Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Melati Wijayanti XI IPA 3


MBAH ZAM’AH SAKSI BELIA PADA MASA PENJAJAHAN

Bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad lamanya. Banyak kejadian dan peristiwa yang terjadi. Duka, penderitaan, tangis, jeritan, dan suasana mencekam mewarnai hari-hari mereka yang hidup pada zaman tersebut. Menjalani kehidupan penuh ancaman dan berada kekangan selama bertahun-tahun bahkan sampai beratus-ratus tahun sangatlah tidak mudah. Perasaan khawatir dan takut akan kedatangan para penjajah selalu menghantui.
Banyak sekali tempat yang dijadikan sebagai persembunyian dari para penjajah. Dari mulai galian di bawah tanah hingga tempat tinggal. Tak sedikit pula orang yang rela berkorban dan berjuang demi sebuah kebebasan dan kemerdekaan. Para pejuang tersebut memiliki peran yang besar akan keadaan Indonesia pada hari ini.
Dewasa ini, pengalaman pahit tersebut hanya menjadi sebuah kenangan yang dapat diceritakan kepada anak-cucu mereka. Tidak semua orang yang hidup pada zaman tersebut menjadi seorang pelaku sejarah. Ada juga orang-orang yang hanya menjadi saksi terjadinya suatu peristiwa atau biasa disebut sebagai saksi sejarah. Para saksi sejarah mungkin tidak memiliki peran sebesar para pelaku sejarah. Namun sekecil apapun peran yang mereka lakukan itu sangat berarti pada saat itu.
Pada tanggal 28 Mei 2013 saya mewawancarai salah satu saksi sejarah yang merupakan nenek saya sendiri. Saat mewawancarai nenek saya, saya dibantu oleh Ibu saya untuk mengartikan kalimat atau perkataan yang beliau ucapkan karena hampir seluruh perkataan yang beliau ucapakan berbahasa Jawa. Berikut hasil wawancara saya.

Biografi

Saksi sejarah ini bernama Zam’ah. Mbah Zam’ah lahir di Magelang pada tanggal 31 Desember 1941. Pendidikan mbah hanya sampai tingkat SD saja bahkan tidak sampai tamat, hanya sampai kelas 4 SD. Ketika ditanya alasan mengapa tidak tamat sekolah mbah hanya tertawa lalu bercerita bahwa pada zaman dahulu untuk pergi kemana-mana harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan umum termasuk pergi ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah yang sangat jauh didukung dengan keadaan yang kurang kondusif membuat hati mbah menjadi kecil dan tidak berani untuk pergi ke sekolah. Pada awalnya mbah bersekolah di kampung Madura dari kelas 1-3 SD kemudian pindah ke sekolah di daerah Mungkid hingga kelas 4 SD. Sekolah tempat mbah belajar pun bukan berupa gedung layaknya sekolah pada umumnya melainkan hanya sebuah tempat tinggal kosong dan kecil yang dijadikan sebagai tempat belajar-mengajar. 
Mbah menikah dengan kakek saya yaitu (Alm.) Mbah Abdullah Rosyidi. Mbah Abdullah Rosyidi meninggal sekitar tahun 2002. Dari hasil pernikahan mereka, mbah memiliki tujuh orang anak. Anak yang pertama bernama Fauzin Nuryanto, yang kedua bernama Asna Faricha, ketiga bernama Sri Nanik Ngafiyatun, keempat bernama Amina Yusrona, kelima bernama Ummu Khasanah, keenam bernama Salmah Yusron Hartawanti Baroroh, dan anak yang terakhir bernama Khusniana Sri M’afiyyah. Seharusnya mereka dikarunia sembilan orang anak. Namun dua orang tersebut telah meninggal dunia. Salah satu dari mereka bernama Istun Istiqomatun Sri Rahayu yang seharusnya menjadi anak yang keenam. Namun bulek Istun meninggal dunia dikarenakan sakit panas pada usia 2,5 tahun. Yang terakhir seharusnya menjadi anak yang kelima namun mbah Zam’ah mengalami keguguran sehingga bayi tersebut meninggal sebelum sempat lahir ke dunia. Ketika itu mbah ingin naik bus namun belum sempat kaki mbah naik ke dalam bus, bus tersebut sudah keburu jalan duluan. Akibatnya mbah sempat terseret dan pada akhirnya mengalami keguguran. Mbah seharusnya memiliki delapan belas orang cucu. Empat orang cucu dari anak yang pertama sampai ketiga, dua orang cucu dari anak yang keempat dan keenam, dan satu orang cucu dari anak kelima dan ketujuh. Namun, cucu mbah yang bernama Muhammad Sakti Akbar Rosyidi dari anaknya yang kelima sudah meninggal dunia karena terkena virus toksin ketika masih berusia satu tahun. Saat ini mbah Zam’ah tinggal di Muntilan, Magelang bersama anak yang keenam dan keluarganya.

   Peranan

   Mungkin peran mbah Zam’ah tidak seperti orang lain yang terlibat langsung dalam suatu peperangan atau menjadi saksi mata secara langsung terjadinya suatu perang. Sebagian besar apa yang mbah ceritakan saat ini tidak beliau alami secara langsung. Pada saat itu mbah Zam’ah masih sangat kecil itu sebabnya tidak banyak peristiwa yang ia ketahui. Ketika mbah sudah mulai dewasa, orang tuanya atau mbah buyut saya menceritakan kembali apa yang terjadi pada saat itu.
 Menurut cerita mbah Zam’ah, ketika itu berhembus kabar bahwa penjajah Belanda akan datang. Semua orang panik dan akhirnya bergegas meninggalkan perkampungan tempat tinggal mereka. Masih jelas diingatan mbah ketika mbah digendong oleh orang tuanya untuk pergi ke tempat pengungsian. Mbah Zam’ah kecil yang masih polos tidak mengerti akan apa yang terjadi pada saat itu. Yang ada dipikirannya hanyalah ia akan diajak pergi oleh orang tuanya bukan untuk mengungsi.
Kemudian mbah sudah mulai masuk sekolah di tingkat SD. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya dibagian biografi, mbah tidak tamat SD dikarenakan banyak faktor. Yang pertama mbah bercerita bahwa beliau tidak memiliki banyak teman wanita pada saat itu sebagian besar temannya adalah pria jadi tidak ada teman untuk pergi menuju ke sekolah. Mbah Zam’ah kecil harus berjalan kaki dari rumahnya di daerah Pabelan menuju ke sekolahnya yang berada di daerah Mungkid sendirian. Setiap hari selalu beredar kabar bahwa akan ada musim culik yang membuat mbah menjadi kecil hati dan gelisah. Musim culik ini hanya mengincar anak-anak perempuan saja. Maka dari itu mbah merasa takut dan memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lagi. Selain itu jarak dari rumah mbah dan sekolah yang cukup jauh juga menjadi alasan mengapa mbah pada akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Mbah juga sempat mengetahui bahwa ketika kakaknya yang bernama Zainiah ingin berangkat ke sekolah, sekolahnya itu dibom untuk mencegah agar pejajah Belanda tidak menggunakan tempat itu sebagai markas mereka. Akibatnya mbah Zainiah dan mbah Zam’ah tidak dapat pergi ke sekolah lagi dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke sekolah di daerah Mungkid tadi.
Dibelakang rumah mbah Zam’ah tinggalah seorang nenek penjual jamu keliling. Nenek ini berjualan hingga ke daerah Grabak yang sangat jauh jaraknya. Ketika mbah sudah bersekolah di daerah Mungkid, mbah Zam’ah sering sekali atau mungkin sering meminta nenek penjual jamu untuk menunggunya disatu titik atau tempat tertentu untuk berjalan pulang kerumah bersama-sama. Hal ini mbah lakukan ketika beredar isu tentang penculikan tadi
Suatu ketika orang tua mbah Zam’ah atau mbah buyut saya pergi ke pasar seperti biasa bersama adik dari mbah Zam’ah yang bernama Musabihah. Ketika itu mbah Musabihah masih digendong oleh mbah buyut saya. Ketika jam sudah menunjukan sekitar pukul 19:00 atau 20:00 WIB, mbah buyut dan mbah Musabihah belum juga sampai dirumah. Ternyata pada saat itu beredar kabar bahwa penjajah Belanda akan datang untuk membom perkampungan tempat mbah tinggal. Karena takut, mbah buyut mencari jalan lain untuk pulang kerumah. Semua orang panik dan keadaan semakin tidak terkendali maka dari itu mbah buyut hanya mengikuti arah kemana orang lain berlari sambil menggendong mbah Musabihah. Untungnya mbah buyut dan mbah Musabihah dapat pulang sampai ke rumah dengan selamat meskipun harus menempuh jarak yang lebih jauh dari biasanya,
Mbah Zam’ah pada zaman itu lebih sering berdiam diri di dalam rumah dan hampir tidak pernah keluar rumah meski hanya sekedar untuk bersosialisasi dengan anak seumurannya yang lain. Tempat pengungsian mbah dan keluarganya pun dahulu jaraknya sangat jauh dari rumah mbah yaitu di daerah Gunung Kidul. Hal itu semua dilakukan karena mbah sangat takut jika tiba-tiba tentara Belanda melepaskan timah panasnya ke arah mbah. Kata mbah Zam’ah, mbah buyut saya pernah bercerita bawah rumah yang mbah Zam’ah tinggali dulu bersama orang tuanya pernah dijadikan sebagai tempat pengungsian. Awalnya rumah itu hanya menjadi sarana tempat berkumpul saudara-saudara terdekat. Namun lama-kelamaan semakin banyak orang yang datang ke rumah mbah, namun orang-orang yang datang masih memiliki hubungan darah dengan mbah. Bahkan saking seringnya rumah itu sempat dijadikan sebagai tempat pernikahan karena hampir semua keluarga berkumpul dirumah itu. Namun, karena banyaknya jumlah orang yang mengungsi di rumah mbah Zam’ah, mbah buyut memutuskan untuk pindah mengungsi di tempat lain yang bernama Brang Kali.
Mbah Zam’ah sempat sedikit bercerita bahwa di depan rumah yang mbah tinggali saat ini terdapat sebuah pohon. Pohon tersebut berada tepat di halaman depan rumah mbah di Muntilan. Menurut cerita mbah Zam’ah pohon nangka tersebut pernah terkena ledakan dari granat. Saat ini pohon tersebut sudah ditebang. Bekas ledakan granat itu membuat pohon tersebut terlihat seperti tercuil atau kroak pada bagian bawah pohon. Kemudian dahulu masih di halaman rumah mbah yang berada di Muntilan banyak dibangun tempat persembunyian bawah tanah untuk menyelamatkan diri dari serangan tentara Belanda. Semua pohon ditebang lalu kemudian digalilah lubang sebagai tempat persembunyian. Setiap terdengar suara ledakan bom atau suara tembakan pistol semua orang  masuk ke dalam lubang bawah tanah yang sudah mereka gali tadi.
Mbah Zam’ah juga sempat bercerita sedikit tentang Alm. Mbah Abdullah Rosyidi. Mbah Zam’ah bercerita bahwa kakek saya ini merupakan anak yang paling tua di keluarganya dan memiliki banyak adik. Selepas ayah dari kakek saya meninggal, kakek saya harus bekerja banting tulang karena secara otomatis beliau menjadi tulang punggung keluarga. Kakek saya sempat berjualan garam. Pada saat itu kakek saya harus menjual garamnya ke pasar Serapen dan jarak dari rumah menuju ke pasar sangatlah jauh karena harus melewati daerah Pabelan. Terkadang kakek saya harus menyeberangi sungai dengan menggunakan getek atau dengan pelepah pisang atau menggunakan sepeda. Ketika memiliki uang lebih kakek saya selalu ingin membeli kain. Lalu kakek saya pergi menuju ke pasar untuk membeli kain. Ketika dalam perjalanan akan pulang, kakek saya dicegat lalu kemudian semua barangnya diambil tanpa tersisa.
Pada intinya, meskipun mbah Zam’ah tidak memiliki peranan dalam peperangan atau suatu konflik tetapi beliau cukup peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya sebagai seorang saksi sejarah yang pada saat itu masih sangat belia umurnya.
Ini hasil rekaman wawancara saya dengan nenek saya mbah Zam’ah.
           


No comments:

Post a Comment