Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Kanisha Delaras Zahrah XI IPA 1

Opa Affan, Dari Banda Aceh hingga Cempaka Putih

Ketika Pak Shobirin memberikan tugas sejarah untuk mewawancarai seseorang yang berkontribusi terhadap Indonesia pada generasi seumur Kakek saya, saya benar-benar tidak mendapat bayangan tentang narasumber yang akan saya cari. Menurut sepengetahuan saya, Kakek dan Nenek saya baik dari Ayah maupun Ibu hidupnya datar-datar saja. Saya pun bertanya kepada teman-teman saya, apakah mereka memiliki kerabat yang dapat diwawancara.   
Pada hari Sabtu, 26 Mei 2013, Tante saya merayakan ulang tahun ke-30 di Puncak, Megamendung. Saya dan keluarga berencana untuk datang ke acara beliau. Pikir saya, mumpung lagi ngumpul keluarga, kenapa nggak sekalian aja ngerjain tugas sejarah. Masalah narasumber? Gampang. Tinggal pilih, ada Kakek, Nenek, Kakaknya Nenek, Adeknya Nenek. Sayangnya, takdir berkata lain. Sesampainya di Tol Ciawi, jalan menuju Puncak ditutup dan baru akan dibuka pada pukul 17.00 WIB, sehingga Ayah saya memutuskan untuk memutar balik arah, dan kembali ke rumah. Yah, gagal deh.
Waktu pengumpulan tugas semakin dekat, saya semakin kewalahan mencari narasumber. Tiba-tiba saya ingat, Ayah saya pernah berkata bahwa Opa (kakek saya, dari keluarga Ayah) senang kalau ditanyakan tentang sejarah, meskipun beliau tidak pernah menyumbang sesuatu yang berarti untuk negara. Karena sudah tidak ada jalan keluar, saya pun memutuskan untuk mewawancarai Opa saya lewat telepon.
Percakapan selama 29 menit 55 detik, ternyata berbuah manis. Ternyata hidup Opa tidak sedatar yang saya kira.

I. Biografi

Opa saya bernama Affan Sandang yang akrab dipanggil Affan. Nama beliau merupakan gabungan dari Ayah dan Ibunya, Nyak Sandang dan Nyak Awan. Saat ditanya mengenai tempat dan tanggal lahir, Opa menjawab, ”Lahir di Banda Aceh. Tanggal bulan masehinya ndak tau, pokoknya 20 Safar tahun 1931.”. Opa menghabiskan masa kecilnya di Banda Aceh. Memasuki usia Sekolah Dasar, Opa bersekolah di Sekolah Rendah Banda Aceh selama 6 tahun. Kemudian Opa melanjutkan pendidikan di salah satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Banda Aceh. Lulus SLTP, Opa meneruskan sekolah di Sekolah Menengah Atas, masih tetap di Banda Aceh. 
Pada masa awal kelas 3 SMA, Opa pindah ke Medan, karena sekolah yang ditempati Opa kekurangan guru. Selepas SMA di Medan, Opa mengikuti pendidikan ahli minyak setingkat D3 di Prabumulih selama 2 tahun. Sebenarnya, Opa tidak terlalu bercita-cita menjadi ahli minyak, tetapi karena pendidikan yang diberikan bersifat gratis, serta gaji yang diperoleh menjadi seorang ahli minyak cukup besar. Disana Opa belajar banyak tentang hal-hal seputar perminyakan, mulai dari mengebor minyak, kerja lapangan, hingga menangani urusan logistik.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Prabumulih, Opa bekerja di perusahaan minyak milik Belanda bernama BPM (Bataafsche Petroleum Maatshchappij) atau dalam Bahasa Inggris biasa dikenal dengan nama Batavian Oil Company di Plaju pada tahun 1955. Di BPM, Opa bekerja pada bagian logistik yang bertugas dalam hal pengaturan barang, pembebasan barang, dan pembelian barang.
Opa dan Oma saat merayakan ulang tahun pernikahan ke-55
Setahun bekerja di BPM, membuat Opa kenal dekat dengan rekan-rekan kerjanya. Sebut saja Rohana yang akrab disapa Ana. Mereka menjalin hubungan asmara kurang lebih selama setahun, dan akhirnya menikah pada tahun 1956.
Waktu masa ramai-ramainya Gerakan 30 September, banyak pula teman Opa yang mengikuti aliran komunis tersebut. Mereka menamakan dirinya sebagai Persatuan Buruh Minyak. Namun, mereka tidak mengganggu teman-teman kerjanya dalam hal pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, hanya saja aliran politiknya yang berbeda. Organisasi ini hanya ada pada sekitar tahun 1965. Setelah PKI dibubarkan, Persatuan Buruh Minyak juga turut musnah.
Pada tahun 1966, BPM dibeli oleh Pertamina. Sekitar tahun 1970an, Opa sempat dikirim untuk bekerja di Singapura selama 3 minggu. Lama bekerja di BPM selama 16 tahun. Kemudian Opa dipindahtugaskan ke Balikpapan, karena cabang perusahaan disana kekurangan tenaga kerja.
Kehidupan di Balikpapan sangat aman, tentram, dan damai. Bahkan saat Soekarno turun jabatan, tidak terjadi demo yang cukup besar disana. Kurang lebih sekitar 4 tahun, Opa bertugas Balikpapan. Setelah itu, Opa dipindahkan lagi oleh kantornya. Kali ini ke Jakarta.
Tahun 1975 Opa pindah ke Jakarta. Opa ditempatkan di LNG (Liquid Natural Gas) yang merupakan salah satu anak perusahaan dari Pertamina. Selama di LNG, Opa lebih sering bekerja turun ke lapangan, tepatnya di Bontang, karena disana akan dibangun pabrik.
Setelah bekerja di LNG, Opa dipindahtugaskan lagi ke perusahaan lain. Tahun 1980an Opa dipindahkan ke Inspektorat Perusahaan yang merupakan divisi Pertamina.
“Opa, kenapa sih kerjanya selalu pindah-pindah?”, tanya saya.
“Minyak itu ada dimana-mana. Kita harus gali tempat-tempat yang punya potensi sumber daya.”, ungkap Opa.
Kira-kira selama 3-4 tahun Opa bekerja di Inspektorat Perusahaan. Sekitar tahun 1985, Opa pindah ke YKPP (Yayasan Karyawan Perusahaan Pertamina) yang juga merupakan anak perusahaan Pertamina. Di YKPP, Opa bertugas memerhatikan kesejahteraan karyawan Pertamina, seperti memberikan beasiswa kepada anak-anak karyawan, serta mengelola gaji  dan bantuan bagi karyawan Pertamina yang sudah pensiun. Selama 5 tahun Opa bekerja di YKPP. Kemudian pada tahun 1990an, Opa mulai memasuki masa pensiun.
Kini, Opa tinggal bersama Oma di daerah Cempaka Putih, Jakarta Timur. Opa memiliki 3 anak serta 7 cucu. Anak pertama bernama Rosihan Sandang menikah dengan Helena Margareth Louis. Pernikahan mereka melahirkan 3 orang anak, yakni Claudia Sandang, Yesaya Sandang, dan Yosia Sandang. Anak kedua bernama Afrina Sandang menikah dengan Rori. Pernikahan mereka dibuahi oleh 2 orang anak, Maurene Ayu Setyorini dan Zaskia Ridyanti Putri. Terakhir, anak ketiga bernama Rozalis Affan Sandang yang merupakan Ayahku sendiri. Pernikahannya dengan Mela Hardiyani melahirkan 2 orang anak, Kanisha Delaras Zahrah dan Nadhifah Adinda Salsabila. Bicara masalah silsilah keluarga, Opa saya memiliki silsilah keluarga terlengkap yang pernah saya lihat! Mulai dari tahun 1900an hingga tahun 2013, dan selalu diperbarui jika terdapat perubahan, misalnya ada yang meninggal, melahirkan, menikah, dan lain-lain.
Saya dan Opa
Di usia senjanya, Opa memiliki hobi mengisi Teka Teki Silang (TTS) dari koran-koran yang dikumpulkannya untuk sekedar mengasah otak. Selain itu, Opa juga gemar mengisi waktu luang dengan bermain sudoku dan solitaire di komputer butut pentium 3 miliknya. Opa sering memberikan saya Teka Teki Silang kosong untuk diisi bersama-sama, kalau aku sedang berkunjung ke Cempaka Putih. Jika dibandingkan dengan kakek-kakek lainnya yang berusia kepala delapan, Opa saya dapat dikatakan masih mempunyai ingatan yang kuat. Bahkan jika dibandingkan dengan Oma, Opa cenderung tidak pikun, hanya saja fisik Opa lebih lemah. Terkadang Opa menggunakan tongkat untuk berjalan, jika sedang berada diluar rumah. Dalam beberapa tahun terakhir Opa sering keluar-masuk rumah sakit karena penyakit gula yang dideritanya. Meskipun fisiknya lemah, Opa masih suka begadang tidur larut malam demi menonton pertandingan tim sepakbola kesukaannya, setan merah Manchester United.
Opa Affan merupakan orang yang paling dituakan, karena beliau merupakan orang tertua yang masih hidup dari keluarga Ayahku. Oleh karena itu, setiap hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, semua keluarga datang mengunjungi kediaman Opa untuk berkumpul dan saling bersilaturrahmi.
Satu cita-cita Opa yang belum terwujud adalah melihat negeri ini bangkit dari keterpurukan. Setiap hari, Opa menonton berita dari televisi. Sebagian besar berita memperlihatkan sisi negatif dari bangsa kita. Hal ini membuat Opa prihatin akan kondisi generasi zaman sekarang.
Semoga Tuhan memberi mukjizat pada bangsa ini.

II. Peranan

Semasa dulu, Opa Affan juga pernah menjadi saksi kekejaman DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Aceh. Seingat Opa, mereka berdiri pada tahun 1953an. Organisasi ini berdiri atas dasar ketidakpuasan rakyat Aceh terhadap pemerintahan pusat. Pasalnya, sekitar tahun 1949, berdasarkan sebuah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu), Aceh dikukuhkan sebagai provinsi yang berstatus otonom. Namun, dalam perkembangannya, bukannya pelaksanaan otonomi yang diterapkan, pemerintah pusat malah mencabut status provinsi Aceh. Daerah Aceh menjadi sebuah daerah karesidenan yang harus tunduk pada provinsi Sumatera Utara. Kebijakan ini tentunya ditentang oleh para ahli ulama di Aceh, karena Aceh memiliki kultur budaya yang berbeda dengan Sumatera Utara. Warga Aceh merasa dikhianati oleh Soekarno, karena mereka menganggap bahwa Soekarno tidak menghormati keberadaan alim ulama dalam kehidupan bernegara.
Oleh karena itu, DI/TII memiliki ambisi yang kuat untuk menghancurkan NKRI dan membangun Negara Islam. Teuku Daud Beureuh adalah tokoh yang sangat berpengaruh pada saat itu. Beliau merupakan seorang Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh. Dengan menduduki jabatan yang dihormati dan dimuliakan oleh warga Aceh, tentu tidak sulit baginya untuk memperoleh pengikut. Beliau berhasil menghasut pejabat-pejabat negeri Aceh untuk bergabung dalam DI/TII.
Demi mewujudkan misinya, DI/TII sering mengadakan perang dengan NKRI. Selain itu, kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari juga sangat mengganggu kehidupan warga Aceh. Salah satu contoh paling sadisnya, ketika terjadi pembunuhan massal oleh TNI. Sejumlah  warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan, lalu ditembak mati. DI/TII juga melakukan kekejaman dalam bidang perekonomian. Mereka menjajah pasar-pasar di Banda Aceh, sehingga para pedagang tidak dapat berjualan dengan leluasa. Beberapa teman Opa juga pernah dihadang oleh pasukan DI/TII saat sedang berjalan di tempat umum. Sampai pada akhirnya, DI/TII bubar pada tahun 1962 dan kembali ke pangkuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).




No comments:

Post a Comment