Tuesday, 28 May 2013

Tugas 2 (Biografi) - Inayah Chaerunnisa XI IPA 1

TUGAS SEJARAH – WAWANCARA
Biografi Seorang Saksi sejarah

Pada hari Minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Mei, saya Inayah Chaerunnisa pergi mengunjungi seorang narasumber saksi sejarah untuk diwawancarai dalam rangka memenuhi tugas sejarah. Narasumber saya adalah Nenek Min Saminah, beliau adalah teman ketika orang tua saya naik haji, dan masih menjaga silahturahmi dengan orang tua saya sampai sekarang. Kenapa saya mewawancari beliau, karena saya sudah tidak mempunyai kakek (padahal kakek saya dari Ibu dan Bapak keduanya ketika dulu bekerja dibidang pertahanan dan keamanan Republik Indonesia), serta nenek dari Ibu sudah meninggal, dan nenek saya yang masih hidup (nenek dari bapak) sudah pikun serta tidak nyambung dengan pembahasan dan beliau tinggal di Bandung. Sehingga berhubung Nenek Min umurnya segenerasi kakek-nenek saya, maka saya mewawancarai beliau.

Nenek Min lahir di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 9 April 1946. Saat ini Nenek Min telah berusia 67 tahun (setahun lebih muda dari umur Indonesia). Nenek Min mengeyam bangku pendidikan sekolah dasarnya di Purwokerto. Kemudian, setelah lulus SD yaitu sekitar tahun 1961, beliau pindah ke Jakarta. Di Jakarta beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Menegah Keperawatan di Rumah Sakit Panti Nugroho yang terletak di kawasan Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ia juga tinggal di asramanya.

Setelah lulus dari sekolah keperawatan, Nenek Min langsung bekerja di rumah sakit bersalin Panti Nugroho. Kurang lebih ia bekerja sebagai perawat selama 3 tahun. Ketika beliau menjadi seorang perawat, terjadilah peristiwa G30SPKI atau nenek Min lebih familiar dengan istilah Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh). Gestapu adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dan dimasukkan kedalam sebuah sumur Loebang Boeaya dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Untung saja ketika itu Nenek Min tidak mendapatkan dampak yang berarti saat itu, ia merasa aman karena yang dicurigai kebanyakan adalah pemuda rakyat.

Kata nenek Min, setelah peristiwa Gestapu, PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan. Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.

Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Kemudian, pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara.

Kata nenek Min, setelah kejadian G30SPKI, saat itu diberlakukan sebuah peraturan, yaitu peraturan jam malam. Peraturan ini melarang warga untuk keluar atau beraktivisa lewat dari jam 9 malam. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga. Kata nenek Min, kira-kira jam mala mini berlaku selama 3 bulan. Selama itu pula Presiden Soekarna terus-terus berpidato/ berorasi untuk menenangkan warganya.

Dalam bulan-bulan setelah peristiwa ini, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Hampir saja sepupu dari Nenek Min tertangkap, karena dikira sebagai simpatisan PKI. Termasuk kata nenek Min waktu itu tentang peristiwa penangkapan Suwiryo, karena kata Nenek Min saat itu heboh.

Lima bulan setelah peristiwa Gestapu, tepatnya pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah Sebelas Maret. Ia memerintah Suharto untuk mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI.

Ketika Nenek Min berprofesi sebagai perawat, ia mengalami peristiwa sanering atau yang biasa dikenal dengan pemotongan nilai nominal rupiah. Kata beliau, saat ia menerima gaji, ia kaget karena tiba-tiba gajinya menjadi lebih kecil daripada sebelumnya. Setelah ditelesuri ternyata ada pemberlakuan sanering dari uang 1000 rupiah menjadi 100 rupiah.

Pada tanggal 9 September 1968, Nenek Min menikah dengan seorang kolonel AD (Angkatan Darat) Bernama Bapak Mahfudin. Sayangnya, saya tidak bisa mewawancarai beliau dikarenakan ia sedang sakit, dan sudah pikun, padahal kata Nenek Min, dulu Kakek Mahfudin tahu kronologis peristiwa Gestapu.

Trus, kata nenek Min, setelah kakek Mahfudin pensiun dari AD, beliau bekerja sebagai dosen. Ia mengajara materi tentang Pancasila di STMIK (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Ilmu Komputer) yang ada di Jakarta, selain itu beliau juga menjadi dosen pancasila di UNIJA (Universitas Jakarta).

Singkat cerita, setelah menjadi perawat selama 3 tahun, kemudian ia keluar dan mendaftarkan diri sebagai guide serta perawat untuk anak-anak di hotel Hilton. Selama bekerja sebagai perawat, beliau menangani tamu-tamu dari luar negri. Bahkan, beliau ikut ke Kota atau Negara yang ingin dikunjungi dari kliennya tersebut, seperti ke Bali, Bangkok, Malaysia, bahkan sampai ke Amerika.

Nenek Min bilang, beliau di Amerika, tepatnya di Texas, Dallas selama 1 tahun. Ketika di Amerika, ia hampir 2 kali diculik dan ingin dibunuh, karena kata nenek Min, orang Indonesia tidak diperbolehkan untuk bekerja di Amerika, karena di Amerika sudah ada 4 ras, yaitu Meksiko, Negro, Filipin, serta orang Amerikanya sendiri. Untung saja ketika itu, passport yang digunakan nenek Min adalah passport untuk kunjungan atau visiting bukan passport kerja, jadi beliau lolos dalam pemeriksaan imigran ketika ia sedang berjalan-jalan. Ia mulai bekerja di Amerika pada tahun 1993 sampai 1994. Tadinya kata nenek Min, kalau ia diperbolehkan oleh suami atau kalau suaminya boleh ikut, beliau akan terus bekerja disana, karena kliennya merasa puas dengan pekerjaan nenek Min. Tetapi, karena ia sudah menikah, maka ia bekerja disana hanya 1 tahun, padahal awalnya kliennya hanya meminta selama 3 bulan saja.

Setelah bekerja sebagai perawat anak-anak, kurang lebih selama 19 tahun, tepatnya dari tahun 1975 sampai dengan 1994, ia memutuskan untuk pensiun.

Kemudian pada tahun 1996, beliau dan suaminya pindah dari komplek Kostrad ( Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) ke daerah Tangerang, tepatnya di Ciledug. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, beliau menjadi juragan kontrakan.

Dalam pandangan saya, walaupun Nenek Min tidak turun langsung (ikut serta) dalam peristiwa-peristiwa bersejarah di Indonesia, beliau tetap mempunyai perannya tersendiri sebagai saksi sejarah (mengalami/ menyaksikan peristiwa). Karena kata Nenek Min, orang yang mengalami peristiwa Gestapu dan peristiwa-peritiwa sebelumnya, banyak yang sudah tiada. Karena setidaknya ketika peristiwa tersebut orang itu sudah dewasa, dan kejadian Gestapu sudah hampir 50 tahun yang lalu terjadi, sehingga harus mencari orang yang setidaknya umurnya sudah 65 tahun. Contohnya kata nenek Min, teman- teman anggota satu pleton dari kakek Mahfudin sudah meninggal semua, tinggal kakek Mahfudin yang Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa bernafas walaupun sudah mulai pikun dan sakit. Jadi konklusinya adalah, Nenek Min merupakan salah satu saksi sejarah dalam peristiwa Gestapu.

Saya bersama narasumber Nenek Min


Oleh Inayah Chaerunnisa/ 13
XI IPA 1

No comments:

Post a Comment