Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Ihsan Aring Trisarjono XI IPA 2

Mama Sus

Istilah Sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syajaratun yang berarti Pohon. Penggunaan kata tersebut dalam konteks masa lalu mengacu pada pohon silsilah. Dalam hal ini arti sejarah itu hanya mengacu pada masalah asal usul atau keturunan seseorang. Kata Sejarah yang lebih dekat dengan pengertian, terkandung dalam bahasa Yunani yaitu Historia yang berarti Ilmu atau Orang pandai. Sedangkan dalam bahasa Inggris, History yaitu masa lampau umat manusia dan dalam bahasa Jerman, Geschichte yaitu sesuatu yang telah terjadi.

Beberapa definisi sejarah menurut para ahli:
1. Menurut "Bapak Sejarah" Herodotus: sejarah ialah satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.
2.  Ibnu Khaldun, mendefinisikan sejarah sebagai catatatan umat manusia atau peradapan dunia dan tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu.
3.  Aristoteles, menyatakan bahwa sejarah adalah suatu system yang meneliti suatu kejadian dalam bentuk kronologi dan semua pristiwa masa lalu mempunyai catatan dan bukti-bukti yang kuat.
4.     JV. Briche, sejarah adalah: “It is the record of what man has thought, said and done“.
5.   Patrick Gardiner, mengatakan: “History is the study of what human beings have done.”
6.  Taufik Abdullah, mendefinisikan sejarah adalah kejadian masa lampau dan cerita tentang kejadian itu.
7.   Moh. Yamin, mengatakan bahwa: sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwayang dapat dibuktikan dengan kenyataan.
8.  Koentowidjojo: Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu tentang apa yang dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan dan dialami manusia.
9.   Sartono Kartidirdjo: Sejarah adalah berbagai bentuk penggambaran tentang pengalaman kolektif di masa lampau.
10. Mohammad Ali: Sejarah adalah berbagai bentuk penggambaran tentang pengalaman kolektif di masa lampau.

Kesimpulannya, sejarah merupakan rangkaian peristiwa masa lampau yang menyangkut kehidupan manusia setelah mengenal tulisan, sedangkan Ilmu Sejarah adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia pada masa lampau setelah mengenal tulisan.

Ciri utama sejarah:
a.     Peristiwa tersebut hanya terjadi 1 kali (unik). Artinya peristiwa tersebut tidak akan terulang dan hanya terjadi pada zaman, tempat, atau orang yang sama.
b.     Peristiwa tersebut penting dan besar pengaruhnya.
c.      Peristiwa tersebut abadi. Artinya peristiwa tersebut tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.


Perjuangan heroik rakyat Indonesia dalam mempertahankan dan memperjuangkan Kemerdekaannya sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja, mereka bahu membahu dengan segala golongan, mulai dari petani, pedagang, guru, hingga para pelajar bersama dengan tentara tanpa mengenal rasa lelah, takut serta kelaparan berjuang menghadapi desingan peluru serta berondongan persenjataan modern milik para penjajah.

Sungguh perjuangan yang sangat menguras tenaga dan airmata, mengorbankan segalanya baik nyawa ataupun harta. Beribu bahkan berjuta nyawa rakyat Indonesia melayang demi kemerdekaan bangsa ini, mereka rela menyerahkan nyawanya menjadi martir demi anak cucunya nanti.

Sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, negara ini telah menghasilkan saksi-saksi sejarah yang dalam hal ini menjadi narasumber untuk pembuatan tugas ini. Kemerdekaan yang akhirnya diproklamasikan dengan pengorbanan dari para pejuang bangsa, meninggalkan memori atau ingatan, suka dan duka, dari para saksi sejarah yang membawa mereka untuk kembali pada masa itu.

Pada kesempatan kali ini, saya mengajak Eyang saya untuk bernostalgia tentang kenangan masa kecilnya, dimana negara masih dilanda pertempuran dan pengalaman yang beliau rasakan.

Beliau bernama Susamsiyah, akrab dipanggil oleh cucu-cucu beserta keluarga besarnya dengan panggilan Eyang Macus, yang merupakan kependekan dari “Mama Sus” yang kemudian diciutkan menjadi Macus. Beliau lahir di Ponorogo pada tanggal 3 September 1928 yang menjadikannya anak ke 9 dari 12 bersaudara. Dikarenakan kondisi negara yang pada saat itu sedang terombang-ambing, beliau hanya sempat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama. Menikah pada tahun 1952 pada usia 24 tahun, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1962.

Berdasarkan obrolan selama kurang lebih 1 jam, semoga pengalaman beliau dapat saya terjemahkan kedalam tulisan dengan baik melalui tugas ini. Dengan usia yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi, beliau menceritakan kembali apa yang telah dilihat Eyang Macus yang bahkan membuat saya salut dan bangga terhadap beliau.

Eyang Macus adalah seorang yang ceria dan enerjik untuk orang sepantarannya. Selera humornya dan sifatnya yang Sangunis membuat orang terlarut dana obrolannya. Pendengaran yang masih bekerja dengan normal membuat wawancara ini berlangsung dengan menghabiskan 40 menit waktu rekaman suara.

Keputusan saya memilih Eyang Macus sebagai narasumber tidak salah. Kebingungan yang mengganggu saya dalam memutuskan subjek tugas saya ini dikarenakan 3 dari 4 orang tua dari Ayah dan Ibu saya sudah meninggal. Sementara Eyang dari Ayah saya tinggal di Bandung dan deadline untuk mengumpulkan tugas ini tidak memungkinkan lagi untuk mengujungi dan mewawancara Eyang saya yang berada di luar Jakarta. Dan teringatlah keberadaan Eyang Macus, seorang kakak perempuan dari Ibu Ayah saya., yang juga bertempat tinggal tidak jauh dari rumah saya. Kedua orang tua saya tak lepas dari selesainya pengerjaan tugas ini, mereka berdua sangat luar biasa dalam mendukung saya.

Masa kecil Eyang Macus dialami dengan berpindah-pindah antara Ponorogo dan Surabaya. Diusianya yang masih hijau, beliau sudah harus jauh dari orang tuanya dikarenakan faktor keamanan yang masih melanda negara pada saat itu. Beliau menjalani kelas 1 sampai dengan kelas 3 Sekolah Dasarnya di Ponorogo layaknya kebanyakan anak. Ponorogo merupakan sebuah desa kecil yang tidak dihampiri oleh tentara Belanda. Ketika kelas 4 Sekolah Dasar Eyang Macus ikut dengan kakak tertuanya yaitu Pakde Jiwo ke Surabaya.

Perbedaan antara pendidikan di suatu desa kecil dengan sebuah kota besar menyebabkan Eyang Macus harus mengulang kembali tingkatan kelas yang sudah dilewatinya saat masih di Ponorogo. Dahulu Sekolah Dasar memiliki 7 tahun ajaran, lebih banyak 1 tahun dengan standar yang dipakai pada masa sekarang ini yang cukup dengan 6 tahun saja.

Akibat perang yang sedang melanda di Surabaya, Eyang Macus beserta keluarganya terpaksa harus mengungsi dan sering bolak-balik Ponorogo dan Surabaya, sehingga memberikan pengaruh terhadap pendidikan beliau. Ayah Eyang Macus merupakan seorang guru Sekolah Dasar, sehingga Ayah beliau harus menetap di Ponorogo untuk memberikan pengajaran terhadap anak-anak desa.

Kedua orang tua Eyang Macus berpikir kalau anak perempuan harus bisa maju, dan kesempatan itu dapat terbuka dengan merantau ke kota besar seperti Surabaya, yang menjadi alasan kepergiannya meninggalkan Ponorogo bersama saudara-saudaranya. Karena jika tetap tinggal di desa saja, setelah menyelesaikan pendidikan dan berniat untuk berumah tangga, maka calon tulang punggung keluarga itupun mau tidak mau berasal dari desa juga.

Kepergiannya meninggalkan kedua orang tuanya di Ponorogo tidaklah mudah, tetesan air mata sedih yang keluar membasahi pipinya dikarenakan keengganan seorang anak terpaut jarak dengan kedua orang tuanya.

Peranan Eyang Macus dan kontribusinya terhadap negara ini adalah, beliau tergabung dalam Tentara Repubik Indonesia Pelajar atau disingkat dengan TRIP. Tersebar diseluruh nusantara dan Eyang Macus berpartisipasi dalam gerakan Tentara Republik Indonesia Pelajar di Ponorogo. Beranggotakan teman-teman seusianya, beliau membantu wanita-wanita dewasa di dapur umum, memasak makanan dan menyiapkannya untuk warga yang membutuhkan.

Dengan usianya yang masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, bermain dan bersenang-senang tak bisa lepas dari kegiatannya. Meskipun aktif dalam organisasi Tentara Republik Indonesia Pelajar, dengan anggota yang juga masih dalam kategori bocah, mereka tidak mendapatkan perintah dan instruksi secara khusus untuk memberikan bantuan terhadap negara. Namun dengan inisiatifnya, Eyang Macus menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar. Beliau menjalani masa Sekolah Menangah Pertamanya di Sekolah Kepandaian Putri atau SKP yang seluruh muridnya terdiri dari anak-anak perempuan.

Perjuangan yang terjadi di Surabaya tak sempat disaksikan secara langsung oleh Eyang Macus disebabkan beliau beserta keluarga mengungsi ke Ponorogo. Namun jika berjalan di kota, Eyang Macus sering berpapasan dengan tentara-tentara Belanda, maupun pada zaman Jepang. Beliau berangkat ke sekolah dengan menggunakan trem atau sejenis kereta yang dijalankan di jalur aspal dalam kota. Tak jarang Eyang Macus bertemu dengan tentara Jepang yang saat itu sedang mengambil alih wilayah tersebut.

Pesan untuk berhati-hati selalu diingat oleh Eyang Macus, sehingga beliau enggan untuk berpergian ke luar maupun ke sekolah tanpa ada yang menemani, bertujuan untuk menghindari kemungkinan diserang oleh tentara Jepang. Antara berangkat ke sekolah dengan beberapa rombongan temannya, atau diantar oleh kakak tertuanya, Pakde Jiwo sampai titik temu tertentu untuk memastikan sudah aman untuk ditinggal. Tentara Jepang juga tidak berani menganggu kalau harus berhadapan dengan rombongan, salah-salah mereka yang akan kalah.

-->
Oleh mereka yang masih anak-anak, suara tembakan, bunyi letusan, dan pemandangan perang dianggap sebagai kesenangan. Mereka dengan semangatnya ikut berpartisipasi memberikan dukungan terhadap para pejuang bangsa. Bahkan ketika tengah malam, di depan setiap rumah disediakan lubang perlindungan dan terdengar sirine tanda bahaya, pandangan orang dewasa kejadian tersebut terbilang menyedihkan, namun justru sebaliknya, disambut baik oleh bocah-bocah, mereka berlarian ke arah lubang  perlindungan dengan tawa. Mungkin memang itulah yang dibutuhkan mengingat situasi yang sedang dilanda kekelaman dalam genggaman para penjajah.
 
-->
Sebagai penutup, saat ini Eyang Macus sedang menikmati masa tuanya dengan tidak jarang dikunjungi oleh anak serta cucu-cucunya. Kenangan yang berlalu bagai mimpi itu kini ada di masa lalu. Bukan berarti beliau pasif dalam kehidupan pada dewasa ini, kontribusi yang beliau berikan secara tidak langsung terhadap negara ini, tanpa disadari, tanpa dihargai, telah membantu dalam memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Semoga dapat bermanfaat dan menghasilkan nilai yang memuaskan. Sekian.