Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Ghibran Al Imran XI IPA 1

Bapak Agus Dimara, Pejuang dari Papua

Bapak Agus Dimara kiri jauh


Pada hari rabu tanggal 29 Mei 2013 saya bersama kelima teman lainnya yaitu Anindityo Agung Baskoro, Norman Seno Prabowo, Muhammad Fikri Sudarto, Muhammad Satrio Nurahman dan Muhammad Zhafran Adela izin dari keluar dari sekolah pada jam 10.30 untuk melaksanakan dua tugas mulok dan sejarah yaitu yang pertama menjadi tour guide di salah satu museum atau tempat bersejarah di Jakarta dan yang kedua mewawancarai salah satu pelaku atau saksi sejarah.
Tugas yang pertama kami laksanakan di museum polri, tetapi bukan tugas inilah yang akan saya jelaskan pada essay ini. Tugas yang akan saya jelaskan adalah hasil wawancara dengan saksi sejarah yang saya lakukan di IKPNI di Depsos yang bertempat di Matraman. Setelah dari museum polri kami berjalan ke YDB, itu adalah tujuan kami yang pertama dalam mencari salah satu pelaku sejarah tetapi ternyata tempat itu hanya sebuah yayasan sosial yang membantu lansia. Disana kami bertemu dengan bapak Heru yang menyambut kami dan sempat berbincang-bincang sebentar. Ia menyarankan kami menghubungi ibu Ita dari IKPNI tersebut. Lalu kami pamit dan menelfon Ibu Ita
                Saat kami menelfon awal-awalnya ibu Ita sedikit dengan nada keras mempertanyakan tujuan kami ke IKPNI, tetapi setelah menjelaskan kami dari SMA Labschool Kebayoran yang bermaksud melakukan wawancara untuk membuat tugas kami dipersilahkan untuk datang.
                Cukup lama kami dijalan mencari-cari tempat depsos dengan GPS navigation yang cukup berguna tapi akhirnya sampai juga. Sesampainya disana ibu Ita menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan kami masuk keruangan yang sudah berisi 3 narasumber. Disana saya mewawancarai bapak Agus Dimara.
Bapak Agus Dimara adalah salah satu anggota dari IKPNI atau Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan suatu lembaga yang membantu dan mengumpulkan keluarga pahlawan nasional, khususnya yang kekurangan dan  tidak terurus atau sendirian. Beliau merupakan sekretaris koperasi di Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia ini. Awalnya IKPNI merupakan hanyalah sebuah panguyuban dari janda-janda istri pahlawan perang seperti istri dari Ahmad Yani lalu Ibu nasution istri dari bapah Abdul Harris Nasution dan lainnya. Bapak Agus Merupakan putra dari salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua yaitu Johannes Abraham Dimara. Karena inilah ia merupakan anggota IKPNI.  
Banyak yang bapak Agus ceritakan tetapi yang paling menonjol adalah tentang perjuangan dari Papua yaitu kampung halaman bapak agus dan yang kedua adalah semua yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan dan masa reformasi adalah semua dilakukan dengan tanpa pamrih tidak meminta balasan dan tanpa harus ada pencitraan khusus. “Semua itu dulu itu tanpa pamrih terus gaada pencitraannya, contohnya coba sekarang orang mau nolong orang lain pasti minta imbalan kalo dulu tuh bener-bener semua yang dilakukan untuk bangsa ini untuk perjuangan bersama, iya pasti gitu kan tanpa gaji, banyak ancaman bisa aja meninggal. Ngga kayak sekarang yang ditanya apa yang bisa kita dapat dari bangsa ini gitu kata orang-orang sekarang” ujar bapak Agus.
Bapak Agus juga menceritakan tentang perjuangan ayahnya saat masa kemerdekaan yaitu perjuangannya di Papua. Saat itu Papua berjuang bukan untuk indonesia karena belum dianggap termasuk dalam Indonesia. Yang mendorong orang Papua untuk melawan penjajah adalah dasar kebencian tanahnya diambil oleh bangsa asing dan membela diri sendiri. Papua juga masih berjuang masuk NKRI saat itu.
Johannes Abraham Dimara dilahirkan di Korem, Biak Utara, Papua, pada 16 April 1916. Nama aslinya adalah Arabei tetapi ketika Ia berumur sekitar 13 tahun iya diangkat menjadi anak seorang polisi belanda bernama mahabesi dan dibawa ke ambon dan tamat pendidikan dasar di Ambon pada tahun 1930. Orangtua aslinya senang dengan harapan ia bersekolah tinggi kelak. Nama Arabei diganti dengan nama baptis yaitu Johannes Abraham dan tetap memakai nama marga Dimara. Ia kemudian masuk Sekolah Pertanian di Laha hingga tahun 1940. Ia kemudian masuk Sekolah Pedidikan Injil, dan setelah lulus ia menjadi seorang guru injil di Pulau Buru.
Pada awal 1942 semua sekolah di pulau Buru ditutup karena kedatangan Jepang. Saat itu Jepang mencari pasukan dari orang asli Papua yaitu yang ada di pulau Buru adalah bapak Johannes Abraham Dimara. Beliau ditanya jika ia ingin bergabung menjadi polisis dan ia mau. Lalu bergabunglah ia menjadi Kempei-Ho yaitu pembantu kempei kesatuan polisi milite Jepang.
Dengan menjadi Kempei-ho tersebut mengubah kepribadian bapak Dimara. Propaganda Jepang yang anti penjajah orang kulit putih dan patriotisme sangat mendalam dirasakan, Diskriminasi rasional, pendidikan, jabatan yang dipraktekkan oleh pemerintah Hindia Belanda membuka kesadarannya tentang betapa mulianya menjadi manusia yang merdeka. Pada saat itu hubungan Jakarta sama sekali terputus, demikian pula berita-berita tentang keadaan di lain-lain daerah. Karena pada masa saat itu pulau Buru merupakan daerah perang, medan pertempuran antara balatentara melawan tentara Amerika Serikat. Markas Komando Pasukan Jepang di Ambon terisolasi, terputus komunikasi dengan daerah lain.
Pada tahun 1946, ia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, pulau Buru. Ia turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke tangan Republik Indonesia. Pada tahun 1950, ia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Ia pun menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan ia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digul, hingga akhhinya dibebaskan tahun 1960.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kabupaten Boven Digoel dikenal dengan sebutan Digul Atas, dan merupakan tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Digul Atas terletak di tepi Sungai Digul Hilir.
Kamp Boven Digoel dipersiapkan dengan tergesa-gesa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan Pemberontakan PKI tahun 1926. Selanjutnya Boven Digul digunakan sebagai tempat pembuangan pergerakan nasional dengan jumlah tawanan tercatat 1.308 orang. Di antara tokoh-tokoh pergerakan yang pernah dibuang ke sana antara lain Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, Chalid Salim, Lie Eng Hok, Muchtar Lutfi, dan Ilyas Ya'kub.
Daerah seluas 10.000 hektar itu berawa-rawa, berhutan lebat, dan sama sekali terasing. Satu-satunya akses menuju kamp tersebut ialah menggunakan kapal motor melalui Sungai Digul. Di sepanjang tepian sungai berdiam berbagai suku yang masih primitif. Karena sarana kesehatan tidak ada, penyakit menular sering berjangkit, seperti penyakit malaria yang membawa banyak korban.
Tempat pembuangan tersebut terbagi atas beberapa bagian, yakni Tanah Merah, Gunung Arang (tempat penyimpanan batu bara), kawasan militer yang juga menjadi tempat petugas pemerintah, dan Tanah Tinggi. Sewaktu rombongan pertama datang, Digul sama sekali belum merupakan daerah permukiman. Rombongan pertama sebanyak 1.300 orang yang sebagian besar dari Banten, diberangkatkan pada Januari 1927. Pada akhir Maret 1927, menyusul ratusan orang lain dari Sumatera Barat. Mula-mula mereka ditempatkan di Tanah Merah. Dua tahun kemudian, melalui seleksi ketat, sebagian dipindahkan ke Tanah Tinggi.
Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam.
Pada waktu Perang Pasifik meletus dan Jepang menduduki Indonesia, tawanan Boven Digoel diungsikan oleh Belanda ke Australia. Pemindahan itu didasari kekhawatiran tahanan akan memberontak jika tetap di Boven Digoel. Diharapkan orang-orang Indonesia yang dibawa ke Australia akan membantu Belanda. Ternyata tahanan politik itu mempengaruhi serikat buruh Australia untuk memboikot kapal-kapal Belanda yang mendarat di Benua Kanguru. Setelah sekutu berhasil memperoleh kemenangan, tawanan itu dikembalikan ke tempat asalnya di Indonesia.
Pada operasi tersebut merupakan organisasi rahasia yang tugasnya melatih para prajurit yang terdiri atas orang suku papua. Mereka diseleksi secara ketat. Pusat pelatihannya atau Base Camp nya terdapat di Ambon. Tugasnya adalah melakukan Infiltrasi ke daratan irian untuk membangun opini atau pola pikir bahwa Irian berpihak pada NKRI. Pembentukan organisasi untuk pendukung diplomasi yang dilakukan forum PBB. Pada tanggal 3 April 1954 suatu peristiwa terjadi, Bapak Dimara dipanggil ke Jakarta oleh Presiden Soekarno
Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora, ia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta. Ia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York. Ia menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat), juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.
Ketika pawai 17 Agustus di depan istana (waktu itu belum ada Monas), Dimara mengenakan rantai yang terputus. Bung Karno melihat itu dan terinspirasi membuat patung pembebasan Irian Barat. Maka, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di lokasi yang hanya berjarak tidak sampai 1,5 km dari Istana negara, yakni di Lapangan Banteng. Dimara menceritakan hal itu dalam buku yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul, Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua,J.A. Dimara (2000).
Dimara senior menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta pada 20 Oktober 2000 lalu. Sebelum wafat, dia sempat beberapa kali mendapat tanda penghargaan dari pemerintah. Tanda jasa itu antara lain, Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. Kini, Dimara resmi sebagai pahlawan nasional.
Banyak sekali peranan yang dilakukan oleh bapak Johannes Abraham Dimaran bagi bangsa Papua dan Indonesia. Berasal dari keinginan yang kecil sekedar dari kebencian terhadap penjajahan hingga menjadi sesuatu yang besar yang merubah Indonesia. “itulah yang saya maksud bekerja tanpa pamrih dan semua dilakukan untuk bangsanya” ujar pak Agus Dimara sembari menghisap rokok. Sekiranya begitulah yang diceritakan oleh bapak Agus dimara.

No comments:

Post a Comment