Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Helmi Qasthari Fauzi



Kakek Sutedja, Sang “Pengintai” dan “Tawanan Belanda”

Bukan hanya penting dalam mempelajari sejarah, dan bukan merupakan pertanyaan yang asing lagi bagi siswa sekolah dengan pertanyaan “apakah penting belajar sejarah?” Sejarah biasanya berbicara tentang kehidupan orangh besar. Salah satu orang besar yang akan saya bahas kali ini adalah seorang saksi, bahkan pelaku Kemerdakaan Republik Indonesia. Merupakan suatu kebanggan bisa mewawancarai dan mengenalnya dengan sangat dalam. Beliau bernama Sutedja Trisnaadmadja, yang tidak lain adalah kakek dari mama saya. Berikut adalah biografi dan peranannya

a. biografi



Nama lengkapnya adalah Sutedja Trisnaadmadja. Beliau lahir pada tahun 1936. Ayahnya bernama Trisnaadmadja. Walau sejak duduk di sekolah dasar kelas 5 sd, beliau gemar menulis, membuat catatan kecil, karena memang pada zamannya beliau tidak ada televisi, PS, internet, dan berbagai media yang menarik, jadi sebagai anak-anak hanya membuat prakarya dan tulisan ringan. Beliau juga bukan penulis ataupun pengarang, hanya sekali-sekali membuat cerita ringan sekedar hiburan yang beluai masukkan ke majalah pensiunan karyawan bank Indonesia. Beliau juga sangat bersyukur karena cucu-cucunya dapat beradapasi di lingkungan era globalisasi ini, karena menurutnya, itulah yang terpenting dewasa ini. Beliau merasa terpanggil dan wajib untuk memberikan dorongan baik kepada cucunya maupun kepada keponakan dan cicit-cicit dari keponakan-keponakan untuk lebih giat lagi mencapai prestasinya di bidang masing-masing, seperto Avifa Khairunisa dan Hanif Revano di bidang bercerita, lalu saya dalam bidang olahraga dan music, lalu bidang menggambar seperti Faisal Ramadhan, Faturrachman Zaki, dan bidang olahraga seperti Adiya Mauludi dan Rafie Trisnadi, dan lain-lain yang mengukir prestasinya masing-masing. Mereka tahu bahwa beliau gemar membaca, dengan melihat buku-buku di perpustakaan beliau. Tetapi pada saat beliau menyuruh mereka untuk menulis, salah seorang cucunya bertanya, “mana tulisan kakek?” Lalu beliau tunjukkan artikelnya yang ada di majalah. Namun itu tidak cukup intuk memberikan motivasi agar mereka mau menulis. Maka dari itu, beliau mencoba menuangkan catatannya dalam sebuah buku. Tujuannya adalah untuk memotivasi mereka agar lebih baik lagi dalam berprestasi. Beliau memiliki istri bernama Rabiati, dan dikarunai 2 orang anak laki-laki bernama Ludi dan Didit, serta 2 anak perempuan yaitu Ria Trisnawati yang tidak lain adalah mama saya, dan Rosa. Beliau tinggal bersama istrinya dan satu pembantu di bintaro.

b. Peranan

Beliau adalah tokoh masa orde lama dan orde baru, hal ini dibuktikan dengan fotonya bersama soeharto dan habibie. Waktu Indonesia merdeka 17 Agusus tahun 1945, beliau baru berumur kurang lebih 9 tahun dan menginjak kelas 5 sd. Beliau masih ingat, bahkan mengikuti dalam mengalami perang kemerdekaan. Biarpun Beliau berumur 9 tahun ia sudah cukup dewasa untuk membela tanah air ini, tidak seperti anak sekarang. Karena pada saat itu hidup mereka sulit, jadi semua harus belajar hidup mandiri. Beliau juga ikut berperang  melawan belanda, tentunya sesuai usia dan kemampuan, misalnya membanu tentara membersihkan senjata, bahkan jadi mata-mata untuk mengintai belanda. Memang terkesan berat untuk anak berumur 9 tahum, tetapi beliau menganggapnya itu asik, dan sangat berkesan.
Salah satu cerita yang paling menarik bagi beliau adalah tugas pengintaian dari atas tebing yang tertutup hutan. Dari atas tebing tersebut beliau masih bisa melihat ke bawah, jalan yang berliku-liku yang masih dapat dilewati kendaraan  mobil. Beliau dan teman-temannya tidur di atas jerami, makan seadanya di hutan tersebut, kecuali beras yang harus dibawa dari kampung, tidak aka nada kesulitan makan, karena banyak pohon-pohonan hutan yang dapat dimakan. Berbagai jenis sayuran ada. Pohon pisang yang ditanam oleh para penduduk  tumbuh dengan baik. Di hutan juga banyak mata air yang sanga jernih, bahkan ada yang dihuni berbagai jenis ikan, itulah salah satu tanda keagungan allah. Ada pohon namanya pohon malaka, buahnya disebut buah malaka, kata orang2 setempat, jika mau minum air manis ambil saja buah malaka lalu digigit, setelah digigit buang saja, karena waku digigit rasanya pahit. Setelah menggigit buah malaka kemudian kita minum air putih atau the maka rasanya akan manis. Sampai sekarang beliau masih ingat akan keajaiban itu dan beliau belajar dari orang-orang kampung. Pengetahuan itu sangat berguna bagi beliau tatkala ia menjadi pramuka di sekolah tingkat lanjutan. Ia banyak cerita mengenai keajaiban di hutan waktu camping. Seperti halnya ular, ular tidak akan selalu ada di bawah batu atau rumput, tetapi juga di atas pohon, namun tidak semua pohon dapat disenangi ular untuk dipanjat. Mereka harus tahu cirri-ciri pohon yang kemungkinan ada ularnya. Ia dan teman-teman tiap hari ditugaskan untuk memata-matai Belanda, pergi ke atas tebing dan dari atas tebing memantau jalan-jalan, jika ada mobil truk Belanda, mereka segera lari dan melaporkan ke pos pemuda di hutan.
Untuk melakukan pekerjaan tersebut, dibagi menjadi beberapa grup. Tiap grup terdiri dari 3 atau empat anak, biasanya satu diantaranya ada anak yang sudah besar, kira-kira 15 tahunan. Tinggi tebing bermacam-macam, ada yang hanya 5 meter dan ada yang tingginya 10-15 meter. Jarak dari tebing ke jalan yang dapat dilalui kendaraan truk belanda kira2 500-700m, maksudnya supaya mudah  berlari jika dipelukan. Penginaian tersebut dilakukan di belakang batu-batu  yang ada di sepanjang tebing, tidak hanya batu tetapi semak-semak. Tugas ini sangat menyenangkan untuk beliau, apalagi sambil bersendagurau dan main perang-perangan. Dari jalan ke tepi tebing tersebut harus melalui sawah, dengan demikian belanda sulit untuk mencapai tebing, karena harus berjalan di atas lumpur yangcukup dalam. Namun apabila musim panen tentunya sawah-sawah tersebut menjadi kering dan mudah dilalui oleh tentara belanda. Oleh pemuda kami dilarang, jangan sekali-sekali terjun ke sawah. Suatu ketika salah seorang dari teman merekai nakal, dia terjun ke sawah dari tebing untuk mandi, karena di tepi sawah tersebut ada tampian air, air mancur yang biasanya digunakan mandi oleh penduduk setempat. Pada saat anak itu sedang mandi, tiba-tiba terdengar truk belanda, rupanya truk belanda tersebut sulit terdengar dari bawah tebing, sehingga anak tersebut tidak mendengar apa-apa. Mereka semua bingung, mereka coba berteriak, tapi tampaknya tidak terdengar juga. Jika mau berteriak makin kencang, takutnya malah akan terdengar belanda. Karena belanda menggunakan teropong, akhirnya seorang pemuda menyuruhnya untuk stop berteriak dan menyuruh untuk melaporkian ke pos pemuda.
Setelah mereka sampai di pos pemuda, mereka melaporkan kejadian ini, semua pemuda lari berangkat ke pos yang mendekati puncak gunung. Orangtua anak tersebut dan mereka sebagai karyawan sangat ketakutan, kira-kira 3 jam kemudian, sudah hampir senja anak tersebut didampingi oleh teman mereka yang mengawasi tiba. Mereka semua khawatir, jangan-jangan dia telah ditawan belanda. Rupanya teman mereka yang besar itu member isyarat kepada teman mereka yang mandi tidak dengan berteriak tetapi dengan melempar batu. Mula-mula dianggap becanda, bahkan katanya anak tersebut tertawa-tawa. Tetapi dengan diberi isyarat ada belanda dengan lemparan batu itu, teman mereka baru mengerti untuk tidak naik ke atas bukit, dan disuruh untuk bersembunyi di dekat pemandian sampai tentara belanda pergi untuk melanjutkan patrolinya. Tetapi ternyata truk belanda tersebut berhenti di jalan, sepertinya tentara tersebut dengan teropongnya melihat hal-hal yang mencurigakan. Karena merasa sudah terlalu lama untuk bersembunyi, ketakutan dan kedinginan, maka anak tersaebut keluar dari persembunyian dan langsung setengah telanjang naik ke atas tebing. Tentu saja dilihat oleh belanda. Hal iu sudah cukup member informasi keada tenara belanda bahwa dibalik tebing-tebing ersebut ada poenghuninya. Semua penghuni gubuk berunding, keputusannya kata orangtua, semua pemuda harus meninggalkan gubuk dan pergi ke tempat yang lebih tinggi lagi. Orang-orang yang sudah tua, anak-anak dan perempuan  tetap menunggu di tempat menunggu waktu sampai kemungkinan saja belanda tiba di tempat itu. Mendengar hal itu, mereka ketakutan
Beliau juga pernah menjadi tawanan belanda. Beliau menceriakan kisahnya. Setelah peristiwa terlihatnya ada anak mandi di btepi tebing, kami merasa sangat aneh, karena idak terdengar lagi kendaraan truk belanda yang biasanya paling lama dua minggu sekali. Menjadi tanda tanya apakah belanda sudah tidak patrol lagi, Karena banyaknya rintangan jalan. Memang beliau melihat hampir tiap hari pemuda, orang tua, pergi ke jalan me,buat rintangan-rintangan. Rupanya tentara belanda memakai siasat. Mereka memberhenikan mobil di jalan yang jauh yang kira2 tidak terdengar suaranya dan tidak terlihat, sehingga tidak kelihaan dari atas tebing. Tujuan mereka adalah ke tejmpat dimana telah kelihatan ada anak larui dari atas tebing beberapa waktu yang lalu. Untung saja para pemuda penjuang tidak kalah siasat, sehingga pada malam hari setelah kejadian ada anak yang terlihat oleh belanda, pejuang pemuda memutuskan untuk tidak berada di gubuk para pengungsi. Dan sengaja membiarkan para pengungsi perempuan, orangtua, dan anak-anak untuk tetap di tempat, paling tidak agar mereka tidak mengejarnya jauh ke atas. Beliau mendengar ada perdebatan. Ada yang mengusulkan sebaiknya semua mengungsi lagi ke tempat yang lebih jauh, karena yang tertinggal akan menjadi korban belanda, mungkin juga ditawan, nahkan akan menjadi sesuatu yang membahayakan. Sebagian lagi tidak setuju, orang tua dan anak-anak ikut mengungsi lebih jauh, karena keadaan di hutan itu sangat sulit bagi orangtua dan anak-anak, bahkan akan lebih memancing belanda untuk patrol lebih jauh. Akhirnya diputuskan sebagian tinggal di tempat karena sangat melelahkan dan semua peghuni gubuk ketiduran dan lelap sampai pagi. Begitu bangun terdengar hiruk pikuk di luar.
Pada saat neliau keluar, beliau sangat takut  dan bercampur kaget, ia melihat tebtara belanda dan beberapa orang tentara KNIL sudah mengelilingi gubuk sambil menodongkan senjatanya. Seseorang masuk ke dalam gubuk dan memeriksa, semua tempat dan barang-barang yang ada diobrak-abrik,mereka keluar setelah meyaakinkan tidak ada tentara dan barang-barang yang mencurigakan. Kemudian mereka menyuruh kami untuk turun ke kampung tanpa terkecuali, gubuk disuruh dikosongkan, termasuk beliau juga ikut dibawa. Beliau idak mengerti kapan pemuda-pemuda kampung itu hilang, mungkin mereka sudah tau sejak siang. Setibanya di kampung, semua perempuan disuruh masuk ke rumahnya masing-masing, tetapi semua laki-laki yang saat itu ada, hanya yang tua-tua dan anak-anak termasuk beliau disuruh untuk naik ke truk belanda yang telah tersedia. Truk yang satunya lagi sudah penuh dengan tentara belanda. Kemudian mereka dibawa ke markas belanda di kecamatan buah dua, tempat itu adalah bekas sekolah waktu beliau kelas 4, jadi dia sudah tidak asing lagi dengan ruang-ruang kelas yang sudah dipakai oleh tentara belanda. Semua tawanan dikumpulkan di bangsal yang sudah setengah tua, disuruh barism dengan maksud ingin diinterogasi, tetapi anak-anak tampaknya tidak dihiraukan, karena tidak dihiraukan, maka anak-anak termasuk beliau keluar dari bangsal dan bermaindi lapangan sekolah yang biasa beliau pakai saat sekolah. Sambil berpura-pura bermain, mereka memperhatikan pintu masuk yang dijaga oleh tentara belanda. Kami mencoba bermain di dekat pintu keluar, ternyata dibiarkan oleh si penjaga. Kami mencoba untuk menjauh sambil tidak menengok untuk menhindarkan kecurigaan. Setelah di belokkan dan tidak kelihatan kagi oleh penjaga, semua anak-anak langsung lari ke hutan, ke jalan terobosan yang biasa mnereka lalui waktu mereka sekolah, sampai akhirnya tiba di kampung. Ia ceritakan kepada ibunya. Tetapi bagaimana dengan ayahnya? Mereka semua sangat khawatir.
Menjelang magrib mereka dikejutkan dengan ayahnya yang datang dengan sangat kelelahan. Kenapa ia bisa lolos. Ia menceritakannya, Tatkala komandan belanda lewat di depannya, segera dia menghampirinya dan bertanya kepada belanda dengan menggunakan bahasa belanda. Komandan kaget, dan mengajak ayahnya ke kamar untuk berbicara. Setelah dijelaskan bahwa ayahnya seorang guru, maka tentara belanda tersebut membebaskan ayahnya, bahkan menawarkan untuk tinggal di kota. Pada saat itu belanda butuh orang2 sebagai pegawainya yg dapat berbahasa belanda. Orang-orang yang cerdas dan dapat berbahasa belanda bahkan sering ditawari beasiswa untuk belajar ke negeri belanda. Orang-orang yang kurang nasionalismenya banyak yang tergiur dan akhirnya pro belanda sehingga menjadi penghianat bangsa.

No comments:

Post a Comment