Thursday, 30 May 2013

tugas 2 - Biografi Ja'far Saifuddin XI IPS 3

Sri Rahayu, Saksi Peristiwa Penjajahan


Tugas ini saya kerjakan dengan alasan untuk memenuhi nilai tugas sejarah, namun selain itu, saya sebelumnya belum pernah bertanya – tanya tentang masa – masa penjajahan belanda ataupun jepang, bagaimana kondisi saat itu, bagaimana meriahnya ketika proklamasi di bacakan oleh soekarno dan bung hatta, bagaimana sulitnya masa- masa itu, masa – masa kerja paksa, dimana rakyat indonesia ini seperti dikekang oleh sebuah kekuatan besar, bagaimana kebudayaan kita di campur adukkan, dan bagaimana perjuangan masa itu.

Oleh karena itu saya bertanya kepada Eyang saya atau nenek saya yang biasa saya panggil Eyang Putri karena saya adaalah orang jawa. Nama aslinya adalah Sri Rahayu Soekarsono. Saya meminta beliau untuk bercerita bagaimana kondisi Indonesia pada masa itu.  Secara teknis saya tidak mewawancarai beliau, saya hanya meminta beliau untuk menceritakan bagaimana kehidupan beliau pada tahun – tahun belanda dan jepang menduduki negara kita ini.

Saat pertama kali saya meminta untuk bercerita, kalimat pertanyaan saya persis adalah “eyang, cerita dong dulu waktu zaman – zaman belanda sama jepang eyang gimana?”. Saat saya bertanya begitu beliau tersenyum dan tertawa kecil, “haduuh, aku ini sudah tua, lali(lupa) aku.. sek(sebentar), eyang inget – inget dulu, dulu itu eyang .....” kemudian beliau mulai bercerita:

Biografi
Sri Rahayu, lahir 17 november 1928
Beliau lahir pada masa penjajahan belanda, dahulu pada masa belanda, hanya anak – anak yang mampu secara finansial atau memiliki orang tua dengan pangkat tinggi di pemerintahanlah yang bisa bersekolah di sekolah swasta milik belanda, dan anak – anak dengan keluarga kurang mampu tidak bisa.

Beliau ingat saat SD, bersekolah di sebuah sekolah bernama HIS,(Holland Inlandsche School) sebuah sekolah swasta belanda, yang sehari- harinya selama masa Sekolah dasar tersebut harus berbahasa belanda, jika seorang siswa diketahui berbahasa indonesia maka siswa tersebut akan didenda oleh sang guru, selain itu setiap pagi disekolah tersebut memiliki kebiasaan yaitu menyanyikan lagu – lagu belanda, otomatis karena sekolah tersebut adalah sekolah swasta maka diajarkan juga kesenian kesenian belanda, dan hukumnya sama jika tidak menyanyikan maka akan didenda oleh pengajar.

Beliau ingat dahulu Anak – anak perempuan jika diminta untuk menyanyikan lagu belanda mereka menyanyi, tetapi anak – anak laki – laki tidak mau, mereka tidak patuh pada guru dan tetap menyanyikan lagu indonesia.

Memang Indonesia dijajah pada saat itu, namun beliau berkata bahwa pada saat itu pendidikan di Indonesia sangat baik dan sekolah – sekolah tersebut membuat ia pintar dan cerdas.

Saat  beliau memasuki masa smp & sma sudah mulai masa era jepang di Indonesia, beliau mengaku bahwa masa zaman jepang sangat kejam dan menyeramkan. Sistem edukasi juga berubah, pada masa jepang ini murid – murid atau siswa di paksa untuk melakukan Seikerei yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Kewajiban Seikerei ini jelas menyinggung perasaan umat Islam Indonesia karena termasuk perbuatan syirik/menyekutukan Tuhan. Namun pada saat itu para perempuan disekolah beliau yang tdak mengerti maksud dari seikerei (penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit) tersebut tetap melakukannya, tetapi anak laki – laki lain yang dikatakan beliau “berpikiran luas” tidak mau melakukan seikerei tersebut.
Beliau lulus dari sekolah jepang tersebut dengan 2 ijazah, ijazah berbahasa jepang dan Indonesia

Selain itu beliau mengingat dahulu sering menghabiskan waktu sehari – harinya melakukan tugas tugas sukarela seperti menanam pohon.

Pada masa ini masyarakat tidak memandang umur dalam hal ingin merdeka, hampir semua laki – laki yang sudah cukup besar dijadikan tentara, biasanya mulai dari anak smp, sedangkan anak perempuan berpartisipasi dengan bekerja di dapur umum, memasak makanan dan membawa makanan tersebut ke medan perang untuk  para  tentara yang turun kesana.
Beliau termasuk salah satu dari perempuan-perempuan yang mengikuti tugas di dapur umum tersebut.

Masa SMA beliau menjadi seorang pengurus seorang suatu organisasi kesiswaan yang tidak disebutkan namanya, dan disitulah beliau bertemu dengan Calon suaminya, Soekarsono. Tentunya pada saat itu beliau tidak tahu bahwa beliau akan menikah dengannya.

Saat itu ia adalah seorang tentara, bukan seorang tentara yang bersenjata, namun ikut serta dalam pemberontakan, ia tidak mengikuti ke medan perang langsung tetapi bisa dibilang seorang tentara didalam kota, saat itu usianya masih muda, tetapi memang pada saat itu para tentara tidak memandang usia, masih banyak tentara tentara muda daripada dia.

Pada masa penjajahan jepang, banyak sekali mata – mata yang mencari keberadaan tentara-tentara muda indonesia. Dan jika tertangkap maka tentara – tentara tersebut akan ditangkap lalu dimasukan ke penjara.

Suatu saat Soekarsono yang pada saat itu masih teman dekat saja di masa SMA, sedang bermain kerumah sedang mampir dirumah Sri Rahayu, Ia memiliki perasaan yang kurang nyaman, saat itu mereka sedang duduk di teras depan rumah. Sang Calon Suami pada saat itu, Soekarsono melihat seseorang melintas di sebelah rumah di sebuah jalan kecil dan kemudian berkata bahwa itu ssepertinya seorang mata-mata, kemudian ia pamit dan langsung berlari entah kemana.

Firasat nya benar, tidak lama setelah itu seorang tentara jepang datang kerumah Sri Rahayu dan meninterogasinya, bertanya – tanya tentang keberadaan tentara – tentara muda pada saat itu, apakah beliau mengenal seorang tentara, dan pertanyaan – pertanyaan sejenis lainnya.

Beliau tidak menjawab, beliau men-tidak kan pertanyaan – pertanyaan dari tentara jepang tersebut, karena ia tau jika ia menceritakan tentang soekarsono maka ia akan ditangkap dan dipenjara. Kemudian tentara jepang tersebut pergi

Kejadian lainnya yang tidak ia lupakan adalah pada saat yang tidak terlalu lama setelah itu, tersebar berita bahwa ada seorang mata – mata yang bernama “Sri Rahayu” juga yang sedang beradaa di kota. Beliau pun takut untuk pergi dari tempat tinggalnya, Soekarsono datang dan memberi sebuah surat yang berisi bahwa Sri Rahayu yang memegang surat ini bukanlah seorang mata – mata dan beliau tidak bersalah. Jika beliau menerima tuduhan menjadi seorang mata – mata maka yang perlu ia lakukan hanya menunjukan surat tersebut, maka kondisi pun aman kembali.

Tetapi tetap saja Sri Rahayu harus ditemani seseorang jika berjalan keliling kota, namun bukan Soekarsono melainkan kakak atau adiknya, karena jika tertangkap bersama dengan Soekarsono maka bisa saja mereka ditangkap oleh pasukan jepang

Pada 17 Agustus 1945, beliau sedang berada di solo, saat itu tiba – tiba terdapat sebuah siaran radio dari soekarno dan bung hatta yang menyatakan kemerdekaan indonesia. Suasana saat itu begitu meriah dan bahagia. Namun kisah beliau tidak berakhir disitu.




Kisah beliau berlanjut ke masa-masa kuliah dan harinya sebagai mahasiswa,  beliau mengambil jurusan farmasi di sebuah kampus. pada saat ospek atau Masa Orientasi Mahasiswa pada saat itu dilaksanakan, hari berjalan seperti biasa, Kampus tersebut berada di Klaten, daerah diantara jogja dan solo. Setelah ospek tersebut selesai beliau memulai perjalanan untuk kembali ke solo tempat rumah beliau. Beliau pulang naik kereta api dari klaten.

Pada saat perjalanan pulang, kereta tersebut di “berondong” atau di tembaki oleh pasukan belanda yang tersisa dan menurut beliau pasukan belanda tersebut mencoba untuk kembali menjajah Indonesia. Beliau kemudian enyah atau keluar berlari dari kereta tersebut dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki. J

Jarak dari klaten ke Solo cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 km. beliau dengan beberapa temannnya memutuskan menaiki sapi yang menarik sebuah gerobak di daerah situ dan berhasil sampai ke solo selamat.
Cerita tersebut diakui sebagai cerita yang tidak akan dilupakan beliau.

Saat sampai ke solo beliau melihat sebuah kejadian seorang dokter yang tidak berhasil ia ingat namanya, di sembelih oleh seorang pasukan belanda. Dan selain itu seorang temannya yang ditusuk oleh bayonet seorang tentara belanda dan kemudian berpura-pura mati dan akhirnya selamat.

Suatu saat di solo terjadi sebuah pembantaian massal, terdengar bunri martyr dan ledakan ledakan granat dan bom dimana-mana. Beliau yang panik bersama dengan keluarg, adik adiknya dan kakak serta kedua orangtua pun panik.
Sayng ayah berinisiatif dan memberi ide untuk mengungsi ke selatan, pada saat kejadian tersebut orang- orang di luar sedang berlari kocar – kacir kearah selatan. Namun karena alasan yang Sri Rahayu tidak bisa ingat ia tidak mau mengungsi.

 Beliau menghindari kejadian tersebutt dengan bersembunyi dibawah tempat tidur, saudara – saudara beliau yang lain beberapa ada yang bersembunyi di loteng, beberapa ada yang bersembunyi si dalam rumah, dan ada juga yang lari entah kemana. Sri Rahayu selamat beserta saudara – saudaranya, Selain itu, saudara yang lari kabur entah kemana pun dipertemukan kembali bersama beberapa bulan kemudian dan mereka pun selamat.

Selain kejadian pembantaian massal di solo, tempat tinggal beliau. Beliau juga pernah mengalami melewati kondisi pembantaian massal di sebuah pasar, beliau ingat nama pasar tersebut adalah pasar kembang.
Saat sedang berada di pasar tersebut tiba – tiba secara spontan pasar tersebut di tembaki oleh pasukan musuh, namun beliau berhasil lolos dan tidak terluka dari kejadian tersebut.

Beliau mengingat masa – masa perjuangan di surabaya pada saat tentara pada masa itu hanya menggunakan bambu runcing, tentara yang dibawah pimpinan bung tomo. Beliau ingat dan menceritakan bagaimana gagahnya suara bung tomo di radio, betapa lantang dan penuh semangat teriakan bung tomo untuk menyemangati pasukan pasukan untuk mengusir sisa-sisa pasukan belanda di markas yang berada di surabaya. Beliau mendengar suara bung tomo dari radio dan masih mendengar cerita – cerita kemenangan pasukan merah putih yang merobek bendera belanda. Beliau bercerita bahwa salah satu teman beliau ada yang terbunuh di dalam peristiwa tersebut.

Peranan
Beliau masih ingat salah satu perannya dalam perang melawan pasukan musuh pada saat itu, beliau bekerja di dapur umum, menyediakan persediaan –persediaan untuk pasukan di front atau di medan perang di garis depan, persediaan lain seperti sikat gigi, makanan, sabun, dan lain – lain.

Pada saat itu beliau menuju ke garis depan atau front dengan menaiki sebuah truck besar. Sesampai di garis depan dengan kelompok kecil beliau membagikan makanan –makanan seperti nasi yang sudah dibungkus dengan daun jati dan tempe – tempe kering.

Saat perjalanan kembali ke kota, kelompok beliau menaiki sebuah mobil jeep dan sempat di berondong atau ditembaki di tengah jalan, namun Alhamdulilah beliau selamat sampai kembali di tujuan, yaitu kota solo.


Setelah cerita tersebut beliau terdiam, “haduuh lali aku, lupa”. Dikatakannya lagi.
“nanti kalo udah sing diketik, tolong ditulis dibawahnya aku ini wes tua, udah sakit sejak 2006 jadi takut ada yang keliru atau keputer – puter ceritanya” pintanya. “tapi itu kejadian eyang inget sekali dan gak lupa, Insya Allah” ucapnya setelah selesai.

Sebenarnya masih terdapat lanjutan cerita setelah ia kembali dari memberi makanan ke garis depan saat bekerja di dapur umum,
Sesampainya di solo ibu dari beliau sedang menunggu dengan khawatir karena ibu beliau semalam bermimpi kehilangan sebuah kalung yang berharga baginya dan khawatir bahwa kalung dalam mimpinya tersebut di siratkan sebagai putrinya.

Namun Alhamdulillah firasat ibunda beliau salah, Sri Rahayu dikaruniai umur panjang hingga mencapai abad dimana indonesia sudah merdeka, bahkan jauh setelah indonesia merdeka, sampai beliau dapat melihat anak – anaknya tumbuh hinggal berkeluarga, bertemu cucu dan cicitnya, di 2013 ini.


almarhum R. Soekarsono SH., Suami Sri Rahayu, Letnan II(pada masa itu)

Saya dengan Eyang Putri/Sri Rahayu

No comments:

Post a Comment