Tuesday, 28 May 2013

Tugas-2 Biografi Irdita Saraswati XI IPS 2


Kakek Mulyadi, Kurir Para Pejuang Jogjakarta

Menjadi seorang remaja tidaklah mudah, apalagi disaat negara yang didiami masih dalam keadaan yang tidak stabil. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan saya mewawancarai kakek saya yang bernama Mulyadi. Saat remajanya diwarnai dengan berbagai peristiwa besar yang terjadi di kota kelahiran beliau, yaitu kota Jogjakarta. Walaupun saat itu beliau belum bisa ikut berperang karena umurnya yang masih dianggap terlalu muda pada masanya, tetapi beliau tetap berusaha membantu dan berkontribusi untuk Republik Indonesia walaupun dalam skala kecil.

Terkadang orang tidak terlalu memperdulikan peran-peran ‘figuran’ dalam suatu peristiwa, padahal peran ‘figuran’ tersebut tetap memiliki kontribusi dan manfaatnya sendiri dalam suatu peristiwa walaupun mungkin hanya dalam skala kecil. Kakek Mulyadi ini mungkin memang hanya menjadi peran figuran dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di kota Jogjakarta dulu, tetapi manfaat dari peran-peran kecil yang beliau lakukan pada masa lalu itu tetaplah ada.

Saya berkesempatan untuk mewawancarai beliau kira-kira di awal bulan Mei, saat saya datang berkunjung ke rumahnya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Saat diwawancarai beliau ditemani oleh nenek saya juga, karena beliau sudah mulai lupa tentang masa kecilnya di Jogjakarta dahulu. Ibu saya juga turut menemani dan kadang ibu saya juga ikut menanyakan perihal peristiwa-peristiwa di Jogjakarta yang dialami oleh kakek saya.

Wawancara ini berjalan dengan seru. Karena walaupun kakek saya sudah tidak terlalu ingat dengan jelas mengenai peristiwa-peristiwa yang beliau alami dulu, tapi beliau menceritakannya tetap dengan penuh semangat dan penuh dengan nostalgia. Tak jarang nenek saya juga ikut menimpali dan memberikan fakta-fakta mengenai keadaan Jogjakarta pada masa-masa awal kemerdekaan. Karena ibu saya juga ingin mengetahui sejarah yang terjadi di Jogjakarta pada zaman dulu juga, wawancara ini menjadi semakin seru dan mengalir seperti sedang  berdiskusi.  

Saya bertanya sesuai dengan timeline peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di awal kemerdekaan Indonesia. Karena pada zaman itu kakek saya masih terbilang muda, maka dari itulah beliau tidak terlalu banyak berperan aktif dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Tetapi, beliau tetap menceritakan tentang apa yang dia alami pada saat itu.

Dari wawancara ini saya dapat banyak sekali pengetahuan mengenai sejarah Indonesia dari sudut pandang remaja yang mengalaminya pada saat itu. Serta, saya jadi menyadari bahwa remaja yang walaupun masih muda dan mungkin belum bisa memberikan kontribusi yang besar, tetap bisa ikut membantu negaranya sendiri. Jadi tidak perlu minder jika hanya dapat memberikan kontribusi kecil terhadap negara, karena pastilah tetap ada manfaatnya bagi negara.

Biografi

Kakek saya bernama panjang Mulyadi, dipanggil juga dengan Mulyadi. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan Mbah Kakung. Beliau adalah kakak ipar dari nenek saya, dari keluarga mama saya. Beliau lahir di Jogjakarta pada tanggal 15 April 1934. Beliau lahir dan besar di kota Jogjakarta, ibukota Indonesia dulu sebelum Jakarta. Kakek saya mengenyam pendidikan sekolah dasar di Sekolah Rakyat, yang pada saat itu belum mengenal adanya buku tulis dan masih menggunakan batu tulis sebagai alat mencatat untuk belajar. Lalu, kakek saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di Taman Dewasa, lanjutan dari sekolah Taman Siswa. Sekolah Taman Dewasa ini adalah milik Ki Hadjar Dewantoro, pendiri Taman Siswa. Untuk pendidikan sekolah menengah atas, kakek saya pindah ke Jakarta, dan melanjutkan sekolahnya di SMA Pendawa, salah satu sekolah menengah atas swasta di Jakarta. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, kakek saya kembali ke Jogjakarta dan kuliah di Universitas Muhammadiyah Jogja jurusan Ilmu Hukum, dan lulus dengan gelar B1 (atau sekarang setara dengan D3).

Kakek saya menikah dengan istrinya yang bernama Walinah pada tahun April 1958 di Jogjakarta, pada tahun 1959, kakek dan nenek saya pindah ke Jakarta. Mereka berdua dikaruniai 2 orang anak perempuan, yaitu Djati Purwanti Setyorini dan Dwilanti Budilestari, yang keduanya adalah bude dan tante saya. Dan beliau pun memiliki 6 cucu, yang semuanya adalah laki-laki, cucu-cucu beliau tersebut adalah sepupu-sepupu saya. Sekarang kakek saya tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kakek saya pernah bekerja jadi guru di SMP Mardiluwih di Jogjakarta, lalu setelah pindah ke Jakarta beliau bekerja menjadi guru SMA di sebuah SMA swasta di daerah Pegangsaan Barat Jakarta pada tahun 1964, setelah itu beliau bekerja di PT. Pembangunan Jaya pad tahun 1971 menjadi staf administrasi. Beliau bekerja di PT. Pembangunan Jaya sampai beliau pensiun, yaitu pada tahun 1989.

Peranan

Kakek saya banyak melihat kejadian-kejadian sejarah yang terjadi di kota Jogjakarta. Yang pada saat itu masih menjadi ibukota Republik Indonesia. Hidup di kota yang terbilang sangat bersejarah tersebut, beliau banyak menjadi saksi dan juga merasakan secara langsung peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di kota Jogjakarta, seperti Agresi Militer Belanda II dan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Pada saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang terjadi di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945, kakek saya masih berusia sekitar 11 tahun. Beliau pun masih tinggal di kota Jogjakarta. Karena masih kecil, beliau hanya mendengar berita proklamasi kemerdekaan ini lewat Radio Republik Indonesia (RRI). Beliau bercerita setelah mendengar berita kemerdekaan Indonesia ini, orang-orang di Jogjakarta sangat senang dan turun ke jalan saking senangnya. Saat turun ke jalan-jalan inilah banyak orang berteriak “Merdeka!” sebagai tanda sukacita mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Selain itu mereka banyak membuat bendera-bendera kecil dan mengadakan tumpengan di kampung-kampung.

Saat ditanya mengenai Pemberontakan PKI Madiun, beliau mengatakan bahwa beliau mengetahui berita tersebut dari Radio Republik Indonesia dan koran-koran yang ada disebarkan di jalan-jalan. Rakyat Jogjakarta tidak terlalu terpengaruh, tetapi tidak menyetujui peristiwa pemberontakan tersebut karena menggunakan kekerasan.

Saat terjadinya Agresi Militer Belanda II, kakek saya yang bertempat tinggal di Jogjakarta menjadi saksi betapa eratnya rasa nasionalisme dan patriotisme rakyat Jogjakarta terhadap Indonesia saat itu. Salah satu contohnya adalah, kakak sepupu beliau yang saat itu memiliki usaha peternakan susu sapi perah, rela melepas seluruh sapi perahnya untuk membantu para gerilyawan dibandingkan dirampas oleh tentara Belanda. Pada masa itu, semua orang mau menyumbangkan harta mereka demi gerilyawan.

Biasanya perang antara Belanda dan gerilyawan terjadi di malam hari. Dan pada siang hari, para gerilyawan kembali menjadi orang biasa.  Jikalau saat perang gerilyawan terdesak oleh Belanda, para gerilyawan akan masuk ke Keraton Jogjakarta karena Belanda tidak bisa masuk ke dalam Keraton Jogjakarta.

Keraton Jogjakarta dulu sangat vital sebagai tempat pertahanan para gerilyawan jika terdesak, selain itu banyak sekali fungsi Keraton Jogjakarta yang dapat digunakan oleh gerilyawan. Hal ini terjadi karena Sultan Hamengkubuwono IX saat itu, bersikap sangat kooperatif dan mau membantu para gerilyawan.

Pada saat terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta, kakek saya yang masih berusia kira-kira 15 tahun, masih tidak diperbolehkan untuk ikut berperang gerilya oleh kedua orangtuanya serta kakak-kakaknya. Karena dulu kira-kira usia para gerilyawan adalah mulai dari umur 16 tahun hingga tua. Kedua kakak laki-laki beliau, semuanya ikut menjadi pejuang gerilyawan ini. Dikarenakan usianya yang masih terbilang belia pada saat itu, beliau ditugaskan untuk menjadi kurir surat-surat rahasia bagi para pejuang gerilyawan yang bersembunyi di luar kota Jogjakarta, contohnya di hutan-hutan dan desa-desa sekitar kota Jogjakarta. Selain mengantarkan surat-surat rahasia, beliau juga sering mengantarkan makanan dan pakaian bagi para pejuang gerilyawan.

Pekerjaan beliau sebagai kurir bagi para pejuang gerilyawan ini gunanya adalah untuk tetap menghubungkan gerilyawan yang tinggal bersembunyi di luar kota Jogjakarta dengan yang tinggal di dalam kota Jogjakarta. Beliau menjadi kurir pejuang gerilyawan ini selama sekitar kira-kira 1 bulan. Walaupun tidak mendapatkan gaji apapun, dan hanya dibayar dengan makanan, beliau tetap senang karena bisa ikut berkontribusi walaupun hanya sedikit.

Selama bekerja menjadi kurir, beliau harus ekstra hati-hati. Karena jika tertangkap atau ketahuan oleh Belanda, hukumannya bisa-bisa ditembak ditempat. Maka dari itu, selama sedang bekerja menjadi kurir, beliau selalu berpura-pura sedang mengantarkan sayur dari luar kota Jogjakarta (untuk masuk ke kota Jogjakarta, mengirimkan surat dari luar kota Jogjakarta). Beliau juga mengatakan, tak jarang beliau harus bersembunyi karena takut ditangkap oleh Belanda saat sedang mengirimkan surat-surat.

Namun menjadi kurir seperti ini tak bukan berarti tidak beresiko, suatu hari beliau pernah tertangkap oleh tentara Belanda saat sedang mau mengantarkan surat-surat untuk para pejuang gerilyawan ke luar kota Jogjakarta. Akhirnya, sebagai hukumannya beliau dijadikan kuli pesuruh oleh tentara Belanda yang menangkapnya.

Pada masa ini, beliau tetap tinggal di rumah. Tetapi saat ada ‘pembersihan’ atau penggeledahan gerilyawan oleh Belanda, beliau dan keluarganya yang tidak ikut menjadi gerilyawan harus keluar dari rumah. Hal ini dilakukan secara berkala oleh Belanda, karena takut warga Jogjakarta ada yang menyembunyikan gerilyawan di rumah-rumah mereka.

Tentara Belanda baru pergi dari kota Jogjakarta setelah selesainya Konferensi Meja Bundar yang diadakan di kota Den Haag, Belanda.
Saat berubahnya konstitusi Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat, beliau bercerita bahwa Sultan Hamengkubuwono IX tetap mendukung perubahan ini, dan beliau bercerita pula bahwa Sultan Hamengkubuwono IX telah bersikap mendukung sejak kemerdekaan Indonesia.

Lalu pada saat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lagi-lagi beliau mendengar berita ini dari Radio Republik Indonesia yang ada di Jogjakarta. Beliau berkata bahwa orang-orang di Jogjakarta merasa senang karena Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, dan mereka tetap mendukung demokrasi terpimpin walaupun pada tahun 1956, Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil presiden Republik Indonesia.
Selain bercerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di awal kemerdekaan Indonesia, beliau juga bercerita mengenai kejadian Pemberontakan G30S PKI, yang terjadi di Jakarta. Saat peristiwa ini, beliau sudah pindah ke Jakarta. Kebetulan saat di Jakarta, beliau bertetangga dengan Soeharto, yang saat itu masih berpangkat Mayor Jenderal. Kakek saya tinggal di Jl. Flores dan Soeharto tinggal di Jl. Agus Salim. Kakek saya kira-kira tinggal di Jl. Flores selama 4 tahun dikarenakan beliau bekerja di proyek Wisma Nusantara (sekarang Hotel Pullman). Kakek saya baru mengetahui terjadinya Pemberontakan G30S PKI saat ada pengambilan jenazah di Lubang Buaya. Tetapi, karena bertetangga dengan Soeharto, rumah kakek saya juga ikut digeledah oleh tentara.

Sekian hasil wawancara saya dengan Kakek Mulyadi. Semoga wawancara ini dapat bermanfaat dan menginspirasi para pembacanya. 

Foto Bersama Kakek Mulyadi

No comments:

Post a Comment