Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Maulana Ainul Yaqin XI IPA 3



Veteran Orde Lama, Kakek Ghani Sutedja.

             Kemerdekaan bukanlah hal yang bisa didapat dengan murah. Banyak yang harus dikorbankan seperti harta, benda, keluarga, maupun nyawa. Walaupun saat sekarang sudah dibuat perjanjian HAM bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, kita harus tetap menilas balik sejarah perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaannya. Banyak para pahlawan yang kehilangan anggota keluarga, jatuh miskin, bahkan pulang nama saat membela tanah air Indonesia. Tidak sedikit pula yang sampai sekarang masih hidup untuk berbagi pengalaman hidup kepada kita, anak cucu bangsa Indonesia. Kita sebagai warisan para pahlawan terdahulu, sudah seharusnya menghargai dan mengetahui bagaimana perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan.

            Ir. Soekarno adalah presiden pertama di Indonesia sesaat setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dibantu Moh. Hatta, beliau membentuk pemerintahan pertama di Indonesia, yang dikenal sebagai Orde Lama. Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando. Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Presiaden Soekarno di gulingkan waktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando.

Pergolakan politis pada akhir masa Orde Lama juga terjadi di Malang karena aktifitas PKI / Komunis cukup banyak mempengaruhi masyarakat terutama golongan pemuda. Terjadi rapat2 umum, demonstrasi, kerusuhan dan bentrokan fisik antara pendukung Komunis dengan pendukung Pancasila, salah satunya yang terkenal adalah penyerbuan Gedung Sarinah sekarang. Akhirnya kelompok Komunis dapat dikalahkan dan melarikan diri ke daerah Blitar sehingga dilakukan operasi militer Sandhi Yudha yang mengakhiri petualangan Komunis di Indonesia. Orde Lama dibawah pimpinan Presiden Soekarno berakhir setelah didahului oleh pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang gagal pada tanggal 30 September 1965. Dengan berbekal Surat Perintah tertanggal 11 Maret 1966, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) pada waktu itu, Letjen TNI Soeharto membubarkan PKI dan organisasi-organisasi masyarakat yang dinaunginya.

 Gerakan pembersihan terhadap unsur-unsur PKI ini kemudian berbuntut pada pembunuhan puluhan (ada pula yang mengatakan ratusan) ribu penduduk Indonesia yang dicurigai terlibat atau bersimpati pada gerakan komunis. Kuatnya stigma komunis yang menakutkan banyak orang membuat sampai kini belum pernah ada penyelidikan independen mengenai korban-korban yang jatuh pada saat itu, meskipun diyakini tidak semua korban memang terbukti bersalah. Atas dukungan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang dipimpin oleh Ketuanya saat itu, Letjen TNI Abdul Harris Nasution, Letjen TNI Soeharto kemudian dikukuhkan menjadi pejabat Presiden Republik Indonesia. Kekuasaan Orde Baru dibawah presiden kedua ini dikukuhkan melalui pemilihan umum tahun 1971.
  
            Saya berkesempatan untuk mengetahui sejarah salah satu veteran perang yang Alhamdulillah menjadi bagian dari keluarga saya. Dialah kakek saya. Beliau bernama alm. Abdul Ghani Sutedja. Beliau adalah salah satu dari ribuan veteran perang yang masih berkesempatan membagi pengalaman hidupnya selama Indonesia masih di tangan penjajah. Pangkat terakhir yang beliau sandang adalah Letnan Kolonel. Sayangnya, pada tahun 2006 beliau wafat pada umurnya yang ke 79. Saya memilih narasumber yaitu Ibu saya sendiri, anak bungsu dari beliau. Semoga apa yang saya tulis mengenai sejarah beliau dapat menjadi catatan sejarah yang membanggakan bagi beliau, keluarga, dan rekan-rekannya.

            Beliau lahir pada 27 Juni 1927 di Lengkong, Kuningan, Jawa Barat. Beliau memiliki ayah bernama alm. Kartawirya dan ibu bernama alm. Koeswati. Beliau memiliki 5 saudara bernama… Semasa beliau masih anak-anak, ayahnya dipercaya warga sekitar untuk mengatur pengairan di sawah yang dimiliki oleh warga-warga yang tinggal disekitar rumah beliau. Bersama dengan paman dan ayahnya, beliau sering bekerja membantu untuk mengatur pengairan di sawah. Beliau juga memiliki seekor kerbau untuk di ngangoni setiap sore. Beliau juga berkesempatan untuk menjunjung ilmu pada masa itu. Beliau masuk ke SD di daerah tempat tinggalnya. Akan tetapi, saat berumur 6 tahun ayahnya meninggal. Ibunya pun menitipkan beliau ke pamannya yang tinggal di Sukabumi. Disana dia melanjutkan sekolahnya ke tingkat 4, 5, 6 SD, hingga SMEA. Beliau pun melanjutkan hidupnya untuk menjadi seorang tentara. Dia pun ditempatkan pada bagian logistik, yaitu prajurit yang membawa perlengkapan dan persediaan bahan makanan selama perang kemerdekaan. Setelah Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi dan Indonesia meraih kemerdekaannya, beliau melanjutkan pendidikannya dalam bidang akuntan dengan mengambil kursus Bon-A dan Bon-B. Beliau pun kembali bekerja sebagai prajurit pada bagian akuntan di KODAM, Siliwangi, Bandung. Selama bertugas sebagai akuntan, beliau juga menjadi guru akuntansi pada tingkat SMEA. Pada tahun 1950-an, beliau ditugaskan ke Singkawang, Kalimantan Barat. Disana, beliau bekerja pada bagian akuntansi. Beliau juga bertemu dengan cinta sejatinya, yaitu nenek saya, Wahdah Noor. Nenek adalah anak seorang nelayan, Mohammad Noor. Beliau selalu bersepeda ke tempat kerja, dan saat itulah beliau melewati rumah Nenek. Dan pada bulan September 1955, mereka menikah. Sampai sekarang, pernikahan mereka masih berjalan. Beliau mempunyai 6 orang anak dan akhirnya menetap di Pontianak, Kalimantan Barat. Beliau pensiun pada umurnya yang ke 48.

            Seperti yang diceritakan diatas, beliau ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sejak setelah lulus SMEA. Sebelum ditugaskan pada bidang logistik, beliau pernah mengangkat bamboo runcing melawan para penjajah sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Perang kemerdekaan timbul karena sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, negara-negara sekutu bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya. Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).

Setelah perang usai, tentara Australia bertanggung jawab terhadap Kalimantan dan Indonesia bagian Timur, Amerika Serikat menguasai Filipina dan tentara Inggris dalam bentuk komando SEAC (South East Asia Command) bertanggung jawab atas India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina. SEAC dengan panglima Lord Mountbatten sebagai Komando Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara bertugas melucuti bala tentera Jepang dan mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan warga sipil sekutu (Recovered Allied Prisoners of War and Internees/RAPWI).

Beliau mendapat ‘buah tangan’ berupa lubang pada kaki kirinya yang menyebabkan beliau tidak diberi kesempatan untuk mengangkat senjata lagi. Pada saat itu, beliau pun memasuki bidang logistik. Beliau juga ikut membantu para prajurit yang berperang saat Agresi Militer Belanda I. Beliau ditugaskan di daerah Bandung yang menjadi target penyerangan pasukan Belanda.           

Agresi militer I terjadi karena adanya perselisihan pendapat akibat perbedaan penafsiran dalam melaksanakan Perjanjian Linggarjati menimbulkan konflik antara Indonesia dan Belanda. Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengeluarkan nota berupa ultimatum yang harus dijawab pemerintah Indonesia dalam waktu 14 hari, karena tidak mencapai kesepakatan terhadap nota tersebut maka pada tanggal 21 Juli 1947, tengah Malam Belanda melancarkan serangan keseluruh daerah republik Indonesia. Operasi yang di beri label “aksi polisional” ini merupakan agresi yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.  Pasukan-pasukan belanda bergerak ke Jakarta dan Bandung untuk menguasai Jawa Barat, dan dari Surabaya untuk menguasai Madura dan wilayah Jawa Timur, serta satu pasukanlagi untuk memduduki Semarang. Di Sumatra pasukan Belanda berusaha menguasai perkebunan-perkebunan disekitar Medan. Instalasi minyak dan batubara di Palembang dan sekitarnya juga diserang dan dikuasai. Pasuka TNI memutuskan mundur ke pedalaman sambil menjalankan taktik bumi hangus dan taktik gerilia. Sistem wehrkreise diterapkan dengan menggantikan sistem pertahanan liner.

Dengan taktik itu, Belanda hanya mampu bergerak di kota-kota dan jalan raya. Sementara wilayah lainnya dikuasai sepenuhnya oleh TNI. Walaupun dengan kemampuan teknik sangat terbatas, TNI Angkatan Udara mulai berperan aktif dalam perang melawan Belanda. Dengan bermodalkan pesawat tua peninggalan Jepang, yang terdiri dari sebuah pesawat pengebom Guntai dan dua buah pesawat pemburu Cureng, dan penerbangan AURI terlibat dalam beberapa serangan udara terhadap Belanda. Pada tanggal 29 Juli 1947, ketiga pesawat yang berpangkalan di Maguwo Yogyakarta ini terlibat pertempuran di Ambarawa, Salatiga dan Semarang.

Beliau juga ikut andil dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia pada saat Agresi Militer Belanda II dan bertugas untuk menyuplai peluru dan bahan makanan kepada gerilyawan-gerilyawan yang dikomandoi oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. Oleh karena itu, beliau mendapat penghargaan berupa medali ‘Bintang Gerilya’ sebagai tanda jasa dari pemerintah Indonesia.

Sekarang, beliau sudah dimakamkan di Pontianak dan meninggalkan begitu besar nilai-nilai perjuangan Indonesia kepada keluarganya. Kita sebagai warisan bangsa, sudah seharusnya melanjutkan perjuangan mereka dengan mempertahankan negeri yang tercinta ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Saya berterima kasih kepada Ibu saya karena sudah membantu untuk menjadi narasumber dalam tulisan ini.



Bersama Ibu saya sebagai narasumber.

Kakek alm. Ghani Sutedja dengan Nenek.


No comments:

Post a Comment