Monday, 27 May 2013

Tugas-2 Biografi Kamila Nanda Eriana XI IPA 2

KAKEK HANAFIAH, SANG MANTAN TENTARA PELAJAR


Kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia tidak lepas dari peran para tentara pelajar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang tentunya semua itu tidak dapat dilalui dengan begitu mudahnya. Begitu banyak peran para tentara pelajar dalam perjuangaan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, hingga terkadang kita sebagai generasi penerus bangsa sering lupa akan tugas kita untuk berjuang mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia dan menghargai jasa para pahlawannya.
Hal inilah yang akhirnya menjadi inspirasi saya sebagai bahan untuk tugas wawancara pada mata pelajaran Sejarah. Pada hari Minggu tanggal 14 April 2013, saya mengunjungi seorang tokoh yang pada saat itu baru sembuh dari salah satu penyakit yang beliau idap. Saya pun akhirnya mewawancarai beliau.
Pada permulaan awal wawancara memang tidak berjalan begitu mulus karena beliau lupa untuk memulai bercerita darimana. Untuk umur yang terbilang sudah sangat tua untuk seorang lansia, lupa adalah hal yang harus dimaklumi untuk orang-orang seperti kita yang ingatannya masih kuat.
Namun setelah akhirnya saya berhasil menemukan catatan-catatan dan dokumen-dokumen penting milik beliau dan menyerahkannya kepada beliau, wawancara pun berlangsung dengan mulus karena setelah melihat catatan-catatan dan dokumen-dokumen penting milik beliau, beliau akhirnya tahu harus mulai bercerita darimana. Tetapi saya juga harus berusaha untuk banyak bertanya agar saya mendapatkan informasi yang lengkap dari beliau.
                Dari kisah seorang tokoh ini yang tak lain dan tak bukan adalah kakek saya sendiri, saya mendapatkan pelajaran bahwa ternyata perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sangatlah sulit. Namun kesulitan tersebut yang akhirnya memberikan semangat untuk para pejuangnya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

BIOGRAFI TOKOH

Kakek Hanafiah, terlahir dengan nama Mumuh Hanafiah Hasan, dilahirkan di Cirebon pada tanggal 26 Juli 1928 dari pasangan Mohammad Hasan dan Siti Saiyah dengan proses kelahiran dibantu oleh seorang bidan. Beliau adalah anak ke 2 dari 6 bersaudara. Semasa kecilnya, beliau tinggal berpindah-pindah disekitar Jawa Barat.
Ketika beliau memasuki usia 6 tahun, beliau dapat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School Garut (setingkat dengan SD) karena pekerjaan orangtua beliau yang sebagai pegawai administrasi Kantor Pos Jakarta. Hollandsch-Inlandsche School sendiri atau yang disebut juga dengan Sekolah Bumiputera Belanda adalah sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya yang didirikan pada zaman penjajahan Belanda dan diperuntukkan untuk anak-anak keturunan Indonesia asli dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.
Hollandsch-Inlandsche School terkenal dengan disiplin keras dalam mendidik dan melatih para siswanya untuk bersikap jujur dan mempunyai moral yang tinggi, disamping memberikan pengetahuan umum kepada para siswanya. Lamanya bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School adalah 7 tahun karena pada zaman penjajahan Belanda dahulu belum ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels).
Pada sore harinya, beliau rutin mengikuti pengajian di Surau yang dipimpin oleh Ustadz Ombi. Inilah tempat dimana beliau dapat memperluas pemahaman mengenai agama Islam, memperbanyak pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan memperluas pengetahuan Islam sehingga tidak hanya sekedar shalat dan mengaji saja yang beliau ketahui dan beliau amalkan namun seluruh ajaran Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dimanapun mereka berada.
Setelah tamat dari Hollandsch-Inlandsche School, beliau bersekolah di salah satu SMP Negeri di Cibatu, Garut. Di masa inilah, muncul keinginan dari dalam hati beliau untuk berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah kedua orangtua beliau akhirnya menyetujui keputusan beliau dengan berat hati, beliau pun bergabung dengan Barisan Tentara Pelajar (Tentara Non Reguler).
Barisan Tentara Pelajar ini keanggotaannya bersifat sukarela. Walaupun bersifat sukarela tetapi para tentara pelajar tetap mendapatkan pelatihan dari para Tentara Reguler (tentara yang berasal dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara) seperti latihan baris-berbaris, menyiapkan senjata, dan melakukan simulasi perang.
Pergerakan kesatuan tentara pelajar ini sangatlah fleksibel. Antara satu komando wilayah dan komando wilayah lain dapat saling bertukar wilayah atau bahkan berpindah-pindah kesatuan cukup dengan cara memberitahu markas komando atau komandan kesatuan setempat karena status mereka yang sebenarnya adalah pelajar yang sewaktu-waktu negara memanggil untuk berperang, mereka segera berubah peran menjadi tentara.
Namun, resiko yang amat besar dengan kehilangan banyak waktu untuk belajar tentunya harus dilalui. Beliau harus pintar-pintar membagi waktunya untuk belajar disela-sela latihan perang. Beliau sempat merasakan bersekolah di SMP Peralihan di Surakarta, ketika Barisan Tentara Pelajar diharuskan untuk berhijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat gencatan senjata dengan tentara Belanda.
Setelah penyerahan kedaulatan dari pemerintahan Belanda kepada pemerintahan Indonesia resmi disahkan, beliau memilih untuk melepaskan baju tentara lalu menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa, padahal ada di antaranya teman-teman beliau sesama tentara pelajar yang bergabung dengan TNI dan meneruskan karir sebagai tentara.
Beliau pun akhirnya melanjutkan untuk bersekolah di SMA APPI Jakarta. Setelah lulus SMA, beliau bekerja di Bank Indonesia dan menjabat sebagai Kepala Bagian Pembantu. Selama bekerja di Bank Indonesia, beliau tinggal di Wisma Bank Indonesia yang terletak di Jl. Jend. S. Parman Kav 15/16 Slipi, Jakarta Barat. Beliau menikah dengan Siti Khadidjah yang tak lain dan tak bukan adalah nenek saya sendiri, pada tanggal 19 November 1954 dan dianugerahi 6 orang anak termasuk ayah saya, yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Beliau pensiun sebagai pegawai Bank Indonesia pada tahun 1985.
Kini, beliau tergabung dalam Korps Karyawan Veteran Bank Indonesia, yang merupakan perkumpulan untuk para pensiunan Bank Indonesia yang dahulunya juga mantan pejuang Republik Indonesia. Beliau bersama dengan keluarga kini tinggal di Jl. Salam IV no. 8 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Beliau pun kini sudah dianugerahi  16 orang cucu termasuk saya, yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.

PERAN TOKOH

Kakek Hanafiah adalah mantan tentara pelajar yang ikut berperang pada masa Agresi Militer Belanda I (atau dahulu disebut juga dengan Clash I), Agresi Militer Belanda II (atau dahulu disebut juga dengan Clash II), pemberontakan komunis, dan pemberontakan DI/TII.
Pada permulaan tahun 1947 sampai dengan pertengahan tahun 1948, beliau bergabung dengan Kesatuan Tentara Pelajar Brigade Kiansantang Divisi Siliwangi (Barisan Tentara Pelajar untuk komando wilayah Jawa Barat dan sekitarnya) Garut, Jawa Barat. Kompi dimana beliau ditempatkan, yaitu di Wanaraja, Telaga Bodas (sekitar 10 kilometer dari Cibatu) dipimpin oleh Kapten Oking.
Selama perjalanan gerilya, hidup beliau yang awalnya berkecukupan menjadi serba kekurangan karena harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kebutuhan makan dan minum tidak menentu, kadang bergantung pada bantuan dari masyarakat yang bersimpati melihat beliau dan tentara pelajar lain yang melintasi kawasan pedesaan, kadang makan seadanya ketika berada di hutan belantara.
Sebelum sampai tujuan yang telah ditetapkan, beliau dan tentara pelajar yang lain harus terus berjalan kaki melewati jalan-jalan yang tidak biasa, karena jalan biasa berada dibawah pengawasan tentara Belanda. Resiko kaki bengkak, pakaian kotor dan robek, sepatu sudah tidak jelas lagi bentuknya harus dihadapi. Bahkan resiko kematian pun terus menghantui. Namun inilah perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena konsekuensi gencatan senjata dengan Belanda, Barisan Tentara Pelajar diharuskan untuk hijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau dan tentara pelajar yang lain harus berjalan kaki dari Cibatu menuju ke Cariu. Kemudian beliau bersama tentara pelajar lain yang berada pada satu kompi dikumpulkan bersama dengan tentara pelajar yang berada pada kompi-kompi yang lain di Cikarang, lalu berangkat menuju ke Cirebon menggunakan kereta api. Setelah sampai di Cirebon, beliau dan tentara pelajar yang lain harus terus melanjutkan perjalanan menuju ke Semarang dengan menggunakan kapal milik Belanda, lalu terus menuju ke Madiun menggunakan kereta api untuk tinggal sementara.
Setelah tinggal sementara di Madiun, beliau dan tentara pelajar yang lain melanjutkan perjalanan menuju ke Magetan, dan akhirnya sampai di Surakarta. Pada pertengahan tahun 1948 sampai dengan akhir tahun 1948, beliau bergabung dengan Kesatuan Corps Pelajar Siliwangi (CPS) Surakarta, Jawa Tengah.
Pada suatu saat, beliau dan tentara pelajar yang lain diharuskan untuk long march kembali ke Jawa Barat. Pada saat long march kembali ke Jawa Barat, beliau dan tentara pelajar yang lain tidak hanya harus menghadapi Belanda tetapi juga harus menghadapi para pemberontak yang berasal dari komunis dan DI/TII.
Dalam menghadapi para pemberontak yang berasal dari komunis dan DI/TII tentu sangatlah berbeda. Para pemberontak yang berasal dari komunis tak segan-segan untuk menyiksa dan membunuh Kesatuan Corps Pelajar Siliwangi.
Lain pemberontak yang berasal dari komunis lain pula pemberontak yang berasal dari DI/TII. Para pemberontak yang berasal dari DI/TII masih menjunjung tinggi agama Islam. Namun mereka justru tidak setuju dengan sikap pemerintah Indonesia yang seakan-akan menyerah kepada Belanda.
Latar belakang itulah yang membuat mereka tidak mau meninggalkan Jawa Barat sebagaimana yang dilakukan oleh Barisan Tentara Pelajar. Mereka tetap bergerilya dan berusaha menghentikan usaha para tentara Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Hanya saja karena pemerintah Indonesia bersikeras menganggap DI/TII sebagai pemberontak yang membuat tindakan DI/TII menjadi lebih keras daripada TNI.
Pada pertengahan tahun 1949 sampai dengan akhir tahun 1949, beliau tergabung dalam Kesatuan Daerah Komando Teritorial Jakarta Raya. Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, beliau memilih untuk melepaskan baju tentara lalu menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa dengan melanjutkan sekolah ke SMA APPI Jakarta.
Atas jasa-jasa beliau dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, beliau dianugerahi beberapa penghargaan dengan pangkat terakhir Sersan Inf. Non Reguler. Pada tanggal 17 Agustus 1958 sesuai dengan Pasal 16 UU no. 70 Tahun 1958, beliau dianugerahi Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan II dari Menteri Pertahanan, Djuanda. Lalu pada tanggal 10 November 1958, beliau dianugerahi Tanda Jasa Pahlawan Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno.



“Semoga pengalaman selama perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa untuk berjuang mengisi kemerdekaan RI yang telah dipertahankan dengan darah para pejuang kemerdekaan RI di seluruh Indonesia”
- Mumuh Hanafiah Hasan

Bersama Kakek Hanafiah

Surat Keputusan untuk Gelar Kehormatan
"Veteran Pejuang Kemerdekaan RI"
Surat Tanda Penghargaan
"Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I"
Surat Keterangan untuk Tanda Jasa Pahlawan
"Bintang Gerilya"
Surat Tanda Penghargaan
"Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan II"



2 comments: