Monday, 20 May 2013

Tugas-2 Biografi Mardika Parama XI IPS 2

Nenek Rosminah, Wanita Tegar Pembela Kemerdekaan


    Pada kesempatan ini saya menulis laporan saya tentang wawancara yang saya lakukan di Palembang pada tanggal 4 May 2013. Saya berangkat dari Jakarta bersama dengan paman saya yang merupakan anggota Yayasan Sahabat Veteran menuju Palembang. Disana saya mengikuti rangkaian acara yang bertempat di SMA 4 Negeri Palembang, dengan banyak Veteran. Saya memutuskan untuk mewawancarai seorang veteran perang wanita eks tentara pelajar. 

A. Biografi
   Rosminah atau saya memanggilnya Nenek Rosminah, Lahir di Jawa Barat pada 22 Agustus 1916. Saya tidak memiliki hubungan darah dengan beliau, saya bertemu beliau di Palembang pada acara yayasan Sahabat Veteran. Tidak banyak tahu tentang masa kelahiran dan masa kecil Nenek Rosminah, namun beliau bergabung dengan tentara pelajar dan berperang pada tahun 1942, setelah sebelumnya belajar dari tahun 1938. Beliau berperang dibanyak titik, diantaranya di Cirebon dan di Bandung. Seusai perang, Nenek Rosminah bekerja pada proyek pembangunan Jembatan Ampera di Palembang, sebagai juru masak bagi para pekerja. Dimasa Tuanya (saat ini) ia hidup sederhana di panti jompo di Palembang, dan tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia.





B. Peranan
         Sulit menceritakan peranan nenek Rosminah Secara terinci, berhubung Beliau berperang dibanyak titik dan berperang dari zaman ke zaman (beberapa kejadian juga Beliau sudah agak lupa karena sudah termakan usia). Saya merasa lebih nyaman mengusut peranan beliau dari apa yang ia ceritakan kepada saya. Untuk Mewawancarai beliau, saya pergi berangkat ke Palembang dengan paman saya yang merupakan anggota dari yayasan Sahabat Veteran.
     Ketika saya mewawancarai Beliau langsung bercerita dengan sangat semangat, “Jadi orang belanda itu suka mengejek, masa katanya orang Indonesia mau mengalahkan orang Belanda, lalu saya bales, eh, kamu itu sudah 350 tahun jadi kami mau ngambil nanti, tetep kami dapet merdeka”. Ia bercerita dengan logat sundanya yang masih cukup kental. Nenek pun melanjutkan ceritanya “sombong kau perempuan”, “bukan sombong, mari nanti kita lihatlah” Ia melanjutkan. Nenek Rosminah merupakan tentara pelajar yang berjuang ketika ia masih duduk di bangku sekolah. “Dulu, ketika sekolah, orang orang didesa sering ngasih tahu, kalau sudah sekolah, jangan langsung menikah, harus jadi srikandi (tentara wanita), mau tidak jadi Srikandi?”, “Mau, saya bilang teh”. Semangat yang menggebu gebu masih terlihat dari wajahnya, walaupun sudah dimakan usia, namun semangatnya tidak pernah surut. Dari caranya bercerita, saya seperti kembali ke zaman perang dahulu. Ia menceritakan tidak hanya perang dengan belanda, ia juga berperang dengan statusnya sebagai wanita, karena saat itu banyak orang yang menganggap wanita seharusnya tidak ikut berperang. “Abah, saya tuh mau seperti Ibu Kartini, masa laki laki saja yang pinter perang, perempuan juga harus perang, sekarang jaman kemajuan, saya tetep saya nanti jadi tentara”. Ia memperagakan kembali apa yang ia katakana kepada abahnya.
(Saya sedang berbincang dengan Nenek Rosminah)

     Setelah bercerita tentang awal mula ia menjadi tentara, ia bercerita tentang ketika Jepang mendarat dan membunuh para tentara belanda. “…Sampe susah aden (panggilan bahasa sunda), jaman dulu, lagi mau perang itu masuk perlindungan, apa apa gak ada, susah makan tidak ada pakaian tidak ada, karung den, karung dijadiin kaen” katanya. “Dijadiin baju nek?” saya bertanya, “Ya jadi baju, semua tidak ada, apa apa susah semua orang kelaparan”. Beliau pun menjelaskan bahwa sebenarnya jaman belanda itu lebih baik daripada zaman Jepang karena zaman Jepang itu semua orang susah, sementara pada zaman belanda itu menurut Nenek Rosminah masih ‘lebih enak’. Menurut beliau, pada zaman Belanda menjajah Indonesia, harga – harga masih terkendali. Tidak seperti pada saat zaman Jepang yang menyengsarakan masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan karena semua barang yang dimiliki oleh rakyat harus disumbangkan ke Jepang untuk diolah menjadi Alutista maupun peralatan perang, besi dilelehkan kembali, kain diolah menjadi seragam serdadu Jepang, dsb. Tidak seperti buku pelajaran yang hanya menceritakan tentang BPUPKI, PPKI, dan sebagainya, cerita dari Nenek Rosminah ini bercerita tentang apa yang masyarakat rasakan ketika itu, bukan pendapat seorang penulis, atau orang yang tidak memiliki gambaran, namun hanya menuangkan materi pada sebuah buku. “Kita itu baru dapet senjata tahun 45 den, dikasih belanda” lanjutnya bercerita. “Diserahkan satu gudang diJakarta, kemudian Jepang itu kalah karena kita dibantu oleh orang Amerika”. Jujur saya heran ketika Nenek menyebutkan Amerika membantu Indonesia. Saya tidak pernah mendengar atau membaca bahwa Amerika mengusir Jepang dari Indonesia, mungkin maksud nenek adalah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, saya memang tidak menanyakannya karena terlanjur terbawa alur cerita yang diceritakan nenek Rosminah.  “Setelah Jepang kalah, belanda kalah, Alhamdulillah kita merdeka”. “Jam 5 fajar saya baru mau naik keatas, orang orang pada teriak, Alhamdulillah, Merdeka! Merdeka!”. Katanya, senyum merekah diwajahnya ketika menceritakan saat ia mengetahui Indonesia merdeka, seperti hal tersebut terulang didepannya. Ia mendapatkan berita itu ketika diJakarta, setelah perang. Rupanya berita kemerdekaan itu didengar oleh masyarakat  7 jam setelah diproklamasikan. Tidak seperti yang saya kira, awalnya saya kira ketika jam 10 kemerdekaan diproklamasikan, masyarakat di Jakarta langsung mengetahuinya. Maklum, saya masih tidak memiliki gambaran bagaimana keadaan saat itu, selama ini saya hanya mengetahui seperti apa Indonesia zaman dahulu itu hanya dari Film – Film dan apa yang guru saya sampaikan.
     Setelah bercerita tentang kemerdekaan beliau kembali bercerita tentang perjuangannya. “Saya itu perang pake bambu runcing den, gak ada tembak – tembakan, di Jawa dulu, pertamanya di Cirebon. Jalan – Jalan terus perang terus kemana – mana. Ke Jawa barat, saya kena di ini… saya kena dibandung” katanya. Saya pun bertanya apa maksud dari ‘Kena’. “Nenek, kena… Tembak?” saya bertanya. “ Iya, dibandung di cicendo saya berobat. Cuman 4 hari obatnya”. “Hah, 4 hari nek?” saya makin bertanya-tanya, “Iya den, cuman 4 hari”. “Wah sakti banget nek obatnya, hahaha” saya sudah tidak tahu lagi ingin berkomentar apa tentang hal ini. Nenek Rosminah sudah tertembak, sembuh hanya 4 hari, masih hidup dengan umur yang panjang pula, gimana saya tidak tercengang. “Sesudah itu ada belanda, tapi sudah merdeka…” lanjut beliau. “Merdeka masih dijajah belanda, orang bukan orang belanda, orang Jerman apa, orang Itali, apa itu orangnya tinggi tinggi”. Mungkin yang beliau maksud adalah saat saat Agresi Militer dan masuknya tentara Sekutu ke Indonesia untuk membantu NICA, namun tidak enak hati lah bertanya, karena ia masih melanjutkan ceritanya dengan semangat, tau apa saya dibandingkan dia, pikir saya. “ Sudah merdeka tapi masih dijajah belanda, macam mana ini kita” ceritanya tentang Agresi Militer. “ Cari akal lagi kita, kalo sore sore tuh para perempuan tuh cari akal pura pura jual Jamu. Belanda teh suka jalan, sudah kira kira jarak 5 meter ditembaknya pake pestol”kata nenek Rosminah. Nenek Rosminah kemudian bercerita dengan bahasa belanda, kurang lebih seperti ini “driehonderdvijftig jaar dat je hier bent, moet je terug gaan naar het land van de Nederlandse”. (Artinya “ Sudah tiga ratus lima puluh tahun kamu disini, kamu harus kembali ke negeri Belanda”)
   Setelah bercerita tentang agresi militer, ia juga bercerita paska kemerdekaan Indonesia, dan selepasnya dari Agresi militer. “Ya, saya berenti… Sudah lama itu saya berhenti,saya bekerja sama orang Amerika dapat dua tahun, kemudian orang itu pulang saya dikasih tiga penghargaan dari Pak Karno” katanya. Namun sayang, semua penghargaan dan uang hilang ketika Nenek Rosminah naik kereta, Nenek Rosminah berkata ia kehilangan penghargaan dari Ir. Soekarno, uang sebesar Rp 2,500,000, dan kopernya karena dicuri orang ketika beliau tertidur. “Akhirnya saya kesini (Palembang) ngerjain proyek Musi, masakin di asrama Jepang untuk orang Jepang”. Rupanya Nenek Rosminah juga bekerja pada proyek Jembatan Ampera, hal itu dilakukan untuk menyambung hidup berhubungan beliau tidak mengenyam pendidikan tinggi, dan kehilangan hartanya ketika di kereta.
     Beliau juga bercerita semasa PKI “ Setelah dari proyek musi, dua hari saya pulang ke Jawa, PKI dateng. Banyak ‘Penyakit’ itu, kawan semua diganyang PKI”.  Kata beliau. Nenek Rosminah ini rupanya juga menyaksikan terjadinya Gerakan 30 September PKI, ia merasa sedih ketika para Jenderal yang merupakan teman dari nenek Rosminah dibunuh di lubang buaya. “Jendral – Jendral itu temen saya seperjuangan den” Kata beliau. Nenek Rosminah mengaku dekat dengan beberapa Jendral karena pernah bertemu bahkan ada yang sama sama berjuang, tidak heran beliau merasa sangat sedih ketika kejadian pembunuhan para Jendral terjadi.
     Kami berincang bincang cukup lama, dan akhirnya sayapun menanyakan bagaimana perasaan nenek melihat keadaan Indonesia saat ini. Berhubung seperti yang kita ketahui saat ini, Indonesia sebenarnya mengalami kemajuan yang pesat, namun tidak diimbangi dengan mental untuk maju. Sehingga banyak terjadi korupsi dimana – mana. “Saya, itu, nonton Nazarudin mau dipenjara, nonton tv, disana katanya dia dipenjara banyak korupsi… Jadi hati saya sedih den… Tidak bisa tidur, ketika saya duduk, ibu pengurus (panti jompo) dateng, “Ada apa bu?”, Tidak bu, saya bilang. Saya dulu jadi tentara, tapi tidak dapat pamrih apa – apa… Tapi kenapa kok Negara dipake korupsi semua”. Sejenak senyum yang tadi merekah ketika kita membicarakan tentang zaman perang dahulu sirna, tergantikan dengan raut muka yang sedih. Terlihat mata wanita yang telah berumur 96 tahun ini berkaca – kaca ketika membicarakan tentang keadaan Negara saat ini.”Kenapa ya, yang korupsi itu gak kasian ama keluarga Pak Karno ya…” Lanjutnya. “Zaman sekarang ini, sama seperti zaman Jepang den… Apa apa mahal, apa apa mahal.” Sebegitu menyedihkannya kah zaman sekarang, sampai disamakan dengan zaman Jepang? Pikir saya.
     Obrolan kamipun selesai setelah membicarakan secara rentet kejadian kejadian yang dialami dan disaksikan oleh Nenek Rosminah. Dari mulai ketika Ia menjadi Tentara pada tahun 1942, zaman kemerdekaan pada 1945, zaman PKI, hingga saat ini, menurut pandangan seorang patriot bangsa. Menurut salah satu anggota Yayasan Sahabat Veteran, kondisi para veteran termasuk Nenek Rosminah sungguh memprihatinkan. Sebagian dari mereka berakhir di Rumah Jompo berhubung sebagian besar keluarga mereka kebanyakan gugur dimedan perang atau sudah meninggal.
     Secara Keseluruhan, peranan Nenek Rosminah dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia sangat besar, ia merupakan tentara pelajar wanita (atau ia menyebutnya srikandi). Beliau berperang bergerilya di Jawa barat, salah satunya adalah di Cirebon dan di Bandung tempat beliau tertembak dan mendapat perawatan. Beliau juga merupakan saksi merdekanya Indonesia walau tidak secara langsung. Setelah zaman perang (kemerdekaan dan agresi militer) beliau juga terlibat dalam proses pembuatan Jembatan Ampera, sebagai seorang juru masak untuk para pekerja. Beliau juga sempat merasakan genta
rnya Gerakan 30 September PKI.
                                               (Saya dengan Tim dari Sahabat Veteran)

No comments:

Post a Comment