Friday, 24 May 2013

Tugas-2 Biografi Ihsan Perdana Hutapea


Ibu Zubaidah, Sang Kurir Muda

1.       Biografi

Zubaidah Muchtar, atau yang biasa dipanggil Ibu Zubaidah, mengawali kehidupannya di Batang, Jawa Tengah pada tanggal 10 Oktober 1936 dari pasangan H.M Tarju’i (ayah) dan Hj. Siti Fatimah (ibu). Lahir pada masa-masa penjajahan, hidupnya tidaklah mudah. Ayahnya adalah seorang veteran perang yang dianugerahi penghargaan sebagai “Perintis Kemerdekaan”. Ibu Zubaidah sendiri juga merupakan seorang pejuang pada masa Agresi Belanda 1 & 2, namun dengan cara yang berbeda dengan ayah dan suaminya.

Setelah selesainya Agresi Belanda 1 & 2 pada tahun 1947 & 1949,  Ibu Zubaidah memutuskan untuk kembali mengenyam pendidikan. Beliau memutuskan untuk masuk Universitas Gadjah Mada. Disini, Ibu Zubaidah bertemu dengan seorang pemuda yang kelak akan menjadi suaminya yaitu H. Muchtar Ali. Lulus pada tahun 1964 dari Universitas Gadjah Mada, Ibu Zubaidah melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia. Beliau mengambil program Pascasarjana yang kemudian dapat dituntaskan pada tahun 1977.

Ibu Zubaidah juga memiliki banyak pengalaman dalam berbagai profesi. Ibu Zubaidah pernah menjadi guru di beberapa sekolah. Pada tahun 1958, Ibu Zubaidah pernah mengajar di SMA Muhammadiyah Pekalongan dan di SMA Negeri dan SGA Negeri Singkawang hingga tahun 1959. Pada tahun 1964, Ibu Zubaidah pernah menjabat sebagai seorang anggota Polisi Wanita hingga meraih jabatan sebagai Komisaris Polisi RI. Ibu Zubaidah kemudian keluar dari kepolisian dan menjadi Anggota DPRGR Pimpinan Komisi Kesejahteraan Rakyat. Tahun 1971 Ibu Zubaidah keluar dari DPRGR dan bergabung dalam MPR-RI sampai tahun 1973. Beliau kemudian kembali menjadi PNS di Kementrian Agama dimana beliau pensiun pada tahun 2001 sebagai Staf Ahli Menteri Agama dan Widyaiswara Utama.

Walaupun sudah berumur, Ibu Zubaidah masih aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Ibu Zubaidah pernah menjadi ketua di berbagai organisasi, baik saat masih muda ataupun sekarang, seperti Ketua PII Cabang Kabupaten Batang (1954-1957), Ketua Komisariat HMI Sospol UGM (1957-1959),Ketua Umum PB Wanita SI (1972-1980), Ketua Umum Majelis Pendidikan Syarikat Islam (1996-2007), dan Ketua Umum DPP SESMI (1997-2002), Ketua LT PSII (1999-2004).  Ibu Zubaidah juga menjadi anggota banyak organisasi.

Setelah setengah abad menikah dengan suaminya, H. Muchtar Ali, Ibu Zubaidah telah dikaruniai 4 orang putra-putri, yaitu : Ir. Hj. Muzia Evalisa; Dr. Hj. Valina Singka, M.Si; Dra. Dachmita Vitalia, S.H.; dan Ir. Drasospolino, M.Sc.

2.       Kesaksian

Belum 2 tahun Indonesia merdeka, Belanda kembali menyerang. Serangan yang dimulai pada tahun 1947 ini disebut Operatie Product atau yang dikenal bangsa Indonesia sebagai Agresi Militer Belanda I. Agresi ini bertujuan untuk merebut daerah-daerah di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Hal ini tentu saja memberikan dampak negatif terhadap masyarakat Indonesia. banyak keluarga yang kehilangan harta benda atau nyawa. Tidak sedikit pula yang terpaksa harus kabur dari Belanda dengan mengungsi ke desa atau tempat lain, tidak terkecuali dengan Ibu Zubaidah.

Ayah dari Ibu Zubaidah adalah Ketua PSII di Cabang Kabupaten Batang sehingga beliau tidak dapat tinggal diam melihat Belanda yang kembali menyerang Indonesia. Beliau mengajak gerakan Hizbullahnya untuk melancarkan gerakan gerilya melawan Belanda. Selama gerilya, keluarga beliau juga diajak berpindah-pindah ke berbagai macam desa. Perjalanan selama gerilyta ini dilaksanakan pada malam hari sehingga para pasukan gerilyawan dari bersembunyi dari Belanda dalam gelapnya malam.

Sangatlah sulit untuk melakukan perjalanan keluar masuk hutan pada malam hari. Gelapnya hutan menyebabkan sulitnya untuk melihat jalan setapak yang akan dilewati. Hal ini juga diperparah dengan adanya jurang-jurng di sebelah kanan dan kiri mereka. Hal ini tentu sangat berat bagi Zubaidah muda dan saudara-saudaranya. Maka, untuk mempercepat pergerakan, Ibu Zubaidah dan saudaranya digendong oleh pasukan-pasukan Hizbullah agar dapat sampai di tujuan lebih cepat.

Pada suatu malam, terjadi sebuah insiden saat sedang melakukan gerilya. Ketika saudara Ibu Zubaidah, Siti Chodijah, sedang digendong oleh seorang pasukan Hizbullah, saudaranya itu terjatuh. Karena kondisi hutan yang sangat gelap dan minimnya penggunaan cahaya, maka terinjaklah adik Ibu Zubidah oleh para pengungsi lain yang ada dibelakangnya. Adik Ibu Zubaidah pun menghembuskan nafas terakhirnya disana, Innnaa lillaahi wa innaa illaihi raaji’uun. Hal ini membuat orang tua Ibu Zubaidah sangat terpukul. Belum cukup dengan itu, tidak lama kemudian, adik Ibu Zubaidah yang baru berumur 2 tahun terkena penyakit malaria. Minimnya obat dan kurangnya jumlah dokter di desa-desa akibat perang menyebabkan sulitnya mencari obat untuk adik Ibu Zubaidah. Hal ini berujung dengan meninggalnya adik Ibu Zubaidah, Innnaa lillaahi wa innaa illaihi raaji’uun.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya Ibu Zubaidah tiba di Desa Kalianget, Wonosobo. Menurut Ibu Zubaidah, pada zaman perang, tidak ada orang yang bersifat individualistis. Para masyarakat desa mau menerima dan menampung para pengungsi yang kabur dari kejaran Belanda. Ibu Zubaidah juga merasakan keramahan hati ini. ketika  beliau tiba di Kalianget, keluarga Ibu Zubaidah langsung diterima oleh Alm. H. Cholil, orang paling terkemuka & terkaya di kampung itu. Keluarga Ibu Zubaidah diberikan kamar yang paling luas untuk menginap olehnya.

Ayah Ibu Zubaidah adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pedagang, karena itu ketika di Wonosobo, Ayah Ibu Zubaidah berusaha untuk memakmurkan para pengungsi di daerah  tersebut. Beliau ingin para pengungsi bekerja aktif sehingga sehingga mereka dapat menafkahi diri mereka dan keluarganya. Untuk mewujudkan keinginannya, beliau membangun suatu pabrik disana. Beliau ingin menciptakan panrik dimana banyak orang dapat bekerja disana sehingga mereka dapat membiayai hidup mereka dan keluarganya sendiri. Beliau pun akhirnya menciptakan suatu industri padat karya yaitu pabrik rokok kretek. Karena pabrik ini, banyak pengungsi di Desa Kalianget yang akhirnya dapat memiliki pekerjaan dan mencari nafkah bagi keluarganya.

Setelah selesai Agresi Militer Belanda 1, kehidupan Ibu Zubaidah bisa dibilang cukup damai. Perusahaan ayahnya tetap dapat berjalan seperti biasa. Meskipun sedang berada dalam penggungsian, orang tua Ibu Zubaidah tidak ingin anaknya-anaknya putus sekolah. Maka dari itu, Ibu Zubaidah dan kakaknya akhirnya di sekolahkan oleh orang tuanya di Sekolah Menengah Islam. Sekolah ini berjarak sekitar 10 KM jauhnya dari tempat tinggal Ibu Zubaidah. Pada zaman dulu, belum banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan, apalagi kendaraaan umum. Maka, setiap harinya, Ibu Zubaidah dan kakaknya harus berjalan sejauh 10 KM sebelum sampai ke sekolah. Melihat hal itu, sang ayah pun memutuskan untuk mengindekoskan Ibu Zubaidah dan kakaknya di sebuah keluarga di Wonosobo.

Tidak lama setelah Agresi Militer Belanda 1, Belanda kembali menyerang Indonesia. Tahun 1948, Belanda kembali melancarkan serangan kepada Indonesia. Serangan yang dilancarkan oleh Belan da disebut sebagai Operatie Kraai atau bisa juga disebut sebagai Operasi Gagak, namun masyarakat Indonesia lebih mengenal perang ini dengan nama Agresi Militer Belanda 2.

Karena dimulainya aksi Agresi Militer Belanda 2 ini, akhirnya banyak orang yang memutuskan untuk mengungsi lagi, tidak terkecuali dengan keluarga Ibu Zubaidah. Ibu Zubaidah sekeluarga pun memutuskan untuk ikut dengan rombongan pengungsi lain. Kelompok pengungsi Wonosobo ini tidak memiliki banyak pilihan tempat untuk bersembunyi. Mereka pun akhirnya memilih untuk lari ke arah Gunung Merapi & Gunung Merbabu. Kelompok pengungsi ini terus melakukan perjalanan kearah utara, menuju ke pantai utara.

Ketika kelompok pengungsi ini tiba pada perbatasan Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Pekalongan/Batang, mereka dicegat oleh pasukan Belanda. Beberapa orang ditangkap, seperti pasukan Hisbullah. Ayah Ibu Zubaidah, yang merupakan pemimpin Hizbullah cabang Batang, juga ikut ditangkap bersama dengan rekan-rekannya yang lain.

Ibu Zubaidah pernah melihat kekejaman yang dilakukan tentara Belanda terhadap tawanan-tawanan mereka. Pernah suatu ketika Ibu Zubaidah melihat sebuah truk penuh berisikan tawanan-tawanan Belanda. Truk itu berhenti di suatu tempat dimana sudah disiapkan lubang disana. Para tawanan pun diperintahkan tentara Belanda untuk turun dari truk. Para tawanan itu satu-persatu diperintahkan untuk masuk ke dalam lubang. Ketika mereka masuk ke dalam lubang, mereka pun langsung ditembak oleh  tentara Belanda. Kemudian mayat mereka dibiarkan begitu saja disana untuk dikuburkan oleh masyarakat desa yang dekat dengan daerah itu. Banyak tawanan-tawanan yang tertangkap meninggal dengan cara seperti itu.

Ibu Zubaidah mengira bahwa ayahnya pasti akan dihukum mati oleh Belanda karena  pasukan Hizbullah yang dipimpinnya merupakan ancaman yang cukup besar bagi pihak Belanda. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau tidaklah dihukum mati oleh Belanda, tetapi beliau ditahan dan dimasukan ke dalam penjara, menjadi tahanan politik. Pihak Belanda melakukan ini karena beliau adalah pemimpin cabang Hizbullah sehingga beliau pasti mengetahui pergerakan-pergerakan pasukan gerilya Hizbullah.

Setelah kembali ke Desa Batang, Ibu Zubaidah mulai membantu orang tuanya untuk menafkahi keluarga. Dengan ayah yang mendekam di penjara, ibu pun mau tak mau menjadi tulang punggung keluarga. Beliau berjualan nasi untuk menghidupi anak-anaknya. Ibu Zubaidah juga ikut membantu ibunya. Ibu Zubaidah ditugaskan oleh ibunya untuk mengantarkan bekal untuk ayah yang ada di penjara Belanda. Ibu Zubaidah pun akhirnya mengantar rantang nasi untuk bapaknya setiap hari.

Pada awalnya, Ibu Zubaidah berpikir bahwa tugas mengantar nasi hanyalah tugas biasa saja. Yang harus Ibu Zubaidah lakukan hanyalah membawa rantang nasi dengan lauk pauk kepada ayahnya di penjara Belanda. Karena usianya yang masih muda, pasukan Belanda tidak mengangap Ibu Zubaidah sebagai tentara Indonesia atau mata-mata, karena itu, ketika Ibu Zubaidah membawa rantang nasi, Ibu Zubaidah tidak pernah diperiksa oleh Belanda secara menyeluruh. Ibu Zubaidah pun dapat melewati penjaga-penjaga Belanda dengan mudahnya, namun Ibu Zubaidah tidak menganggap itu hal aneh karena dia hanya pengantar nasi, pikirnya. Ibu Zubaidah pun akhirnya menyerahkan rantang itu kepada ayahnya. Dia baru sadar ketika ayahnya membuka nasinya, terlihat sepucuk surat yang ditujukan kepadanya. Surat itu berasal dari para pasukan Hizbullah yang masih bergerilya di hutan. Ibu Zubaidah pun baru sadar tugas yang sebenarnya diberikan kepadanya : kurir penghubung antara pasukan Hizbullah dengan ayahnya. Dengan ini, Ayah Ibu Zubaidah dapat terus memberikan komando kepada para pasukan Hizbullah walaupun dengan dirinya di dalam penjara. Ibu Zubaidah pun terus melanjutkan perjuangannya dengan cara ini. surat demi surat ia antarkan kepada ayahnya di penjara. Umurnya yang masih muda sangat berguna baginya. Hal itu membantunya mengelabui para tentara Belanda sehingga mereka tidak menyangka bahwa Ibu Zubaidah juga merupakan seorang pejuang kemerdekaan.

Setelah sekian lama berjuang, akhirnya hasil dari perjuangan panjang itu pun muncul. Tahun 1949, Belanda menyerahkan kembali Indonesia kepada rakyat Indonesia. Tentara-tentara Belanda yang awalnya menjamur di berbagai sudut mulai menghilang. Para tahanan-tahanan perang pun sudah dapat menghirup udara segar lagi. Para pejuang pun kembali ke keluarganya, seperti Ibu Zubaidah yang akhirnya dapat bertemu kembali dengan ayahnya.

Saya dan Ibu Zubaidah

No comments:

Post a Comment