Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Jako Aprilio Sibuea XI IPA 3



 PERJALANAN HIDUP SEORANG PENERBANG ANGKATAN DARAT YANG BERSEDIA MENINGGALKAN KELUARGA DEMI KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Pada hari Kamis, 30 Mei 2013, saya mewawancarai Ibu Parwini Larasati yang merupakan nenek dari Ibu saya. Saya mewawancarai beliau untuk mengetahui kisah kehidupan suami tercintanya. Namun, sebenarnya hanya sedikit informasi yang bisa saya dapatkan dari nenek saya, karena kakek dan nenek saya tidak hidup bersama untuk waktu yang lama. Kakek saya lebih sering bertugas diluar kota sebagai prajurit, yang kala itu sedang dalam masa-masa yang genting. Berikut ini informasi yang bisa saya dapatkan tentang kakek saya dan peranannya dalam perjuangan membela tanah air.

Foto Jako dan Parwini Larasati (nenek) setelah wawancara
Bambang Ponaddi adalah seorang pria kelahiran Desa Ngipak, Wonosari, Jawa Tengah. Beliau lahir sekitar tahun 1938. Beliau lahir dari keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah seorang lurah di Kelurahan Ngipak, Kabupaten Wonosari, Jawa Tengah. Sejak kecil, beliau hanya disekolahkan di sekolah yang ada di desa tersebut. Mulai dari SD hingga SMP beliau bersekolah di lingkungan Kabupaten Wonosari. Beliau melanjutkan studi SMA nya di Kota Yogyakarta.
Setelah melesaikan sekolah di Yogyakarta, beliau masuk ke Sekolah Penerbang Angkatan Darat yang terletak di Jatinegara, Jakarta. Selama belajar di tempat tersebut, beliau mempelajari banyak hal tentang cara menerbangkan pesawat, terutama pesawat tempur. Setelah lulus dari sekolah tersebut, beliau sudah menjadi anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), atau yang sekarang ini lebih dikenal dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Setelah lulus dari Sekolah Penerbangan Angkatan Darat, beliau diberdayakan dalam setiap operasi militer yang dijalankan oleh ABRI, terutama dalam operasi yang membutuhkan pesawat tempur. Beliau pernah diturunkan dalam beberapa operasi pemberantasan pemberontakan yang terjadi di Indonesia. 

Pertama kali beliau bertemu dengan Parwini Larasati sekitar tahun 1963. Ketika itu sedang ada hajatan, Parwini Larasati seorang wanita berdarah Jawa yang masih duduk di bangku kuliah sedang membantu kerepotan di rumah yang sedang mengadakan acara tersebut. Ternyata rumah tersebut adalah rumah milik bibi dari Bambang Ponaddi. Bambang yang saat itu berpangkat Letnan Dua mulai memiliki rasa terhadap Parwini Larasati. Tidak dalam jangka waktu yang lama, hanya dalam jangka waktu 2 tahun setelah pertama kali bertemu, Bambang Ponaddi memutuskan untuk mempersunting Parwini Larasati. Jadilah pada tahun 1965 mereka melangsungkan pernikahan.
Tidak beberapa lama setelah menikah, sekitar 3 sampai 4 hari, Bambang mendapat panggilan tugas. Beliau berangkat kembali ke markas di Jakarta. Beliau ternyata mendapat tugas untuk memberantas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kahar Muzakar.

Kahar Muzakkar lahir di desa Lanipa Luwu. Ayahnya bernama Malinrang. Sejak kecil Kahar sangat gemar bermain perang-perangan dan sangat pandai bermain doino, tak heran jika ia dijuluki dengan sebutan Ladomeng sewaktu kecil. Setelah remaja iapun melanjutkan sekolah ke Solo dan masuk Sekolah Kweekschool (muallim) Muhammadiyah. Di Solo pula ia menikah dengan gadis Solo bernama Warlina.
Karena waktu masih dalam peristiwa perlawanan terhadap erang, kahar dengan jiwa pemberaninya akhirnya ikut dalm beberap perang. Waku itu ia bersama para pedagang dari tanah sulawsi khususnya bugis dijawa membentuk suatu kelompok perlawanan. Karena keberanian dan jiwa perlawanan yang Nampak pada dirinya ia ahirnya diangkat menjadi tentara nasional Indonesia, terakhir ia berpankat Letkol. Karena perestasinya itu pula ia akhirnya dekat denga Presiden Sukarno dan menjadi pengawalnya. Bahkan menurut beberapa sumber mengatakan bahwa Presiden Sukarno tidak merasa tenang jika tidak ada Kahar Muzakkar.

Dalam perang kemerdekaan Kahar Muzakkar banyak terlibat terutama strategi grilyanya dan bagaimana usahanya yang membebaskan tahanan nusakamangan yang kemudian dimasukkan dalam barisannya yakni KRIS. Dalam beberapa pertempuran Kahar memimpin pasukannya dan banyak memenangkan pertempuran. Nama Kahar semakin melambung tinggi. Akan tetapi sewaktu ia mengususlkan pada panglima tertinggi TNI untuk mendirikan suatu brigade Hasnuddin, mendapat tentangan dari Kawiarang. Sebenarnya ketidakpuasan Kahar dikubuh TNIsudah Nampak stelah pengangkatan pemimpin dan pengurus KRIS. Kahar yang merasa sangat berjasa membentukdan membangun organisasi pergerakan ini,akan tetapi yang menjadipemimpin bukan dirinya. Sampai akhirnya Kahar mengundurkan diri dari TNI dan mengangkat senjta untuk memerontak.

Awal pemberontakan Kahar di Sulawesi Selatan bermula dari rencana Pemerintah membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953.
Selama bergerilya di hutan Kahar beserta pengikutnya yang mengatas namakan Tentara Islam Indonesia melakukan banyak hal-hal yang menyimpang. Diantaranya pembersihan berdarah terhadap kaum bangsawan perampasan hak milik rakyat, beupa emas, tanah, dah harta benda lainnya untuk digunakan membeli peralatan pergerakan yakni senjata dan biaya lainnnyaselama bergerilya.
Selanjutnya hal yang sangat membuat Pemerintah Indonesia waktu itu sangat marah yakni tindakan Kahar Muzakkar yang memproklamasikan Negara RPII pada 14 Mey 1962, dengan mengangkatdirinya sebagai Khalifahnya. Selanjutnya Kahar membentuk kabiet RPII dengan beberapa menteri seperti, Menteri Muda Pertahanan Sanusi Daris, Menteri Kehakman H. Djunaidi Sulaeman, dan beberapa menterilainnya. Karena pergerakannya sudah sangat separatis dan bertentangan dengan Negara, TNI kemudian diperintahkan untuk menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan ini. Sebelumnya telah diadakan perbincangan yang dilakukan petinggi Sulawesi Selatan untuk melakukan jalan damai, namun Kahar tidak pernah menyetujui perbincangan-perbincangan tersebut.

Namun dalam operasi penumpasan pemberontakan DI/TII, Bambang mengalami gangguan kesehatan. Liver beliau terganggu. Karena kerasnya kehidupan di medan perang, terlalu lelah dalam setiap pergerakan, membuat kondisi tubuhnya tidak terawat dengan baik. Beliau pun tidak dapat melanjutkan perjuangan. Untuk mengatasi masalah tersebut, komandan nya memerintahkan beliau untuk dikirim ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto di bilangan Jakarta Pusat. Beliau dirawat selama kurang lebih 1 tahun di rumah sakit tersebut. Karena Parwini tinggal di Yogyakarta, dan pada saat itu ia tidak mengetahui bahwa Bambang mengalami penyakit itu, maka ia tidak dapat menemani selama Bambang dirawat di rumat sakit.

Tiba-tiba, Parwini mendapat kabar bahwa suami nya telah tiada. Bambang yang meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, langsung diterbangkan kembali ke Wonosari, Jawa Tengah untuk di kebumikan. Tepat pada tahun 1968, beliau kembali ke hadirat-Nya.

Sebenarnya, tidak terlalu besar peranan yang dilakukan oleh Bambang Ponaddi dalam perjuangan membela tanah air. Namun, kita dapat belajar dari kesehariannya, yang tekun terus belajar, sehingga bisa berkemampuan menerbangkan pesawat tempur yang berguna untuk perjuangan.
Kita sebagai warga negara Indonesia sekarang ini tidak lagi harus mengangkat senjata untuk membela tanah air. Sebagai pelajar, saya berusaha belajar serajin mungkin dan terus berprestasi untuk mengisi kemerdekaan yang telah diraih oleh pejuang-pejuang yang telah mendahului kita. Sebagai warga negara yang baik, kita seharusnya memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi negara. Tidak harus besar, namun berarti. Paling tidak kita bangga dengan keberadaan negara kita ini dan apa yang ada di dalamnya. Tidak sekedar bangga, kita harus mengembangkan segala sumber daya yang ada di dalam nya dengan bijaksana.

No comments:

Post a Comment