Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Kalista Maharani Lanti XI IPA 1


Aki Sumah, Berjuang Sebagai Tentara Pelajar 
Pada tanggal 19 Mei 2013, saya bersama keluarga saya menghadiri acara keluarga besar dari bapak saya di Villa Collibah Incu, Puncak. Disana saya bertemu banyak kakak-kakak atau adik-adik bahkan sepupu dari nenek dan kakek saya. Disana pun akhirnya saya bertemu dengan Aki Sumah.BIOGRAFI
Beliau yang mempunyai nama lengkap Rd. Sumirat Amintakusumah adalah kakak dari nenek saya. Aki Sumah lahir di Bandung, tanggal 15 April 1929. Saya mendapatkan banyak pelajaran dari beliau yang pensiun sejak tahun 1972 (sebelumnya bekerja di MBAD Bandung – Markas Besar Angkatan Darat), seberapa besar perjuangan pahlawan-pahlawan negeri kita ini, selagi-lagi istri beliau (Anni Setyani) termasuk anggota LASWI (Laskar Wanita Indonesia) yang sebagai mata-mata Indonesia sempat harus berpura-pura menjual sayur, sementara di sakunya tersimpan pistol. Aki Sumah bersekolah dasar (SD) di Lagere School – Bandung, dan melanjutkan SMP di SMP Pasundan – Bandung, lalu SMA di SMA Belitung – Bandung masa-masa SMA adalah masa yang sangat dikenang oleh Aki Sumah karena terjadi beberapa kejadian yang tidak bisa dilupakan. Dengan moto : Sekali merdeka tetap merdeka.

PERANAN
Pada tahun 1948, Aki Sumah berada di Bandung. Saat itu Aki Sumah yang berumur 17 tahun, sedang berada di sekolah bersama kurang-lebih 25 teman-teman sekelasnya, sekaligus teman-teman seperjuangannya. Sekitar jam 15.00 atau 16.00 mereka terpaksa harus pulang sekolah, karena sekolah mereka ditutup. Dalam perjalanan Aki Sumah kembali ke rumah dengan teman-temannya, mereka semua dicegat dan dibawa oleh seorang militer ambon ke dalam truk besar terbuka. Setelah perjalanan yang lama, Aki Sumah dan 25 teman lainnya dimasukkan ke Kamp Kebon Baru atau bisa juga disebut dengan tahanan Kebon Baru. Sampai disana mereka seperti di”briefing” atau diberi arahan, bahwa mereka tidak boleh aktif tetapi mereka semua AKAN keluar setelah satu bulan ditahan, karena mayoritas tahanan adalah anak sekolah atau pelajar
Aki Sumah dan teman-temannya ini termasuk ke dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) atau CPS (Corps Pelajar Siliwangi) atau bisa juga disebut dengan Tentara Pelajar. Tentara Pelajar adalah suatu kesatuan militer yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimana para anggotanya dari para pelajar. Cikal bakal berdirinya Tentara Pelajar bermula dari para pelajar yang pada awal kemerdekaan tergabung dalam satu-satunya organisasi pelajar yaitu Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Sewaktu Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Pengurus IPI yang waktu itu diketuai oleh Tatang Machmud ikut pula hijrah ke Yogyakarta. Memenuhi tuntutan banyak anggota IPI yang menginginkan agar IPI mempunyai pasukan tempur sendiri, juga supaya pelajar-pelajar yang sudah bergabung dalam pasukan kelaskaran lain yang anggotanya bukan pelajar, maka dibentuklah apa yang waktu itu disebut IPI Bagian Pertahanan yang kemudian berubah nama menjadi Markas Pertahanan Pelajar (MPP) . MPP ini terdiri dari 3 resimen yaitu: Resimen A di Jawa Timur dipimpin oleh Isman, Resimen B di Jawa Tengah dipimpin oleh Soebroto, Resimen C di Jawa Barat dipimpin oleh Mahatma.Kemudian pada 17 Juli 1946 di Lapangan Pingit Yogyakarta atas perintah Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat, oleh Mayor Jendral dr. Moestopo, seorang petinggi di MBTKR, telah dikukuhkan dan dilantik pasukan pelajar menjadi Tentara Pelajar. Nama Tentara Pelajar diberikan kepada Bagian Pertahanan IPI setelah melebur jadi Brigade 17 TNI pada tahun 1948 di bawah kendali Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Kesatuan pelajar ini dibagi menjadi 4 Detasemen: I untuk Jawa Timur yang lebih dikenal dengan nama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di bawah komando Isman; II di Solo, Semarang dan sekitarnya di bawah komando Achmadi; III di Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan sekitarnya di bawah komando Martono serta Detasemen IV di Cirebon dan Jawa Barat umumnya dengan julukan Tentara Pelajar Siliwangi (TPS) di bawah komando Solichin. Dan satu detasemen khusus teknik bernama Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah komando Hartawan.Meskipun secara resmi ada pembagian wilayah komando, pergerakan kesatuan pelajar yang hanya ada di Indonesia ini sangat fleksibel. Antara satu dan lain komando wilayah dapat saling mendukung, bertukar wilayah atau bahkan berpindah-pindah kesatuan cukup dengan cara memberitahu markas komando atau komandan kesatuan setempat. Mobilitas kesatuan ini sangat fleksibel karena faktor situasional. Karena status mereka sebenarnya adalah pelajar atau mahasiswa aktif yang sewaktu-waktu negara memanggil untuk berjuang, mereka segera berubah peran sebagai tentara.Tentara Pelajar secara resmi dibubarkan pada awal 1951 dalam sebuah upacara demobilisasi. Masing-masing anggota diberi penghargaan dari Pemerintah RI mewakili negara berupa "uang jasa", semacam beasiswa, yang disebut KUDP dan besarnya variatif. Juga diberikan pilihan untuk melanjutkan studi yang terbengkelai selama menjadi tentara pejuang. Atau melanjutkan karir militer di TNI maupun Polri bagi yang berminat. Untuk menghormati jasa para anggota Tentara Pelajar kini nama Tentara Pelajar diabadikan menjadi sebuah nama jalan di kota besar di Indonesia.Akhirnya setelah satu bulan mereka diberitahu akan dipulangkan, keesokan harinya mereka menyiapkan barang-barang seperti kasur, tiker, sendok, dan lain-lain. Semua tahanan pun di-apel pelepasan, lalu pulang ke rumah masing-masing dengan truk terbuka besar lagi. Tetapi ada suatu masalah Aki Sumah sedang sakit demam saat itu, yang menyebabkan Aki Sumah belum bisa pulang ke rumah. Aki Sumah pun diantarkan ke tempat pemeriksaan orang-orang, tetapi saat itu Aki Sumah hanya sendiri. Teman-teman Aki Sumah yang lain dibawa ke Gedung Sate. Aki Sumah menunggu kurang lebih 2 jam, dan akhirnya Aki Sumah diberitakan berita baik bahwa Aki Sumah bisa dibawa ke Gedung Sate memakai mobil sedan. Sampai di Gedung Sate, Aki Sumah ditanya-tanyai kembali, setelah itu boleh kembali ke rumah. Cerita Aki Sumah diakhiri dengan ceritanya seberapa lama dan lelahnya, mereka disuruh untuk mengantar surat dan lain-lain. Dan pula Aki Sumah menceritakan mengenai keadaan Bandung yang sedang di jajah seberapa parahnya.Aki Sumah juga pernah di tangkap sewaktu APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), Angkatan Perang Ratu Adil adalah milisi dan tentara swasta pro-Belanda yang didirikan pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Milisi ini didirikan oleh mantan Kapten DST KNIL Raymond Westerling setelah demobilisasinya dari kesatuan Depot Speciale Troepen (depot pasukan khusus KNIL) pada tanggal 15 Januari 1949. Nama milisi ini berasal dari bagian dari kitab ramalan Jawa Kuna Ramalan Jayabaya yang meramalkan kedatangan seorang "Ratu Adil" yang merupakan keturunan Turki. Karena mempunyai warisan darah campuran Turki, Westerling memandang dirinya sebagai sang "Ratu Adil" yang diramalkan akan membebaskan rakyat Indonesia dari "tirani". Westerling berusaha untuk mempertahankan adanya negara-negara federal dalam Republik Indonesia Serikat melawan kesatuan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Sukarno dan Hatta yang dianggapnya didominasi oleh orang Jawa. APRA direkrut dari 18 faksi anti-Republik yang beragam, termasuk personel mantan gerilyawan Republik, Darul Islam, Ambon, Melayu, Minahasa, KNIL yang telah didemobilisasi, Regiment Speciale Troepen (Resimen Pasukan Khusus KNIL), dan Tentara Kerajaan Belanda. Tahun 1950, APRA telah berevolusi dari serangkaian unit pertahanan diri pedesaan menjadi kekuatan tempur berjumlah 2.000 personel. Tidak senang dengan pertumbuhan pengaruh pemerintahan Soekarno, Westerling bersekongkol denganSultan Pontianak Sultan Hamid II yang berhaluan federalis untuk meluncurkan kudeta pada bulan Januari 1950. Pada tanggal 23 Januari 1950, APRA meluncurkan kudeta menentang pemerintah Republik Indonesia. Walaupun milisi ini berhasil untuk sementara menduduki Bandung, mereka gagal untuk menduduki Jakartadan Blora. Mereka telah merencanakan untuk menggulingkan Kabinet RIS dan membunuh beberapa tokoh Republik terkemuka termasuk Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwana IX dan Sekretaris-Jenderal Ali Budiardjo. Kegagalan kudeta ini menyebabkan adanya demoralisasi anggota milisi terhadap Westerling dan terpaksa melarikan diri ke Singapura. Tanpa pemimpin yang kuat, APRA akhirnya berhenti berfungsi pada Februari 1950. Tindakan APRA tersebut pada akhirnya menyebabkan penahanan Sultan Hamid IIdan justru mempercepat pembubaran Republik Indonesia Serikat pada tanggal 17 Agustus 1950, mengubah Indonesia menjadi negara kesatuan yang didominasi oleh pemerintahan pusat di Jakarta. Aki Sumah juga sempat di penjara di penjara Sukamiskin Bandung, Penjara Sukamiskin dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1918 dan mulai difungsikan pada tahun 1924 sebagai tempat hukuman bagi kaum intelektual yang dianggap melakukan kejahatan politik karena bertentangan dengan Penguasa Belanda dengan nama “STRAFT GEVANGENIS VOOR INTELECTUELEN”, dengan luas lebih dari 2 hektar, dan terdiri atas 552 sel, berlokasi di Jalan A.H. Nasution Nomor 114 Bandung. Penjara Sukamiskin memiliki nilai sejarah bagi Bangsa Indonesia karena banyak tokoh nasional pernah dipenjarakan disini, antara lain Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pernah menjalani hukuman di Kamar No. 1 Blok Timur Atas, pada bulan Desember 1930. Kini, bekas sel penjara yang ditempati Proklamator itu diberi tulisan ‘Bekas Kamar Bung Karno’. Di penjara inilah Ir. Soekarno menulis buku berjudul “’Indonesia Menggugat’. Bangunannya memiliki ciri khas tersendiri, jika dilihat dari atas mirip kincir angin, karena pembagian blok mengikuti arah mata angin, kemana bilah “kincir” menunjuk: blok utara, blok selatan, blok barat dan blok timur. Masing-masing blok memiliki 2 lantai yang saling berhubungan melalui bangunan bundar paling tinggi ditengah sebagai porosnya.

Sukamiskin, 17 Mei 1931

Saudaraku!

Penjara Sukamiskin Bandung
Baru sekarang saya menulis dari Sukamiskin, karena orang tangkapan hanya boleh berkirim surat sekali dalam dua minggu. Sesudah masuk ke dalam rumah kurungan, hampir semua yang saya bawa dari rumah tahanan di Bandung, diambil. Setiap hari saya mesti bekerja keras. Malam hari, badan sudah letih sehingga belajar pun tak ada hasilnya.

...

Itulah petikan surat dari Presiden Pertama RI, Soekarno, yang ditulis dalam pengapnya penjara Sukamiskin. Di penjara Sukamiskin (sebuah kawasan di Bandung Timur) lahir pula buku fenomenal karya Soekarno: Di Bawah Bendera Revolusi.

Hanya segitu saja yang Aki Sumah ceritakan kepada saya, Aki Sumah dibantu nenek saya pun berpesan : “Gembira sekali merasa mendapat perhatian bisa diwawancarai oleh cucu : Kalista Maharani Lanti. Cuma sayang karena usia, sudah banyak lupa. Saran kepada para generasi penerus, teruskanlah perjuangan / tetesan darah para pejuang terdahulu dibidang ilmu / pendidikan, pertahankan moto : SATU NUSA – SATU BANGSA – SATU BAHASA. Viva anak muda! Maju terus, pantang mundur”


No comments:

Post a Comment