Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Maryam Nazihah XI IPA 1

"Gofur Jahya Sutiyono; Prajurit pelancar komunikasi di tengah daerah konflik"

Sambil menyelam minum air. Peribahasa tersebut tepat menggambarkan hari di saat saya pergi mengunjungi rumah mbah saya di kota Cimanggis, Jawa Barat. Sembari berkumpul dengan sanak keluarga, saya pun bertanya-tanya sedikit tentang masa lalu. Profil yang akan saya ceritakan sebenarnya adalah almarhum kakek saya. Namun dikarenakan beliau sudah tidak ada, saya memutuskan untuk bertanya tentang kakek saya itu kepada nenek saya. Selain itu, ibu saya juga membantu nenek saya untuk mengingat beberapa hal. Memang tidak banyak yang bisa ia ceritakan, namun dari penuturannya, saya menjadi tahu bahwa kakek saya pernah berperan untuk Republik Indonesia. Berikut adalah sedikit cerita perjalanan hidup kakek (mbah) saya.

BIOGRAFI
Lelaki yang lahir di Salatiga pada 10 Maret 1942 itu saya panggil ‘Mbah Sutiyono’. Nama aslinya adalah Gregorius Joseph Sutiyono. Mbah Sutiyono adalah anak bungsu dari 5 bersaudara buah hati dari pasangan Noor Kasan yang asli Semarang dengan Mariam yang asli Salatiga. Sebagai anak bungsu, beliau tumbuh menjadi anak yang dimanjakan dan sangat disayang oleh kedua orangtuanya serta keempat kakaknya. Ia menghabiskan seluruh masa kecil sampai remajanya di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Mbah Sutiyono menempuh pendidikan menengah atasnya di sebuah sekolah katolik terkenal di Semarang. Nama sekolah tersebut ialah SMA Katolik Loyolla. Setelah menamatkan SMA pada tahun 1960, Mbah Sutiyono ingin melanjutkan pendidikan ke jurusan teknik. Namun Mbah Sutiyono harus mengurungkan keinginannya tersebut karena gagal masuk ke jurusan itu. Untuk melampiaskan kekecewaannya, Mbah Sutiyono memutuskan untuk hijrah ke Cimahi untuk mengikuti pendidikan militer. Alhamdulillah Mbah Sutiyono akhirnya dapat mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Tahun berikutnya, beliau telah menyelesaikan pendidikan calon bintara dan akhirnya menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dengan pangkat serda (sersan dua) pada tahun 1962. Mbah Sutiyono sendiri berada di bidang perhubungan atau telekomunikasi.
Di tahun 1964, Mbah Sutiyono berkenalan dengan seorang gadis yang tinggal di daerah pojok Cimahi. Gadis itu merupakan anak dari seorang lebe (kata lain dari penghulu). Tetapi, ketika Mbah Sutiyono ingin melamar, ia sempat tidak direstui oleh bapak dari sang gadis karena perbedaan iman. Namun Mbah Sutiyono tidak putus asa. Pada tahun 1965, di bulan Juni, Mbah Sutiyono membuat sebuah keputusan untuk masuk Islam dan menjadi mualaf. Beliau kemudian mengganti namanya menjadi Gofur Jahya Sutiyono. Keputusan itu dibuat atas dasar keinginannya yan sangat besar untuk menikahi gadis yang bernama Euis Hofsah tersebut. Mbah Sutiyono menikah dengan Mbah Euis-panggilan untuk Mbah Euis Hofsah, pada tanggal 4 Desember 1965 di Kota Cimahi, Bandung.
Tak sampai setahun kemudian, tepatnya pada 23 Agustus 1966, beliau dikaruniai anak perempuan yang juga anak pertama, yang kemudian diberi nama Agustina Nuranie (kelak menjadi ibu saya). Mbah Sutiyono sangat senang atas kelahiran putri pertamanya. Ia memberikan nama Agustina Nuranie dengan makna agar teringat bahwa ia lahir di bulan Agustus (Agustina) dan Nuranie yang bermakna cahaya hati. Mbah Sutiyono menginginkan putrinya tumbuh menjadi perempuan yang bisa menjadi cahaya, yang menerangi hati dan kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya. Setelah mempunyai seorang anak, Mbah Sutiyono dan Mbah Euis pindah ke daerah Cimanggis, Jawa Barat, karena beliau dipindahtugaskan ke daerah tersebut.
Di tahun 1969, Mbah Sutiyono dan Mbah Euis dikaruniai anak kedua, seorang putra yang diberi nama Seno Purasmono. Purasmono diambil dari kata “Jayapura” yang merupakan ibukota Irian Jaya (sekarang Papua). Saat kelahiran (Om) Seno, Mbah Sutiyono sedang bertugas di Irian Barat. Bahkan, ternyata saat Mbah Sutiyono pergi bertugas, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Mbah Euis sedang mengandung seorang anak. Mbah Sutiyono pun terkagetkan di saat ia diberitahu bahwa ia mendapati seorang anggota baru di dalam keluarga kecilnya.
2 tahun setelahnya, Mbah Sutiyono kembali dikaruniai seorang putra, yang ia beri nama Bambang Jaliteng Prabowo. Nama “Jaliteng” diambil dari bahasa Jawa yang artinya jangkrik hitam, karena saat (Om) Bambang lahir, terdengar suara-suara jangkrik hitam yang sangat banyak.
Sebagai seorang TNI, Mbah Sutiyono mendidik anaknya dengan tegas. Hal itu bertujuan agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi seorang yang disiplin.
Kata Mbah Euis, Mbah Sutiyono adalah orang yang tidak pernah sakit selama hidupnya. Namun, sekitar kurang lebih 3 bulan terakhir sebelum meninggal, Mbah Sutiyono jatuh sakit. Ia mengalami komplikasi jantung, diabetes, dan darah tinggi. Mbah Sutiyono dirawat sekitar 1,5 bulan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Menjelang Ramadhan, Mbah Sutiyono diperbolehkan pulang karena dirasa ada kemajuan pada kesehatannya. Namun, seminggu sebelum lebaran, Mbah Sutiyono kembali harus dirawat di RS Karya Bhakti Bogor. Tepat pada tanggal 25 September 2010, Mbah menghembuskan nafas terakhirnya di RSKB Bogor dalam rangkulan putri pertamanya.
Sebenarnya, Mbah Sutiyono mendapatkan tempat di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena jasa-jasanya sebagai pahlawan. Namun, pihak keluarga tidak menginginkan jasad Mbah Sutiyono di tempat tersebut. Akhirnya, almarhum dimakamkan di tempat yang berdekatan dengan Om Bambang yang sudah lebih dahulu meninggal di tahun 2000.

PERANAN DALAM LINGKUP NASIONAL
Sebagai seorang TNI, Mbah Sutiyono di akhir tahun 1968, Mbah Sutiyono diberikan tugas dalam Operasi Militer di Irian Barat guna memberi dan membina kesadaran serta keinginan bernegara kepada mereka yang menentang kekuasaan Negara Republik Indonesia. Saat itu, Mbah Sutiyono mendudui jabatan Pa Taud Den-III di kesatuan Komsat Satkomlek Hankam. Karena tugas itu, Mbah diberikan Penganugerahan Tanda Kehormatan (Satya Lancana) berdasarkan Surat Keputusan Pangab No. Skep/149/III/1985.
Di Irian Barat, Mbah Sutiyono bertugas untuk membantu membangun sarana komunikasi. Mbah Sutiyono bersama rekan-rekannya menerobos hutan-hutan belantara di Irian Barat untuk membangun sebuah jaringan komunikasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar berita-berita yang selama ini terhambat masuk ke pelosok Irian Barat, dapat tersampaikan dengan baik.
Ada satu cerita di saat Mbah Sutiyono sedang berada di hutan untuk membangun jaringan, tiba-tiba saja ada tembakan dan pelurunya mengenai betis kanan Mbah Sutiyono. Ternyata, asal tembakan tersebut adalah moncong senjata tentara Belanda. Pembangunan jaringan komunikasi itu memang dihalang-halangi oleh Belanda. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Mbah Sutiyono dan rekan-rekannya sesama TNI. Mereka dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati berusaha agar komunikasi di pelosok Irian Barat dapat terlaksana dengan baik.
Di sela-sela masa tugasnya, Mbah Sutiyono sempat meminta izin untuk balik ke Cimanggis untuk menengok putra kecilnya. Namun karena masih berada dalam masa tugas, setelah beberapa saat pulang ke rumah, akhirnya ia kembali lagi ke Irian Barat untuk melanjutkan tugasnya. Berkat tugas ini, Mbah Sutiyono mendapat penghargaan Satya Lancana PEPERA dan Satya Lancana Gom-IX Raksaka Dharma.
Di tahun 1974, Mbah Sutiyono kembali mendapatkan tugas. Kali ini, ia ditugaskan untuk menjadi pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mbah Sutiyono tergabung dalam Kontingen Garuda VII yang dikirimkan ke Vietnam yang pada saat itu sedang mengalami perang saudara antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara yang menganut paham komunisme.
Pada saat Kontingen Garuda VII ini diberi tugas, presiden yang menjabat adalah Soeharto dan wakil presidennya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sementara itu, menteri luar negeri nya adalah Adam Malik dan menteri/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia nya adalah Jendral Maraden Panggabean. Ketua Kontingen Garuda VII nya sendiri adalah Brigadir Jenderal Tentara Nasional Indonesia S. Soemantri. Kontingen ini terdiri dari 182 orang.
Dalam Kontingen Garuda VII ini, Mbah Sutiyono termasuk ke dalam gelombang ke-empat yang diberangkatkan. Kelompok Mbah Sutiyono ini beranggotakan 52 orang dan dipimpin oleh Kolonel Infantri M. Nenggolan dan diberangkatkan pada tanggal 13 April 1974. Di Vietnam, Mbah Sutiyono bertugas selama 8 (delapan) bulan. Tugasnya di sana masih sama seperti tugasnya saat di Irian Barat, yaitu mengurusi bagian sarana komunikasi. Beliau dan rekan-rekannya membangun, memelihara, dan mengamankan sarana komunikasi agar tidak jatuh ke tangan musuh (Mbah berada di pihak Vietnam Selatan, jadi yang dimaksud dengan musuh adalah Vietnam Utara).
Selain mengurusi bidang komunikasi, Mbah Sutiyono dan Kontingen Garuda VII juga mengadakan kegiatan-kegiatan sosial untuk penduduk Vietnam. Kontingen Garuda VII banyak memberikan kontribusi positif untuk Vietnam Selatan, baik dari segi pemerintahan maupun penduduknya.
Sejak tahun 2003, setiap tanggal 29 Mei selalu diperingati Hari Pasukan Perdamaian Dunia atau Peacekeeper Day. Tanggal tersebut didedikasikan kepada prajurit pasukan pemeliharaan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini berdasarkan pada ketetapan dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. A/RES/57/129 tahun 2002. Adapun, peacekeeper dari Indonesia tak lain adalah Kontingen Garuda.
Tugas berikutnya untuk Mbah Sutiyono adalah penugasan ke daerah konflik Timor Timur yang sedang mengalami perang saudara. Perang saudara itu terjadi antara pihak pemerintah dan pihak pemberontak yang menamakan dirinya sebagai Fretilin yang banyak disokong oleh negara Portugal. Lagi-lagi, Mbah Sutiyono bertugas untuk mengamankan sarana komunikasi. Mbah Sutiyono ditugaskan di saat masa-masa yang sangat genting di sana.
Selepas melaksanakan tugas di Timor Timur selama kurang lebih 9 bulan, Mbah Sutiyono kembali ke tanah air. Kemudian, Mbah Sutiyono dikirim kembali ke Timor Timur pada masa transisi (masa saat Timor Timur sudah mulai dikuasai oleh pemerintah). Timor Timur sendiri akhirnya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1976. Atas tugasnya di Timor Timur, Mbah Sutiyono mendapatkan penghargaan ‘Satya Lancana SEROJA’.
Atas prestasinya, Mbah Sutiyono juga pernah dikirim oleh negara untuk memperdalam bidang telekomunikasi di Inggris selama 8 bulan.
Selain mendapatkan penghargaan pada saat perang Irian Barat, misi perdamaian yang bergabung dalam Kontingen Garuda VII, dan misi di Timor Timur, Mbah Sutiyono juga mendapat beberapa penghargaan, antara lain:
1.      Satya Lancana Kesetiaan VIII Tahun
2.      Satya Lancana Kesetiaan XVI Tahun
3.      Satya Lancana Kesetiaan XXIV Tahun
4.      dll.
Di balik kehidupannya sebagai seorang prajurit, Mbah Sutiyono juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Salah satunya ia wujudkan dalam donor darah yang ia lakukan selama lebih dari 25 tahun. Karena dedikasinya terhadap kemanusiaan, Mbah Yo mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI).
Demikian cerita singkat tentang perjalanan hidup Mbah Gofur Jahya Sutiyono yang bisa didapatkan dari wawancara oleh nenek dan ibu saya.
Mbah Sutiyono pada saat opmil di Irian Barat

Buku kenang-kenangan utk Kontingen Garuda VII

Salah satu halaman di buku kenang-kenangan ICCS

Lencana-lencana penghargaan Mbah Sutiyono

Mbah Sutiyono



No comments:

Post a Comment