Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 - Biografi Fariz Cahyaprana XI IPS 3



"Kakek H. Abdhul Latief – Aktif berjuang demi kemajuan Indonesia dari hari ke hari"

“Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak terasa negeri kita tercinta ini sudah merasakan kemerdekaan selama 67 tahun sejak 17 Agustus 1945. Dan tidak lama lagi masyarakat Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang tepatnya ke 68 tahun sekitar 3 bulan lagi. 68 tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar, sudah cukup lama Negara kita ini mengecap label “merdeka”, walaupun kenyataannya di beberapa segi kehidupan di Indonesia ini masih mencerminkan bahwa sepertinya Indonesia masih kurang memanfaatkan kemerdekaannya. Untuk memperoleh kebebasan atau kemerdekaan, banyak sekali proses yang telah dilalui oleh masyarakat Indonesia sejak dulu bahkan mungkin hingga sekarang, baik itu pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Karena sebagaimana kita tahu bahwa banyak sekali tahapan atau proses ataupun juga bisa dibilang musibah yang telah dilalui Indonesia. Mulai dari adanya penjajahan dari Belanda dan Jepang, bahkan setelah merdeka pun masih terdapat beberapa pemberontakan – pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah.

Kali ini saya mendapatkan tugas untuk mewancara seseorang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia ini, baik itu pra kemerdekaan ataupun pasca kemerdekaan. Mengingat umur kemerdekaan Indonesia yang sudah hampir 68 tahun, bisa kita bayangkan berapa banyak orang yang telah memiliki pengaruh terhadap kemajuan (ataupun kemunduran) Indonesia setiap harinya. Tidak kalah banyak juga pastinya orang menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di Indonesia, baik itu beliau – beliau yang pernah terlibat langsung, menjadi saksi saja, maupun orang awam yang pernah menyaksikan dan merasakan kekejaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Saya memutuskan untuk menceritakan tentang pengalaman kakek saya, beliau sudah meninggal sehingga saya memperoleh informasi tentang kakek dari nenek saya. Karena tidak sempat bertemu, saya mewawancarai nenek saya lewat telepon, dan berikut adalah hasil wawancaranya.

A.BIOGRAFI



            H. Abdhul Latief, itulah nama kakek saya, saya biasa memanggil kakek dan nenek saya dengan sebutan “Mbah”. beliau lahir di Bogor dan sebagian besar keluarga besarnya tinggal disana. Beliau adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Beliau lahir pada tanggal 17 April 1928. Dan kini beliau telah wafat sekitar 7 tahun yang lalu tepatnya pada Juli tahun 2006, ketika itu beliau berumur 78 tahun. beliau di makamkan di Taman Pemakaman Karet. Kakek saya memiliki sifat yang keras, mungkin memang orang tua beliau dulu nya mendidik beliau dengan keras sehingga terciptalah sifat kakek saya yaitu seorang individu yang keras, tegas, tetapi sangat baik menurut saya. saya masih ingat dengan ketegasan-ketegasan kakek saya dulu. Ia adalah orang islam yang taat, terlebih lagi ia merupakan kerabat dekat dari K.H Mohammad Syafii Hadzani yang dulunya merupakan ulama besar. Sehingga beliau juga sangat keras soal urusan agama.

            Masa kecil beliau dilalui sama seperti anak seumuran beliau pada umumnya, beliau bersekolah di sekolah dasar yang sangat sederhana di daerah Bogor, ketika saya bertanya nama sekolahnya, kebetulan nenek saya tidak ingat atau mungkin bahkan tidak tahu. Yang pasti kata nenek saya sekolah beliau tidak jauh dari rumahnya. Beliau lalu melanjutkan sekolahnya di sekolah menengah pertama yang berada di bogor juga. Saya ingat dulu kakek saya pernah bercerita bahwa ketika beliau duduk di bangku SMP, sekolahnya seperti sangat-sangat terpengaruh oleh Jepang. Terdapat beberapa budaya Jepang yang masuk ke dalam sekolah itu, tetapi saya lupa apa-apa saja "tradisi" yang harus dilakukan murid dan bahkan gurunya pada saat itu, maklum ketika saya diceritakan mungkin waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Di pertengahan masa SMP, kakek memutuskan untuk ikut ayahnya pindah ke Jogja. Ayahnya pindah karena mendapat suatu urusan yang harus diselesaikan. Akhirnya hanya kakek dan ayahnya yang pindah sedangkan anggota keluarga yang lain tetap tinggal di Bogor. Ketika tinggal di Jogja, beliau meneruskan pendidikannya dan beliau bergabung dengan Tentara Pelajar yang ada di Jogja dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Beliau memang sudah lama ingin bergabung dengan organisasi – organisasi seperti ini karena beliau ingin ikut serta dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau merasakan bahwa tidak seharusnya bangsa Indonesia menderita seperti ini, apalagi orang tua beliau juga pernah menjadi korban dari kekejaman penjajah, akan tetapi beliau tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi pada kedua orang tuanya. Beliau juga bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Setelah menyelesaikan pendidikannya di Jogja dan urusan ayahnya selesai, kakek dan ayahnya kembali ke bogor. Kemudian kakek menjalani kehidupan seperti biasa layaknya seorang pemuda yang memiliki semangat tinggi, tetapi sayangnya kakek tidak meneruskan perjuangannya untuk ikut serta melawan penjajah. Suatu hari kakek bertemu dengan ulama besar bernama K.H Mohammad Syafii Hadzani. Tak lama waktu berselang mereka memiliki hubungan yang sangat akrab bagaikan seorang kerabat yang sangat dekat, tetapi jika ditanya kakek selalu menjawab bahwa beliau adalah muridnya K.H Syafii Hadzani. Beliau sering ikut dengan K.H Syafii Hadzani saat bepergian, apalagi K.H Syafii Hadzani juga memiliki banyak murid. Akhirnya kakek bekerja di suatu perusahaan dan juga ikut menjalankan pesantren yang dibangun oleh K.H Syafii Hadzani.

B.PERANAN 

Mungkin kakek saya tidak berkontribusi secara terang – terangan seperti Angkatan Darat atau Angkatan Laut maupun Angkatan Udara pada zaman penjajahan saat itu (yang harus berperang menggunakan senjata). Kakek hanya pernah bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia dan Tentara Pelajar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika Kakek menjadi anggota IPI, beliau mendapat kesempatan untuk ikut kursus PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) yang diselenggarakan Pengurus TP bekerja sama dengan Rumah Sakit Bathesda, selama satu bulan. Dengan modal pengetahuan itu, beliau menjadi anggota TP, dan sering mendapat tugas sebagai anggota Palang Merah, mengikuti aksi-aksi penyerangan dan penghadangan terhadap militer Belanda.

Kakek juga memiliki peranan ketika ia bergabung dalam Tentara Pelajar di DIY pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 yaitu meliputi berbagai aktifitas dan kegiatan yang semuanya menunjang perjuangan bangsa saat itu. Mereka yang tergabung dalam satuan Tentara Pelajar pada masa perjuangan menegakkan kemerdekaan dulu itu selain terlibat langsung dalam aksi penyerangan dan penghadangan terhadap musuh, juga terlibat dalam berbagai aktifitas lainnya yang menunjang perjuangan waktu itu. Beliau pernah bertugas untuk  menempelkan pamflet-pamflet yang berisi berita-berita perjuangan, beliau pada saat itu dibantu oleh seorang staf Penerangan, sehingga mereka berdua menangani berita-berita perjuangan serta penyebarluasannya. Tampaknya pengalaman-pengalaman atau andil mereka para anggota Tentara Pelajar tersebut adalah mulai dari membantu penyelenggaraan dapur umum, penyelidikan lokasi obyek yang akan diserang, sebagai kurir pembawa dokumen rahasia, selaku anggota Palang Merah, dan bahkan terlibat dalam pertempuran-pertempuran atau penghadangan-penghadangan terhadap Militer Belanda walaupun jarang.

Selain itu, kakek juga berperan dalam penyebarluasan ajaran islam disekitaran Jakarta dan tempat-tempat lain di pulau Jawa. Hal ini dibuktikan dengan seringnya kakek ikut bepergian dengan K.H Mohammad Syafii untuk menyebarkan ajaran islam. K.H Mohammad Syafii merupakan ulama besar yang sangat terkenal, beliau juga pernah mendirikan ormas – ormas agama dan pesantren yang hingga kini masih ada. Kakek saya pun ikut menjalankan fungsi pesantren tersebut semasa hidupnya. Dan sebagaimana telah kita ketahui bahwa islam juga berperan besar dalam kemajuan Indonesia apalagi organisasi yang tidak asing lagi di telinga kita, Muhammadiyah yang telah berhasil menunjukan ke-eksisannya dalam memperjuangkan ajaran islam untuk dijadikan pedoman juga bagi masyarakat Indonesia dalam bertindak.

Di tengah asiknya perbincangan saya dengan nenek mengenai kakek saya, tiba-tiba nenek juga menceritakan masa lalunya, dan jujur saya baru tahu bahwa nenek saya dulu adalah seorang anggota PMI. Nenek saya masih ingat betul seperti apa seragam PMI pada masa ketika nenek saya masih mengenakannya, nenek berkata "Mbah dulu memakai atasan putih,kemeja dengan dua saku dibagian depan, rok putih dibawah lutut, membawa obat-obatan kemana-mana dan memakai pet pejuang berwarna putih juga dengan tanda palang merah di lengan". Sedikit-sedikit saya bisa membayangkan bagaimana design baju PMI pada zaman dulu dan bagaimana penampilan nenek saya zaman dulu. Karena kalau saya nonton film-film zaman dulu, saya sering kali melihat bahwa biasanya remaja perempuan zaman dulu rambutnya dikepang dua, akhirnya saya menanyakan kepada nenek saya apakah dulu ketika beliau bertugas rambutnya dikepang 2 juga.. Dan jawaban nenek sungguh mengejutkan hati saya karena jawaban nenek adalah "iya...dulu rambut mbah dikepang dua". 

Karena nenek terlanjur membahas tentang dirinya, ya sudah, sekalian saja saya tanyakan beberapa hal tentang pengalamannya. Dan ternyata dulu nenek pernah menyaksikan peristiwa pertempuran Surabaya sekitaran tahun 1945 atau lebih saya sedikit lupa. Lalu saya bertanya apa saja yang nenek ingat,beliau menjawab " suatu kejadian di Putro Agung, seorang ibu muda dalam keadaan hamil dengan dua anak yang masih kecil meninggal terkena tembakan Inggris,satu tembakan di paha dan satu tembakan di leher, melihat itu mbah ingin nangis, kedua anaknya masih kecil,yang besar umurnya terlihat sekitar 3 tahunan sedangkan yang kecil masih 1 tahun…. ". Nenek lalu melanjutkan "perang itu mengerikan, yang paling mengerikan bagi mbah adalah pertempuran di kawasan Siola, Tunjungan dan Hotel Oranje, banyak yang meninggal disitu, mbah melihat ada yang meninggal posisi sujud, ada yang meninggal tergantung diatap gedung Hotel Oranje... Banyak sekali orang meninggal dijalanan itu pokoknya". "Dan hal yang paling tidak bisa Mbah lupakan adalah ketika Mbah melihat sendiri di Kempetai Bojonegoro, seorang ibu dengan anaknya yang berusia 7 sekitar tahunan dipenggal hanya karena mengambil sebotol minyak angin yang tergeletak di jalanan".

Beberapa paragraf yang coba saya tuliskan diatas adalah bagaimana usaha kakek dan bahkan nenek saya (yang baru saja saya ketahui perannya) untuk ikut berperan dalam memperjuangkan majunya kehidupan Indonesia dari hari ke hari yang pastinya diharapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebagaimana yang tadi di awal saya tuliskan, hampir 68 tahun Negeri kita tercinta ini merdeka. Dan di setiap fase-fase kehidupan yang dilalui Indonesia, selalu ada masyarakat Indonesia yang terkenal akan besarnya rasa nasionalisme nya untuk ikut turut serta. Saya yakin telah ada ratusan bahkan ribuan orang yang telah mengerahkan jiwa raganya demi Indonesia. Mungkin peran kakek dan nenek saya diatas tidak cukup besar, tetapi saya percaya bahwa saya sendiri tidak akan mampu melakukan hal yang telah mereka lakukan. Kini kewajiban kita sebagai pelajar adalah menghargai dan meneruskan perjuangan mereka. Karena perjalanan kita masih sangat panjang, Indonesia masih sangat – sangat bisa mencapai hal yang lebih dibandingkan dengan apa yang telah Indonesia capai sekarang.


No comments:

Post a Comment