Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 - Biografi Kanya Pradipta


K.P.H. Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia


            Istilah “Antropologi Indonesia” digunakan sebagai nama umum untuk berbagai macam keahlian antropologi yang ditekuni oleh mahasiswa-mahasiswa “program Belanda”. Di dalam Antropologi Indonesia tercakup berbagai kajian seperti religi, ekonomi, perkotaan, etnosinematografi, wanita. Pada umumnya semua kajian ini menggunakan pendekatan historis. Penelitian lapangan intensif yang biasa dilakukan dalam studi antropologi digantikan oleh penelitian kepustakaan dengan mengolah arsip serta dokumen-dokumen zaman penjajahan.

Antropologi sendiri memiliki arti sebagai salah satu cabang ilmu social yang mepelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Menurut Prof. Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Prof. Koentjaraningrat, atau lebih sering saya panggil eyang akung merupakan kakek saya sudah wafat ketika saya kecil. Pak Koen, begitu panggilan akrabnya merupakan dosen Universitas Indonesia jurusan antropologi dan sekarang memiliki gedung bernama “Koentjaraningrat” di kompleks kampus UI di Depok. Beliau sering disebut sebagai Bapak Antropologi Indonesia dikarenakan pandangannya mengenai antropologi. Sampai sekarang mahasiswa antropologi Indonesia masih menggunakan buku yang diciptakan beliau sebagai pedoman belajar. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Prof. Koentjaraningrat, maka saya memutuskan untuk mewawancarai ibu Kustiani Koentjaraningrat yang merupakan istrinya sekaligus nenek saya.

A. Biografi

                                              

Prof. Dr. Koentjaraningrat

            Koentjaraningrat lahir di Yogyakarta pada tanggal 15 Juni 1923. Ayahnya bernama R.M. Emawan Brotokoesoemo dan ibunya bernama Pratitis Tirtotenoyo. Neneknya, ibunda dari ayahnya merupakan salah seorang putri Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Pakualaman VI. “Nenek saya memberikan nama Koentjaraningrat ketika saya lahir. ‘Koentjara’ artinya terkenal, ‘ning’ artinya di dan ‘rat’ artinya dunia. Jadi, terkenal di dunia. Sebetulnya, dalam hidup memang saya berusaha sekali untuk mewujudkan impiannya itu”, begitu kata Prof. Koentjaraningrat.

Emawan Brotokoesoemo bekerja sebagai pamongpraja di lingkungan Pakualaman. Sedangkan R.A. Pratitis Tirtotenoyo berasal dari keluarga besar. Kakak-kakaknya yang wanita tidak berkesempatan untuk menikmati pendidikan Belanda, berbeda dengan Pratitis dan dua adik perempuannya. Setelah pernikahannya, Pratitis tidak lagi bekerja, akan tetapi ia sering dipanggil ke keraton untuk menjadi penerjemah bagi Sri Paku Alam atau permaisurinya bila mereka harus bertemu dengan pejabat atau tamu berbangsa Belanda. R.A Pratitis meninginkan Koen untuk menjalani pendidikan Belanda. Maka dari itu, Koen bersekolah di Europeesche Lagere School, lalu berlanjut di Middelbare Uitgebreid Lager Onderwijs dan Algemeen Middelbare School di Yogyakarta. Lalu setelah itu ia pindah ke Jakarta untuk menyelesaikan sekolahnya. Koen menjadi fasih bahasa Belanda dan Inggris.
           
            Pada masa penjajahan Jepang, Koentjaraningrat bekerja di National Library of Indonesia. Setelah itu, Koentjaraningrat menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada, dengan jurusan Bahasa Indonesia. Karena alasan Politik, beliau tidak diperbolehkan untuk kembali ke Jakarta. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, Koentjaraningrat bergabung dengan Brigade 29 Corps Mahasiswa.

            Koentjaraningrat pindah ke Jakarta setelah lulus dari Universitas Gajah Mada dan mulai mengajar di SMA Boedi Oetomo. Di sekolah itu, ia mengajar Sejarah Kebudayaan. Sambil mengajar, ia meneruskan studinya dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Pada tahun 1952, ia berhasil meraih gelar Doktorandus dalam bidang sastra. Setelah lulus, beliau menjadi asisten Prof G.J. Held yang merupakan ahli antropologi Belanda yang menulis buku The Papuas of Waropen dan juga merupakan guru besar antropologi saat itu. Koenjaraningrat membatu Prof. Held sebagai asisten dalam sebuah penelitian lapangan di Sumbawa. Sejak itu, beliau mulai tertarik pada masalah-masalah kebudayaan dan antropologi.

            Pada tahun 1954, Koentjaraningrat menerima the Fullbright Scholarship di Yale University, New Haven, Conneticut, United States. Di Yale, Koentjaraningrat meneliti untuk menambah informasi Indonesia dalam bidang human relations area files. Beliau lulus pada tahun 1956 dan kembali ke Indonesia. Thesis beliau yang berjudul “A Preliminary Description of the Javanese Kinship System”  di publikasikan pada tahun sesudahnya sebagai Cultural Series Report dari program studi Asia Tenggara Yale University. Pada tahun 1999, yaitu tahun Prof. Koentjaraningrat wafat, Thesis tersebut dideskripsikan sebagai “the best single account of the subject”.
            Setelah kembalinya Koentjaraningrat di Indonesia, Studi Antropologi di Indonesia lahir di fakultas sastra Unitersitas Indonesia pada tahun 1957.  Setelah berhasil meraih gelar doktor antropologi, Koentjaraningrat semakin sibuk dengan kegiatan pendidikan di Jurusan antropologi. Pada tahun 1961, Koen diundang sebagai peneliti antropologi di University of Pittsburgh di Amerika Serikat. Pada tahun 1962, Koentjaraningrat mendapat gelar professor di bidang antropologi di Universitas Indonesia. Ia mengirim murid-muridnya untuk mengajar antropologi dasar di beberapa universitas seperti Universitas Sumatra utara, Universitas Padjadjaran, Universitas Gajah Mada.
           
            Pada tahun 1964, Koentjaraningrat mendirikan Indonesian Centre for Knowledge. Dalam waktu 15 tahun, beliau menulis beberapa buku antropology dan social science research untuk digunakan muridnya. Koentjaraningrat pension pada tahun 1988. Setelah masa pensiunnya, ia mulai melukis. Lukisan karya Koentjaraningrat telah di publikasikan di Taman Ismail Marzuki dan di Paris. Pada tahun 1997, pada saat beliau mengalami stroke,  Koentjaraningrat dan Kustiani Koentjaraningrat naik haji.

            Koentjaraningrat wafat pada usia 76 pada hari selasa, 23 Maret 1999 pada jam 16.25 WIB di rumah sakit Kramat 128, Jakarta Pusat karena stroke dan complications from diabetes. Almarhum kemudian dimakamkan di Karet Bivak.


B. Peranan

            Untuk mengetahui secara lebih lanjut mengenai peranan Koentjaraningrat dalam bidang antropologi, maka saya memutuskan untuk mewawancarai nenek saya Ibu Kustiani Koentjaraningrat, yang merupakan istri dari Prof. Koentjaraningrat. Lalu saya pun bertanya, “Apa saja peranan eyang akung selama hidupnya di bidang antropologi?”, dengan antusias beliau pun menceritakan tentang apa saja peranan Prof. Koentjaraningrat, penghargaan apa saja yang telah diterimanya, dan juga beberapa perkataan murid-muridnya mengenai bagaimana pendapat mereka mengenai Prof. Koentjaraningrat.

            Prof. Koentjaraningrat selama hidupnya dihabiskan untuk selalu belajar dan belajar. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus belajar. Selain itu, beliau membagi apa yang telah ia pelajari kepada murid-muridnya, dengan cara mengajar. Begitu saya diperlihatkan pengalaman mengajar beliau, saya hampir tidak percaya karena banyak sekali sekolah, institusi, perguruan tinggi yang telah dikunjungi beliau untuk menjadi guru disana.

            Prof. Koentjaraningrat dijuluki sebagai “Bapak Antropologi Indonesia” dikarenakan beliau seorang perintis studi Antropologi di Indonesia sejak berdirinya Jurusan Antropologi Universitas Indonesia tahun 1957. Salah satu misinya adalah berniat untuk mengembangkan antropologi, dan memberikan sumbangan terhadap upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Pada awalnya, sumber-sumber ilmu antropologi yang ada di Indonesia berbahasa Belanda. Sehingga tidak banyak orang yang dapat mengerti catatan atau buku tersebut.  Maka Koentjaraningrat menerjemahkan semua sumber-sumber tersebut menjadi bahasa Indonesia yang lebih mudah dimengerti oleh orang Indonesia. Selain menerjemahkan buku-buku antropologi, beliau juga menciptakan karya-karya tentang antropologi berupa buku dan makalah yang mencapai 200 judul. Karya tersebut ditulis beliau dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, dan bahasa pengantar seperti Perancis dan Jepang. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Antropologi (1959), Beberapa Pokok Antropologi Sosial (1974), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1970), Kebudayaan, Mentaliteit dan Pembangunan (1974), Metode Penelitian Masyarakat (1973), Masyarakat Terasing di Indonesia (1993). Masih banyak lagi karyanya yang berupa karangan. Buku-buku dan karangan tersebut sampai sekarang masih dipakai sebagai pedoman belajar mahasiswa jurusan Antropologi di seluruh Indonesia.

            Prof. Koentjaraningrat pernah mengadakan penelitian lapangan ke daerah-daerah pelosok untuk mengetahui cara hidup, kebudayaan, dan lainnya. Seperti penelitian lapangan di daerah pegunungan Serayu Selatan, Jawa Tengah (1958-1959), Di Pantai utara Irian Jaya (Suku bangsa Bonggo, tahun 1963-1964), Masyarakat nelayan Teluk Ijsselmeer di Neegeri Belanda (1967), Desa-desa di pinggiran kota Jakarta (1971), Nilai budaya penduduk daerah semi-industri di Jawa Tengah, Minangkabau dan daerah Batak (1981), Pembangunan dan Perubahan Kebudayaan di Jawa Tengah (1984), dan Kemajemukan suku bangsa di Yugoslavia dan konflik bahasa di Belgia (1987-1988). Ibu Kustiani pun bercerita bahwa pada saat penelitian lapangan, Pak Koen harus mengikuti cara kebudayaan dan tata krama mereka untuk dapat mengetahui bagaimana kebudayaan mereka. Sampai-sampai sempat pada  suatu penelitian lapangan, Pak Koen harus meminum darah ular, dan lainnya yang merupakan cara hidup atau makanan suku tersebut.

            Beliau pernah mendapat dua kali penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1982),  Penghargaan Doctor Honoris Causa dalam ilmu-ilmu Sosial dari Rijksuniversiteit te Utrecht, Negeri Belanda (1976), Lecturer of The Year dari ASAIHL di Manila, Filipina (1978),  Bintang Jasa Utama dari Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia (1994), Kanjeng Pangeran Haryo dari Sri Paduka Paku Alam VIII (1990, karena beliau merupakan keturunan Paku Alam), Grand Prize dari 6th Fukuoka Asian Cultural Prizes (1995), Penghargaan Ilmu-ilmu Sosial dari Himpunan Indonesia untuk pemgembangan Ilmu-ilmu social (1997).

            Saya pun bertanya kepada Ibu Kustiani Koentjaraningrat, “Adakah perkataan atau kesan para murid Prof. Koentjaraningrat mengenai sosok gurunya?” Beliau pun menjawab bahwa ada beberapa kesan dari murid Prof. Koentjaraningrat yang terdapat pada buku “Corat-Coret Koentjaraningrat” yang merupakan karya dari Frieda Dharmaperwira-Amran, salah satu murid dan asisten dari Prof Koentjaraningrat itu sendiri. Ibu Kustiani mengambil buku tersebut dan membolak-balik halamannya sampai ia menemukan perkataan dari Parsudi Suparlan, yaitu “ mungkin tidak ada seorang terpelajar pun di Indonesia yang tidak mengenal nama Prof. Koentjaraningrat atau pun tidak pernah membaca buku-bukunya terutama buku ‘Pengantar Antropologi’ “. Selain itu, Meutia Hatta juga berkomentar, “Pak Koen berusaha keras mengembangkan Jurusan Antropologi. Salah satu upayanya yang paling penting adalah mengarang buku-buku teks Antropologi dalam bahasa Indonesa, Jauh sebelum muncul buku-buku Antropologi lainnya karya para ilmuan Indonesia yang lebih muda.” Selanjutnya Meutia menambahkan, “Pak Koen juga memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi korektor dan penyunting dalam penerbitan.” Menurut Frieda Dharmaperwira-Amran, penulis buku corat-coret Koentjaraningrat, Prof. Dr. Koentjaraningrat adalah seorang ilmuan yang diakui sebagai tokoh, bukan saja karena jasa-jasanya meletakkan dasar bagi perkembangan ilmu Antropologi Indonesia, namun juga karena sikap keilmuannya yan tekun. Dalam usianya yang 74 tahun, lebih dari separuh hidupnya telah dicurahkan untuk ilmu antropologi, pendidikan antropologi dan aspek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesuku bangsaan di Indonesia. Tidak salah jika banyak orang menganggap Koentjaraningrat sebagai Bapak Antropologi Indonesia.

            Kepribadian Koentjaraningrat yang khas meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan para mahasiswanya. Kesan dan pandangan para mahasiswa, kerabat, sahabat, dan koleganya agaknya dapat mengungkapkan jati diri seorang tokoh dalam berbagai aspek kehidupannya di kelas, di rumah, dan di dalam kehidupan sehari-hari. Buku Corat-Coret Koentjaaningrat merupakan ungkapakan kasih dari mantan anak-anak didiknya dan berusaha menampilkan sosok Prof. Dr. Koentjaraningrat sebagai pribadi dan manusia biasa yang terlibat secara social dan emosional dengan lingkungan hidupnya sehari-hari, begitu Frienda menambahkan. 

No comments:

Post a Comment