Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Jasmine Tiara Iqbal

Aki Djunaeni Partadjumena, dimulai dari jasa kecil hingga yang besar

Ketika sepanjang pandangan mata yang dapat dilihat adalah Indonesia yang porak poranda dengan segala konflik politik dan masalah berjuta bidang yang tidak diketahui sebabnya, kita memalingkan pandangan, apatis dan hanya mempedulikan diri sendiri sambil berpikir ‘toh kita juga baru tiba di dunia ini, segala hal yang tidak karuan ini bukan tanggung jawab kita’. Kemudian kita mengurung diri dari segala masalah yang ada, tidak berambisi untuk mencarikan solusi untuk bangsa.
Saat hal ini terjadi pada kita, ingatlah kenangan-kenangan masa lalu, kenangan perjuangan tumpah darah demi kita sebagai generasi penerus bangsa. Padahal kita mendapat bagian yang tergolong mudah dari seluruh cerita, mempertahankan dan memajukan sesuatu yang sudah ada, keamanan dan kesejahteran bangsa kita sendiri.
Pikirkan bagaimana seorang saksi sejarah yang dulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan segala jiwa raganya, melihat kondisi pemuda-pemudinya sekarang, tanpa semangat, tanpa perjuangan, tanpa usaha. Perjuangan yang telah mereka lakukan sia-sia sudah.
Jika kita benar-benar mengerti, apa yang telah dilakukan oleh para pejuang untuk menjadikan Indonesia negara merdeka yang jauh lebih baik mungkin kita akan mengerti mengapa penting menjaga bangsa Indonesia ini.
Untuk lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saya mewawancarai nini Siti Fatimah yang merupakan anak dari Djunaeni Partadjumena, seorang saksi dan pelaku sejarah. Nini Siti Fatimah sendiri lahir pada tanggal 6 Juni 1939, saat ini usianya 73 tahun berarti saat kemerdekaan ia masih berusia sekitar 6 tahun. Ia sebenarnya juga merupakan saksi sejarah, tapi lebih banyak hal yang bisa diceritakan tentang ayahnya.
Selain itu saya juga melakukan wawancara singkat dengan Sri Rahayu Darmawani yang merupakan cucu dari Djunaeni Partadjumena. Ia menambah-nambahkan detail cerita tentang akinya tersebut.
A.      BIOGRAFI
Lebih dari satu abad yang lalu, aki Djunaeni Partadjumena terlahir di bumi Indonesia ini. Tepatnya  104 tahun yang lalu, pada tanggal 12 Maret 1909 di daerah Sukabumi. Djunaeni Partadjumena merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.
Pendidikan terakhir Djunaeni Partadjumena adalah sekolah pamong praja bagi yang ingin melanjutkan karir sebagai pegawai negri, saat itu sekolah tersebut disebut MOSVIA atau singkatan dari Middlebare Oploidingschool Voor Inlandsche Ambtenaren. MOSVIA merupakan perombakan dari OSVIA (Oploidingschool Voor Inlandche Ambtenaren), perombakan ini dilakukan pada tahun 1927. Perbedaannya adalah waktu untuk menyelesaikan OSVIA adalah 5 tahun sedangkan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan pendidikan di MOSVIA adalah selama 3 tahun. Untuk memasuki MOSVIA syarat yang dibutuhkan adalah telah menyelesaikan sekolah MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs yang merupakan sekolah setingkat dengan SMA saat ini.
Pada sekitar tahun 1934, di usianya yang menginjak 25 tahun, aki Djunaeni Partadjumena resmi menikah dengan seorang gadis berusia 17 tahun bernama Sri Soebariah. Pasangan ini pun dikaruniai oleh 9 orang anak yang terus menjadi saksi perjuangan kedua orangtuanya dalam bertahan pada masa perjuangan.
‘Kelebihannya jaman dahulu mungkin adalah hidupnya susah, tapi semua orang susah, jadi tidak ada yang dengki’ kata Sri Rahayu. Dulu ketika masa itu, para polisi keluarga polisi mendapatkan jatah makanan. Saat itu aki Djunaeni yang jabatannya sudah mencapai perwira dan yang jabatannya hanya prajurit mendapat jatah makanan di tempat yang sama. Tidak dibeda-bedakan sama sekali. Hal ini menyebabkan kondisi menjadi rukun.
Djunaeni Partadjumena dan Sri Soebariah merawat 6 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuannya. Karena hanya memiliki tiga orang anak perempuan, mereka benar-benar di imang-imang, akte kelahiran mereka  disimpan baik-baik di rumah/di kantor. Orang pada zaman itu memiliki kebiasaan hidup berpindah-pindah, ketika mereka harus pindah, mereka akan membakar rumah yang mereka tinggalkan. Suatu hari ada berita bahwa keluarga Djunaeni harus pindah dari kediamannya tersebut akhirnya mereka buru-buru pindah dan membakar tempat tinggalnya, akte kelahiran para anak perempuan pun ikut terbakar, jadi saat ini sebenarnya tanggal lahir para anak perempuan termasuk nini Siti Fatimah tidak diketahui pastinya.
Karena kondisinya sering terjadi perang, anak-anak jadi banyak yang putus sekolah. Di kelas SMP saja range usianya berjarak 10 tahun. Jadi saat anak-anak aki Djunaeni bersekolah pada tingkat SMP, teman sekelasnnya ada yang sudah mau menikah karena usianya sudah 17 tahun.
Polisi jaman dahulu tidak punya uang, walaupun pangkatnya jendral seperti Djunaeni, ia tetap tidak memiliki uang jadi anak-anak laki-laki pertamanya walaupun diterima di perguruan tinggi yang terkemuka seperti UI dan ITB yang bayarannya murah, anak-anaknya diarahkan menjadi angkatan laut. Akhirnya 2 anak laki-laki sulungnya masuk ke angkatan darat. Ketika bekerja di Bank Indonesia barulah aki Djunaeni punya sedikit uang, anak-anaknya bisa berkuliah, ada yang masuk ke fakultas ekonomi, kedokteran gigi, metalurgi, design dan lain-lain.
Di Bank ndonesia, Djunaeni bekerja sebagai ahli uang palsu, oleh karena itu ia sangat cekatan dalam mengenali perbedaan tulisan dan lain-lainnya. Terkadang ia penasaran bagaimana orang awam melihat perbedaan tulisan yang dihasilkan oleh mesin tik. Pada zaman itu setiap mesin tik memiliki perbedaan, setiap hurufnya tidak berukuran sama dan sempurna, pasti ada perbedaan sekitar beberapa mili. Djunaeni sering memanggil salah satu anaknya secara acak yang kebetulan lewat, menanyakan apakah mereka bisa membedakan huruf mana yang paling cocok dengan mesin tik yang mana. Hal ini dilakukan hanya untuk mengetahui apakah orang awam bisa membedakan tulisan mesin tik seperti yang ia lakukan. Kadang Djunaeni juga kadang meminta anak-anaknya untuk membedakan tulisan tangan seseorang apakah cocok atau tidak.
Nini Sri Soebariah merupakan ibu rumah tangga yang pendiam dan bekerja sepenuh hati untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selama aki Djunaeni gerilya pada masa-masa kemerdekaan, nini Sri Soebariah selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dengan membanting tulang. Saat itu gerilya bisa memakan waktu sampai tujuh bulan tanpa ada kabar apapun dari sang suami, entah apakabarnya selama gerilya. Selama masa itu nini Sri Soebariah berusaha menghidupi anaknya, menjual apapun yang ada di rumahnya, hal ini sangat berat baginya. Ia kadang menjual bahkan sampai helai terakhir pakaiannya, Allah Maha Besar, ketika tinggal 2 stel pakaian, kembali lah sang suami dari medan perang. Betapa beratnya masa perang ini bagi nini Sri Soebariah.
Tahun 1963, 2 tahun sebelum kejadian G30SPKI merupakan awal bibit-bibit kejadian G30SPKI. Tanggal 22 Mei 1963 merupakan hari yang menyedihkan bagi aki Djunaeni Partadjumena dan keluarga. Di malam yang tenang itu tiba-tiba terdengar suara tembakan yang keras, saat itu Djunaeni Partadjumena yang tinggal di sebuah kompleks polisi bersama dengan teman-temannya sesama polisi langsung bergegas berganti ke seragam dinas dan mengambil senjata. Mereka semua bergegas menuju mabes polri.
Nini Sri Soebariah di rumah merasa tertekan secara instan, selama ini setelah mendapat kemerdekaan, nini Sri Soebariah berbahagia sekaligus berharap-harap cemas kemerdekaannya akan bertahan, ia berpikir ‘loh kok mulai seperti ini lagi, lewat tahun 1950an sudah deg-deg an ternyata tidak apa-apa, kenapa sekarang mulai lagi’. Dengan sedih dan tertekan ia langsung menyuruh anak-anaknya untuk segera mematikan lampu dan tidur, standart jam malam pada masa itu. Hal yang terakhir didengar anak-anaknya adalah ibunya mematikan lampu dan mengunci segala pintu di rumah.
Esoknya anak-anak bangun dan ternyata tidak ada apa-apa. Tetapi ketika mereka memeriksa ibunya, ia sudah tidak bangun lagi, saking tertekan dan ketakutannya. Saat itu dua anak lelaki besar sedang bertugas dalam pekerjaan angkatan lautnya, yang satu sedang berada di pangkalan angkatan laut surabaya dan yang satu lagi sedang ada di kapal laut di daerah Vladivostok, Rusia. Anak-anak lain di rumah yang tidak tau harus berbuat apa segera memanggil aki Djunaeni dari mabes polri. Sesampainya di rumah, Djunaeni langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Namun ternyata sudah terlambat, Sri Soebariah, istri Djunaeni Partadjumena telah tiada.
B.      PERANAN
Karena termasuk anak sulung, ia dan saudara-saudaranya yang lebih tua semuanya mengikuti perang gerilya ‘semuanya ikut gerilya, setelah tahun 1945, mang yoyo meninggal umur 20 tahun, mang idik  lalu jadi polisi’ tutur nini Fatimah menceritakan kakak-kakak dari aki Djunaeni.
Selama karirnya aki Djunaeni Partadjumena pernah menjadi asisten wedana di Karang Sembung, Cirebon kemudian berpindah ke Ciamis dan menjadi jaksa. Saat itu ia menjadi polisi dan jaksa yang merupakan bagian dari departemen dalam negri. Pada usia 45 tahun aki Djunaeni akhirnya mendapat jabatan sebagai Wedana di daerah Kawali, Jawa Barat.
Pada tahun 1945 itu, aki Djunaeni Partadjumena bersama dengan ribuan orang Indonesia lain berpartisipasi dalam gerilya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saat itu aki mengikuti gerilya di daerah Jawa Barat. Nini Siti Fatimah mengingat kepergian ayahnya untuk gerilya secara samar-samar ‘Aki datang ke kamarku, saat itu aku 5-6 tahunan, dia bilang ‘saya mau pergi, kalian baik-baik ya di rumah’’.
Sebagai ibu wedana, selama kepergian aki Djunaeni Partadjumena, nini Sri Soebariah membuka dapur umum. Ternyata secara tidak terduga, orang yang menumpang makan adalah pasukan golongan kiri yang nantinya  akan melakukan pemberontakan di daerah Madiun.
Karena tekanan yang sangat tinggi, nini Sri Soebariah akhirnya mengajak semua anaknya untuk pindah ke kampung halamannya di Cirebon, kemudian mereka tinggal di daerah kecil di pinggir kota Cirebon bernama Sunyaragi.
Suatu hari aki Djunaeni pulang dari gerilya dan bekerja sebagai polisi belanda pada tahun 1948 sebagai inspektur di kota Cirebon. Suatu hari nini Siti Fatimah  melihat banyak polisi belanda yang datang kerumahnya dan mengintrogasi ibunya tentang ayahnya. Ia bisa melihat betapa gugup ibunya, namun akhirnya tidak terjadi apa-apa, para polisi itu segera pulang.
Setelah itu aki Djunaeni tetap berkarir menjadi polisi Belanda sampai akhirnya pada tahun 1949, ia menjabat menjadi kepala polisi Republik Indonesia yang bertempat di Karesidenan Belitung. Di karesidenan itu aki Djunaeni menjadi komisaris.
Aki Djunaeni Partadjumena mendapat lencana sebagai bintang gerilya. Setelah itu ia ditempatkan di sekolah polisi negara sebagai salah satu direktur. Saat itu di sekolah polisi negara terdapat seorang kepala sekolah yang memiliki 4 asisten. Aki Djunaeni menjadi salah satu asisten itu ‘Entah namanya apa, deputi kali ya’ tutur nini siti Fatimah.
Suatu ketika, aki Djunaeni terkena sebuah fitnah. Seseorang mengatakan bahwa aki Djunaeni bekerja sebagai polisi belanda karena dia berkhianat pada negara, padahal sebenarnya aki Djunaeni sengaja ditugaskan untuk menyelundup ke dalam organisasi belanda. Ia dipilih karena diantara teman-teman setaranya paling pintar bahsa Belanda. Insiden yang terjadi sebelumnya di rumah, saat nini Sri Soebariah diintrogasi oleh polisi Belanda disebabkan oleh polisi belanda yang curiga pada aki Djunaeni. Mereka curiga ia memberi informasi tentang pembersihan yang akan dilakukan oleh belnada. Mendengar berita fitnah itu, aki Djunaeni sangat marah,’dia yang mau kerja dengan belanda, aku yang difitnah’ katanya.
Aki sempat bekerja di Bank Indonesia karna dia merupakan ahli uang palsu. Waktu itu untuk menggatikan uang menjadi rupiah sangat lama karena masih ada uang ringgit dan dollar singapura, selain itu juga masih ada poundsterling dan Goulden di daerah Sumatra dan Kalimantan dan US dollar dan dollar filipina di Sulawesi Utara. Rupiah yang merupakan uang sederhana menjadi sangat mudah di palsukan maka dari itu seorang polisi ditarik menjadi ahli uang di Bank Indonesia.
Kemudian aki Djunaeni pindah ke ke Jakarta. Di Jakarta ia bekerja di Reserse Kriminal yang sekarang kita kenal dengan Bareskrim. Setelah bekerja di situ, aki Djunaeni mendirikan Laboratorium Reserse Kriminal yang sekarang kita kenal dengan Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensik).
‘Katanya patung dadanya dipajang sebagai salah satu dari 8 patung dada di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) sama patung dada Jokosutono, kepala PTIK. Tapi ga tau juga, Cuma katanya aja, gapernah kesana. Kapan-kapan liat yuk kesana’ kata nini Siti Fatimah.
Selama karirnya salah satu kasus yang pernah ia tangani asalah saat kasus pengeboman untuk Soekarno di Cikini yang terjadi setelah kemerdekaan. Saat itu Soekarno sedang berkunjung ke yayasan perguruan tinggi Cikini, saat ia berkunjung  banyak yang memberikan bunga, ternyata salah satunya disertai dnegan bom. Saat itu aki Djunaeni Partadjumena menjadi ketua penyelidikan kasus tersebut. Ia mendapat tugas untuk mencari bom tersebut dan orang yang mengirim bom tersebut.  Bunga tersebut akhirnya ditemukan dan presiden Soekarno tidak terluka sama sekali. Aki Djunaeni melihat kartu bunga pengirimnya dan melihat tulisannya, ia langsung mecocokan tulisan tersebut dan mencari tukang ketiknya. Setelah ditemukan ia dapat menemukan toko bunga dimana rangkaian tersebut di beli dan siapa yang membelinya. Orang itu pun akhirnya tertangkap.
Mulai dari jasa kecil akhirnya merambat jadi yang besar. Perjuangan orang seperti aki Djunaeni yang penuh dengan banting tulang ini tidak boleh kita sia-siakan. Kita juga harus berjuang demi masa depan Indonesia dan membela negara kita.
Bersama narasumber, Sri Rahayu dan nini siti Fatimah

No comments:

Post a Comment