Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Biografi) - Hafizh Fauzan XI IPA 2


Berjuang sampai mati. 

Pada hari minggu 28 april 2013 kemarin saya mengunjungi rumah nenek saya sembari bersilaturahmi , saya pun bertanya Tanya sedikit tentang masa lalu kakek saya kepada nenek saya, beliau sudah meninggal sejak tahun 2003, akan tetapi kenangan dan kontribusi beliau untuk Negara indonesia ini masih dikenang oleh kerluaganya khususnya istrinya(nenek saya) dan anaknya (ibu saya).
BIOGRAFI.
            Soepardi bin wakmad, nama dari almarhum kakek saya. Beliau lahir di palembang 18 maret 1940 jauh sebelum Indonesia merdeka, dan beliau wafat pada tanggal 1 maret 2003. Beliau wafat akibat penyakit paru paru pada usia 63 tahun. Beliau adalah seorang letnan TNI angkatan darat yang berkarier dari tahun 1963 (usia  23 tahun) sampai dengan 1998 (usia  58 tahun). Beliau merupakan anak sulung dari 5 bersaudara, dan memiliki istri yang bernama DJanawati (nenek saya). Dari pasangan kakek dan nenek saya menghasilkan 3 orang anak, yang anak sulung dari 3 saudara tersebut adalah ibu saya.
            Beliau menghabiskan masa SDnya di kampung halamannya, di Palembang. Sejak kecil beliau sudah terkenal sebagai sosok yang pemberani dalam hal apapun, berbeda dengan anak anak SD lainnya. Setelah tamat SD beliau melanjutkan proses pembelajaran ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMP. Di masa remajanya beliau terkenal dengan anak yang rajin, dan hal tersebut berlanjut hingga masa SMK. Di SMK beliau terkenal dengan sifatnya yang “pentolan” kalo bahasa anak remaja sekarang, salah satu jagoan disekolahnya. Setelah lulus SMK beliau melanjutkan sekolah ke akademi militer yang terletak di Kodam Jakarta selatan. Disanalah perjalanan awal karier TNI kakek saya dimulai, beberapa tahun kemudian akhirnya beliau menyelesaikan sekolah akademi militernya dan resmi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
            Pada tahun 1951 beliau bertemu dengan pasangan hidupnyaa yaitu nenek saya dan pada tahun 1968 (usia 28 tahun) dan akhirnya menikah. 2 tahun berselang pasangan dari kakek dan nenek saya pun melahirkan orang yang paling penting dan merupakan anugerah tuhan yang paling besar, yap ibu saya sendiri. 2 tahun kemudian beliau dianugerahi putri kedua yang bernama Ani, dan setahun kemudian beliau dianugerahi putri ketiga yang merupakan anak terkahir yang bernama Ana. Sebagai TNI beliau adalah sosok pemimpin yang tegas, terkenal galak, dan tidak ragu ragu dalam mengambil keputusan ,  ketegasannya tidak hanya ditunjukkan kepada orang lain, akan juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. namun dibalik ketegasannya beliau adalah seorang penyayang, yang lembut hatinya.
            Setelah menikah beliau pun berkarier sebagai tentara, dalam mejalankan tugasnya beliau dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam hal apapun, contohnya beliau tidak pernah absen bahkan telat dalam latihan fisik yang diadakan 3 kali seminggu dikodam, hal inipun dijadikan teladan oleh teman-temannya sesama tentara. Beliau berkarier selama 58 tahun, dalam 58 tahun tersebut beliau melewati beberapa momen/kejadian yang berpengaruh pada republik Indonesia ini, salah satunya adalah Gerakan 30 september dan tragedy kerusuhan 1998. Pada tahun 1999 kondisi fisik beliau sudah menurun, akibat penyakit paru paru yang dideritanya sehingga beliau pun mengundurkan diri dari TNI.
            Pada tahun 1996 lahirlah seorang anak dari pasangan Eka rusmanta dan Dina riyanti, seorang anak yang sangat dicintai oleh beliau, yang merupakan cucu pertamam, yap anak itu adalah saya. Saya selalu terkesan ketika ibu saya menceritakan betapa sayangnya beliau kepada saya sewaktu masih kecil, beliau sering membelikan saya mainan baru, seperti robot, remote control, sepeda, power rangers dan lain lain. Akan tetapi penyakit yang beliau derita tak kunjung sembuh. Pada tahun 2002 kondisinya semakin parah dan akhirnya pada 1 maret 2003 beliau wafat. beliau menyerah setelah hampir 5 tahun menderita penyakit tersebut.  Beliau dimakamkan di  tempat pemakaman umum Tanah kusir yang berlokasi di Jakarta selatan.
PERANAN DAN KESAKSIAN SEJARAH
            Seperti yang sudah saya katakan pada bagian biografi, dalam kariernya sebagai TNI beliau melewati 2 tragedi besar yang dialami Indonesia , yaitu gerakan 30 september dan kerusuhan 1998. Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKIG-30S/PKI, adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaankudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Latar belakang gerakan ini adalah PKI. PKI merupakan par Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), Organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.
Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, Inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
           
            Pada peristiwa gerakan 30 september tersebut, beliau diberi tugas oleh atasannya untuk mengamankan markasnya(kodam) yang pada peristiwa itu juga ikut diserang oleh segerombol massa yang diduga sebagai anggota pki. Ketika penyerangan tersebut mereda dan massa sudah pergi, kodam diberitahu bahwa perwira tinggi angkatan darat telah dikudeta. Beliau pun langsung ditugaskan menuju TKP dan mengamankan tempat tersebut. Hal tersebut tidak bias dilupakan oleh beliau karena menurut beliau memberikan corak negatif pada sejarah republic Indonesia ini.            
            Peristiwa berikutnya adalah kerusuhan mei tahun 1998, Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesiapada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali olehkrisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.
Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunanTionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di JakartaBandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoayang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkanIndonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.
Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht diJerman pada tanggal 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal yang sistematis atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.  
            Pada peristiwa kerusuhan tersebut beliau ditugaskan untuk mengamankan gedung dpr mpr yang menjadi sasaran amuk massa, beliau bercerita betapa sulitnya mengamankan gedung dpr mpr dari amuk massa pada saat itu, dan beliau juga berkata, “itu adalah salah satu momen yang saya takuti selama menjadi TNI”.
            Setelah beliau pensiun sebagai TNI, beliau menghabiskan sisa hidupnya dirumah. Terkadang beliau mengunjungi panti asuhan yang terletak didekat rumah beliau. Walaupun sudah tidak berkarier sebagai tentara, tapi jiwa korsa yang dimiliki beliau masih melekat sehingga terus berkontribusi untuk republic Indonesia tercinta ini hingga akhir hayatnya.
            Demikian cerita singkat tentang perjalanan hidup seorang tentara yang hingga akhir hayatnya terus berkontribusi untuk Negara ini, seluruh isi cerita ini diambil dari wawancara oleh nenek dan adik dari kakek saya.



No comments:

Post a Comment