Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Kannia Rifatulzia Maharsayoga XI IPS 1


Eyang Kakung Jusup Mangunkusumo, Bagian Kecil dari Sejarah Kemerdekaan Bangsa

Everybody is a hero in their own story if you just look.” -Maeve Binchy

Semua orang dapat menjadi seorang pahlawan. Tidak harus menjadi orang ternama, tetapi orang itu adalah pahlawan di mata saya dan anggota keluarga. Jusup Mangunkusumo namanya. Beliau adalah kakek saya, tapi saya mengenalnya dengan sebutan eyang kakung. Saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertemu eyang secara langsung, tidak pernah mendengar cerita-cerita keluar dari mulutnya, dan tidak pernah bicara bertatap muka dengan dirinya. Itu semua karena eyang telah berpulang 4 tahun sebelum saya dilahirkan.

Pada kesempatan kali ini untuk memenuhi tugas sejarah, saya ingin membuat biografi tentang eyang kakung. Karenanya, saya mewawancarai istrinya, yang biasa saya panggil eyang uti. Meskipun usianya yang sudah 85 tahun, eyang uti masih memiliki ingatan yang sangat kuat.

BIOGRAFI

Jusup Mangunkusumo lahir pada tanggal 17 Maret 1917. Beliau merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara. Masa kanak-kanak beliau dihabiskan di kota Magelang, Jawa Tengah dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan. 

Pendidikan merupakan hal yang penting, maka itu beliau memutuskan untuk mendaftarkan dirinya dan bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School atau yang biasa disingkat menjadi HIS. HIS adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah. Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun. Setelah selesai mengenyam pendidikan dasar yang tujuh tahun lamanya di HIS, beliau tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Walaupun begitu, beliau sangat fasih dalam berbicara menggunakan bahasa Belanda.

Setelah itu, beliau memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai negeri di Pemerintahan Kota Madya Magelang dan ditempatkan di Bagian Djawatan Pekerdjaan Oemoem. Pada tahun 1947, beliau bertemu dengan seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya, Soeparijah. Soeparijah juga bekerja sebagai pegawai di Pemerintahan Kota Madya Magelang, tetapi beliau ditempatkan di Bagian Sekretariat. Beliau lahir di Magelang, Jawa Tengah pada tanggal 11 Agustus 1928 dari pasangan Bapak Pasang Kartosoewirjo dan Ibu Sutin. Berbeda dengan Jusup Mangunkusumo, Soeparijah tidak mengenyam pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School, melainkan di Sekolah Rakyat.

Pada tahun 1951, Jusup dan Soeparijah pun menikah dan memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Karena keputusan tersebut, mereka harus mengundurkan diri dari posisi mereka masing-masing di Pemerintahan Kota Madya Magelang. Di Jakarta, mereka pindah bekerja di Departemen Sosial, di Jalan Ir. H. Juanda No. 36, Jakarta Pusat. Jusup ditempatkan di Bagian Perbekalan dan Soeparijah ditempatkan di Bagian Personalia. Sejak bekerja di Jakarta, mereka telah beberapa kali pindah tempat tinggal. Rumah pertama mereka berlokasi di Jalan Tambak, Jakarta Pusat. Setelah itu, mereka pindah ke daerah Roxy. Pada bulan Mei tahun 1955, lahirlah anak pertama dari pasangan Jusup dan Soeparijah yang telah lama mereka nanti. Anak laki-laki tersebut diberi nama Eko Budi Mulyono. Rumah keluarga Jusup Mangunkusumo itu pun diramaikan dengan lahirnya anak laki-laki kedua mereka yang lahir pada tanggal 14 Desember 1956 yang dinamakan Dwi Djoko Santoso. 


Pernikahan Jusup dengan Soeparijah


Pada tahun 1959, keluarga Jusup pindah tempat tinggal ke daerah Rawasari. Tepatnya di Jalan Rawasari Barat No. 4, Jakarta Pusat. Rumah tersebut awalnya adalah rumah dinas, namun setelah beberapa tahun ditempati, rumah itu dibeli oleh beliau dan akhirnya menjadi hak milik. Di tahun yang sama pula, lahirlah seorang anak laki-laki pada tanggal 8 November 1959, yaitu Triyoga Waluyo, ayah saya. Setelah kelahiran anak ketiga, Soeparijah memutuskan untuk mengundurkan diri agar dapat memiliki lebih banyak waktu luang untuk mengurus rumah tangganya. Pada bulan Februari tahun 1961, kebahagiaan menghampiri keluarga Jusup Mangunkusumo dengan lahirnya anak keempat yang merupakan anak perempuan pertama Jusup dan Soeparijah. Anak tersebut diberi nama Tjatur Ari Lestari. Pada tanggal 12 Oktober 1962, lahirlah anak kelima yang juga merupakan anak terakhir pasangan bahagia tersebut. Anak laki-laki itu dinamakan Pantja Wahju Pribadi.

Salah satu kegemaran Jusup sejak usia muda adalah berolahraga, seperti pencak silat, sepak bola, bulu tangkis, bilyar, tenis meja, catur, dan lainnya. Prestasi yang patut dibanggakan kala itu adalah beberapa kali menjuarai pertandingan bulu tangkis antar klub se-karesidenan Kedu. Beliau juga pernah ikut berpartisipasi dalam Pekan Olahraga Nasional I yang diadakan di kota Solo. Cabang yang diikuti adalah lempar cakram. Beliau juga ikut mendirikan perguruan pencak silat Setia Hati bersama Mariyun Sastrohadiprojo. Kegemaran lainnya adalah bermain musik. Beliau senang bermain gitar dan bernyanyi. Beliau pernah tampil di RRI Magelang dan salah satu penontonnya adalah Ibu Marlia Hardi. Selain itu, beliau senang memelihara binatang. Antara lain anjing jenis German Shepherd atau yang biasa disebut anjing “herder” sejumlah tujuh ekor, seekor monyet, dua ekor angsa, seekor burung beo, seekor burung nuri, dan sekitar 200 ekor ayam petelur. Hewan peliharaan kesayangan beliau adalah seekor anjing German Shepherd jantan berwarna hitam. Anjing itu bernama Jumbo. Jumbo adalah anjing yang sangat setia. Setiap Jusup pulang kerja dan saat mobil jeep tua itu datang muncul di depan pintu gerbang, Jumbo sudah siap menunggu kepulangan sang majikan. Setelah mobil diparkirkan di garasi, beliau harus bergegas keluar. Karena jika tidak, Jumbo akan mencakar pintu mobil agar beliau segera keluar dari mobil. Sayangnya, Jumbo mati karena faktor usia tua saat ia berlari dengan terlalu bersemangat dan menabrak sebuah dingklik kecil di teras, dan apa daya, anjing kesayangan beliau pun tidak dapat terselamatkan.


Tahun 1973, Jusup akhirnya pensiun dari jabatannya terakhirnya sebagai Kepala Biro Perbekalan dan memutuskan untuk pindah ke kota Bogor. Rumah yang berada di Rawasari pun dijual dan beliau membeli rumah di daerah Ciomas, Bogor. Setelah pensiun, beliau mengembangkan hobinya menjadi sebuah usaha. Beliau mengelola peternakan ayam petelur dan ayam potong. Usaha peternakannya itu digunakan untuk menopang biaya kehidupan keluarga selain dari uang pensiun yang didapat. Anak-anak beliau mulai mandiri dan berkeluarga. Pada tahun 1992, beliau wafat pada usia 75 tahun di Rumah Sakit Karya Bakti, Bogor dan dimakamkan di kota kelahiran beliau, Magelang. Soeparijah, istri beliau, masih sehat walafiat sampai sekarang dalam usia 85 tahun.


PERANAN

Pada masa perang, seluruh rakyat Indonesia rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, termasuk Jusup Mangunkusumo, yang merupakan bagian kecil dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Beliau telah mengalami dan sekaligus menjadi saksi sejarah sejak zaman kolonialisme Kerajaan Belanda, Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Berpidato di Hutan

Beliau ikut berjuang dalam Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II. Agresi Militer Belanda I adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari tanggal 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil yang diberlakukan Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas Perundingan Linggarjati. Dari sudut pandang Republik Indonesia, operasi ini dianggap merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Linggajati. Sedangkan Agresi Militer II dilaksankan pada tanggal 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia pada saat itu, serta penangkapan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir, dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Tujuan Agresi Militer Belanda II itu adalah untuk menghancurkan segala potensi Republik  Indonesia atau melumpuhkannya. Untuk menghadapi taktik licik Belanda tersebut, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengeluarkan Instruksi Panglima Besar sesuai perintah, yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No. 1. Salah satu pokok isinya ialah: Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber-wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi  satu medan gerilya yang luas. Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Jusup Mangunkusumo ikut berpartisipasi dalam long march ini. Beliau bukanlah bagian dari pasukan Siliwangi, tetapi beliau berpartisipasi sebagai seorang rakyat yang ingin memperjuangkan kemerdekaannya. Long march ini berakhir dengan berkumpulnya para pejuang di Lapangan Sempur, Bogor, Jawa Barat, untuk melakukan apel siaga untuk persiapan berjuang melawan para penjajah.

Saat berperang, leher sebelah kiri beliau tergores oleh peluru yang ditembakkan oleh salah satu tentara Gurkha sepanjang kurang lebih 15 cm dan selebar sekitar 1 cm. Saat itu, beliau tidak sadarkan diri. Setelah siuman, beliau terbangun di dalam barak. Lukanya telah diperban oleh pejuang yang lain. Tentara Gurkha awalnya adalah tentara bayaran dan akhirnya masuk dalam jajaran British Army yang digaji layaknya tentara Inggris sendiri. Mereka mempunyai unit sendiri sebagai salah satu bagian dari jajaran angkatan bersenjata Inggris. Tentara Gurkha terkenal dengan kemampuan berperangnya yang alamiah dan agresif di medan pertempuran, sehingga tentara Gurkha begitu disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Tetapi, para pejuang Indonesia tidak pantang menyerah dan tidak takut terhadap tentara Gurkha.

Pada awal tahun 1950-an, Jusup pernah diajak untuk pergi ke Makassar, Sulawesi Selatan, oleh kawannya, Kahar Muzakkar. Beliau diberitahu bahwa mereka akan berjuang melawan para penjajah. Sesampainya di kota Makassar, kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan apa yang diberitahukan pada awalnya sebelum keberangkatan ke Makassar. Ternyata, Kahar tidak menyetujui kebijaksanaan pemerintahan Presiden Soekarno pada masanya, sehingga balik menentang pemerintah pusat dengan mengangkat senjata. Ia dinyatakan pemerintah pusat sebagai pembangkang dan pemberontak. Kahar memimpin para bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia) kemudian bergabung dengan Darul Islam (DI), hingga di kemudian hari dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Karena itu, Jusup memutuskan untuk kembali ke Magelang karena beliau tidak ingin ikut memberontak.

Bagi mereka warga negara Republik Indonesia yang telah menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan republik semasa revolusi antara tahun 1945-1950, terutama saat Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947 - 5 Agustus 1947) dan Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948 - 27 Desember 1949) memperoleh tanda kehormatan berupa Bintang Gerilya. Namun, Jusup menolak dengan alasan berjuang untuk negara bukanlah untuk mendapatkan sebuah bintang tanda kehormatan, apalagi bila hanya ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, karena bukan itu tujuan dari sebuah perjuangan. Karena itu, saat beliau meninggal dunia, keluarga beliau memutuskan untuk memakamkan beliau di Magelang.

No comments:

Post a Comment