Friday, 31 May 2013

TUGAS 2 BIOGRAFI - Estu Kresnha IPS 3



              
 TUGAS 2  BIOGRAFI


 Sedikit Cerita Kakung



                Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima lewat sepuluh menit di sore itu, saat wanita diujung telfon sana menjawab telfon saya, ‘’assalamualaikum’’ ucapnya, salam memang menjadi kebiasaan yang sudah turun temurun yang diajarkan di keluarga saya dan mungkin dulu kakek serta nenek saya lah yang memulai kebiasaan ini.
                ‘’waalaikumsalam mbah, mbah putri sehat?’’ Tanya saya, memang saya sangatlah jarang menghubungi nenek saya yang berada di Temanggung, Jawa Tengah, itu. ‘’Alhamdulillah sehat, ini mas Estu? Kok tumebn nelfon mbahe?’’ tanya nenek saya yang suaranya masih terdengar ceria disaat usianya sudah memasuki 76 tahun.
                Setelah saya mengobrol beberapa saat, barulah saya menyampaikan maksud saya menelfon kali ini. ‘’Mbah, masih inget gak dulu pas mbah kakung berjuang  kayak gimana?’’ ya, kali ini saya ingin bertanya tentang masa perjuangan saat kakek saya masih muda dulu. Saya ingat dulu saat saya masih kecil, sekitar kelas dasar, saya sering sekali diceritakan oleh kakek tentang masa-masa mudanya.
                Saya ingat dulu kakek saya menunjukkan bekas luka tembak di kakinya, ‘’dulu ini mbah ditembak sama Belanda, waktu itu lagi berjuang’’ atau juga ‘’dulu silsilah keluarga ya di bakar sama mbah No, kalo ketauan sama Jepang nanti dibunuhi. Dulu suka dicari-cari.” Namun apa yang saya ingat hanyalah sepotong atau dua potong kalimat saja, karena maklum lah namanya juga masih anak sekolah dasar.
                Muhammad Ismail, atau kerap disapa mbah Muh atau pak Muh di kalangan keluarga maupun di desa, adalah laki-laki yang badannya tegap dan besar, terbilang cukup tinggi untuk ukuran seorang jawa. Raut wajahnya terlihat sangat keras dan terkesan kaku bagi mereka yang belum mengenalnya, dan cara bicaranya yang memang agak keras ditambah suaranya yang serak dan berat menambah kesan tersendiri. Pendiriannya yang kuat, atau dapat dikatakan keras kepala memang sudah menjadi wataknya, dan turun menjadi watak keluarga juga. Namun bagi saya mbah kakung adalah sosok yang sangat saya kagumi, sosok yang sangat saya sayangi.
                Saya ingat dulu beliau selalu mengingatkan saya tentang pentingnya solat, belajar, menghargai orang tua, dan segala hal yang menjadi harapan setiap keluarga. Bagaimana beliau sering mengajak saya untuk solat berjamaah di masjid desa, bagaimana beliau selalu membuatkan saya obor untuk dibawa berak-arakan di desa pada saat malam menjelang lebaran (suatu kegiatan yang tiap tahun beliau lakukan agar cucu-cucunya merasakan bagaimana semaraknya merayakan Idul Fitri saat di desa), bagaimana beliau sering menyimpankan petasan untuk dimainkan cucu-cucunya.
                Kesempatan bertemu dengan beliau memang sangatlah langka, hanya pada saat lebaran saja anak cucunya berkumpul dan bertemu dengan beliau. Laki-laki dengan 7 orang anak, 5 laki-laki dan 2 perempuan (termasuk mama saya), memang suka sekali berkumpul dengan keluarganya. Ditambah dengan ramainya rumah beliau disaat 16 orang cucunya berkumpul pada satu saat bersamaan akan menghilangkan rasa sepi saat beliau hanya tinggal berdua dengan nenek (ditambah dengan 2 orang yang suka memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah). Setiap kali beliau dan nenek diajak untuk tinggal di Jakarta, jawabannya akan selalu ‘’Oraan, Hmak, kepenak nang omahe dewe’’
                Kembali pada sore hari itu, ‘Waktu mbah kung berjuang, mbah putri yo ora ngerti. Wong iku ki waktu mbah putri masih kecil’’ ‘’lah, emangnya waktu jepang masuk ke Indonesia mbah putri umurnya berapa?’’ ‘’ya gak inget, udah lama banget soalnya mas. Tapi kalo gak salah waktu itu mbah putri masih SD, isih kelas loro. Biyen ki dikon nanem jarak karo guru ne, kalo gak mau nanti dimarahi sama gurunya’’ ‘’oh itu buat jepang ya mbah?’’ ‘’iya, nanti dikasih ke orang jepang’’.

                ‘’Terus, dulu mbah kung pernah cerita gak pas lagi berjuang kayak gimana?’’ ‘’ya endak  ya, dulu mbah kung pokoknya pas berjuang itu jadi TKR, ngelawannya ngelawan Belanda. Dulu Jepang tuh gak sampe masuk-masuk ke Muntung sini (nama desa saya), yang masuk itu Belanda dulu. Mbah putri sampe ngungsi waktu itu ke Parakan, takut’’ ‘’TKR itu apa mbah?’’ ‘’Tentara rakyat mas’’
                Berdasarkan Wikipedia, Tentara Keamanan Rakyat pertama kali dibentuk oleh PPKI pada tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pada tanggal 23 Agustus 1945. Tentara Keamanan Rakyat sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat, perubahan nama ini terjadi melalui dekrit persiden pada tanggal 5 Oktober 1945. Anggota Badan Keamanan Rakyat saat itu adalah para pemuda Indonesia yang sebelumnya telah mendapat pendidikan militer sebagai tentara Heiho, Pembela Tanah Air (PETA), KNIL dan lain sebagainya. Pada perkembangannya nama angkatan bersenjata Indonesia ini berubah nama beberapa kali hingga akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
                Berdasarkan apa yang tadi telah diterangkan dari Wikipedia, anggota dari Tentara Keamanan Rakyat merupakan orang-orang yang dahulu pernah mendapatkan latihan militer atau pernah mendapatkan pendidikan militer. Namun saat di telfon sore itu saat saya bertanya tentang pangkat dari kakek saya, nenek saya menjawab ‘’wah ndak ada pangkat-pangkatan, tentara kroco’’. Memang walaupun saya dulu sering diceritakan tentang perjuangan beliau saat masa penjajahan dulu, saya tidak pernah melihat adanya warna kemiliteran di keluarga inti kakek saya. Tidak ada anak-anaknya yang menjadi atau berkecimpung dalam bidang militer, tidak adanya emblem atau piagam atau apapun sebagai bentuk lambang kemiliteran, atau bahkan saya pun tidak pernah melihat dokumen tentang kemiliteran atau masa perjuangannya dulu. Satu benda yang menurut saya menggambarkan kegagahan beliau, yang merupakan stereotype  dari seorang militer,  adalah lukisan hitam putih kakek saya yang sedang mengenakan jas safari putih dengan peci hitamnya yang mengingatkan saya dengan sosok Ir. Soekarno. Itulah satu-satunya benda yang mengingatkan saya bahwa kakek saya masih bagian dari suatu sejarah nasional, paling tidak itu cukup untuk menjadi bukti bagi saya.
               



Pertanyaan saya mengalir lagi, berdasar yang nenek saya ceritakan bahwa pada saat itu kakek saya berjuang sebelum beliau menikah. Sedangkan nenek saya menjelaskan bahwa kakek saya menikah saat beliau berusia 24 tahun dan nenek saya 19 tahun. ‘’lah mbah, kakung tuh lahir tahun berapa sih?’’ ‘’mbah kung lahir tahun 32’’ ‘’loh terus perang lawan belandanya pas umur berapa dong? Kan Jepang masuk ke Indonesia pas than 1942 sampe 1945 mbah’’ ‘’Perangnya abis merdeka, tapi bukannya jepang keluar tahun 1948 ya?’’ ‘’engga kok, 1942 mbah’’ ‘’iya pokoknya waktu itu mbah kung berjuangnya lawan Belanda. Jepang udah keluar, mbah lupa tahun berapa tapi waktu itu kakung umurnya baru 16 tahun, masih muda banget’’
                Satu fakta lagi yang saya baru ketahui, selama ini, atau dulu waktu saya masih kecil dan sering diceritakan. Saya tidak tahu bahwa kakek saya berjuang saat usianya sangatlah muda, kira-kira seumuran saya saat ini. Bahwa bekas luka tembak di paha kiri yang dulu kakek saya tunjukkan didapatkan oleh beliau saat usianya masih sebelia itu. ‘’mbah putri gak punya foto atau kenang-kenangan pas kakung lagi berjuang? Apa ajadeh bukti-buktinya’’ ‘’yo ora ono mas, udah lama banget itu’’ ‘’ hoo yaudah deh’’.
 Percakapan sore itu berakhir dengan beberapa informasi baru yang saya dapatkan. Setelah itu saya bertanya kepada mama saya, beliau adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. ‘’Ma, dulu kakung gimana sih waktu masih berjuang?’’ ‘’wah gatau, udah lupa ya. Ingetnya dulu kakung itu pernah di bom sama Belanda’’ ‘’terus apa lagi ma?’’ ‘’mama gatau, udah lupa. Coba Tanya mbah Har (adik dari kakek saya) siapa tau masih inget’’ ‘’oke ma’’
Setelah itu handphone saya langsung menghubungi adik dari kakek saya tersebut, langsung saya utarakan tentang maksud saya dan saya tanyai langsung ‘’mbah Har, dulu katanya mbah kakung ikut TKR ya?’’ ‘’iya, Tentara Keamanan Rakyat. Kenapa?’’ ‘’itu ceritanya gimana?’’ ‘’Wah ya mbah Har gatau ya, mbah Kung kan anak ke 3, mbah Har anak ke 7. Jauh banget mas’’ ‘’emang kakung gapernah cerita apa-apa mbah?’’ ‘’gapernah tuh, gapernah mas’’. Memang sepertinya kakung jarang cerita ke orang-orang terdekatnya. Dari 7 bersaudara, hanya tinggal 3 saudara kakung yang masih ada. Diantaranya adalah mbah Har, yang beliau juga tidak mengetahui cerita tentang kakung. Mbah No, yang saat ini sudah sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dan terakhir adalah seorang adik perempuan kakung yang saya kurang kenali.
Akhirnya saya pun mencari tentang sejarah masuknya Jepang maupun Belanda ke Temanggung. Karena Temanggung bukanlah sebuah kota besar, maka saya yakin apa-apa saja yang terjadi di Temanggung pasti telah ikut mempengaruhi kakek saya dalam perjuangan, baik berupa latar belakang maupun keadaan disana.
Akhirnya saya mencari dengan keyword ‘’masuknya Jepang ke Temanggung’’ dan nihil. Kemudian saya mencari dengan keyword ‘’masuknya Belanda ke Temanggung’’ dan hanya ada satu artikel yang menurut saya relevan dengan apa yang saya bahas pada tulisan ini.
Artikelyang bersumber dari chemot-marley.blogspot ini lebih kurang membahas tentang suasana Temanggung saat Jepang sudah menyerah dan Belanda akan kembali datang. Dari sisi waktu menurut saya sangat sesuai dengan waktu kakek saya berjuang.
Dalam artikel itu juga diceritakan bahwa ada seorang bupati (mungkin pada masa itu Temanggung adalah sebuah kabupaten) bernama Sutikno mengumpulkan para ulama dan tokoh masyarakat. Beliau mengumpulkan ulama dan tokoh masyarakat dalam rangka mempersiapkan Temanggung dalam menghadapi kedatangan Belanda setelah Jepang menyerah. Apakah Temanggung akan melawan atau tidak, dengan persenjataan pribumi yang pada saat itu kalah jauh dengan penjajah yang senang menggunakan bom, apakah Temanggung dan masyarakat sudah siap atau belum.
Namun seorang ulama yang merupakan keturunan wali songo, Kyai Raden Sumomihardho, menyatakan bahwa nyawa adalah milik tuhan. Hidup atau mati adalah milik tuhan, bahwa memang Temanggung tidak memiliki senjata canggih. Namun Temanggung memiliki tuhan. Setelah itu para ulama dan tokoh masyarakat setuju untuk melawan, mereka kembali ke pesantren atau ke desa mereka untuk mempersiapkan diri.
Kesamaan yang saya lihat disini adalah bahwa kakek saya merupakan keturunan langsung dari wali songo, yakni Sunan Kalijaga, sehingga pasti beliau hidup dalam budaya islami atau mungkin lingkungan pesantren. Sehingga dari yang tertera pada artikel tersebut bahwa kaum ulama dan pesantren-pesantrennya ikut aktif dalam berperang atas dasar semangat membela Negara dan agamanya, maka bisa jadi itu pula lah yang menjadi latar belakang kakek saya dalam ikut berperang.
Dalam artikel itu pula disebutkan bahwa para ulama menggunakan keris sakti, bambu runcing dan batu yang sudah didoa kan, serta benda-benda lain yang menurut saya mengandung unsur kejawen serupa dengan apa yang kakek saya percayai. Kakek saya konon memiliki keris saktinya tersendiri.
Lalu bahwa spontanitas masyarakat langsung iku berperang dan berjuang melawan penjajah menunjukkan bahwa tidak semuanya mengikuti pendidikan atau pelatihan militer. Mungkin karena perasaan ingin membela negaranya maka mereka berjuang dan melawan. Ini yang menurut saya menjelaskan bahwa kakek saya tidak memiliki bekas-bekas atau catatan kemiliteran, karena dia berjuang secara spontan atas dasar kesadarannya sendiri.
Namun satu hal yang saya kurang pahami adalah bahwa nenek saya, mama saya, dan adik dari kakek saya menyebutkan bahwa beliau adalah anggota Tentara Keamanan Rakyat. Namun saat itu usianya baru saja 16 tahun, jadi kemungkinannya adalah beliau memang anggota Tentara Keamanan Rakyat dengan usianya yang muda, mungkin sebagai anggota sukarela (asumsi saya bahwa anggota sukarela adalah masyarakat yang mendaftar menjadi tentara dan diberi persiapan sekedarnya dengan kemampuan sekedarnya namun masih diatas masyarakat pada umumnya. Karena memang di Temanggung ada markas militer dan makam pahlawan yang memiliki gapura atau ornamen kemiliteran). Atau beliau hanyalah masyarakat biasa yang berjuang secara spontan namun karena masyarakat lain melihatnya sebagai pejuang, maka emblem ‘’tentara’’ atau pada saat itu dikenal dengan Tentara Keamanan Rakyat (dalam hal sebutan atau panggilan) melekat pada beliau. Atau kemungkinan terakhir adalah beliau memang merupakan seorang tentara yang memiliki kemampuan dan pendidikan milter yang mumpuni walaupun usianya masih muda, namun berkas-berkas ataupun semua benda kemiliterannya hilang atau memang tidak disimpan. Karena terakhir kali saya mengetahui pekerjaan beliau sebelum menjadi lurah setempat adalah menjadi guru, bukannya tentara.
Saya ingat saat tahun lalu ketika kakek saya meninggal karena sakit yang dideritanya, saya bangga memiliki sosok kakek seperti beliau, bahkan saat sekarang beliau sudah tiada. Saya beruntung masih memiliki waktu untuk mengenal beliau.
Kemungkinan pada akhir tulisan ini pembaca akan berpikir kenapa saya sangat memaksakan sekali menuliskan kisah, kalau memang boleh saya bilang begitu, tentang kakek saya padahal data yang dimiliki sangatlah sedikit, tidak valid, tidak ada bukti, dan banyak yang merupakan asumsi dari saya sendiri. Namun kembali lagi pada tujuan ditulisnya tulisan ini, selain untuk mengenang almarhum kakek saya, adalah sebagai tugas akhir dari pelajaran sejarah. Yaitu mewawancarai atau mencari seorang saksi sejarah dan perannya terhadap Indonesia.            
Lalu, ‘’bukankah saksi sejarah masih banyak yang lain? Yang masih dapat diwawancarai? Yang masih dapat dilihat foto atau dokumennya?’’. Ya, namun bagi saya seorang pahlawan sejati, terlebih seorang pria, adalah dia yang merupakan pahlawan bagi keluarganya terlebih dahulu berulah negaranya. Jadi memilih kakek untuk menjadi subjek dalam tulisan ini merupakan suatu kebanggaan bagi saya, sebagai cucunya, maupun sebagai warga negara yang dibelanya. Terimakasih

No comments:

Post a Comment