu.

Kesan saya terhadap beliau adalah bahwa beliau merupakan sosok orang yang sangat baik, ramah, jujur, pintar, dan suka sekali bercerita. Sebagai pendengar, saya pun menikmati ketika beliau sedang bercerita. Juga yang terpenting, beliau orang yang pantang mundur dan memiliki semangat serta ketekunan yang tinggi.

Sekian hasil wawancara saya dengan Eyang Hari. Sebenarnya, saya sempat berfoto dengan beliau, namun sayangnya file foto tersebut hilang ketika laptop saya semoat rusak beberapa waktu lalu. Semoga apa yang saya tulis dapat memberikan manfaat serta menjadi inspirasi bagi kita semua untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi. Ingat, selalu ada tempat untuk orang-orang yang mau berusaha keras untuk terus maju.
                                                        

No comments:

Post a Comment