Wednesday, 29 May 2013

Tugas 2 - Biografi Fransisca Bianca


Nenek Ita Indrasasana, Bertahan Meski Di Tengah Peperangan

Dimasa modern ini, memang kita generasi muda tidak lagi hidup di tanah Indonesia yang dilanda peperangan, seperti kakek dan nenek kita. Aneh rasanya jika mendengar kisah-kisah mereka yang kebanyakan semasa kecilnya menyaksikan sendiri kejadian-kejadian bersejarah yang kini hanya bisa kita baca dan pelajari melalui buku-buku. Bahwa disaat kita hanya bisa membayangkan bagaimana kiranya perasaan penduduk disaat Indonesia sedang dalam perjuangannya mencapai kemerdekaan, generasi kakek nenek kita justru dapat mengingat kembali saat-saat dimana mereka menyaksikan kejadian dan momen-momen tersebut dengan mata kepala sendiri, bahkan beberapa di antaranya berperan langsung dalam kejadian-kejadian tersebut.
            Itulah yang membuat kesempatan mewawancarai generasi kakek nenek kita ini menjadi menarik. Bahwa kita mendapat kesempatan untuk mendengar kisah hidup mereka di zaman bersejarah itu dan mendengar perspektif mereka terhadap kejadian-kejadian yang terjadi, yang tidak selalu sama dari perkiraan kita selama ini.
            Saya pun berkesempatan mewawancarai nenek saya yang bernama Ita Indrasasana mengenai masa kecilnya di Sulawesi Utara. Saya tidak mengira ternyata beliau memiliki pengalaman yang cukup menarik pada saat itu. Berikut ini merupakan hasil wawancara saya dengan nenek saya mengenai masa kecilnya dimana ia menjadi saksi pendudukan Jepang di Sulawesi Utara.


Biografi

Nenek saya bernama lengkap Maria Bernadette Tane, namun biasanya dipanggil Ita. Nenek saya lahir tanggal 26 Maret 1936 di Langowan, Manado, Sulawesi Utara. Beliau merupakan anak sulung dari 7 bersaudara dan memiliki 2 adik perempuan dan 4 anak laki-laki.
Pada awalnya nenek saya bersekolah di sekolah Belanda, namun setelah pendudukan Jepang ia meneruskan di sebuah sekolag Jepang hingga duduk di kelas 3. Setelah Belanda kembali berkuasa, semua murid harus mengulang sekolah lagi dari kelas 1. Saat itu para murid bisa loncat kelas melalui serangkaian tes. Dalam kurun waktu 3 hari, nenek saya mampu loncat dari kelas 1 hingga ke kelas 6. Dalam waktu 6 bulan, ia pun naik ke kelas 7. Setelah setengah tahun ke kelas 8, hingga akhirnya boleh mengikuti ujian untuk masuk MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau yang sekarang disebut sebagai SMP. Saat itu di Manado terdapat 2 kursi yang tersedia, sedangkan di Tomohon juga terdapat 2 kursi. Karena keterbatasan tempat itu, para murid diuji untuk bisa naik ke jenjang SMP. Nenek saya pun lulus seleksi dan masuk ke sekolah yang terdapat di Manado, dimana terdapat sebuah susteran. Setelah 3 tahun, nenek saya pun siap untuk masuk ke jenjang SMA yang saat itu disebut AMS atau Algemeen Metddlebare School. Beliau pergi ke Jakarta dan masuk ke SMA Santa Ursula yang saat itu berada di Jalan Pos no. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Disana ada kantor pos yang disebelahnya terdapat sebuah asrama tempat nenek saya tinggal selama 10 tahun.
Setelah selesai SMA, nenek saya melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dimana beliau mengambil jurusan ekonomi. Setelah lulus kuliah, nenek saya mula-mula bekerja di sebuah perusahaan yang dikelola Inggris. Perusahaan tersebut melayani 16 perkebunan yang terdiri dari perkebunan karet, teh, dan kopi. Nenek saya terus bekerja disana hingga masa DWIKORA, ketika perusahaan tersebut diambil alih oleh negara. Setelah itu nenek saya dipanggil untuk menjadi sekretaris menteri perkebunan.
3 tahun kemudian, nenek saya diminta oleh seorang Pastor bernama Pater V. Daniels, S.J untuk berpartisipasi di sebuah studio yang bernama Sanggar Prathivi. Disana nenek saya menjadi direktur dari 2 perusahaan. Kedua perusahaan itu adalah Swadaya Pratiwi dan Kartika Film. Sanggar Prathivi ini bergerak di bidang radio, televisi, dan film. Disinilah nenek saya paling lama berkarier.
Setelah menikah dengan kakek saya, Johanes Benedictus Indrasasana, nenek saya lebih sering dipanggil dengan nama Ita Indrasasana. Nenek saya memiliki 5 orang anak, yang paling sulung ialah ayah saya.



Peranan

 Menurut cerita nenek saya, pada awalnya Jepang masuk ke Indonesia lewat Filipina, kemudian melalui Morotai, Maluku, hingga akhirnya Jepang mendarat di suatu lapangan terbang yang terletak di desa Kalawiran, Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada 11 Januari, 1942. Berdasarkan kesaksian nenek saya, para tentara Jepang datang menggunakan pesawat-pesawat amfibi dan terjun dengan parasut. Lokasi mendaratnya dekat dengan Danau Tondano, tempat pesawat-pesawat amfibi tersebut mendarat. Menurut nenek saya, alasan tentara Jepang mendarat disana adalah agar pesawat-pesawat yang digunakan dapat disimpan di sebuah gua dekat danau, yang dahulu juga sempat dipakai sebagai tempat penyimpanan pesawat Belanda. Konon, tempat tersebut memang merupakan tempat yang biasa digunakan untuk mendaratkan pesawat-pesawat terbang.
Setelah itu, mulailah pendudukan Jepang atas Indonesia yang berlangsung selama 3 tahun lamanya.
Dalam kurun waktu 3 tahun itu Jepang pun menguasai daerah Minahasa. Pada mulanya, nenek saya dan keluarganya dan tinggal di Langowan. Namun setelah setelah pendudukan Jepang mulai, nenek saya dan keluarganya berpindah ke desa Kalawiran untuk alasan keamanan. Nenek saya pun bercerita bahwa diseberang rumahnya terdapat sebuah sekolah tempat ia memulai pendidikan Jepang setelah sebelumnya beberapa tahun bersekolah di sekolah Belanda. Mengenai tempat tinggalnya di desa Kalawiran ini beliau pun menuturkan, “Rumah yang bagus atapnya terbuat dari seng.” Rupanya pada saat itu kualitas sebuah bangunan ditentukan dari atapnya. Jika terbuat dari seng, maka bangunan itu adalah bangunan yang cukup berarti. Selain seng, atap-atap saat itu juga ada yang terbuat dari daun.
“Sekutu adalah musuh jepang,” berikut kata nenek saya. Sekutu pun mulai berperang dengan Jepang, hingga akhirnya Jepang pun mulai terdesak. Pada tahun 1944, Sekutu mulai membom daerah sekitar desa Kalawiran. Menurut kesaksian nenek saya, banyak korban jiwa yang merupakan penduduk setempat akibat pemboman tersebut. Hal itu disebabkan oleh keharusan para penduduk laki-laki dari desa Kalawiran untuk menimbun lubang-lubang akibat pemboman yang terjadi. Namun saat mereka sedang bekerja, pemboman tidak berhenti dan  justru terus terjadi. Banyak dari mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri. Menurut penuturan nenek saya, ia melihat dua anak laki-laki yang sedang bekerja di depan rumahnya tewas akibat pemboman yang tidak diduga itu.
Sekutu pun menyebarkan pamflet ke desa tersebut yang isinya merupakan perintah agar penduduk menjauh dari lokasi perang tersebut. Para penduduk, termasuk nenek saya pun berlari hingga ke kaki gunung. Namun setelah kira-kira 2-3 hari lamanya mereka melihat tentara Jepang berada di lokasi tempat mereka berada dan menaruh kanon disana. Kanon-kanon Jepang itu menarik perhatian tentara Sekutu. Maka para penduduk pun terus berlari lagi karena setelah Sekutu melihat kanon-kanon Jepang, mereka pun berasumsi itu merupakan salah satu markas Jepang. Akhirnya tempat itu pun diserang.
Para penduduk terus lagi berlari lagi hingga melewati 7 gunung kecil, dan akhirnya berlari hingga sampai di tengah sebuah hutan besar. Menurut nenek saya, hutan tersebut sangat lebat hingga ia sulit melihat sinar matahari.
Selama berada di hutan tersebut, penduduk pun membuat gula aren karena di hutan tersebut banyak terdapat pohon-pohon aren. Menurut cerita nenek saya, dari gula aren tersebut dapat dihasilkan alkohol. Gula aren dimasak lalu yang sudah menjadi asam dijadikan alkohol. Pembuatan alkohol ini menggunakan teknik destilasi. Teknik ini menghasilkan uap air. Uap air lalu melewati rongga-rongga yang terdapat dalam tiang-tiang bambu tersebut. Uap tersebut terus menghasilkan air hingga kemudian menjadi alkohol. Sayangnya, karena proses pembuatan alkohol itu menggunakan bambu yang tinggi-tinggi, jika dilihat dari atas maka tiang-tiang bambu tersebut akan terlihat seperti kanon perang milik Jepang. Akibatnya, tempat penyulingan alkohol itu pun dibom dan menghasilkan banyak korban jiwa yang merupakan penduduk sendiri.
Selama itu, Jepang terus mengikuti perpindahan penduduk karena para tentara Jepang sudah kehabisan perbekalan dan membutuhkan makanan. Meski penduduk sudah berusaha menyingkir, namun Jepang terus saja membuntuti penduduk. Gula dan beras yang dihasilkan penduduk harus diberikan ke tentara Jepang yang saat itu sudah kehabisan perbekalan, sehingga di tempat persembunyian pun rakyat tetap melarat.
Pada tahun 1945, Jepang akhirnya kalah atas Sekutu. Setelah satu tahun hidup di hutan, para penduduk pun mulai keluar dan kembali ke desa Kalawiran. Setelah mereka kembali, mereka menemukan hampir semua bangunan telah hancur akibat perang. Nenek saya pun terkejut mendapati rumahnya masih berdiri, meski dengan beberapa bekas tembakan, disaat bangunan-bangunan sekitarnya hampir semuanya runtuh. Kata nenek saya, di bagian belakang rumahnya ia mendapati sebuah amunisi tersangkut di tiang rumahnya. Namun karena takut, ia membiarkannya begitu saja. Akhirnya amunisi itu tidak pernah dipindahkan.
Menurut nenek saya, Jepang sebenarnya menyerahkan Indonesia kepada Bung Karno, namun pihak Belanda tidak setuju sehingga Indonesia pun masih terus memerangi Belanda untuk mencapai kemerdekaan. Perlawanan Indonesia terhadap Belanda ini umumnya terjadi di Pulau Jawa, sementara di Minahasa Belanda terus berkuasa. Keadaan ini terus berlangsung hingga tahun 1949 saat terjadi Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan negara Indonesia serikat.
Nenek saya dan keluarganya mempunyai sebuah bakery yang saat masa penjajahan Belanda menjadi penyedia roti untuk para tentara. Lalu setelah masa pendudukan Jepang, bakery nenek saya juga menjadi penyedia roti bagi tentara Jepang. Menurut cerita nenek saya, Belanda sangat menyukai kopi dan srikaya yang dihasilkan penduduk setempat. Setelah Sekutu menang atas Jepang, Belanda memberikan berkaleng-kaleng keju yang ditukar degan kopi dan selai srikaya. Kopi dan srikaya itu akhirnya diekspor Belanda ke Papua, Morotai, dan Darwin.
Selain itu, parasut-parasut yang habis dipakai tentara–tentara untuk terjun dari pesawat dan tidak terpakai lagi juga diberikan kepada penduduk. Kata nenek saya, bahan parasut itu bagus sekali jika dijadikan pakaian, sehingga penduduk memberinya pewarna dan akhirnya menjadi baju.
Setelah Indonesia merdeka, menurut cerita nenek saya Minahasa berada dibawah pengawasan angkatan udara. Bakery nenek saya pun terus menjadi penyedia roti, juga beras dan daging, bagi para tentaranya. Sebagai bayarannya, mereka memberikan mobil-mobil Jeep yang dulunya milik tentara Jepang dan Belanda. Oleh penduduk Jeep-Jeep tersebut dijadikan kendaraan umum.
Secara langsung, nenek saya memang tidak berperan saat terjadi peperangan, maupun dalam pemerintahan setelah merdeka. Namun kisah beliau adalah mengenai pengalamannya semasa kecilnya di tengah pecahnya peperangan di kampung halamannya.



Demikianlah hasil wawancara saya dengan nenek saya, Ita Indrasasana. Mengenai hasil wawancara tersebut, saya merasa cukup bangga dengan beliau karena berhasil bertahan meskipun di tempat tinggal dan kampung halamannya terjadi perang yang menghilangkan nyawa banyak penduduk setempat. Mengenai rumahnya yang tidak hancur setelah perang itu, nenek saya menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Suatu pelajaran yang dapat saya ambil dari nenek saya setelah ceritanya ini adalah bahwa untuk dapat menjalani hidup yang bermakna, kita harus terus bersyukur dan menganggap hidup adalah suatu keajaiban, dan bahwa kita hendaknya tidak membiarkan hambatan-hambatan yang kita jumpai menghalangi kita untuk bisa meraih impian kita.
Meskipun generasi kakek nenek kita menghabiskan masa kecil di sebuah zaman dimana Indonesia tidak seaman sekarang ini, namun mereka tetap bertahan melalui itu semua dan terus menjalankan hidup mereka hingga meraih berbagai kesuksesannya masing-masing. Saya kira keteguhan tersebut ialah sebuah inspirasi yang bisa kita petik dari wawancara-wawancara ini, bahwa dibalik pengalaman-pengalaman yang menarik terdapat sebuah keteguhan yang menjadikan generasi kakek nenek kita makin kuat dan layak dikagumi.

1 comment:

  1. Cerita yang menarik dan membanggakan kampung halaman kami "Tou Langowan"

    ReplyDelete