Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Ghina Karisma XI IPA 4

Kakek Moh. Sidik, Pejuang Pasca Proklamasi





Kakek Mohamad Sidik adalah seorang mantan tentara pejuang pasca proklamasi yang merupakan teman dari Alm. Kakek Mohamad Said, ayahanda  dari ibu saya. Saya berkesempatan untuk mewawancara Kakek Sidik dan memintanya menceritakan perjuangan-perjuangan yang pernah ia lakukan pada masa-masa proklamasi melalui telepon, karena ia tinggal di Bandung dan saya tidak sempat bertemu dan mengobrol secara langsung.


A.      Biografi

Kakek Sidik lahir di Bandung pada tanggal 10 Juni tahun 1927. Ia menyelesaikan pendidikannya di SAKA School dan Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Setelah pendidikannya selesai, sejak tahun 1949 ia hidup sebagai seorang tentara TNI.
Pada awalnya, saat akan bergabung dengan para pejuang lainnya untuk menjadi seorang tentara, Kakek Sidik memalsukan tahun lahirnya. Sebenarnya, ia lahir pada tahun 1927, namun ia menambahkan umurnya sebanyak dua tahun, dan ia mengatakan bahwa ia lahir pada tahun 1929, dengan alasan agar tidak dianggap terlalu tua. Bagaimanapun, Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda yang masih berada dalam puncak umurnya untuk memperjuangkan tanah air.
 Kakek Sidik selama masa perjuangan pasca proklamasi banyak mengikuti organisasi-organisasi pemuda seperti Heiho, PETA, dan Giyugun. Ia juga ikut bertempur dengan menggunakan bambu runcing bersama para pejuang lainnya.
Setelah semua pertempuran yang Kakek Sidik ikuti telah usai, Kakek Sidik kemudian pensiun pada usia 55 tahun. Kakek Sidik telah memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia masa pasca proklamasi dengan sangat gigih dan berani. Lalu, setelah itu ia memutuskan untuk bekerja pada perusahaan swasta di Bandung hingga sekarang.


B.      Peranan



Setelah Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ternyata bangsa Indonesia masih menghadapi kekuatan sekutu yang berupaya untuk menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia, yaitu pemaksaan untuk mengakui pemerintah NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Selain itu, Belanda yang licik mempropagandakan kepada dunia luar bahwa negara Proklamasi RI adalah berupa hadiah fasis dari Jepang.
Setelah para pemimpin bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 menyatakan berdirinya Republik Indonesia dan kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI serta  Drs. Moh Hatta sebagai Wakil Presiden RI, munculah rasa perlunya republik yang baru ini untuk memiliki tentara atau pasukan untuk pertahanan negara dan kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban dan ketentraman.
Pada masa-masa itu, Kakek Sidik dan pemuda-pemuda lainnya pada saat itu disebut  Kelompok Pemuda Revolusioner yang bertugas membantu dan memperjuangkan negara RI agar tidak dijajah kembali oleh Jepang dan diambil kembali oleh Belanda setelah 3,5 abad lamanya. Kelompok pemuda menginginkan perkumpulan seperti  Heiho, PETA dan Giyugun yang dibentuk oleh Jepang menjadi basis dari Angkatan Perang Republik Indonesia.



Pada saat kakek dan pemuda lainnya tinggal di Jakarta, yaitu lebih tepatnya di Menteng 31 dan Kramat Pulo 34, para pemuda setiap malamnya tidak pernah berhenti untuk membuat keributan untuk menarik perhatian dari musuh Belanda agar didengar dan diakui oleh dunia internasional bahwa RI sudah merdeka. Kegigihan mereka menyebabkan diserangnya asrama pemuda yang berlokasi di Menteng 31 pada sore hari dan terjadinya pencurian persenjataan oleh pihak Belanda.
Kakek dan para pemuda RI pun memutuskan untuk berpindah tempat tinggal ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu, seluruh daerah di Jakarta sudah dikuasai oleh tentara Jepang, dan pemuda melanjutkan kembali perjuangannya di kota Yogyakarta. Faktor lainnya adalah kakek dan pemuda lainnya tertarik oleh tawaran Belanda akan pemberian kupon makan selama 10 hari oleh Belanda apabila bersedia pindah ke Yogyakarta. Hal yang wajar, mengingat sukarnya untuk memenuhi kebutuhan pangan pada masa itu.



Di Yogyakarta, kota pun sudah diduduki pula oleh Belanda, yang pendudukannya terjadi karena agresi milter kedua yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1948. TNI dan rakyat gerilyawan yang berada di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman tetap mengadakan perlawanan secara bergerilya. Desa-desa, gunung-gunung dan hutan-hutan menjadi markas mereka yang selalu berpindah-pindah. Mereka baru memasuki kota setelah Belanda ditarik mundur dari Yogyakarta sebagai realisasi dari persetujuan Roem Royen. Setelah ada persetujuan antara Belanda –Indonesia (persetujuan Roem Royen), pasukan Belanda harus ditarik dari kota Yogyakarta guna mendukung pengembalian pemerintahan ke Yogyakarta.
Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, dan akhirnya Belanda mau berunding dengan negara Republik Indonesia dengan menyepakati perjanjian Roem Royen seperti diatas.
Pembentukan BKR banyak dipelopori oleh mantan anggota PETA, mantan anggota Heiho, mantan anggota KNIL, tokoh masyarakat serta para intelektual dan termasuk kakek Sidik di dalamnya. Badan Keamanan Rakyat kemudian dirubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian, Presiden Soekarno mengumumkan kembali berdirinya Tentara Indonesia (TRI) dan namanya pun diganti kembali menjadi Tentara Nasional Indonesia, sampai sekarang.
Kakek Sidik setelah dari Yogyakarta berpindah ke Surabaya. Di Surabaya kembali terjadi pertempuran dikarenakan kota Surabaya sudah diduduki oleh Belanda. Pada masa pertempuran terdapat 2 kubu. Kakek dan para pemuda lainnya dengan bambu runcing ikut serta berjuang mengusir Belanda dari kota Surabaya.
Setelah pertempuran di Surabaya selesai, Kakek Sidik ditawan oleh Belanda, tetapi hanya beberapa bulan saja sudah dibebaskan kembali oleh seorang dokter Belanda bernama Dr. Erna dengan cara mengakui kakek Sidik sebagai pembantu di rumahnya. Kakek Sidik pun berhasil lepas dari tawanan Belanda dan bebas bergabung dengan pemuda lainnya dan berpindah tempat ke Cirebon.
Kakek Sidik memulai perjalanan dari Cirebon ke Semarang dengan menggunakan kapal perang dan turun di kota Rembang, dengan tidak dilengkapi senjata karena senjata pada waktu itu sudah dirampas dan dirusak oleh Belanda. Sesampainya di Rembang, Kakek Sidik turun menuju Solo. Tidak lama setelah itu, seluruh pangkat tentara diturunkan satu tingkat dikarenakan terjadinya reformasi oleh rakyat-rakyatnya.



Dari Solo, kakek Sidik dan teman-teman tentaranya dikirim ke Jawa Timur. Di sana terjadi pertempuran batalyon PKI yang bertempat di Keraton Solo. Batalyon yang mempunyai senjata lengkap bertempur melawan bangsa sendiri. Pada saat itu, Jendral Sudirman pun berada di Solo dan ikut bersama tentara lainnya bertempur melawan PKI.
Kakek Sidik pun dikirim ke Madiun setelah pertempuran tersebut. Di sana seluruh alim ulama, anak-anak sekolah tingkat SMP ke atas semua diancam akan dibunuh dengan kejam oleh PKI. Kota Madiun pun akan dibom dan Madiun akhirnya dikosongkan. Pada masa itu, kakek Sidik berperan sebagai tangan kanan Batalyon memerangi PKI. PKI menjanjikan akan membebaskan para tawanan alim ulama dan anak-anak sekolah, dengan sebagai gantinya tentara-tentara Indonesia akan ditawan. Namun, Kakek Sidik dan pemuda lainnya berhasil menolong satu truk tawanan dan melarikannya ke Gunung Wiris.
Pertempuran melawan bangsa sendiri ini terus terjadi hingga ke Pacitan. Namun, pertempuran akhirnya berhasil dimenangkan dan PKI pun kalah. Di Madiun akhirnya didirikan pemerintahan, RT, RW, dan penaikkan baret putih.
Kemudian adalah masa Amir Syarifuddin yang ingin membawa politik Indonesia ke arah Komunis. Pada masa ini, Belanda menyerang Siliwangi. Sebelum Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, pemuda-pemuda Siliwangi ingin mendahului Belanda dan tiba di Yogyakarta lebih dulu. Mereka menyebrangi sungai dan melalui bumi ayu dengan dipimpin oleh Bapak Darsono yang merupakan senior Siliwangi. Dalam perjalanan mereka melewati Banjarnegara sampai dengan Jawa Barat. Selama di perjalanan mereka berusaha untuk mencari pakaian, dikarenakan pakaian yang mereka pakai di tubuh mereka adalah berupa karung. Saat berada di dekat Bogor, para pejuang dibom di gunung.
Cijangkar dan Cigelam akhirnya berhasil dikuasai oleh tentara Indonesia. Namun, yang masih menjadi masalah adalah tidak meningkatnya bahan pangan. Suplai makanan dari Jakarta pun dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Setelah itu, Siliwangi kembali ke Jawa Barat dan menyerahkan kemerdekaannya.
Pada masa itu, Kakek Sidik ikut serta dalam masa peristiwa pembantaian Westerling, yaitu adalah sebuah peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciate Troepen pimpinan Westerling, yang terjadi tahun 1947. Hotel Homann dan Hotel Preanger berhasil diduduki oleh Westerling. Kakek Sidik memang banyak mengikuti peristiwa sejarah yang dialami pada masa pasca kemerdekaan Indonesia. Sebagai Tentara Indonesia, ia sangat menginginkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya dan memperjuangkan hal itu.
Peristiwa lain yang kemudian kakek Sidik ceritakan adalah peristiwa Linggar Jati, pada tahun 1947. Kartosuwiryo ditunjuk sebagai salah seorang dari lima anggota komisi eksekutif yang terdiri dari 47 anggota untuk mengikuti sidang KNIP (Komisi Nasional Indonesia Pusat) dalam sidang tersebut membahas persetujuan Linggarjati di Cirebon. Setelah  mengalami tekanan berat terutama Inggris dari luar negeri dicapailah suatu perjanjian sebaga berikut :
-       Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura.
-       Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara Indonesia Serikat
-       Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia –Belanda. Dan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Kemudian akhirnya kakek Sidik berpindah lagi ke Jawa barat, Bandung. Disana juga masih ada pertempuran dengan Belanda karena Belanda ingin menduduki kota Bandung. Selama masa-masa perjuangan pasca proklamasi ini, kakek Sidik juga banyak berpindah tempat ke tempat-tempat seperti Ambon, Menado, Banten, dan lain-lainnya.
Berikut ini adalah hanya beberapa piagam-piagam penghargaan yang diperoleh oleh Kakek Sidik atas jasanya:




No comments:

Post a Comment