Wednesday, 29 May 2013

Tugas 2 - Biografi Inaz Zakia


Prof. Koes, Perwira Polisi dan Pelindung HAM

Indonesia, dalam usianya yang menuju ke 68 ini telah mengalami banyak peristiwa dan mengalami berbagai fase. Mulai dari sebelum merdeka, ketika masih berjuang untuk melawan Belanda dan Jepang, hingga ketika sudah merdeka. Indonesia yang sudah merdeka mengalami berbagai fase atau masa yaitu masa orde lama dengan kepemimpinan Soekarno, orde baru dengan kepemimpinan Soeharto, dan masa reformasi, masa setelah turunnya Soeharto.

Tentunya masa-masa ini dapat terjadi karena peran tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Untuk itu saya mencoba mewawancarai seorang tokoh yang bisa membagi kisah hidupnya. Sebenarnya, saya diberi tugas untuk mewawancarai orang yang seumuran dengan kakek atau nenek saya, tetapi kakek atau nenek saya yang lahir pada tahun 1921 dan 1923 dan mereka sudah meninggal dunia, jadi agak sulit untuk mencari tokoh yang seumuran. Saya lalu menjadi agak bingung karena tidak tahu harus mencari narasumber kemana.

Akhirnya Ibu saya mengidekan agar saya mewawancarai dosen beliau. Katanya dosen beliau mantan perwira polisi, lalu saya menjadi tertarik dan menyetujui ide tersebut. Maka, pada Kamis, 4 April 2013 lalu saya ikut ibu saya yang akan pergi kuliah menuju ke Pusdiklantas (Pusat Pendidikan Polisi Lalu Lintas) karena beliau mengikuti kelas khusus di bawah naungan Universitas Bhayangkara. Saya mewawancarai dosen beliau yaitu Prof. Koesparmono Irsan atau biasa disapa Prof. Koes ini. Beliau dulu aktif di Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) dan juga aktif di kepolisian.

Sebelumnya, ada perasaan khawatir di diri saya karena saya takut salah bicara atau menyinggung perasaan beliau, namun seorang teman ibu saya berkata "Gapapa, orangnya baik banget." maka perasaan khawatir saya agak berkurang.

BIOGRAFI

Prof. Drs. Koesparmono Irsan SH, MM, MBA adalah Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Beliau lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada tanggal 24 Maret 1940. Beliau lalu besar dan mengenyam masa pendidikan SD, SMP, dan SMA di Sukabumi. Istri beliau bernama Wening Rialatun MS, mempunyai 3 anak masing-masing bernama Roefke Koerniawan Irsan STReza Sefrino Irsan ST, dan Drg. Ria Dyah Safitri. Anak beliau berprofesi sebagai insinyur dan dokter. Serta beliau memiliki 6 cucu. Ayah beliau berprofesi sebagai perwira polisi dan memberikan banyak inspirasi kepada beliau. Ayah beliau selalu mengajarkan Prof. Koes untuk menjadi yang terbaik. Untuk itulah Prof. Koes memiliki motto "I do my best. I'm not the best, I try to do my best.".

Awalnya, beliau memiliki cita-cita untuk menjadi guru, namun orang tua beliau tidak mengizinkan dikarenakan keluarga beliau kebanyakan berprofesi sebagai dokter, kalau ingin menjadi guru maka harus menjadi guru besar. Pada akhirnya, beliau melanjutkan pendidikan kedokteran, lalu beliau pergi ke ITB. Di sana, Ia bertemu Rahdi Ramlan yang akhirnya masuk ke Angkatan Udara (AU) dan Lili yang akhirnya masuk ke Angkatan Darat (AD).

Setelah itu, beliau masuk ke sekolah polisi yaitu  PTIK angkatan VIII. Ia mendapat gelar SH (Sarjana Hukum) dengan berkuliah di Universitas Indonesia dan mendapat gelar MBA (Master of Business and Management) di FBI Academy, Amerika Serikat. Ia juga pernah belajar di Kawiryan Brimob, Seskopol KRA II, Criminal Investigation Course, Tokyo, Narcotic and Drug Abuse, Seoul, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IGI Jakarta, Gregorio Aranetta University, Manila, dan Lemhanas KRA XX.

Beliau pernah bekerja sebagai Perwira Reserse Mabes PolriWadanres 2105 FakfakAnggota DPRD II FakfakDanres 2107 SorongDanwilko 072/Jakarta UtaraDansatserse Polda Metro JayaAsintelpampol Polda RiauAsintelpampol Polda Jawa TimurKapolwiltabes SurabayaWakapolda SumbarKapolda SumbarDirektur Reserse PolriKapolda Jawa TimurGubernur Akpol, dan Deputi Operasi Kapolri, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Periode 1998-2002, dicabut dengan KEPRES RI No. 165/M tahun 2002, taggal 31 Agustus 2002)anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dosen S-2/KIK Universitas Indonesiadosen S-1 dan S-2 Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Guru Besar Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, dosen S-1 dan S-2 Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta, dosen S-2 Universitas Indonesia, anggota Tim Ahli Bank Indonesia (UKIP)Komisaris PT Jasa Marga (Persero), Konsultan Bank Indonesia (Unit Khusus Investigasi Perbankan), dan Komisaris Bank Maspion.

Bersama Komnas HAM, beliau pernah menghasilkan beberapa penelitian, yaitu "Internally Displaced Person's" dan "Peranan Multinasional Corporation dalam Pembangunan Masyarakat Sekitar".
Pada dasarnya, beliau adalah orang yang tidak suka dirumah, itu sebabnya walaupun sudah pensiun di Komnas HAM dan di kepolisian, beliau masih mengajar di berbagai universitas untuk mengisi waktu luang dan berbagi ilmu pengetahuan.

Selain itu, beliau juga menerbitkan beberapa buku, di antaranya adalah buku yang berjudul "Sosiologi Hukum" dan "Hukum dan Hak Asasi Manusia". Ia juga menerbitkan empat buku lain tentang hukum pidana setebal 400 halaman.


KESAKSIAN

Saya lalu masuk menuju ke ruang kelas tempat diadakannya mata kuliah Sosiologi Hukum, di sana dusah terdapat beberapa rekan ibu saya yang siap menerima mata pelajaran kuliah tersebut. Ibu saya lalu berbicara dengan Prof. Koes mengenai kedatangan saya sore itu.

"Jadi, mau tanya tentang apa?" tanya Prof. Koes sangat ramah, lalu saya jawab dengan bertanya tentang aktifitasnya selama ini sebenarnya apa saja.

Prof. Koes bercerita ia sering berjalan-jalan di dalam maupun di luar negeri. Saat di Surabaya, beliau lalu mendirikan Universitas Bhayangkara dan akhirnya menjadi guru besar di sana. Ia juga pernah bepergian ke Amerika, Inggris, Perancis, Belanda, Turki, Korea, Taiwan, dll untuk belajar ilmu kepolisian.

"Lalu, mau tanya apa lagi?" Prof. Koes kembali bertanya. Saya pun agak bingung menjawabnya "Hmm, cerita-cerita aja Prof tentang pengalamannya selama ini, tentang ketemu presiden" saya pada akhirnya menjawab. Lalu beliau tersenyum dan menjawab "Entah kenapa, saya selalu di panggil oleh presiden." Lalu beliau mulai bercerita.

Beliau pernah mengikuti rapat gelap Pak Habibie agar Pak Soearto bisa turun. Di sana ia berkumpul dengan beberapa jendral diantaranya Pak Hugeng dan Pak Awaludin. Ia lalu meminta Soeharto turun saat bepergian ke Mesir lalu Singapura kemudian Batam. Ia, bersama dengan Pak Marzuki Darusman, juga pernah diminta bantuan oleh Pak Habibie.

Prof. Koes pernah ditugaskan untuk pergi ke Banyuwangi mengurus kasus pembantaian terhadap 116 orang yang dituding sebagai dukun santet di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 1998. Ia juga pernah mengurus kasus TKI yang akan di hukum mati.

Selain itu, saat masa pemerintahan Megawati, beliau pernah dikirim ke Papua untuk menyelesaikan kasus pembunuhan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay di Irian Jaya. Ia bekerja bersama 10 anggota lainnya dari unsur sipil, Polri dan TNI sebagai Ketua Penyelidik Nasional Kasus Theys Eluay.

Pada masa pemerintahan SBY, Prof. Koes menjadi wakil ketua Tim Delapan bersama Adnan Buyung Nasution selaku ketua dan Denny Indrayana selaku sekretaris serta bersama anggotanya yaitu Anies BawesdanSyamsuddin, Hikmahanto Juwana, Todung Mulya Lubis serta Komaruddin Hidayat. Tim Delapan ini bertugas untuk mencari fakta tentang kasus korupsi Bibit dan Chandra.

Beliau juga pernah menangani Kasus Marsinah. Marsinah adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.

Selain itu, Ia yang mewakili KPP HAM untuk menangani kasus Timtim, yaitu kasus ingin lepasnya Timor Timur dari wilayah Indonesia. Lalu, ia juga menangani kasus Joni, yaitu kasus kematian tunanetra, Joni Malela yang tewas saat mengantre untuk bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Beliau juga menangani kasus Tanjung Priok sebagai Ketua Team Penyelidik Kasus Tanjungpriok. Kasus Tanjung Priok adalah peristiwa kerusuhan yang terjadi pada 12 September 1984 di Tanjung Priok, Jakarta yang mengakibatkan sejumlah korban tewas dan luka-luka serta sejumlah gedung rusak terbakar. Sekelompok massa melakukan defile sambil merusak sejumlah gedung dan akhirnya bentrok dengan aparat yang kemudian menembaki mereka.

Saat beliau masih berada di Komnas HAM, beliau adalah satu-satunya yang berasal dari disiplin penyelidikan. Tugas dirinya sebagai satu-satunya penyelidik memang berat. Kedudukannya sebagai penyelidik mendesaknya mengharuskan beliau berada di lini terdepan di Komnas HAM.

"Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diceritakan, tapi rahasia. Ayo, apa lagi?" Prof. Koes bertanya kepada saya yang saya jawab dengan "Hmm, harapan Prof. Koes untuk Indonesia ini apa?"

Harapan beliau untuk Indonesia ini agar damai, jangan sampai terjadi tawuran atau ribut seperti Kasus Poso. Harus memuat masa depan yang baik, karena orang-orang zaman sekarang terkadang tidak berpikir untuk masa depan, melainkan hanya memikirkan saat ini saja, padahal dengan berpikir bahwa masa depan yang baik, maka akan berpikir untuk bekerja lebih baik, ekonomi akan membaik dan kehidupan akan menjadi baik.

Harus sama-sama mengerti sesama warga Indonesia. Selain itu, jangan sampai Indonesia ini pecah dan harus toleransi terhadap umat beragama dan diharapkan tidak terjadi kasus-kasus lagi. Memang, Prof. Koes sedari kecil sudah mengenal pluralisme beragama. Sejak kecil, Ia selalu diajari untuk saling menghargai dan toleransi antar sesama walaupun berbeda.

Kesan saya terhadap beliau adalah bahwa beliau orang yang sangat ramah dan murah senyum, serta beliau tidak sungkan dan sangat menyenangkan untuk mewawancarai beliau.

Sekian hasil wawancara saya dengan Prof. Koes. Semoga tulisan ini dapat dijadikan inspirasi oleh kita semua untuk selalu dapat berguna bagi diri sendiri, orang lain, kerabat, keluarga, masyarakat, dan bagi nusa dan bangsa. Karena saya percaya, setiap manusia pasti dapat berguna asal mau berusaha dan bekerja keras, serta tidak pantang menyerah dan terus berusaha untuk maju. 

No comments:

Post a Comment