Saturday, 25 May 2013

Tugas 2 Biografi-Ikko Haidar F. XI IPA 3




Niek Suwarni: Perjuangan Melawan Belanda dimata Warga Sipil. Pare, Kediri.

Nenek saya yang paling belakang di kiri.Diambil ketika makan malam saat Ultah Ayah 28 Maret 2013 lalu
          Saya mewawancarai Nenek saya yaitu Niek Suwarni ketika kebetulan sedang datang ke Jakarta beberapa waktu lalu dalam rangka sillaturahmi yang memang sering Beliau lakukan. Bagi beliau, pergi bolak-balik dari Pare ke Jakarta untuk mengunjungi rumah saya (Dan eyang-eyang saya (keluarga beliau-red) yang memang banyak tinggal di Jakarta) sudah merupakan hal biasa.  Wawancara tersebut dilakukan di rumah pada malam hari tanggal 5 April 2013 setelah saya pulang dari sekolah. 

Beliau lahir di Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur tanggal 31 Desember 1939, Beliau adalah puteri kelima dari pasangan Djoewadi (alm) dan Siti Kalsum (almh). Beliau tinggal di Pare sejak masa kecil sampai sekarang, meskipun sempat pindah ke Samarinda, namun kemudian kembali lagi ke rumah Beliau yang lama di Pare.

Awalnya saya bertanya tentang kenangan Nenek ketika zaman perang kemerdekaan, akan tetapi karena Beliau saat itu masih berusia sangat muda (Sekitar 5 tahun lebih ketika perang berakhir), sehingga kenangan Beliau tidaklah banyak akan peristiwa tersebut. Akan tetapi, Beliau memiliki kenangan akan peristiwa yang terjadi ketika Agresi Militer II tahun 1949.

Kenangan Beliau akan masa Perang Gerilya berpusat di era Agresi Militer II tahun 1949. Pada saat itu, Beliau berumur kurang lebih 9 tahun (sic) dan sedang duduk di bangku SR (Sekolah Rakyat; sekarang SD) Pare Rini Putri di kelas 4 ketika Pasukan Belanda mulai merangsek masuk daerah tempat Beliau tinggal

Sebelum Pasukan Belanda masuk kota pare, tempat-tempat penting yang berada di kota tersebut dibumihanguskan oleh para Gerilyawan Indonesia, seperti Pabrik Gula di Bendo, Pabrik Es, dan Markas Pesindo, dengan harapan agar tempat tersebut tidak jatuh ke tangan belanda dan jika jatuhpun, Belanda tidak akan bisa memanfaatkan asset-asset yang ada disana

Pasukan yang berjuang untuk mempertahankan Kota Pare umumnya berasal dari Batalion TSS (Tentara Sumatera Selatan), dan MASTRIP (TRIP: Tentara Republik Indonesia Pelajar. Sebutan “MAS” berasal dari fakta bahwa mereka pada saat itu masih berstatus Pelajar), dan pasukan TGP (Tentara Gabungan Pelajar)

Kakak pertama Beliau merupakan pimpinan MASTRIP bernama Moch. Druju Subagio, yang di keluarga kami akrab disebut sebagai Eyang Druju. Akan tetapi beberapa tahun lalu beliau telah berpulang dan saat ini beristirahat dengan tenang di TMP Kalibata Jakarta

Saat Pasukan Belanda menduduki Kota Pare, sebagian masyarakat ada yang mengungsi ke desa-desa kecil yang ada disekitar Kota Pare, namun ada juga yang memilih bersembunyi di rumah masing-masing. Semua tujuannya sama, yaitu menghindar dari Belanda.

Selain itu, Beliau juga menyaksikan momen ketika kapal terbang (pesawat tempur-red) Belanda mengebom daerah-daerah di Kota Pare, dan menimbulkan banyak korban.

Keluarga Beliau termasuk dari sebagian besar warga Pare yang memilih untuk mengungsi ke Desa-Desa. Desa yang disinggahi diantara lain adalah Desa Polosari, Desa Jombangan, Desa Semanding, dan Desa Sumber Agung. Keluarga beliau baru kembali ke Pare ketika keadaan sudah dianggap aman dan Belanda menyerah.

Di pengungsian itulah Beliau seringkali memberikan bantuan baik kepada para pengungsi lain ataupun kepada para Gerilyawan yang berada di Desa. 

Meskipun dalam keadaan perang, aktivitas jual-beli tetaplah berjalan. Setiap hari, Beliau dan Ibu Beliau (Nenek Iyut) setiap subuh hari berangkat ke pasar untuk berjualan hasil kebun dari desa pengungsian, lalu kemudian pulang membawa sembako untuk dijual di desa. Beliau harus menempuh perjalanan memutar yang agak jauh, melewati pematang sawah dan rerumpunan bambu. Hal ini disebabkan jalan-jalan utama dan jembatan di daerah tersebut banyak yang diblokade ataupun dihancurkan agar Belanda tidak bisa membawa tank-tank mereka masuk ke Desa. Menurut cerita beliau, jalan tersebut diblokade dengan pohon pisang yang direbahkan untuk mencapai tujuan itu

Ketika pulang dari desa, Beliau biasa membawa sebakul pisang untuk para pejuang yang berjaga di wilayah tersebut. Kebanyakan dari mereka mengambil posisi defensif di tepi sungai ataupun pematang sawah agar dapat melihat kedatangan pasukan Belanda dan meperingatkan rekan-rekannya.

Pada saat itu, tokoh yang memimpin perlawanan para gerilyawan dalam menghadapi Pasukan Belanda adalah Bapak Sumandar Priysudarmo (Alm) yang merupakan mantan Gubernur Jatim (sic) yang mempimpin para pejuang di Desa Tungkur, Badas Batan, perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Ada salah satu peristiwa yang beliau sangat ingat. Suatu hari (Beliau tidak ingat kapan persisnya terjadi-red) Beliau sedang berada di Pasar ketika terdengar teriakan “Belanda datang! Belanda datang!” Tentu saja para warga yang sedang beraktifitas kemudian berusaha melarikan diri kemanapun yang dianggap aman, tentu dengan satu tujuan yang sama, yaitu untuk mencari selamat dari pasukan Belanda yang sedang merazia tempat tersebut

Pada saat itu, ada seorang Bapak yang tidak sempat melarikan diri dari Belanda. Bapak itu adalah penjual gerabah dari tanah liat. Tentu saja Belanda menginterogasi Bapak tersebut untuk mengorek informasi dimana para antek-antek (kakitangan) pejuang berada. Tentu saja Bapak tersebut menjawab “Mboten sumerep ndoro!” (Tidak tahu tuan!) Maka kepala Bapak tersebut langsung dihantam oleh pasukan Belanda yang menginterogasi, sehingga bercucuran darah dan tidak sadarkan diri. 

Nenek pun kemudian menangis ketakutan, beserta Nenek Iyut, dan para pedagang yang ikut berdo’a agar diberikan keselamatan oleh Allah SWT. “Gusti Allah niwon slamet!” (Ya Allah minta selamat!) Pasukan Belanda, tampaknya tidak puas karena tidak mendapat informasi apapun akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut, tapi tidak lupa mereka menjarah makanan dan barang dagangan yang ada di pasar . (Akan tetapi Beliau tidak bercerita keadaan Bapak tersebut setelah dihajar oleh Pasukan Belanda dalam wawancara, apakah sempat tertolong atau tidak, mengingat keadaannya yang sampai bercucuran darah-red)

Esok harinya, pasar pun berpindah lokasi ke Desa lain. Akan tetapi, ditempat yang baru pun terjadi kejadian. Suatu hari (Beliau tidak ingat kapan persisnya terjadi-red), Pasukan Belanda lagi-lagi mendatangi pasar. Pada saat itu Beliau dan Nenek Iyut sedang bersembunyi didalam kios. Akan tetapi, kakitangan Belanda yang menggerebek saat itu ternyata mengenal Ibu dari Nenek, karena suaminya (Ayah dari Nenek) pada saat itu adalah Kepala Desa Pare. Nenek Iyut saat itu diancam oleh kaki tangan Belanda bahwa apabila tidak mau pulang, maka rumah kelurahan di Jalan Arjuno (Kota Pare) akan dibakar oleh Belanda, mengingat saat itu Kota Pare sedang dikuasai oleh Belanda. Kakitangan tersebut mengancam Nenek Iyut mengingat karena suami Beliau adalah kepala desa, maka Rakyat akan ikut pulang. Akan tetapi setelah disampaikan kabar tersebut, Kakek Iyut kemudian mengambil pilihan yang berani, dengan jawaban “Lebih baik kehilangan rumah daripada mengorbankan harga diri mencintai rakyat dan desanya”. Alasan Beliau untuk menolak tawaran tersebut karena Beliau tidak mau menjadi penduduknya Belanda.

Menurut apa yang didengar Beliau, para gerilyawan yang menjaga rumah membuat perlindungan Bawah Tanah agar rumah tersebut dikira kosong oleh Pihak Belanda. Hal yang sama dilakukan di daerah pengungsian sebagai tindakan pencegahan jika Belanda datang. Perlindungan tersebut biasanya dibuat dengan cara menggali lubang yang kira-kira seluas kamar tidur, dan ditutup dengan bambu sebagai kamuflase. Hanya ada lubang kecil untuk masuk kedalam perlindungan tersebut.  

Orang-orang saat itu sangat melindungi anak-anak wanita, terutama yang masih gadis, dengan menyembunyikan mereka dan mencoreng muka mereka dengan lumpur agar keasrian mereka tidak terlihat. Hal ini disebabkan Pasukan Belanda tentu saja akan menculik anak gadis tersebut (Apalagi gadis-gadis Jawa seringkali memiliki muka yang asri) dan kemudian dieksploitasi oleh Belanda untuk maksud yang tentu saja tidak baik, mulai dari pekerja kasar, hingga bahkan sebagai pemuas nafsu mereka.

Setelah Belanda menyerah, Keluarga Beliau kemudian kembali ke Pare, begitu juga dengan masyarakat. Tidak berapa lama, Keluarga beliau mendengar kabar duka bahwa Kakak Pertama nenek (Seorang pejuang MASTRIP) telah gugur dimedan perang dan jenasah akan tiba di Pare sore hari. Saat itu, liang lahat untuk para pejuang yang gugur telah dipersiapkan. 


Menurut pengakuan Beliau, Nenek Iyut menangis tanpa henti, akan tetapi Kakek Iyut (Ayah dari Nenek-red) kemudian bertanya “Adakah firasat atau perasaanmu akan kehilangan anak?” Nenek Iyut menjawab “Tidak merasa dan tidak ada firasat apa-apa”. Mereka pun kemudian berdoa untuk mengharapkan yang terbaik dari Allah SWT sembari menunggu

Ternyata setelah Jenasah tiba Pare dan para keluarga dipersilahkan melihat, kakak dari Nenek tidak berada diantara para Jenasah. Ternyata sampai kabar bahwa Kakak dari Nenek adalah satu-satunya pejuang yang selamat. Menurut cerita yang Nenek dapat dari Kakak Beliau, ketika Belanda mulai menembaki mereka, Ia adalah satu-satunya yang berhasil berlindung dan tiarap dibalik rerumpunan bamboo, dimana peluru tidak bisa  menembusnya, sehingga berhasil lolos tanpa mengalami luka sedikitpun, padahal rekan seperjuangannya gugur semua.

Selang beberapa hari, Kakak dari Nenek pun kemudian kembali dengan selamat. Isak tangis bahagia pun kemudian tak terhindarkan. Semua bersyukur kepada Tuhan

Setelah Beliau bercerita, saya kemudian bertanya apa Beliau menyaksikan pertempuran besar lainnya. Beliau ternyata tidak menyaksikan pertempuran yang besar-besaran karena keadaan pasukan Indonesia yang terdesak sehingga tidak mungkin melawan dan harus selalu bergerak. 

Setelah itu, beliau berpesan berkata “…Memang banyak pengorbanan. Makanya, kemerdekaan itu tidak mudah didapat. Kemerdekaan itu kita didapat dengan darah dan air mata. Maka bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya

Itulah cerita dari apa yang Nenek saya saksikan dan alami dalam Agresi Militer II yang dilakukan oleh Belanda. Tentu saja mendengar cerita dari narasumbernya langsung (Dalam hal ini saksi sejarah) akan membuat kita lebih menghayati, karena kita akan lebih terbawa kedalam atmosfer/suasana kejadian tersebut dengan segera bisa membayangkan kejadian sesungguhnya

Akhir kata, semoga kisah-kisah dari saksi sejarah dapat menginspirasi kita semua. Wassalam

Catatan: Meski bagian pemboman Kota Pare diceritakan di akhir cerita dan tulisan ini dibuat dengan mengikut alur cerita, akan tetapi demi keruntutan kronologi, maka Penulis letakkan dibagian atas.




No comments:

Post a Comment