Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Fara Putri Zhafira XI IPA 4


Abdurrachman Surjomihardjo, seorang Ex-Tentara Pelajar dan Sejarawan
          
Kakek Abdurrachman Surjomihardjo adalah kakek saya, yang merupakan ayah kandung dari ibu saya.  Namun, beliau sudah meninggal dunia pada bulan Desember tahun 1994.  Oleh karena itu, untuk menulis biografi mengenai almarhum kakek saya, saya mewawancarai nenek saya atau istri dari Kakek Abdurrachman Surjomihardjo, yaitu Karlena Suri.  Pada hari Kamis tanggal 30 Mei 2013, saya berkunjung ke rumah nenek saya di kawasan Slipi untuk mewawancara beliau mengenai informasi-informasi tentang Kakek Abdurrachman Surjomihardjo. 
Abdurrachman Surjomihardjo (alm.) dan istrinya, Karlena Suri

                  A.      Biografi

Abdurrachman Surjomihardjo (alm.) beserta istri dan ketiga anaknya
Kakek Abdurrachman Surjomihardjo lahir pada tanggal 19 September 1929 di daerah Tegal, Jawa Tengah.  Beliau lahir dari pasangan suami istri Raden Ismail dan Sutjinah.  Beliau merupakan anak ke-6 dari 10 orang bersaudara.  Pada usianya yang ke-7, beliau menuntut ilmu di Hollandsch Inlandsch School (HIS), yaitu sekolah Belanda untuk anak-anak pribumi sampai dengan tahun 1942, setelah itu beliau masuk ke Sekolah Teknik namun sayangnya tidak sampai selesai dan beliau melanjutkan ke tingkat SMP sampai dengan tahun 1947.  Setelah itu beliau pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan setingkat SMA di Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara, sampai dengan tahun 1951.  Setelah lulus, ia pun menjadi pengajar di sekolah itu.  Tokoh masyarakat seperti Misbach Yusa Biran, Ateng Suripto dan Benyamin Sueb merupakan salah seorang murid yang pernah diajarkan oleh Kakek Abdurrachman di Perguruan Taman Siswa.  Disela-sela beliau mengajar di Perguruan Taman Siswa, beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra, Jurusan Ilmu Purbakala Sejarah Universitas Indonesia.  Kemudian beliau melanjutkan ke tingkat doktoral atau S3 dengan mengambil jurusan Sejarah dan beliau pun mendapat gelar Doktorandus dalam bidang sejarah pada tahun 1961 dan kemudian menjadi dosen di Universitas Indonesia.  Ketika menjadi pengajar di Perguruan Taman Siswa, beliau bertemu dengan Karlena Suri yang saat itu juga merupakan tenaga pengajar di SMA Muhammadiyah yang letaknya berdekatan dengan Perguruan Taman Siswa.  Beberapa saat setelah pertemuan mereka, kakek saya, Abdurrachman Surjomihardjo pun menikah dengan Karlena Suri, nenek saya.  Nenek saya pun juga bercerita saat ia menjadi pengajar di SMA Muhammadiyah, Nani Widjaja merupakan salah seorang muridnya. Pasangan Abdurrachman Surjomihardjo dan Karlena Suri memiliki 3 orang anak yaitu, 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki yang bernama Ida Agrina, Ira Marini dan Nuzul Iman.  Sekarang, kakek Abdurrachman Surjomihardjo sudah memiliki 7 orang cucu, 2 orang perempuan dan 5 orang laki-laki.  Dikarenakan penyakit yang dideritanya, kakek Abdurrachman Surjomihardjo meninggal pada tahun 1994, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1994.

                  B.      Peranan

Pada tahun 1946, ketika beliau masih berumur sekitar 17 tahun, bersama dengan teman-teman SMP-nya belia mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Tegal, yaitu sebuah organisasi pelajar.  Beliau sempat menjadi kepala staff dalam organisasi Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) sebelum Agresi Militer Belanda Pertama dan beliau menghadiri Kongres Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pertama di Malang dengan ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IP)I Tegal. Sekembalinya dari Malang, keputusan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Tegal pun sudah bulat untuk membentuk Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Tegal.  Setelah Agresi Militer Belanda Pertama, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kakek Abdurrachman Surjomihardjo dipercaya untuk menjadi Komandan bagi Batalion 500 Cie 520 Seksi 522.  Ketika menjadi Tentara Pelajar, beliau pernah dikirim ke Magelang.  Di Magelang, beliau melanjutkan pendidikannya di tingkat SMA.  Seperti yang sudah dijelaskan di bagian A, beliau pindah ke Jakarta lalu melanjutkan pendidikan di Perguruan Taman Siswa dan terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar S3 di bidang Sejarah.  Menurut istrinya, kakek Abdurrachman Surjomihardjo pernah menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia  untuk mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional dan Historiografi.  Selain itu, beliau juga sempat menjadi dosen di UGM, universitas tempat ia meraih gelar Doktoralnya di bidang sejarah.  Sejak saat itu, beliau merupakan seorang sejarawan. 
Pada tahun 1964, beliau memperoleh pekerjaan sebagai Ahli Peneliti/Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Masyarakat di Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (LEKNAS), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau yang pada saat itu bernama Lembaga Riset Kebudayaan Nasional, Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia dan pada saat itulah beliau berhenti menjadi guru SMA. Ia juga beberapa kali menjadi konsultan di proyek-proyek penulisan sejarah di berbagai lembaga pemerintah.  Di masa inilah beliau mulai menulis dan menghasilkan karya-karya hasil penelitian sejarahnya, baik berupa buku maupun makalah-makalah yang diterbitkan di berbagai jurnal.  Salah satu contoh karyanya adalah buku “Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia” yang diterbitkan oleh Proyek Penelitian Pengembangan Penerangan DEPPEN RI yang bekerjasama dengan LEKNAS-LIPI. Dan dalam buku ini beliau merupakan seorang redaktur dan salah seorang penulis, buku ini beliau tulis bersama rekan-rekan satu tim penelitiannya.  Buku ini memuat hasil penelitian dari Team Penelitian Sejarah Pers di Indonesia tahun 1976-1977, dimana beliau merupakan ketuanya dan juga memuat hasil penelitian dari Team Penelitian Sejarah Pers di Indonesia tahun 1977-1978, dimana beliau kembali menjabat sebagai ketua dari tim ini. Buku Sejarah Pers di Indonesia tersebut merupakan hasil penelitian kesatuan pelaksana dari tahun 1976-1978, selama 2 tahun tersebut, dihasilkan 2 buah laporan hasil penelitian yaitu, Sejarah Pers di Indonesia: Sumber dan Hasil Penelitian Awal (1976-1977) dan Sejarah Pers di Indonesia Laporan Penelitian Tahap ke II (1977-1978).
Beberapa buku yang ditulis oleh Abdurrachman Surjomihardjo
Beliau pernah menjadi anggota Tentara Pelajar di daerah Pekalongan Tegal.  Beliau bersama rekan-rekan ex-Tentara Pelajar-nya juga pernah menulis buku kecil yang berjudul “Kisah Pelajar Pejoang Daerah Tegal: Dari Bedil Kayu, Mitralyur Ke Bangku Sekolah” .  kisah tersebut disusun dalam rangka pembangunan tanda kenang-kenangan dan terimakasih ex Pelajar Pejoang Daerah Tegal kepada rakyat desa Sirampog dan sekitarnya yang merupakan tempat hijrah para Tentara Pelajar Seksi 522 pada saat Agresi Militer Belanda yang pertama. Beliau juga pernah menulis buku “Kota Yogyakarta Tempo Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930”, yaitu mengenai perkembangan-perkembangan yang terjadi di kota Yogyakarta.  Selain ketiga karya beliau yang telah dijelaskan diatas, beliau juga memiliki karya-karya lain seperti Sumber-Sumber Sejarah Budi Utomo (1973), Beberapa Segi Sejarah Masyarakat Budaya Jakarta (1975), Pemekaran Kota/The Growth of Jakarta (1977), Lintasan Sejarah PWI (bersama Soebagijo I. N. dan P. Swantoro, 1977), Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi (1978), Budi Utomo Cabang Betawi (1980), Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama di Jakarta 1928 (1981), dan juga Ki Hadjar Dewantara, Taman Siswa, dan Sejarah Indonesia (1985). Karya-karya tulis beliau tersebar dalam berbagai majalah dan suratkabar dan ditampilkan dalam berbagai seminar dan lokakarya di dalam maupun luar negeri.
Dalam bidang organisasi dan ilmu pengetahuan, beliau pernah menjadi Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jakarta, anggota Pengurus Pusat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIS), anggota Pengurus  Yayasan Gedung-Gedung Bersejarah Jakarta, anggota Panitia Pengarah Proyek Sejarah Lisan Arsip Nasional RI dan Konsultan pada Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Ditjen Kebudayaan Departemen P dan K.  Beliau juga sering ditugaskan ke luar negeri ditemani oleh istri beliau untuk melakukan riset-riset dan penelitian, beliau sudah melakukan banyak riset-riset  di banyak negara seperti Perancis, Belanda, Jerman, Australia, dan Jepang.  Ketika sedang bertugas di luar negeri, beliau bisa menetap selama kurang lebih 3 bulan untuk menyelesaikan risetnya. 
Diakibatkan aktivitasnya yang mungkin terlalu berat dan melelahkan, beliau terkena penyakit liver.  Perjalanan terakhir beliau adalah ketika beliau sedang berada di Nagoya, Jepang, mungkin dikarenakan perbedaan cuaca antara Jepang dan Indonesia, kondisi kesehatan beliau menurun sehingga beliau harus kembali pulang ke Jakarta.  Dikarenakan penyakitnya dan kondisi kesehatan yang terus memburuk, beliau pun meninggal dunia pada tanggal 14 Desember 1995 dan dimakamkan di  Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir.

Itulah biografi mengenai kehidupan kakek saya, almarhum Abdurrachman Surjomihardjo, seorang ex-tentara pelajar, penulis, guru, dan sejarawan yang telah memberikan kontribusinya pada bidang pendidikan dan terutama pada bidang sejarah dan ilmu pengetahuan di Indonesia ini.  Saya harap, biografi diatas dapat dijadikan teladan bagi para generasi muda penerus bangsa Indonesia yang kita cintai ini untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusinya bagi negara Indonesia ini.
                

No comments:

Post a Comment