Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Maga Arsena XI IPA 3

ARRY HARIYANTO, KAKEK SEKALIGUS SAKSI SEJARAH

 Pada kesempatan kali ini Saya akan kisah hidup Kakek Saya, Prof. Dr. Arry Hariyanto
atau yang biasa dipanggil oleh cucu-cucu "Kiki". Saya telah mendengar kisah hidup dia secara langsung.
Dan cerita tersebut sangat menarik bagi Saya.

Biografi

 Kiki lahir pada tanggal 28 Januari 1939. Ia telah dituntun oleh Ayah dan Ibundanya agar selalu
menjadi anak yang disiplin, taat beragama, dan tidak pernah menyombongkan diri. Menurut saya,
itu sangat tercermin dengan perilaku dan nasehat-nasehat yang telah ia berikan ke Saya sendiri. 
Tak heran, kalau saya bertemu dengan dia di setiap acara keluarga, pasti saya dan dia akan
melakukan pembicaraan tentang kepribadian saya paling cepat selama 30 menit. Hingga di
hari ini, hidupnya tidak pernah jauh dari agama. Sampai-sampai dalam memilih olahraga
hingga musik sekalipun, selalu dengan pertimbangan tersebut.

 Semasa kecilnya ia bersekolah di (SRC) atau yang dikenal dengan Sekolah Rakyat
Cikini. Pada saat itu dia merupakan anak kedua daru 8 bersaudara. Jadi ia berkewajiban 
untuk menjaga adik-adiknya yang masih sangat kecil-kecil. Di kehidupanya sehari-hari,
ia jalan-jalan kemana pun selalu menggunakan sepedah onthel milik Ayahnya. Kiki berkata,
"Alhamdulillah, kehidupan ekonomi keluarga kiki pas dulu tuh cukup-cukup saja. Ayah bisa
menyekolahkan kami 8 bersaudara."

 "Semasa muda, kalau menurut saya, kehidupan di saat itu jauh berbeda. Apalagi waktu
itu saya merupakan siswa Sekolahan. Banyak jembatan yang harus saya titi untuk mengerti
dan menjalankan kehidupan masa itu." Karena kebanyakan teman-teman Kiki pada saat itu
datang dari keluarga miskin, ia terbiasa dengan kehidupan mereka. Makanya hidupnya selalu
sederhana saat itu.

  Sikap "humble" dan sederhananya Kiki itu terbina sejak dia masih berumur 8 tahun. 
Ketika zaman revolusi, ia dan kakaknya dibawa ayahnya mengungsi ke kota Gudeg, sedangkan ibu dan adik-adiknya tetap bermukim di Jakarta. Ketika di Yogyakarta itu ia tidak mengetahui kalau ayahnya  diculik tentara Belanda. Selama ayahnya ia tinggal bersama Kakeknya di Malang. Tempaan demi tempaan semasa revolusi, menyebabkan Kiki menjadi tegar dan kuat.Setelah dua tahun tinggal bersama kakeknya di Malang, ia kembali ke Jakarta. Di Sekolahnya pun, di SR Cikini, Jakarta, berkali-kali ia mesti masuk lubang perlindungansetiap ada bunyi sirene pertanda adanya serangan dari tentara sekutu. “Kalau ada perang, saya dan kawan-kawan masuk dalam lubang perlindungan sambil menggigit karet,” ujarnya.


 Kakeku yang bergaya hidup sederhana ini ketika sekolah di SMA I, Jakarta, 1953-1956, lebih suka bersepeda ke sekolah, padahal dia kalau saya bilang, dia termasuksalah seorang yang beruntung. Karena Ayahnya menjabat sebagai Sekjen Departemen PK yang membisa membelikan dia motor ataupun menjemputnya. "Sebagai teman-teman yang sama-sama seperjuangan, sama-sama pelajar,kami ramai-ramai naik sepeda. Itulah kenangan Kiki selama duduk di bangku SMA. Hahaha, apalagi kalau lihat kamu mampir sama Ibumu pake seragam putih- abu kayak begini." Ujarnya sambil tertawa mengenang masa muda, yang mungkin ia anggap bahagia itu.

 Setelah menamatkan SMA, dia kemudian masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1956 yang diselesaikannya tahun 1963.
Sebagai penerima beasiswa, ia harus mengikuti ikatan dinas selama 6 tahun. sebagai pegawai negeri sambil mendalami spesialis di bidang ilmu penyakit dalamtahun 1963-1969. Setelah bertugas selama enam tahun di Pekan Baru, pada tahun 1969 ia mendalami masalah darah selama setahun di Hospital St. Louis, L’Universite de Paris, Perancis, 1969-1970. Delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1978, diamengikuti pelatihan di St. Bartholomew's Hospital, London. Setahun setelah itu, dia mengikuti lagi pelatihan di Hospital  Pitie-Salpetriere, Paris, Perancis. 

 Pada tanggal 21 Juli 1984, dia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran. Selanjutnya, pada 14 Desember 1991, ia mengucapkan pidato guru besar dengan judul, "Onkologi Medis Masa Lampau, Kini dan Masa Mendatang". Peranannya dalam menunjang Strategi Penanggulangan Kanker secara terpadu. Di dalam Tim Dokter Ahli Presiden, Kiki diangakat sebagai ahli penyakit dalam. 

 Sampai sekarang pun, di usianya yang sudah cukup tua yaitu 73 tahun, ia masih
suka beraktifitas seperti berolahraga, menyanyi, dll. Ia menjadi guru besar di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dan iapun masih cukup aktif di
dunia kedokteran RI.




 
Saya dan Kiki setelah wawancara


 

 

No comments:

Post a Comment