Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Khansa Nadhifa Mazaya XI IPS 1



Dulu Seorang Tentara di Perang Kemerdekaan, Sekarang Bergerak di Bidang Sosial

Salah satu sejarah yang penting di negara ini adalah saat masa penjajahan. Saya mewawancarai nenek saya mengenai sejarah hidup Kakek saya. Kakek saya adalah seorang veteran perang, dokter, dan berperan dalam bidang sosial. Nenek saya bercerita, namun beliau tidak begitu tahu banyak apa yang kakek lakukan sebelum kemerdekaan. Kemudian saya menelurusi dan mencari-cari beberapa bukti di rumah beliau. Saya menemukan beberapa piagam penghargaan, bukti veteran, ijazah, dan sebagainya. Beliau semasa hidupnya juga sering menulis buku, yang kebanyakan tentang kesehatan. Saya juga menemukan beberapa catatan-catatan yang ditulis oleh beliau semasa perang dengan penjajah dulu. Setelah membaca-baca dan melakukan penyelidikan, saya banyak tau hal-hal yang kakek lakukan. Bahkan banyak dari anggota keluarga kami tidak mengetahui keberadaan catatan-catatan ini dan hal-hal yang beliau lakukan semasa dulunya.


A.  Biografi


  Dr. R.H. Su’dan, MD., SKM
Itulah nama lengkapnya. Beliau lahir di Jogjakarta pada tanggal 15 Januari 1931. Beliau juga salah satu Veteran Pejuang Kemerdekaan RI dengan bintang-bintang tanda jasa seperti Bintang gerilya, Perang Kemerdekaan I, dan Perang Kemerdekaan II.  Beliau bisa berbahasa Inggris, Arab, Jerman dan Belanda.


Sertifikat dari Filipina
Sewaktu mudanya beliau belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Selain itu beliau juga dikirim ke Jepang untuk belajar di “Field of Tuberculosis Control”, dan juga belajar di “Course in Organization of District Tuberculosis Program” India. Beliau mendapatkan beasiswa dari World Assembly of youth, Colombo Plan, dan World Organization ke India, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Burma. Dalam masa tersebut beliau mendapatkan penghargaan sebagai Anggota Kehormatan Research Institute of Tuberculosis di Jepang dan Certificate of Appreciation dari 5th APCDC Manila, Filipina.

Organisasi-organisasi banyak diikuti beliau, seperti contohnya Legium Veteran, Korps Veteran Karyawan. Karena seorang dokter, beliau banyak mengambil bagian dalam organisasi kesehatan seperti  Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, Ikatan Dokter Paru Indonesia, International Union Against Tuberculosis, dan sebagainya. Ya, beliau adalah seorang dokter paru-paru yang lebih mengarah ke penyakit TBC.



Dulu kakek saya tinggal di Karang Kajen dan ikut berperang dalam perang kermedekaan. Kemudian beliau pindah ke Gajah Mada. Kakek saya adalah dosen kedokteran dikirim dari Jogja untuk mengajar fakultas kedokteran Universitas Hasanudin. Dulunya beliau adalah seorang dosen, dosen terbang kalau nenek saya bilang. Artinya beliau tidak pernah mengajar tetap, terkadang mengajar di Makassar kadang di Jogja dan sebagainya. Ketika mengajar di Universitas Hasanudin di Makassar disitulah beliau bertemu dengan nenek saya yang orang Bugis. Mereka menikah pada tahun 1963 dan melahirkan anak pertama, pakde saya, pada tahun 1964. 1967 pulang ke Jakarta dan menetap. Beliau kemudian menjadi dokter di depkagian pemberantasan penyakit paru2 dan di tanah tinggi.
Sertifikat dari Jepang

Beliau suka menulis buku dan artikel-artikel di majalah, terutama di majalah tuberculosis. Sampai sekarang majalah-majalah yang artikelnya dulu sering dia tulis, salah satunya dari Jepang, masih dikirim ke rumah beliau. Bahkan banyak undangan untuk pergi ke Jepang walaupun beliau telah wafat.
   

B. Peranan
beberapa catatan-catatan beliau
 Dari catatan-catatan yang saya baca bisa diketahui bahwa kakek saya seorang veteran perang yang mengikuti Perang Kemerdekaan I dan II pada tahun 1945-1949. Beliau tergabung dalam pasukan Hizbullah yang kemudian menjadi Batalion 25 TNI Angkatan Darat. Pada tanggal 1 Januari 1949 sampai 31 Desember 1949 beliau berjuang di daerah Wehrkeise 101 sebagai Komandan Letnan Kolonel Suharto dan mendapatkan Bintang Gerilya.

Di catatan tersebut beliau bercerita, karena terdesak maka Jepang yang menjajah di Indonesia menggantikan Belanda untuk melatih pemuda Indonesia. Hal tersebut bermaksud untuk membantu Jepang gmelawan sekutu yang dipimpin oleh Amerika-Inggris. Pemuda-pemuda yang dilatih Jepang masuk dalam beberapa kategori. Beberapa yang professional contohnya tentara Heiho dan Polisi-polisi istimewa. Pemuda-pemuda kampung yang dilatih perang sebagian masuk seinendan, dan yang berupa tenaga pembantu saat ada serangan udara disebut keibodan. Selain itu juga ada Kenpeitai, Fujinkai, Romusha, dan sebagainya. Pemuda-pemuda Islam, termasuk kakek saya, dilatih Jepang di Cibarusa dalam Pasukan Hizbullah. Waktu itu beliau masih kecil dan diminta oleh ayahnya, Subadi, untuk mengetik konsepnya. Awalnya mereka beroperasi secara rahasia dan hanya beberapa orang saja yang tahu. Tapi akhirnya Jepang mengetahui gerakan mereka dan melakukan penangkapan. Tapi akhirnya mereka dilepaskan.

Perang kemerdekaan pertama terjadi setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan diproklamasikan tugas pertama adalah melucuti tentara Jepang. Tapi biarpun dengan senjata seadanya, akhirnya Jepang dapat dilucuti. Senjata yang didapat mereka rebut dan bagi-bagikan kepada kelompok-kelompok lain. Kemudian kelompok tersebut dipersatukan dalam Badan Keamanan Rakyat yang kemudian melawan Inggris yang didukung oleh Belanda. Pada waktu itu Inggris menyelenggarakan perjanjian Linggarjati yang menghasilkan gencatan senjata dan pengakuan menjadi daerah Republik. Belanda akhirnya melanggar gencatan senjara dan melakukan serangan. Wilayah-wilayah di Indonesia banyak yang dikuasai oleh Belanda. Akhirnya dewan keamanan PBB campur tangan dan memerintahkan Belanda untuk melakukan gencatan senjata. Diselenggarakanlah pernjanjian Renville yang ditandatangani oleh Amir Syarifuddin. Menurut kakek saya, perjanjian tersebut merugikan Indonesia karena salah satu isinya adalah ditariknya Tentara Kantong. Tapi beberapa bulan kemudian Amir Syarifuddin yang sudah bukan perdana menteri memberontak. Pemberontakan PKI ini berpusat di Jawa Timur. Korban yang ditimbulkan pemberontakan ini jauh lebih banyak dari Belanda. Akhirnya PKI ditumpas dan pemimpin-pemimpinnya dibunuh atau diadili. 

Perang kemerdekaan kedua terjadi sekitar tahun 1947-1949. Meskipun daerah Indonesia sudah makin kecil, Belanda masih belum puas. Pada tanggal 19 Desember 1948. Pasukan payung Belanda diterjunkan di Maguwo dan menyerbu Jogja. Kakek saya bercerita, sewaktu perang kemerdekaan kedua ini beliau dan keluarganyha sempat diserang. Beliau tinggal di Kampung Karang Kajen di perbatasan selatan Jogjakarta. Pada waktu itu Jogjakarta sudah diduki oleh serdadu-serdadu Belanda. Belanda tahu bahwa di Karang Kajen banyak pejuang. Salah satu orang ditawan dan diinterogasi. Karena di siksa akhirnya ia memberitahukan alamat rumah keluarga kakek saya. Orang yang Belanda cari adalah paman dari Kakek saya, M. Bahron Idris yang merupakan komandan Hizbullah dan M. Jindar Tamim yang merupakan Komandan Askar Perang Sabil. Orang ketiga adalah ayah dari kakek saya yaitu R. Subadi yang juga komanda Askar Perang Sabil. Tentu saja, pemuda-pemuda dalam rumah tersebut juga dicari oleh Belanda, sebab pada waktu itu ikut dalam perang gerilya termasuk kakek saya. 
Belanda pun marah ketika mereka menemukan rumah tersebut hanya wanita dan anak-anak. Ketika ditanya para wanita hanya menjawab bahwa suami mereka sudah mati semua. Digeledahlah rumah mereka mencari bukti adanya pejuang. Mereka memecah lemari-lemari kaca dan menyita buku-buku Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Ini yang mereka pakai untuk menjadi bukti bahwa rumah mereka adalah rumah pejuang. Karena tidak menemukan laki-laki seorang pun mereka membawa dua anggota keluarga, yaitu nenek dan bibi ke pos Belanda. Setelah Belanda pergi, ibu beliau keluar kota untuk memberitahu para laki-laki supaya mereka lebih berhati-hati. Para tawanan yang merupakan wanita tidak diperlakukan secara kasar, bahkan mereka diundang jamuan makan malam. Mereka tahu bahwa para tawanan bukanlah janda dan suami-suami mereka adalah pejuang. Namun para tentara Belanda yang saat itu ditugaskan di Jogjakarta mengaku bahwa mereka pergi ke Indonesia karena dipaksa oleh negara. Mereka tahu bahwa sebenarnya negri mereka salah. Di Jogjakarta Belanda tidak pernah menang, selalu kalah dalam perang gerilya. Komandan pos tersebut mengatakan bahwa mereka pasti terpaksa mundur sebentar lagi. Waktu itu pos-pos di luar Jogja sudah dikosongkan dan hanya di sana yang masih bertahan. Serdadu-serdadu Belanda tersebut sebenarnya sudah sangat rindu pada keluarga dan ingin pulang. Mereka saling bertukar cerita dengan tawanan-tawanan dan melupakan bahwa seharusnya mereka menginterogasi. Keesokan harinya tawanan dipulangkan. Cerita para wanita membuat semangat para pejuang terus bertambah.

Bukti Veteran
Selama ini berlangsung, para pria sedang melakukan Perang Gerilya melawan Belanda. Serangan gerilya dari luar kota Jogja membuat tentara Belanda repot. Tentara Belanda yang ditugaskan di Jogjakarta terus melakukan serbuat ke luar kota, yang tentu saja tidak pernah berhasil. Pada masa ini kekuasaan Belanda sebenernya tidak lebih dari 1 km. Bahkan kota Jogjakarta sebenarnya tidak sepenuhnya di bawah kekuasaan mereka. Akhirnya pada tanggal 1 Maret 1949 Jogjakarta berhasil mereka rebut. Dibukalah siding dewan keamanan PBB yang memutuskan bahwa Jogjakarta dikembalikan kepada Indonesia dan seluruh pasukan Belanda ditarik mundur. Disiarkan berita-berita di radio bahwa Belanda akan mundur, mula-mula dari Jogjakarta dan akhirnya seluruh Indonesia. Kemudia kemerdekaan Indonesia akhirnya diakui oleh dunia. Mereka semua yang merupakan pejuang akhirnya kembali ke sekolah dan melanjutkan pendidikan sampai akhirnya menjadi sarjana. Paman kakek saya, M.Jindar Tamimi, memmbina Muhammadiyyah.

Pada tahun 1976 beliau mulai lebih banyak bergerak di bidang sosial. Nenek saya bercerita bahwa kakek saya lebih suka bergerak di bidang sosial daripada praktek menjadi dokter. Sekitar tahun ini kakek saya bekerja di Pertamina Pangkalan Berandan menjadi dokter spesialisasi paru-paru. Kakek saya juga adalah anggota Muhammadiyah dan sering menulis untuk majalah-majalahnya. Beliau adalah Ketua Badan Dakwah Islam pada waktu itu dan pekerjaannya adalah mengislamkan orang-orang serta menyebarkan ajaran-ajaran bagi orang-orang yang masih awam.

Tahun 1978 beliau pindah kembali ke Jakarta dan bekerja di Pertamina dekat Gambir. 1980 membangun yayasan sosial di kapuk muara bersama teman2nya. Salah satunya Abu Thara dengan Rahmat Hussein membuat yayasan anak asuh.  Beliau dan teman-temannya membiayai sekolah anak-anak dhuafa di Kapuk Muara yayasan Ittiqon. Mereka mulai dari pinggir kali. Tujuannya ingin mencerdaskan anak-anak dhuafa, terutama anak2 pemulung. Para pemulung sering bilang “Ah sudah biarkan sajalah anak2 kami sama seperti kami menjadi pemulung juga.” Tapi kakek saya selalu bersikeras untuk menyekolahkan mereka.  “Pemulung juga haru dididik, pemulung juga harus pintar baca tulis. Agar tidak mudah di pengaruhi orang.” Kata beliau. Diajak lah anak-anak untuk bersekolah mulai dari pinggir kali tersebut. Mulailah sedikit demi sedikit mencari murid untuk masuk sekolah ini, dan tentu saya tidak ada biaya apapun. Cara mencari muridnya yaitu didatangi dari rumah ke rumah, bahkan naik getek. Biaya yang didapatkan dihimpun dari donator-donatur. Mulai dari teman-teman terdekat sampai sukarelawan. Mulailah dari situ mereka memperbaiki yayasan tersebut sedikit demi sedikit. Dulunya sekolah ini masih sederhana, dindingnya terbuat dari gedek dan tidak memiliki fasilitas yang memadai. Sekarang sekolahnya sudah bagus dan bertingkat serta terus berkembang. Yayasan tersebut masih berdiri di Kapuk Muara Penjaringan Jakarta Utara. Menerima murid TK-SMK, dan tentu saja bewawasan Islami. Sampai sekarang sekolah tersebut tidak bayar. Dari sebelum pemerintah mengadakan program sekolah gratis, sekolah ini sudah berdiri dan menyekolahkan banyak anak-anak dhuafa. Murid dari sekolah ini sekarang sudah mencapai 1600 orang.


Beliau kemudian meninggal pada tahun 22 Maret 1999. Segala pekerjaan sosial yang dulu kakek saya lakukan sekarang dilanjutkan oleh nenek saya. 

beberapa buku karangan
 
Dalam catatannya beliau berpesan, “Pada saat-saat seperti ini kita harus mengingat para pejuang kemerdekaan. Yang sebagian telah gugur mendahului kita, banyak yang tidak diketahui dimana kuburnya. Sebagian mengalami cacad tubuh, mental, dan sosial, dan belum memperoleh santutan. Sebagian lagi masih utuh, tetapi belum memperoleh penghargaan yang semertinya. Dan kita juga harus ingat kepada seluruh rakyat yang dulu menjadi tulang punggung perjuangan. Mereka bahkan sama sekali hampir tidak mendapat penghargaan sama sekali tidak mendapat penghargaan padahal besar sekali jasa mereka. Merekalah dulu yang memberi makan kita para pejuang, menyediakan rumah, dan lain-lain perlengkapan untuk keperluan perjuangan. Kami semua adalah orang yang dalam istilah bahasa Jawa disebut nyawa saringan. Artinya beberapa kali kami dapat meloloskan diri dari maut dengan selamat. Sayang sekali tidak semua kawan kami bernasib baik demikian, beberapa orang gugur menjadi Syuhada.”

Sejarah adalah segala hal yang terjadi pada masa lampau. Peristiwa-peristiwa sejarah merupakan hal penting yang dialami oleh manusia. Sejarah adalah sebuah pelajaran bagi setiap orang, oleh karena itu keaslian dari sebuah sejarah perlu dipertahankan. Tentu saja, sejarah memerlukan saksi-saksi dan catatan-catatan untuk membuktikan sejarah itu sendiri. Sejarah bukan selalu cerita tentang perang ataupun sebuah kejadian besar. Melainkan setiap hal yang terjadi adalah sebuah sejarah. Kita sebagai generasi penerus kemerdekaan hendaknya terus berkarya dan melanjutkan perjuangan para pejuang yang telah mendapatkan kebebasan negara ini.

“Inilah sebenarnya yang kita perjuangkan dalam perang-perang kemerdekaan yang banyak menelan korban dulu.” 
-Su'dan-

No comments:

Post a Comment