Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Irdina Tiara Putri XI IPS 3

Kakek Koeshana Wangsamihardja, Kanselir Indonesia di Sri Lanka



Kesulitan mendapatkan tokoh dan penghimpunan informasi

            Sehubungan dengan tugas ke-2 pelajaran Sejarah tahun 2013. Para siswa diwajibkan untuk mewawancarai tokoh sejarah atau saksi sejarah. Saya sempat menghampiri panti jompo dibilangan Cinere untuk mewawancarai veteran peteran dimasa Belanda. Namun sangat disayangkan panti tersebut untuk sementara tidak dapat menerima tamu.
Pencarian sayapun berlanjut. Saya mulai menanyakan ke keluarga besar saya. Saya mendapat informasi bahwa salah satu kerabat dari keluarga saya merupakan seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat semasa orde baru bahkan saya diberi nomor telepon beliau. Tetapi ketika saya coba telepon beliau nampaknya beliau sudah pindah sehingga saya kehilangan satu sumber tokoh sejarah sebagai narasumber wawancara.
Selang beberapa hari kemudian saya melanjutkan pencarian narasumber wawancara. Pada akhirnya saya mewawancarai nenek saya, Tjitjih Poerwasih sebagai saksi sejarah. Beliau adalah keturunan pertama dari tiga bersaudara. Ayah nya, Koeshana Wangsamihardja adalah seorang pegawai Departemen Luar Negeri dan sebagai Kanselir Indonesia di Sri Lanka pada masa pemerintahan Belanda.

           

       (Nenek Tjijih Poerwasi & saya, 2011)






Biografi & Peranan tokoh

Buyut saya yang bernama lengkap Koeshana Wangsamihardja lahir di Cianjur yang merupakan suatu kota yang terletak di provinsi Jawa Barat pada tanggal 12 Juni tahun 1900-an. Kehidupan buyut saya semasa dia dia kecil dan remaja termasuk masa pada saat dia masih sekolah sudah tidak diketahui lagi oleh narasaumber yang saya wawancara yaitu nenek saya yang merupakan anak beliau, hal ini dikarenakan pada saat itu nenek saya sudah tidak mengingat hal tersebut. Koeshana Wangsamihardja memiliki 3 orang anak yaitu Tjijih Poerwasih yang merupakan nenek saya, Koesasih, dan Tjutju Soehana. Beliau meninggal pada 9 April 1978 di Jakarta

Semasa kehidupan beliau kota cianjur yang merupakan kota tempat beliau tinggal pada waktu itu diserbu oleh pasukan Belanda pada agresi militernya yang ke II. Hal ini memaksakan beliau untuk mengungsi ke gunung bersama dengan keluarganya sehingga meninggalkan rumahnya beserta seisinya. Setelah keadaan dianggapnya mulai membaik, beliau kembali ke rumahnya yang berada di kota Cianjur. Sesampainya di rumah, ternyata pasukan Belanda sudah mensterilkan daerah tersebut termasuk rumah beliau sehingga sempat terjadi silat lidah antara mereka berdua menggunakan bahasa Belanda. Melihat beliau bisa berbahasa Belanda, Sempat ada ajakan dari orang Indonesia keturunan ambon yang memihak Belanda agar buyut saya ikut membantu Belanda dengan imbalan diberi hidup nyaman, diberi makanan enak, tetapi beliau menolaknya mengingat bahwa orang-orang yang ikut dengan beliau mengungsi ke gunung kebanyakan adalah tentara, jadi apabila beliau menerima ajakan untuk membelot ke Belanda maka hal tersebut pastinya tidak akan menguntungkan sama sekali dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Ciamis. Beliau singgah di Ciamis hanya untuk beberapa saat saja untuk menghindari Agresi Militer Belanda II yang melanda tempat tinggalnya. Setelah dari Ciamis beliau memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan bekerja disana

Di Jakarta beliau pertama-pertama bekerja di Ce.ka.se yang terletak di jalan nusantara, dia bekerja disana sementara selama beberapa tahun agar mendapat penghasilan sehingga dapat membeli tempat tinggal dan dapat menafkahi keluarganya. Beliau bekerja di Ce.ka.se tidak teralu lama hanya sekitar 2-3 tahun. Setelah bekerja disana, beliau mengajukan diri atau melamar untuk bekerja di Departemen Luar Negeri. Setelah melamar dan mengikuti beberapa tes seleksi untuk dapat diterima di Departemen Luar Negeri, akhirnya pada tahun 1948 beliau diterima dan menjadi pegawai disana.

Departemen Luar Negeri pada saat itu memang harus bekerja ekstra mengingat Indonesia pada saat itu sedang mencari cara agar merdeka secara de jure dan juga Indonesia harus mengadakan kerja sama dengan negara lain agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan nasionalnya terutama 3 bahan pokok yaitu sandang, papan, pangan mengingat ketiga kebutuhan tersebut sangat kritis ketersediaanya karena telah dirampas atau dihancurkan habis oleh penjajah sehingga meninggalkan bangsa Indonesia menjadi terbelakang dan miskin.

Departemen Luar Negeri juga sempat disibukan oleh kedekatanya presiden Soekarno dengan blok timur seperti Cina, Russia, Kuba, dll. Kedekatan Indonesia dengan blok timur ini ditandai dengan adanya pengiriman senjata dari rusia ke Indonesia, pengiriman-pengiriman kendaraan perang darat seperti SA-2,pengiriman beberapa jenis pesawat tempur seperti MIG-15, MIG-17F/PF, MIG-19S dan MIG-21F-13, bomber IL-28, helikopter MI-4, pesawat angkut AN-12. Indonesia juga menerima LA-11. Helikopter terbesar didunia saat itu MI-6 juga dimiliki Indonesia. Beberapa Tupolev TU-2 dari Cina juga datang yang dipersiapkan untuk menggantikkan armada B-25, tetapi tidak pernah mencapai status operasional.Bahkan pada tahun 1961, Indonesia menjadi negara kedua yang menerima dan mengoperasikan TU-16, bomber terbaru dari Soviet. Beberapa instruktur Soviet juga disiagakan untuk menghantam target favorit kala itu, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman. Hal-hal ini tentunya menuai protes dari kalangan blok barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dll. Mungkin kedekatan Indonesia dengan blok timur dan kejauhanya Indonesia dengan blok barat dikarenakan pada ketidak perkenankanya investor-investor barat untuk menanamkan modal usahanya di Indonesia.

Jelas   memang   mereka   dahulu   telah   menjajah   Indonesia,   dan   beliau agaknya   tidak   rela  mereka   akan   melakukan   penjajahan   dalam   bentuk   lain yaitu antara lain dalam bidang ekonomi. Ketidakpuasan blok barat terhadap Indonesia yang dipimpin Soekarno memuncak ketika Indonesia memutuskan untuk keluar dari PBB. Hal ini disebabkan karena malaysia diterima sbg anggota PBB, sedangkan saat itu indonesia sedang konfrontasi dengan malaysia. Pemerintah Soekarno menganggap PBB telah menjadi boneka Imperaliasme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya. Anggapan ini terjadi setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB. Presiden Soekarno melihat PBB hanya menjadi boneka. Banyak negara anggota hanya diam dan pasrah. Bung Karno berkata, "PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRC (waktu itu Cina diwakili oleh Taiwan), menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa,”. Keluarnya Indonesia dari PBB berdampak terkucilnya Indonesia dari bangsa-bangsa di dunia. Juga perkembangan negara Indonesia juga menjadi terhambat karena hal yang mengejutkan tersebut. Hal ini juga berdampak pada ketidakterikatanya Indonesia terhadap perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang ikut dalam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mungkin dapat berdampak menguntungkan maupun merugikan bagi Indonesia. Hal yang dapat menguntungkanya adalah Indonesia menjadi tidak terikat terhadap perjanjian-perjanjian yang dapat merugikan bangsa seperti pengumpulan iuran keanggotaan dan lain-lain, sedangkan hal yang dapat merugikan Indonesia karena telah keluar dari Persatuan Bangsa-Bangsa adalah Indonesia jadi tidak mendapatkan bantuan-bantuan dari organisasi-organisasi PBB seperti UNICEF, UNESCO, dll.

Dalam rangka untuk menjalin hubungan dengan negara lain Indonesia harus mengirimkan perwakilan-perwakilanya ke negara lain yang diketuai oleh seorangAmbassador atau yang lebih dikenal dengan seorang Duta Besar. Hal ini dikarenakan agar Duta Besar tersebut dapat menjalankannya perananya sebagai perwakilan diplomatic yaitu: representative, negosiasi, observasi, proteksi, dan relasi.
Pada tahun 1955 Koeshana Wangsamihardja ditawarkan oleh Departemen Luar Negeri untuk bekerja sebagai kanselir Republik Indonesia untuk Sri Lanka. Mendengar kesempatan yang sangat baik ini, buyut saya sangat tertarik untuk menerima pekerjaan tersebut. Oleh karena itu pada tanggal 18 Januari 1956 beliau berpergian ke Sri Lanka untuk bekerja sebagai kanselir disana. Kanselir adalah seseorang yang menjadi perwakilan suatu negara dalam bidang non-politik. Penempatan beliau di Sri Lanka bertempat di kota Kolombo.

Menurut saya peran beliau terhadap Indonesia cukup besar, karena pekerjaan beliau sebagai pegawai Departemen Luar Negeri dan sebagai Kanselir Indonesia di Sri Lanka memiliki pengaruh yang besar terhadap kelangsungan bangsa Indonesia pada saat itu. Dengan bergabungnya beliau di departemen luar negeri beliau telah turut berpartisipasi dalam pembangunan nasional Indonesia yaitu dalam bidang hubungan diplomatik, karena seperti yang kita ketahui pada jaman tersebut Indonesia sedang dalam keadaan butuh dalam kerjasama antar negara untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya.


No comments:

Post a Comment