Tuesday, 21 May 2013

Tugas-2 Biografi Kristal Amalia XI IPA 1

Kakek Mun, Pahlawan Kemerdekaan dari Baturaja

Saya pergi mewawancarai Ibu Martiana Murod, yang akrab saya panggil Nenek Tien ke kediamannya di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Beliau merupakan istri Jenderal TNI (Purn) Makmun Murod, yang akrab saya panggil Kakek Mun, dan adik dari nenek saya.

A. Biografi
Makmun Murod – Lahir pada hari Jumat, 24 Desember 1925 di Kota Baturaja, Ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Meninggal pada hari Selasa, 13 September 2011 di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Kakek Mun merupakan putra ketiga dari pasangan Muhamad Murod (almarhum) dan Zuriah (almarhumah). Beliau melewati masa kecilnya di Dusun Baturaja, yang sekarang disebut Kota Baturaja. Kakek Mun menyelesaikan tingkat sekolah dasar di daerah tersebut pada tahun 1939, dan beruntung sempat melanjutkan ke Inheemsche Mulo – setingkat SMP untuk anak-anak Bumiputera di Palembang – namun tidak dapat beliau selesaikan karena Perang Dunia II. Pasukan Jepang pun datang ke Indonesia, dan merebut Indonesia dari Belanda.

Beberapa bulan sebelum pasukan militer Jepang datang ke Palembang pada bulan Februari 1942, Kakek Mun sudah kembali ke Baturaja. Namun, beliau sempat mendengar dari cerita banyak orang, bahwa pasukan Belanda dan Sekutu serta masyarakat di Palembang sempat terpana menyaksikan rakkasan – tentara payung – yang memenuhi angkasa, dijatuhkan dari pesawat angkut militer Jepang. Pasukan Belanda dan Sekutu sudah mati kutu terlebih dulu, meskipun yang dijatuhkan dari pesawat awalnya hanya boneka-boneka, baru kemudian rakkasan yang sebenarnya. 

Karena suasana yang gempar, Inheemsche Mulo pun tutup. Sekitar dua bulan kemudian, sekolah-sekolah di Jawa pun mulai dibuka kembali. Namun Kakek Mun kecewa ketika mengetahui bahwa di Palembang, yang dibuka kembali hanya tingkat sekolah dasar.

Menjelang akhir tahun 1942, masa berbasa-basi saudara tua (Jepang) mulai berakhir dan kehidupan rakyat mulai ditekan, salah satunya dengan romusha. Keluarga Kakek Mun akhirnya memutuskan untuk membuka ladang untuk mempertahankan kehidupan. Beruntung karena berasal dari keluarga besar Pangeran Hadjib, seluruh keluarga beliau terhindar dari menjadi anggota romusha.

Keinginan Kakek Mun untuk melanjutkan pendidikan terpenuhi dengan kesempatan beliau memasuki Mizuho Gaku-En, sekolah pendidikan calon pegawai guna keperluan birokrasi pemerintahan Jepang, yang berada di Jalan Merdeka sekarang. Pendidikan di sana sangat ketat, sedisiplin pendidikan militer. Sanksi yang diterapkan pun memperkuat kesatuan antarteman. Misalnya kamar asrama ketahuan kotor, maka seluruh penghuni kamar diharuskan saling memberi tamparan yang keras kepada sesama teman kamar.

Setelah lulus dari Mizuho Gaku-En, Kakek Mun ditugaskan pada kantor bupati di Baturaja. Beliau mahir melaksanakan pekerjaannya, namun tidak puas dengan apa yang didapatkannya. Dalam masa itu, duka derita rakyat Indonesia bersama "Saudara Tua" semakin terasa berat. Sebelum kedatangan Jepang, banyak beredar obat kerongkongan merk Jintan dengan gambar Jenderal Jepang menunggang kuda. Pedagang Jepang dulunya mengatakan bahwa Jintan berarti "Jenderal Japan Ini Nanti Tolong Anak Negeri." Tapi setelah Jepang membuat rakyat sengsara, Jintan pun diartikan sebagai "Jenderal Japan Ini Nanti Tindas Anak Negeri."

Kakek Mun semakin merasa risih bekerja di kantor bupati. Namun Kakek Mun menemukan jawaban dari kegundahannya ketika Pemerintah Jepang di Keresidenan Palembang membuka Giyugun, Tentara Pembela Tanah Air, seperti PETA yang sudah lebih dulu didirikan di Jawa. Beliau ingin menjadi prajurit Pembela Tanah Air yang diyakininya akan merdeka, suatu saat nanti.

Memasuki Giyugun menjadi alasan yang tepat untuk meninggalkan Kantor Bupati Baturaja, karena dengan demikian bisa diartikan masih dalam rangka memenangkan perang Asia Timur Raya. Kakek Mun melaksanakan pendidikan Giyugun. Di Pagaralam, Sumatera Selatan, sejak akhir tahun 1943 sampai pertengahan tahun 1944. Selesai pendidikan, Kakek Mun diangkat sebagai Shodancho, komando peleton.

B. Peranan
Selama ditempatkan dibeberapa daerah, Kakek Mun menyadari betapa kejamnya tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia – sangat tidak manusiawi. Namun tekanan ini menumbuhkan rasa cinta tanah air, membangkitkan harga diri untuk berjuang memerdekakan diri pada saatnya nanti.

Sejak tahun 1944, tidak terdengar berita kemenangan Jepang dari medan perang. Namun lihainya, kantor berita memutar balik persoalan dengan mengatakan bahwa kekalahan hanyalah kemenangan yang ditunda, dan kemunduran dikatakan sebagai ancang-ancang untuk menyerang.

Pada awal tahun 1945, Kakek Mun selaku Shodancho Giyugun ditempatkan di Lahat, Sumatera Selatan. Dengan memperhatikan keadaan sehari-hari, ekspresi perwira Jepang, dan mendengarkan berita radio, beliau dan kawan-kawannya memperkirakan bahwa kekuasaan Jepang tidak akan bertahan lama. Sejak bulan Juli 1945, wajah dan sikap perwira Jepang terlihat kuyu dan lesu.

Akhirnya semua yang telah dirahasiakan oleh pihak Jepang terbuka pada bulan Agustus 1945. Para perwira Giyugun termasuk Kakek Mun dikumpulkan oleh perwira Jepang dan diberitahu bahwa Jepang sudah memutuskan untuk menyerah dalam perang setelah dijatuhkannya bom di Hiroshima dan Nagasaki. Karenanya, Giyugun dinyatakan bubar. Janji kemerdekaan yang akan diberikan pemerintah Jepang, serta status para mantan perwira Giyugun selanjutnya sama sekali tidak disinggung dalam briefing itu.

Perwira-perwira Giyugun merasa tidak puas, bukan karena status dan posisi mereka, namun karena mengkhawatirkan apa partisipasi selanjutnya yang dapat dilakukan sebagai anak bangsa dalam perjuangan kemerdekaan.

Kakek Mun pun memberi pendapat untuk kembali ke Palembang dan mencari informasi yang jelas, dengan menghubungi tokoh-tokoh perjuangan seperti dr. A.K. Gani. Kawan-kawan beliau pun setuju, dan berangkat ke Palembang dengan modal beberapa slof rokok jatah perwira Jepang yang dapat dijual untuk biaya pulang.

Sesampainya di Palembang, Kakek Mun bersama kawan-kawan mantan perwira Giyugun langsung menghubungi dr. A.K. Gani yang belum lama dibebaskan dari tahanan Jepang. Beliau bersama sekumpulan kawan tersebut mengatakan bahwa mereka, mantan perwira Giyugun dari Lahat, siap untuk mendukung dr. A.K. Gani, yang baru diangkat sebagai Residen Palembang.

Sesuai dengan instruksi Pemerintah Pusat di Jakarta tanggal 19 Agustus 1945, maka sejak tanggal 13 September 1945, BPKR (Badan Penjaga Keamanan Rakyat) di daerah Palembang yang baru dibentuk diubah namanya menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR). Yang bergabung dalam badan ini ialah para mantan perwira Giyugun, para mantan Heiho, para mantan anggota organisasi bentukan Jepang seperti Seinendan, Keibodan, dan bahkan remaja yang belum pernah mendapat latihan kemiliteran sebelumnya. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR secara resmi dinamakan TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Pada tanggal 12 Oktober 1945, pasukan Sekutu (Inggris) mendarat di Palembang. Sebelumnya, Residen Palembang dr. A. K. Gani telah menerima telegram dari Adinegoro, Ketua Komite Nasional Indonesia Sumatera di Bukittinggi yang menyatakan bahwa Inggris telah mengakui RI secara de facto dan tidak akan memberi kesempatan kepada pihak Belanda untuk mendatangkan tentara ke Indonesia. Namun nyatanya, Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan tentara Belanda ikut serta pada setiap pendaratan Sekutu, dan memancing kerusuhan.

Dalam susunan Komandemen Sumatera yang dibentuk oleh dr. A. K. Gani selaku Koordinator TKR se Sumatera pada tanggal 27 Desember 1945, Kakek Mun diiangkat sebagai Komandan Batalyon II Resimen IV. Kakek Mun hanya memangku jabatan tersebut dalam sekitar 6 bulan yang penuh usaha menata organisasi agar kesatuan beliau menjadi siap tempur.

Namun pada bulan Juni 1946, Kakek Mun harus meninggalkan Baturaja untuk memangku jabatan baru sebagai Komandan Batalyon 32 Resimen XV Divisi II Garuda yang bermarkas di Jalan Sekanan, Palembang. Pada saat itu, aparat NICA dan tentaranya telah menggantikan kedudukan pasukan Sekutu. Selaku Komandan Batalyon, beliau merasa harus lebih meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan pribadi. Beliau selalu mengatakan kepada seluruh anggota kesatuannya, “Jangan sampai kita diserang ketika sedang terlena.”

Seringkali NICA melakukan provokasi. Bila keadaan beliau anggap cukup panas, maka Kakek Mun memilih untuk tidak pulang ke rumah dan bermalam bersama anak buahnya di Markas Batalyon agar selalu siap selama 24 jam penuh. Alhamdulillah, beliau berhasil mengendalikan keadaan sehingga tidak terjadi insiden untuk sekian lama.

Barulah pada tanggal 28 Desember 1946, pertempuran di Kota Palembang kembali berkobar, dengan dipicunya penembakan mati Dungtjik, seorang anggota Badan Perjuangan yang sedang melewati pos pertahanan Belanda di depan Benteng. Akhir-akhir itu, Panglima Komandemen Sumatera, Mayor Jenderal Suharjo Hardowardoyo sedang berkunjung ke Palembang dan berpidato, berkata kepada pasukan TRI di Palembang, Padang, dan Medan agar selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Hal ini dianggap oleh Belanda sebagai suatu provokasi untuk melakukan serangan.

Di malam hari itu, Belanda melanggar garis demarkrasi yang telah ditentukan. Dua buah Jeep yang dikendarai serdadu-serdadu Belanda bergerak menuju Rumah Sakit Charitas, kubu pertahanan Belanda, sambil melepaskan tembakan secara membabi-buta. Pasukan TRI pun segera merespon provokasi tersebut, dan meletuslah pertempuran yang berlangsung sekitar delapan jam.

Pertempuran dapat dihentikan setelah diadakan perundingan, namun baru saja barikade-barikade yang dihadangkan oleh para pejuang di depan pos-pos Belanda disingkirkan, pada tanggal 29 Desember 1946 siang terjadi lagi insiden bersenjata, sehingga pertempuran berkobar sampai keesokan harinya.  Situasi pertempuran kali ini tidak menguntungkan Belanda, dengan pos-pos pertahanan mereka di BPM Handelzaken, Benteng, Rumah Sakit Charitas dalam keadaan terjepit, mereka meminta diadakan gencatan senjata, yakni penghentian perang sementara.

Suasana masih terasa mencekam pada tanggal 31 Desember 1946, sehingga Kakek Mun mengirim utusan ke rumah untuk memberitahukan bahwa pada hari itu sampai malam tahun baru akan beliau lewatkan di Markas Batalyon. Kalau keadaan pada tanggal 1 Januari sore aman, baru beliau akan pulang. Beliau hanya dapat meyakinkan diri bahwa keluarganya dapat mengerti, dan menerima keputusannya.

Hari Tahun Baru pun datang. Pada hari Rabu, 1 Januari 1947, Kakek Mun terbangun karena bunyi beduk dan suara adzan Subuh yang berkumandang. Setelah shalat Subuh dan menggunakan seragam lengkap, dari kamar kerja beliau sayup-sayup terdengar suara tembakan secara sporadis di kejauhan. Namun beliau tidak menghiraukannya, karena hal tersebut sudah sering terjadi sejak pendaratan pasukan NICA pada akhir Oktober 1946 untuk menggantikan pasukan Inggris. Tembakan tersebut biasanya bersifat provokatif, dan bisa diredam jika pasukan tanah air mampu menahan diri, emosi, namun tetap siap siaga.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah-langkah cepat memasuki ruangan Kakek Mun, yang rupanya merupakan Perwira Piket yang datang dengan wajah tegang. Perwira Piket tersebut melaporkan bahwa pertempuran telah pecah dengan NICA. Beberapa truk serdadu-serdadu NICA telah melepaskan tembakan kepada rakyat di sekitar Masjid Agung. Tembakan tersebut telah dibalas oleh Letnan Ahmad Malaya, pejuang asal Malaya.

Mendengar pertempuran yang telah dimulai, Kakek Mun pun memerintahkan Perwira Piket agar memastikan seluruh anggota kesatuannya siap berada di pos masing-masing. Namun, dalam hati sebenarnya beliau menyadari bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan, baik oleh diri pribadi beliau maupun anggota kesatuan, jika pihak musuh dalam jumlah besar menyerbu Markas Batalyon. Musuh memiliki senjata yang jauh lebih lengkap daripada milik anggota kesatuan Kakek Mun, yang hanya memiliki beberapa senapan ringan dengan munisi yang terbatas. Pada saat itu, naluri beliau sebagai prajurit berkata bahwa pertempuran kali ini akan menjadi pertempuran yang berat, berlangsung lama, dan menelan banyak korban. Tetapi bagi seorang pejuang, kata mundur adalah pantang, meski jiwa menjadi taruhan.

Tak lama kemudian, para staf batalyon telah berada di ruang kerja Kakek Mun, dan melaporkan bahwa kompi-kompi telah siap menghadapi segala kemungkinan sesuai petunjuk yang telah diberikan. Dilaporkan pula bahwa telah dikirim anggota kesatuan untuk membantu dan mengkoordinasikan pertahanan rakyat di kampung-kampung yang berada di bawah tanggung jawab Batalyon 32/XV.

Selanjutnya, Markas Batalyon 32/XV didatangi oleh beberapa perwira staf Resimen, termasuk Mayor Zurbi Bustan selaku Komandan Resimen XV. Secara resmi, Kakek Mun melaporkan kegiatan kompi-kompi dalam Batalyon 32 dan hal-hal yang sudah dilakukan kepada Komandan Resimen XV tersebut. Mayor Zurbi Bustan pun menjelaskan bahwa beliau telah diinformasikan berita mengenai pertempuran dengan tentara Belanda yang dimulai lagi sekitar pukul 10 pagi.

Ternyata keadaan berkembang pesat, sehingga Mayor Zurbi Bustan tidak dapat menembus jalan besar menuju ke Markas Resimen. Di sepanjang koridor keamanan Belanda yang telah ditetapkan, yakni di jalan yang menghubungkan konsesi Talang Semut sampai ke Rumah Sakit Charitas, tank dan panser Belanda telah mondar-mandir dan terus melepaskan tembakan.

Kemudian Mayor Zurbi Bustan, para perwira staf Resimen, serta Batalyon 32 termasuk Kakek Mun selaku komandannya segera berdiskusi mengenai apa yang patut dilakukan selanjutnya. Seluruhnya menyadari bahwa akan sulit untuk merebut salah satu kubu pertahanan Belanda hanya dengan persenjataan sederhana terbatas dengan anggota kesatuan yang umumnya belum berpengalaman dalam pertempuran besar.

Bahkan jika pasukan TRI dapat merebut pos Belanda yang kecil dan terpencil sekalipun, pihak Belanda dapat mendatangkan bala bantuan dengan pasukan dan persenjataan yang lebih hebat, kemudian pos tersebut akan dapat direbut kembali. Akhirnya, diskusi berakhir dengan memutuskan untuk mengadakan gangguan kepada Belanda dengan memberi tembakan balasan, dan menyerang Kubu Pertahanan Belanda jika memungkinkan. Yang penting, Belanda dapat menyadari bahwa pasukan TRI mampu memberi perlawanan serius, serta secara serentak sanggup mengorbankan jiwa raga untuk membela kemerdekaan Indonesia.

Pada siang hari itu juga, satuan Batalyon 32/XV berusaha mengadakan serangan ke pos pertahanan Belanda di Benteng Kuto Besak. Tetapi pasukan tidak berhasil menghampiri Benteng karena terhambat oleh tembakan gencar dari pos-pos Belanda yang lain. Peluru-peluru mortir juga mulai ditembakkan Belanda dari Benteng, ditujukan ke pos-pos TRI di Markas Batalyon 32/XV.

Satu kelompok kecil dari Batalyon 32/XV mulai mengadakan serangan gangguan pada pos pertahanan Belanda di Gedung Jacobson V.D. Berg. Mereka berhasil menyusup mendekati pos tersebut, dan secara sembunyi-sembunyi melepaskan tembakan-tembakan dengan gencar dengan berlindung di bawah rumah rakyat yang tinggi. Sayangnya, Sersan Hasnul Bachri, salah satu pimpinan kelompok ini yang hanya bersenjatakan pedang samurai dan granat, gugur dalam perkelahian.

Kompi I, II, dan III Batalyon 32/XV pun mulai menyebar dan menyerang pos-pos pertahanan Belanda yang lain. Karena gencarnya serangan yang dilakukan pasukan TRI sejak pagi sampai sore, pasukan Belanda terpaksa tetap bertahan di pos-pos mereka sembari melepaskan tembakan. Menjelang pukul 18.00, pasukan Belanda menambah skwardron tank dan panser, yang beroperasi dengan diikuti pasukan Stoot Troepen yang mendesak posisi pasukan TRI. Akhirnya, Belanda mulai berhasil menguasai Kantor Pos, Kantor Telepon, Kantor Walikota, Kantor Residen, dan menutup Jalan Guru-Guru.

Pasukan TRI yang berada di sekitar Jalan Guru-Guru pun mengundurkan diri dan menyusun garis serta daerah pertahanan baru di sekitar Kebon Duku dan Kepandean, untuk mencegat gerak maju tentara Belanda guna memberikan bantuan pada pasukannya di kubu Rumah Sakit Charitas. Sementara, pasukan TRI yang berada di sekitar Masjid Agung, Tengkuruk sampai Pasar Lingkis, tetap bertahan memberi perlawanan, sambil memastikan bahwa pasukan Belanda tidak menguasai dan menggunakan jalan Tengkuruk untuk membantu kubu Rumah Sakit Charitas. Di sekitar rumah sakit tersebut dan sekitarnya, termasuk daerah sekitar Talang Betutu, juga terdapat pasukan TRI dari Resimen XVII yang melancarkan serangan dan pengepungan.

Pihak Belanda yang kewalahan menghadapi serangan pasukan TRI mulai meningkatkan kemampuan persenjataan otomatisnya. Usaha tersebut berhasil mencegah pasukan TRI yang berusaha melakukan penyerbuan ke Rumah Sakit Charitas. Pasukan dari staf Kompi Batalyon 32/XV mulai mengundurkan diri dari menyerang Benteng, dan menyatukan diri dengan pasukan di Kebon Duku.

Sekelompok kecil dari pasukan Kompi III Batalyon 32/XV gagal untuk menerobos pasukan Belanda ke daerah Talang Semut. Belanda sempat mencoba untuk mengepung pasukan tersebut, namun siasat tersebut dapat disampaikan ke Kompi II Batalyon 32/XV, sehingga satuan Kompi III mengubah siasat dengan menyebar dan menyusup ke kampung sekitar Bukit Siguntang dan kampung yang menuju ke arah 35 Ilir, sekaligus melindungi pasukan TRI lain yang ada di sana.

Pada malam harinya, Komandan Resimen XV Mayor Zurbi Bustan memutuskan untuk menyerang pos pertahanan Belanda di BPM Handels Zaken guna menaikkan semangat juang para prajurit. Siasatnya, satu unit pasukan akan menyusup dan menunggu di sekitar Jembatan Karang. Kemudian, unit lain melakukan pancingan dengan melepas tembakan langsung ke pos Belanda di gedung BPM Handels Zaken.

Komandan Resimen XV dengan diikuti oleh Kakek Mun selaku Komandan Batalyon 32/XV, melaksanakan pancingan dengan melepas tembakan ke pos pertahanan Belanda. Di dalam pasukan ini terdapat seorang Laskar keturunan Cina yang dikenal dengan panggilan A Sing.

Sesampainya rombongan Komandan Resimen XV, mereka berlindung di belakang barikade kawat berduri dan karung-karung pasir. Dari posisi inilah tembakan-tembakan dapat dilancarkan ke pos pertahanan Belanda. Dalam sekejap, Belanda membalas gencar dengan tembakan ke arah kelompok kecil yang dipimpin oleh Komandan Resimen XV dan pasukan yang menyusup di sekitar Jembatan Karang. Dalam tembak-menembak ini, A Sing terkena tembakan pada dadanya, dan segera dibawa ke rumahnya di Lorong Roda dengan pengawasan dan perawatan medis.

Usaha untuk melumpuhkan pos pertahanan Belanda di BPM Handels Zaken pada akhirnya tidak berhasil karena kekuatan persenjataan yang tidak seimbang. Menjelang tengah malam, Komandan Resimen memutuskan untuk menunda serangan. Sekelompok kecil pasukan TRI ditinggalkan di pos pertahanan Belanda tersebut sebagai pengintai, dan untuk mencegah dengan tembakan-tembakan agar Belanda tidak dapat keluar dari gedung BPM Handels Zaken, serta mencegah bantuan dari kubu Belanda di Talang Semut.

Kakek Mun menerima berita bahwa A Sing tidak dapat diselamatkan. Luka beliau terlalu parah, sementara obat-obatan tidak memadai. Penyaluran bantuan pasukan dan Laskar serta bahan makanan dari luar kota tertahan di Kertapati karena perairan Sungai Musi dikuasai oleh Angkatan Laut Belanda. Kapal-kapal motor sudah mondar mandir mengontrol perairan tersebut, sambil melepaskan tembakan-tembakan ke arah pertahanan RI di pinggir Sungai Musi.

Alhamdulillah, pada malam harinya bala bantuan pasukan dari Seberang Ulu untuk pasukan di Seberang Ilir berhasil menembus blokade Belanda dengan menggunakan perahu-perahu rakyat. Bantuan tesebut sebagian disalurkan ke Batalyon 32/XV serta bagian Front Seberang Ilir lainnya, juga untuk Batalyon 34/XV di daerah Front Seberang Ulu.

Hari pertama pertempuran itu berakhir. Kemudian dimulailah hari Kamis, 2 Januari 1947 dengan kabar dari Pasukan Kompi II/34/XV yang sempat menduduki kamp Belanda di Bagus Kuning, menancapkan Sang Merah Putih, serta menurunkan dan merobek bendera Belanda sejak pukul 02.00. Sayangnya, seperti yang diperkirakan, Belanda dapat merebutnya kembali sekitar Subuh.

Belanda juga mulai mengerahkan pasukannya dari Talang Betutu dan berhasil menerobos masuk ke Rumah Sakit Charitas dan menyelamatkan pasukan mereka di sana. Agar bantuan tersebut tidak dapat ditingkatkan, pasukan Batalyon 30/XVII dan perwira lainnya mengadangan penyerangan ke kedudukan Belanda di lapangan udara Talang Betutu.

Sementara itu, di daerah Front Seberan Ilir, pertempuran sejak pagi berkobar dengan sengit. Belanda membabi-buta menembakkan mortir ke arah Sekanak, Suro, Tangga Buntung, dan Pebem. Tujuan utama mereka adalah menembaki Markas Batalyon 32/XV di Sekanak, Kompi II/32/XV di Suro, pos-pos TRI dan laskar lainnya. Namun tembakan ini juga mengenai daerah pemukiman rakyat yang menimbulkan korban.

Hubungan antara Kompi Markas Batalyon 32/XV dengan Kompi II di Suro serta Kompi III di Bukit Besar dan Bukit Siguntang sudah terputus sejak hari Rabu kemarin. Kurir praktis tidak begitu bermanfaat, karena penyampaian pesan memakan waktu lama sementara situasi cepat berubah – kedudukan Markas Kompi sangat labil dan goyah. Komunikasi memang penting; Komando tanpa alat komunikasi tidaklah efektif. Namun kompi-kompi ini mengetahui bahwa mereka harus berupaya untuk meninggalkan daerah pertahanan mereka, kecuali keadaan mendesak ketika menghadapi kekuatan Belanda yang tak seimbang.

Menjelang sore hari, kedudukan Markas Batalyon 32/XV terancam oleh serangan Belanda dari arah Benteng yang menggunakan panser dengan bantuan tembakan udara. Pada malam harinya, atas perintah dan persetujuan Komandan Resimen XV, Kakek Mun memindahkan Markas Batalyon 32/XV ke tempat yang lebih aman. Komando Batalyon 32/XV pun mulai bergerak. Lewat tengah malam, Komando tersebut mampir ke Komando Kompi II/32/XV di daerah Tatang, untuk memerintahkan mereka agar tetap menguasai jalan dari arah Talang Semut ke arah Suro.

Keadaan gelap di malam hari menguntungkan Komando Batalyon 32/XV sehingga dapat bergerak menyusup mendekati pos dan garis pertahanan Belanda untuk melepaskan tembakan dan melemparkan bom. Pasukan Belanda mulai terlihat kacau, sehingga mereka menggunakan pistol sinar atau peluru kembang api yang dapat menyinari daerah terbatas, diiringi dengan menembaki benda-benda yang terlihat bergerak.

Keadaan ini dimanfaatkan Komando Batalyon 32/XV dengan mengikat beberapa semak belukar menggunakan tali yang dapat digerakkan dari jarak jauh. Gangguan ini disambut dengan tembakan gencar dari pasukan Belanda, yang paling tidak dapat menguras peluru-peluru mereka.

Di hari kedua pertempuran itu, Kakek Mun mulai merasakan kurangnya persediaan peluru dan pangan. Bantuan dari luar kota sulit diperoleh dengan pengawasan kapal dan pesawat terbang Belanda. Namun, partisipasi rakyat dalam kota dalam membantu pangan dan bantuan medis dari Palang Merah sangat menyemangati prajurit dalam berperang.

Menurut Kakek Mun, kemenangan sementara yang Belanda peroleh setelah dua hari pertempuran sebenarnya bisa lebih sukses dengan kekuatan dan modernnya persenjataan yang mereka miliki. Semangat juang dan tekad untuk membela serta menegakkan kemerdekaan yang dimiliki setiap prajurit TRI, Laskar, serta rakyat pejuang sangatlah tinggi. Meski korban berjatuhan, senjata sangat minim dan sedehana, kekurangan peluru, logistik, dan pangan, mereka tetap berjuang dengan gigih.

Pada hari Jumat, 3 Januari 1947, Belanda mengerahkan pasukan darat, laut, dan udaranya untuk meningkatkan serangan guna menduduki gari pertahanan pasukan TRI dan Laskar. Dari sungai Musi, kapal-kapal motor bersenjata Belanda terus menembak. Dari udara, pesawat-pesawat Belanda menjatuhkan bom, termasuk Komando Markas Batalyon 32/XV meskipun tidak mengenai sasaran. Namun serangan-serangan ini menyebabkan kebakaran di beberapa daerah pemukiman penduduk.

Sementara itu, pertahanan Belanda di Rumah Sakit Charitas terus mendapat gempuran hebat dan dikepung ketak oleh pasukan TRI dan Laskar. Sebagian iring-iringan panser Belanda melepaskan tembakan kepada pasukan TRI di sekitar Masjid Agung dan Jalan Tengkuruk. Pasukan TRI melancarkan perlawanan sengit, namun di saat itu pula Lettu Joko Suroyo gugur. Iring-iringan panser Belanda akhirnya dapat menerobos ke kubu Rumah Sakit Charitas setelah menguasai Pasar Lingkis. Alhamdulillah, pada pukul 17.00 pasukan TRI berhasil merebut kembali Pasar Lingkis.

Sayangnya, kelompok-kelompok kecil berisi panser Belanda dengan leluasa menyerang posisi pasukan TRI, yang akhirnya mengundurkan diri dan bergabung dengan pasukan TRI lain di sekitar Lorong Pagaralam dan Lapangan Hatta. Di daerah lainnya, Emma Laan, pasukan TRI berhasil menggugurkan tiga orang serdadu KL Belanda, meski tangan Letda Usman Diah tertembak. Pasukan TRI yang berhasil menimbulkan kekacauan di pihak Belanda tersebut kemudian mengundurkan diri dan pergi mengambil posisi yang lebih menguntungkan.

Di tepi Sungai Musi, pasukan TRI yang bersenjatakan kikanho – meriam kecil yang sudah tua, senjata rampasan dari Jepang – berhasil membalas tembakan dari kapal-kapal motor bersenjata milik Belanda, dan membakar serta menenggelamkan salah satunya. Kapal bermotor yang gugur itu rupanya mengangkut munisi dari Plaju untuk pertahanan Belanda.

Kejadian tersebut membuat Belanda mengerahkan pesawat-pesawatnya dan meningkatkan serangan pembersihan dari udara. Sasaran mereka adalah pos-pos pertahanan TRI serta pemukiman di pinggir Sungai Musi, dan perahu-perahu rakyat.

Menjelang sore hari, bala bantuan Indonesia yang datang dari Lahat dan Baturaja berhasil mencapai Kertapati, namun sulit untuk diseberangkan melalui Sungai Musi karena pasukan Belanda di sana. Sementara, daerah yang berada di bawah tanggung jawab Kakek Mun berada di bagian seberang Sungai Musi yang sulit dilalui tersebut. Akhirnya, baru pada malam hari bantuan dapat di seberangkan dengan sembunyi-sembunyi, dan disalurkan ke pos-pos pertahanan TRI. Pada hari tersebut, telah datang juga bantuan pasukan dari Lampung.

Situasi pada hari keempat pertempuran, Sabtu, 4 Januari 1947 ditandai dengan menipisnya persediaan amunisi. Sebenarnya, sepengetahuan Kakek Mun, pasukan TRI setempat tidak memiliki persediaan amunisi dalam gudang.  Senjata yang didapat hanyalah rampasan dari Jepang dan Belanda, sehingga amunisi yang dimiliki juga beragam dan bekualitas rendah, serta hanya ada pada perorangan saja.

Kakek Mun juga mulai merasakan kekuangan bahan makanan. Toko-toko tutup selama pertempuran berlangsung, dan bantuan yang datang dari luar kota sejak hari Kamis kemarin sulit untuk mencapai daerah yang berada di bawah tanggung jawab Kakek Mun. Meski begitu, semangat juang dan pengorbanan prajurit tetap tinggi.

Namun, kelemahan ini digunakan Belanda untuk merebutan pasukan TRI. Pasukan TRI yang berada di sekitar Sungai Tawar dan Emma Laan mulai ditarik mundur serta bergabung dengan pasukan TRI lainnya. Pada hari tersebut, Belanda sudah menguasai banyak tempat di Palembang.

Pasukan TRI, termasuk di dalamnya pasukan bantuan dari Lampung, melancarkan serangan serentak di sekitar Tangga Buntung untuk merebut daerah yang diduduki Belanda. Sayangnya, serangan ini gagal karena tidak akuratnya hubungan antarpasukan. Posisi pertahanan Belanda juga diperkuat dengan tank, serangan mortir, serta serta satuan infantri dari pasukan Gajah Merah. Terlebih lagi, Belanda sudah mendeteksi serangan pasukan TRI sebelum terjadinya pertempuran.

Pasukan Belanda semakin gencar menyerang, bahkan terhadap kampung-kampung, sehingga makin banyak penduduk yang tidak bersalah menjadi korban. Keadaan menjadi semakin gawat, sehingga Gubernur Muda Sumatera Selatan, drg. M. Isa serta Residen Abdul Rozak mengadakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan Komando untuk membahas situasi pertempuran. Dengan berbagai pertimbangan, seperti fakta bahwa perang di Palembang kali ini barulah awal dari perang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka kekuatan serta kemampuan tempur perlu dihemat, maka diputuskanlah untuk menerima tawaran perundingan dari pihak Belanda guna menghentikan pertempuran yang telah memakan korban dari kedua belah pihak.

Situasi kian memburuk di hari Minggu, 5 Januari 1947. Bagaimanapun juga, betapa bangganya Kakek Mun ketika prajurit-prajurit yang kekurangan waktu tidur, makan tidak teratur, dan persediaan peluru yang benar-benar kritis di daerah pertempuran tersebut tetap terlihat semangat juangnya.

Hubungan pasukan di banyak tempat sudah terputus, sementara tentara Belanda terus memperkuat posisinya, serta mengadakan aksi penggeledahan dan pembersihan. Dalam aksinya, tentara Belanda tidak mengenal perikemanusiaan terhadap orang-orang yang dicurigainya. Sungai Musi juga telah sepenuhnya dikuasai oleh Angkatan Laut Belanda. Pesawat udara milik Belanda pun tak henti-hentinya menyerang.

Perundingan antara pihak Indonesia dengan Belanda yang telah di mulai sejak hari Sabtu kemarinnya menghasilkan persetujuan untuk mengadakan gencatan senjata. Pasukan TRI, Laskar, serta para pejuang bersenjata Indonesia diwajibkan meninggalkan Kota Palembang sejauh radius 20 kilometer dari Kota Palembang. Namun Pemerintah sipil RI tetap melaksanakan kegiatan tugas pemerintahan di Palembang, bersama polisi RI dengan satuan kecil Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Beberapa perwira TRI yang bertindak selaku Perwira Penghubung juga diperbolehkan dalam kota.

Sesuai keputusan tersebut, maka mulai malam hari tersebut sampai keesokan harinya, Kakek Mun bersama prajurit-prajurit RI lainnya mulai mengosongkan Kota Palembang, dan menuju ke tempat berkumpul di Kertapati. Dari sana, beliau dan Batalyon 32/XV dikonsolidasikan di daerah Simpang dan Tanjung Sejaro, dengan pertahanannya sekitar 20 kilometer dari Kota Palembang.

Meskipun menimbulkan kekecewaan – terutama bagi Kakek Mun serta pejuang lainnya yang langsung bertempur di lapangan melawan pasukan Belanda – keputusan ini merupakan suatu keberanian yang merupakan hasil dari pimpinan TRI dan pemerintah sipil RI yang berpikir panjang. Perjuangan menegakkan dan mempertahankan negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 masih jauh. Keputusan tersebut merupakan tindakan yang berani untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban, dan menyelamatkan kalangan penduduk biasa yang tak berdaya dan tak bersalah.

Perang lima hari lima malam ini telah membuktikan persatuan dan semangat juang bangsa dalam menentang penjajah Belanda yang ingin mendapatkan kekuasaannya kembali. Dengan persenjataan beserta amunisi yang sederhana dan terbatas, juga dengan mengandalkan senjata konvensional sepeti tombak, kelewang, bahkan bambu runcing, pasukan RI mampu bertempur melawan pasukan Belanda yang memiliki persenjataan yang sangat lengkap dan modern. Kakek Mun sangatlah bangga dengan pengalaman perang ini, yang beliau anggap sebagai prestasi rakyat Sumatera Selatan dalam menegakkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya Kakek Mun juga memimpin pasukan sebagai Kompi dan bergerilya melawan tentara Belanda selama perang kemerdekaan I dan II. Beliau tidak pernah terputus dan pasukannya tetap utuh sampai penyerahan kedaulatan tahun 1949. pada tahun 1951-1958, beliau ditugaskan di daerah Jawa Barat dan berperan aktif dalam penumpasan pemberontakan DI/TII, baik sebagai Perwira Operasi Brigade, Kepala Staf Sektor, Komandan Kompi, dan Komandan Batalyon. Beliau juga ikut serta dalam penumpasan DI/TII di daerah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah pada tahun 1952. Pada tahun 1958, beliau aktif dalam gerakan penumpasan PRRI di daerah Sumatera Selatan. Kemudian, pada tahun 1964 beliau aktif dalam Operasi Dwikora, serta aktif dalam pemberontakan G.30.S/PKI di daerah Sumatera Selatan pada tahun 1965-1967.

Kakek Mun terus mengabdi kepada NKRI dan ditugaskan sampai tahun 2000. Riwayat beliau di antaranya adalah pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kodam IV/Sriwijaya sekaligus merangkap sebagai anggota MPRS pada tahun 1963-1967, menjabat sebagai Panglima Kostranas, Jakarta sekaligus merangkap sebagai anggota MPR pada tahun 1971-1973. Ketika masih menjadi anggota MPR, beliau juga menjabat sebagai Kepala Staf TNI-AD pada tahun 1974-1978.

Di luar TNI-AD, Kakek Mun juga sempat bertugas di Kuala Lumpur dari tahun 1976-1981 menjabat sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh pemerintah Republik Indonesia pada Negara Malaysia. Pada tahun 1984-1988, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI, yang dilanjutkan sampai periode berikutnya, yakni pada tahun 1988-1993.

Karena jasanya, Kakek Mun telah memperoleh 29 Bintang Jasa, yakni 25 penghargaan dari NKRI, termasuk Satya Lencana 24 Tahun (Tiga Windu), Bintang Bhayangkara Utama, serta Bintang Maha Putra Adhi Perdana. 4 Bintang lainnya diperoleh dari negara sahabat, yakni Bintang Darjah Kebesaran Panglima Setia Mahkota dengan gelar Tan Sri dari pemerintah Malaysia, Bintang Groot Officer in de Leopoldsorde dari Belgia, Bintang Ordenom na Rodne Armije Sa Lovorovin Vencen dari Yugoslavia, dan Bintang Order of National Security Merit dari Korea Selatan.

6 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. tulisannya bagus :)

    saya baca di atas ..
    kristal menyapa beliau kakek mun,adik dari nenek saya..

    saya boleh tau contact person kristal..
    oh iiya saya vyeta , nenek saya adik dari kakek mun. yang bernama Hj. Ningayu Murod
    mungkin kita bisa kenal :)
    trrims

    ReplyDelete
  3. Ass...Sangat bangga sekali dg buyut Mun...salam kenal saya cicitnya Emron Murod...cucu dr Syamsudin Emron Murod..beliau dikebumikan di TMP Cikutra Bandung..

    ReplyDelete
  4. Ass...Sangat bangga sekali dg buyut Mun...salam kenal saya cicitnya Emron Murod...cucu dr Syamsudin Emron Murod..beliau dikebumikan di TMP Cikutra Bandung..

    ReplyDelete