Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Ghifari Ikhwan Taher/ XI IPS 3


Tugas-2 Biografi     Ghifari Ikhwan Taher/ XI IPS 3

 

Bapak Drs. Mohammad Achadi

Berjuang untuk mendapatkan dan mempertahankan

Kemerdekaan Indonesia

 

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas perjalanan hidup  seorang ex pejuang yang juga merupakan mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi pada kabinet DwiKora (dua komando rakyat) di era presiden Soekarno. Di tanggal 30 Mei 2013, saya bertemu dengan bapak Mohammad Achadi di lokasi dimana saya akan mewawancarai beliau, yaitu di Cilandak Town Square (Citos) sambil makan siang.
                               
                                
 
                                         

Biografi  

Bapak  Drs. Mohammad Achadi lahir di Kutoarjo,  Jawa Tengah pada tanggal 14 Juni tahun 1931, Beliau adalah anak ke- 2 dari 5 bersaudara. Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Dasar yang bertempat di SD 1 Kutoarjo, kemudian SMP di Purworejo, dan melanjutkan SMA di Semarang Jawa Tengah. Lalu beliau mendapatkan beasiswa karena beliau berhasil dalam mengikuti organisasi tentara pelajar,  sehingga beliau meneruskan pendidikan  kuliah di  London University of Reading (Oxford),  di Fakultas Ekonomi Politik. Setelah melalui jenjang pendidikan yang begitu panjang akhirnya bapak Mohammad Achadi diangkat oleh presiden Republik Indonesia pertama : Ir. Soekarno, untuk menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi yang pertama, pada kabinet DwiKora (dua komando rakyat). Saat ini beliau bertempat tinggal di Sawangan, Jawa Barat.

Beliau merupakan mantan tentara pelajar (TP) TNI brigade tahun 1946 – 1951, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi kabinet Dwikora (dua komando rakyat) untuk bubarkan Malaysia dari Indonesia, dan Komando 2 melawan Inggris untuk dapat bebas dari jajahan Inggris.


Peranan

Dalam wawancara ini saya berbagi cerita dari pengalaman hidup bapak Mohammad Achadi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada saat beliau duduk dibangku SMA beliau mengikuti organisasi tentara pelajar, karena pada masa itu semua pelajar diwajibkan ikut serta dalam membentuk pasukan dalam kegiatan untuk menuju Indonesia merdeka. Tiap kelas berisi 30 orang, tetapi hanya 20 orang yang berani untuk ikut serta dalam organisasi tentara pelajar, mereka tidak diberi upah tetapi jika mereka berhasil maka akan mendapat beasiswa selama duduk di bangku SMA dan yang sudah lulus SMA akan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri, seperti beliau, yakni di London, tentara pelajar yang aktif juga akan mendapatkan penghargaan berupa bintang Gerilya. Tentara pelajar terdapat di beberapa daerah yaitu Jawa Timur (1 batalion, disebut TRIP),  Solo (2 batalion) dan Jawa Barat (1 batalion).   

 

Bulan Agustus tahun 1945 Indonesia merdeka, tetapi pada bulan September akhir, datang tentara sekutu Inggris, Amerika dan Australia dengan alasan ingin mengusir Jepang dari Indonesia serta membebaskan orang–orang Eropa yang ditahan Jepang. Tentara sekutu ternyata juga dibonceng/ ditunggangi oleh tentara Belanda/Nica( Netherland Indie Civil Administration ) yang bertujuan  menduduki atau menjajah kembali negara Republik Indonesia. Untuk mencegah itu terjadi, maka dibentuklah badan keamanan rakyat (BKR) dan pada tanggal 5 Oktober berubah menjadi tentara keamanan (TKR). Oleh karena itu maka tanggal 5 Oktober dijadikan sebagai hari peringatan tentara. Pada masa itu semua pelajar Indonesia diwajibkan untuk ikut dan membentuk pasukan dalam kegiatan tentara pelajar untuk mempertahankan Indonesia tetap merdeka. Semboyan mereka adalah MERDEKA ATAU MATI.

 

Beliau menceritakan Pengalaman beliau pada saat beliau mengikuti organisasi tentara pelajar, beliau  melakukan pertempuran di  Semarang yang dinamakan front Semarang. Pertempuran ini terjadi di beberapa lokasi yaitu Semarang dan Gombong. Pada tahun 1948 terjadi perang gerilya karena semua kota di Jawa sudah diduduki oleh tentara Belanda, perang ini berlangsung secara diam–diam karena sudah pasti tentara Indonesia kalah dalam hal tehnik dan senjata, dibandingkan dengan tentara Belanda. Perang ini dilakukan malam hari ketika orang Belanda sedang tidur, atau kalau siang hari mereka melakukannya dengan cara mencegat mobil orang Belanda yang sedang melakukan perjalanan menuju kota-kota lain. Karena kalau tidak dilakukan seperti itu maka tentu saja Indonesia akan kalah oleh Belanda. Tentara pelajar mendapatkan persenjataan dari peninggalan tentara Jepang yang menyerah pada Indonesia, bambu runcing dan senjata tajam lainnya seperti keris, tombak, golok, panah dll yang mereka buat sendiri, mereka juga merampas senjata dari Belanda dengan cara menyerang secara diam–diam pada malam hari. Ternyata tentara Belanda tidak tahan dengan taktik perang tentara Indonesia dan meminta untuk berunding saja, perundingan ini dinamakan “konferensi meja bundar”, sehingga pada akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia melalui konferensi meja bundar tersebut  pada bulan Desember tahun 1949 dikota  Den Haag, Belanda. Kemudian PBB ( perserikatan bangsa–bangsa) akhirnya juga mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

                                                  
                                             
Pak Achadi berkata pada saya bahwa perjuangan bangsa Indonesia sebenarnya tidak pernah berakhir hingga saat ini, karena kita menghadapi sebagian dari bangsa kita sendiri yang mau ikut kerjasama serta tunduk pada negara asing, padahal kekayaan  bangsa Indonesia seharusnya digunakan dan dinikmati oleh bangsa kita sendiri, yaitu  bangsa Indonesia.  

 

Demikianlah jiwa anak–anak muda dan pelajar–pelajar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan pada saat itu.

Pesan dari beliau untuk kita sebagai pelajar :

“Perjuangan pemuda pelajar Indonesia, tetap harus mempertahankan kemerdekaan Indonesia”

                                            “HISTORY IS A CONTINUITY”

No comments:

Post a Comment