Sunday, 26 May 2013

Tugas-2 Biografi Fauzan Kurniawan

Mbah Sardjono, saksi hidup yang bertemu dengan tokoh-tokoh nasional.

1. Biografi

    Sardjono begitulah orang di kampung memanggilnya. Umurnya telah mencapai kepala 8. Beliau termasuk tetua di kampungnya karena kebanyakan dari orang-orang seumuran beliau sudah meninggal dunia. Beliau berasal dari Godean, Jogjakarta. Suatu daerah penghasil genteng terbaik di Jogjakarta. Orang tua beliau telah tiada sejak umur 10 tahun. Maka dari itu sejak saat itu beliau mendaftar sebagai tentara. Kariernya dapat dibilang cukup mengagumkan. Hanya dengan berbekal pendidikan SD, beliau dapat pensiun sebagai perwira. Yaitu sebagai Letkol (Letnan Kolonel). Saat ini beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah miliknya di daerah Cikampek ataupun menghabiskan waktu di sekolah alam yang didirikan anaknya di daerah Cijantung. Dari hasil pernikahannya, beliau mempunyai 7 orang anak dimana anak pertamanya meninggal ketika dilahirkan, 18 cucu, serta 3 orang cicit. Suatu fakta yang mengejutkan bahwa di umurnya yang sudah 84 tahun, beliau masih menyetir mobil sendirian pulang-pergi Jakarta-Cikampek sendiri. Dan ditambah beliau masih memiliki ingatan yang sangat kuat.

2. Peranan

    Beliau mulai masuk ke tentara sejak tahun 1945. Saat itu umurnya bahkan belum mencapai angka 20. Namun berkat kegigihan yang kuat dan tekad yang bulat, beliau memutuskan untuk menjadi tentara Indonesia. Di awal kariernya, beliau langsung menjabat sebagai wakil kopral. Alasannya sederhana. Karena dibanding tentara yang lain Mbah Sardjono merupakan satu-satunya orang yang dapat membaca dan menulis. Ditambah faktor komandannya saat itu, Kopral Abdul Kahar Muzakkar tidak dapat membaca. Perlu kita ingat lagi dari pelajaran kita kelas 11, kita mengenal sosok Abdul Kahar Muzakkar sebagai tentara Indonesia yang pada akhir hidupnya mencoba mendirikan negara di daerah Sulawesi. Namun sial baginya, ia justru ditembak mati oleh tentara Indonesia pada saat itu. Komandan batalyonnya adalah Andi Matalatta. Sedikit membahas profil singkat dari Andi Matalatta. Ia adalah seorang tentara Indonesia yang terkenal dari Sulawesi. Ia juga dikenal handal dalam olahraga air. Kini namanya diabadikan sebagai nama stadion di Makassar. Kembali ke topik awal. Walaupun dengan usia yang masih dibilang seumur jagung, mbah Sardjono tidak gentar melawan para penjajah Belanda. Beliau sering dijadikan mata-mata untuk mengawasi geral-gerik Belanda. Pernah suatu ketika ada tentara Indonesia yang dikiranya merupakan tentara Belanda hampir ditembaknya. Untung saja, tentara itu segera memberi tahu Mbah Sardjono bahwa dia merupakan tentara Indonesia.

   Menjadi tentara di masa itu sangatlah berat. Mari kita buka lagi buku sejarah kita. Kalian tentu masih ingat mengenai Serangan Umum 1 Maret di Jogja. Serangan yang diprakasai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Soeharto. Penulis menanyakan mengenai peristiwa itu kepada Mbah Sardjono. Beliau bercerita bahwa pada saat serangan tersebut beliau tidak ikut ke dalam kota (Jogja). Beliau mendapat tugas untuk memantau dan menjaga daerah perbatasan di Utara bersama komandannya Abdul Kahar Muzakkar. Beliau bertugas untuk menjemput Pak Dirman. Awalnya penulis cukup bingung dengan nama ini. Namun ketika penulis teringat nama Jenderal Sudirman, beliau langsung membenarkannya. Dalam sejarah Indonesia, Jenderal Sudirman terkenal dengan taktik perang gerilyanya yang mengharuskannya untuk terus bergerak mencari persembunyian baru.

   Dalam ceritanya, keadaan Jogja saat itu sangatlah mencekam. Bunyi tembakan di sana-sini. Korban silih berjatuhan dari kedua pihak baik Indonesia maupun Belanda. Belanda yang saat itu tidak mau mengakui keberadaan negara Indonesia berusaha untuk mempertahankan daerah Jogjakarta yang telah dikuasai mereka sejak tanggal 20 Desember 1948. Kedigdayaan Belanda akhirnya dapat dihancurkan oleh para tentara Indonesia dengan persenjataan dan alusista yang terbatas selama kurang lebih 6 jam. Selebihnya tentara Indonesia dipaksa mundur oleh tentara Belanda meninggalkan daerah Jogjakarta. Namun kabar baiknya Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang saat itu merupakan satu-satunya orang dapat berkomunikasi dengan negara lain dapat memberi kabar mengenai agresi yang dilakukan Belanda ini kepada PBB. Dan karena itulah PBB memaksa Belanda untuk ikut dalam perundingan KMB (Komisi Meja Bundar) di Den Haag, Belanda.

   Penulis juga menanyakan mengenai darimana persedian senjata yang ada pada saat serangan umum. Beliau mengatakan sebagian besar senjata yang ada merupakan peninggalan negara Jepang. Kemudian ditambah bantuan dari pihak India serta tentara Siliwangi atau yang dikenal dengan tentara hijrah.

   Kehidupan awal menjadi tentara amat berat. Dahulu menjadi tentara merupakan tindakan sukarela para warga. Mereka menyadari keinginan untuk bebas dari penjajahan serta merdeka secara penuh. Faktor ekonomi juga mempengaruhi hal ini. Sebuah pengetahuan baru bagi penulis karena Mbah Sardjono bercerita dahulu di awal kemerdekaan keuangan negara Indonesia sangatlah buruk. Namun berkat bantuan dari Keraton keuangan negara dapat tertolong. Hal ini sedikit masuk akal mengingat dahulu Keraton Ngayogyakarta merupakan negara yang sudah berhungan dengan negara luar sebelum adanya Negara Indonesia.

   Selepas Serangan Umum 1 Maret, Mbah Sardjono tidak lagi harus berjibaku dengan bisingnya senjata laras panjang maupun bunyi lemparan granat. Di tahun 1950, beliau dipindah tugaskan ke Jakarta. Di Jakarta beliau menempati posisi di bidang keuangan dan adiministrasi tentara angkatan darat. Karena pendidikannya masih dianggap kurang. Maka pihak tentara angkatan darat memerintahkan beliau untuk untuk mengeyam pendidikan tambahan terlebih dahulu sebelum akhirnya mendapati posisi itu. Di posisinya tersebut mengharuskan Mbah Sardjono untuk berurusan dengan uang dalam jumlah yang sangat banyak. Gaji seluruh Tentara Angkatan Darat seIndonesia berada dalam kendalinya. Andai saja beliau tidak memiliki mental dan iman yang kuat niscaya beliau sudah dapat menjadi milioner di jaman sekarang. Kemudian di era orde lama, tepatnya ketika M Yusuf dilantik menjadi menteri HanKam (Pertahanan dan Keamanan), mbah Sardjono ditarik ke Departemen HanKam. Sekarang tugasnya lebih berat yaitu mengontrol keuangan di badan Tentara Indonesia serta Departemen HanKam. Di saat inilah beliau harus dapat bersiaga 24 jam apabila kas HanKam ingin dipakai. Pada saat itu belum ada sistem kartu kredit. Maka dari itu kunci brankas dipegang olehnya. Beliau bercerita bahwa pada suatu malam beliau ditelfon oleh M Yusuf untuk menyediakan beberapa jumlah uang untuk dibawanya menuju Timor-Timur (dahulu masih berada di naungan Negara Republik Indonesia) keesokan paginya. Jam 12 malam ditemani saudara penulis, beliau menuju bank dan menyerahkan uang tersebut kepada M Yusuf. Sedikit memberi info singkat mengenai M Yusuf. Beliau merupakan Panglima ABRI pada tahun 1978-1983. Beliau juga merupakan saksi bisu penandatangan SUPERSEMAR yang menjadi misteri bersama dengan Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amirmachmud.

   Keingin tahuan penulis terhadap cerita sebenarnya mengenai Serangan Umum 1 Maret membawa penulis menanyakan hal berikut. Apakah benar cerita yang ditulis Soeharto di buku karangannya adalah berita bohong? Di bukunya diceritakan bahwa Soeharto seolah-olah mengambil inisiatif sendiri dalam penyerangan ini. Ditambah ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebenarnya adalah orang yang berada dibalik serangan ini. Namun karena sifatnya yang low profil membuat publik lebih mengagung-agungkan nama Soeharto. Mbah Sardjono pun menjawabnya. Cerita itu tidaklah bohong atau karangan semata. Namun cerita-cerita miring yang beredar mengenai Soeharto lah yang dapat dianggap sebagai karangan semata. Di jamannya, tidak ada orang yang berani bertanya kepada Soeharto dan membuat orang berspekulasi dan akhirnya membuat berita atas nama Soeharto. Kemudian untuk masalah siapa yang lebih berperan dalam serangan tersebut Mbah Sardjono menjawab bahwa keduanya memiliki tugasnya masing-masing. Tugas mereka tidak bisa dipandang sebelah mata dan sama-sama penting.

   Kekaguman terhadap Soeharto  berlanjut ke cerita SUPERSEMAR. Orang-orang saat ini bingung mengenai keberadaan surat perintah yang asli. Namun Mbah Sardjono berujar “ya suratnya ada di Pak Harto”. Kemudian beliau bercerita mengenai tindakan Soeharto yang berani membubarkan PKI. Hal ini disebabkan oleh tindakan-tindakan yang dibuat PKI yang ingin merubah ideologi negara. Tindakan ini dipimimpin oleh Amir dan Muso. Melihat tindakan ini, Presiden Soekarno naik darah. Ia menantang keduanya di radio. Soekarno bersuara di radio “Pilih Soekarno-Hatta atau Amir-Muso?”. Maka rakyat dengan serempak memilih Soekarno-Hatta. Dan setelah itu Amir-Muso ditembak mati oleh tentara Indonesia.

   Setelah bercerita mengenai SUPERSEMAR, Mbah Sardjono juga bercerita mengenai pendapat negatif orang mengenai Soeharto. Beliau sampai membawakan buku yang sangat tebal mengenai pendapat banyak orang yang dikumpulkan menjadi satu. Menurut Mbah Sardjono Soeharto merupakan orang baik. Dia berasal dari keluarga petani yang sangat miskin dan harus berjuang untuk hidup. Ketika Soeharto menjadi presiden, ia juga sangat memerhatikan rakyat-rakyat kecil. Ia bahkan rela mesti bermandikan lumpur untuk turun langsung ke persawahan memberikan pengarahan kepada petani-petani di pelosok negeri. Soeharto juga menganut sistem dimana semua rakyat harus sejahtera tanpa terkecuali. Karena ia berpendapat bahwa orang yang lapar tidak akan bisa berpikir. Tidak bisa berpikir berarti tidak bisa ikut membantu negara ini menjadi berkembang. Maka dari itu pemerintahan di saat itu berusaha menggalakan produksi beras secara besar-besaran. Berkat itulah Indonesia pernah mendapat prestasi sebagai penghasil beras terbesar di Asia. Namun semua kebaikan itu pudar ketika orang di dekatnya bertindak semaunya. Mulai dari anak-anaknya hingga prajurit-prajuritnya. Hal ini tentulah mencoreng nama baik Soekarno. Perjudian bahkan pembunuhan sempat dilakukan oleh anaknya.

   Akhir kata penulis ingin memberikan kalimat mutiara yang dikutip dari  perkataan Mbah Sardjono.
“Sederhana itu artinya bercukupan, namun tidak berlebihan”



No comments:

Post a Comment