Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Melissa Putri Hidayat

Neklok, 87 Tahun Kehidupan Bersejarah
"Tidak, tidak"
                  -Hamidah Maksum
               
Walaupun Aceh merupakan daerah perdagangan yang sering “dimampiri” banyak negara, Aceh merupakan daerah yang tidak terlalu banyak terpengaruh oleh penjajah Belanda, hal ini dikarenakan oleh kuatnya agama Islam disana. Orang Aceh pun memiliki motto “ceh, nceh” yang berarti “tidak, tidak”. Tetapi, tetap saja Belanda mencoba menjajah Aceh dengan berbagai cara, salah satunya ada mempersekolahkan teuku-teuku yang berada di Aceh. Karena hal ini, terjadi pertengkaran antara agama (tengku) dan ningrat (teuku). Perang di Acehpun banyak terjadi dikarenakan dari rakyat mereka sendiri.
  
            
Biografi
Hamidah Maksum, atau yang biasa saya panggil neklok (nenek kecil), adalah tante dari ibu saya yang lahir pada tahun 1926. Beliau telah menjadi saksi sejarah selama 87 tahun kehidupannya. Beliau masih berumur 19 tahun saat Indonesia merdeka. Saat kecil, beliau bersekolah di HIS selama 8 tahun (setara dengan SD) di Tapak Tuan, Aceh Selatan. Seharusnya, HIS dapat diselesaikan hanya dalam 7 tahun, tetapi dikarenakan meninggalnya kakak dari neklok, beliau bolos sekolah selama 2 bulan sehingga harus mengulang lagi setahun. Beliau bercerita bahwa orang yang diperbolehkan belajar hanya yang orang tuanya mampu atau anak-anak pintar yang dibiayai oleh Belanda, agar anak-anak yang dibiayai itu dapat membantu Belanda nantinya. Setelah lulus HIS, neklok awalnya ingin melanjutkan pendidikannya ke Solo, tetapi neknyang, ayah dari neklok, menyuruh neklok agar ke Padang Panjang terlebih dahulu untuk belajar di sekolah Islam, sebelum pergi ke Solo. 6 bulan setelah kemerdekaan neklok menikah dan melanjutkan sekolah agama.

Peranan
Saat Aceh masih dijajah oleh Belanda, neklok ingat ada satu orang Jepang yang bernama Iwasaki, yang telah lama sekali tinggal di Meulaboh, dari muda sampai ia tua. Awalnya saat akan masuk ke Aceh, Iwasaki hanya datang untung menjual kain-kain dari Jepang, karena mendapatkan banyak keuntungan dari penjualannya, Iwasaki membuka beberapa pabrik selama ia tinggal di Meulaboh, seperti pabrik limun dan pabrik tenun. Ternyata ia adalah mata-mata dari Jepang, namun pada saat itu neklok dan warga-warga Meulaboh tidak mengetahui hal tersebut.  

Belanda dan Aceh bertengkar cukup lama, hingga akhirnya Jepang mendekati secara halus dengan iming-iming akan membantu mengusir Belanda. Sebelum Belanda pergi, mereka melakukan “pembersihan” di Aceh, seluruh masyarakat yang dilihat oleh tentara Belanda ditembakinya. Terutama yang dianggap muslimin oleh Belanda, karena Belanda menganggap semua muslimin adalah pemberontak. Neklok dan keluarganya harus bersembunyi di lubang bawah tanah yang mereka buat setiap kali mereka mendengar ada tentara Belanda di luar, namun sayangnya kakak dari neklok tidak selamat dan tertembak mati. Lubang ini terletak di bawah rumahnya. Keesokan harinya, banyak warga-warga yang telah lari, entah ke gunung ataupun ke hutan, namun neklok dan keluarganya tetap tidak lari, hal ini menyebabkan warga-warga yang berada disekeliling rumah neklok, berkumpul di rumah neklok. Ayah dari neklok bertanya mengapa warga-warga itu berkumpul di sekitar rumahnya, dan mereka menjawab “Bapak tidak lari, kalau bapak hidup, kami hidup, kalau bapak mati, kami mati”. Pada akhirnya warga-warga yang berkumpul di rumah neklok pun mencapai 200 orang. Warga-warga itu tentu tidak semua bisa masuk kedalam rumah karena terbatasnya tempat, tetapi mereka tidak peduli, tetap saja mereka berkumpul disana walaupun harus tidur di pekarangan. Saat Belanda datang ke rumah neklok, tidak sedikit warga yang dibunuh, bahkan kakak ipar dari neklok pun menjadi korban, saat itu kakak ipar neklok memiliki luka di tangannya, tentara Belanda melihatnya dan menduganya sering berlatih memakai pisau ataupun pedang, mereka pun menyuruh kakak ipar neklok untuk membelaki mereka dan menghadap kedinding lalu menembaknya tepat di depan mata neklok dan keluarganya (termasuk istri dan anak dari kakak ipar neklok). Saat tembakan pertama kakak ipar neklok terjatuh dan masih bergerak, melihat hal tersebut, tentara Belanda pun menembaknya lagi hingga kakak ipar neklok berhenti bergerak. 2 hari setelah Belanda melakukan pembersihan, barulah tentara Jepang masuk.

Menjelang masuknya Jepang ke Aceh barat selatan ada beberapa orang anti Belanda ingin lari dari kejaran Belanda dengan memakai perahu di laut samudra barat menuju kearah meulaboh, dari pantai Aceh barat ada sekelompok orang menaikkan bendera Jepang untuk memancing para anti Belanda, ternyata sekelompok orang itu adalah tentara Belanda. Para anti-Belanda pun tertipu, mereka dibariskan dan langsung ditembak di tempat. Dari enam orang tersebut satu diantara mereka selamat karena tertindih oleh teman-temannya yang tertembak mati. Setelah Belanda menganggap mereka semua telah mati, Belanda meninggalkannya begitu saja, kemudian setelah keadaan sepi ia bangun dan berusaha mencari bantuan, dan teman-temannya dimakamkan.

Menjelang perginya Belanda dari Aceh ada berita bahwa tentara Jepang akan mendarat maka beliau dianjurkan untuk menjahit bendera Jepang / hinomam, bendera yang berukuran besar dan yang kecil, yang besar untuk dikibarkan di rumah-rumah dan yang kecil dipakai sebagai tali pita untuk dipakai di lengan atas. Setelah di jahit bendera-bendera tersebut disimpan, menunggu perintah untuk digunakan, tetapi kemudian satu hari ada berita entah darimana menyatakan bahwa Belanda masih berada di lautan sebelah barat kampung neklok, orang tua neklok serta orang tua teman-teman neklok mendesak untuk membakar bendera Jepang, tapi yang neklok dan teman-temannya bakar hanya bendera kecil dan yang besar disembunyikan. Ketika orang tua mereka bertanya “apakah sudah dibakar?” “sudah” Jawab neklok dan teman-temannya. Neklok dan teman-teman sebaya neklok percaya bahwa Jepang pasti akan datang, ternyata dugaan neklok dan teman-temannya benar. Keesokan harinya ada pengumuman bahwa Jepang telah mendarat di Aceh, para orang tua panik dan bingung, mereka tidak tahu bagaimana cara menyediakan kembali bendera-bendera Jepang itu, neklok dan teman-temannya dengan spontan menjawab bahwa masih ada yang belum dibakar, merekapun bertanya dari mana bendera-bendera itu, neklok dan teman-temannya pun mengaku bahwa bendera besar tidak mereka bakar tetapi disembunyikan, mendengar hal tersebut, para orang tua merasa lega sekali.

Penjajahan Jepang yang berlangsung selama 3 tahun, merupakan 3 tahun yang penuh kesedihan dan kemelaratan terutama bagi masyarakat yang kurang mampu, rakyat Aceh sangat merasakan kehidupan yang tidak layak, mereka mencoba meringankan beban mereka dengan berbagai cara. Karena hal ini, orang-orang menjadi pintar, pernah suatu ketika, saat itu tidak ada yang menjual korek api, tidak ada toko yang menjual pakaian, apalagi beras. Untuk mendapatkan api, mereka kembali berfikir ke masa silam misalnya dengan menggunakan kayu dari pohon. Untuk membalut tubuh, mereka membuatnya dari kulit kayu, dan sebagian memakai karung goni. Bagi yang mempunyai padi, Jepang akan menukarnya dengan bahan baju yang bernama kain cita. Disamping keprihatinan itu, warga Aceh juga dapat membuat benang dari daun atau pelepah nanas, mereka memintalnya menjadi benang yang kemudian mereka rajut menjadi baju. Banyak sekali warga yang yang tidak mendapatkan beras karena itu makanan pokok diganti dengan sagu, ubi, dan singkong. Kebetulan  neklok beruntung, orang tua neklok memiliki rejeki yang banyak, sejak lama orang tua neklok memiliki rumah yang besar. Kalau ada pembesar-pembesar Jepang, mereka ditampung di rumah neklok karena ada pavilionnya, mau tidak mau neklok menyediakan makanan untuk mereka, mereka juga mebawa bekal sekadarnya untuk diolah sebagai makanan. Dalam masa jajahan Jepang, ibu neklok sering menjadi penerima tamu-tamu Jepang, neklok sendiri terus belajar di sekolah agama pagi sampai menjelang dzuhur, kemudian oleh guru agama, neklok diminta untuk mengajar anak-anak di kelas satu dari jam 2-3.30. Ini adalah sebuah taktik agar Jepang tidak mengambil anak muda perempuan atau gadis menjadi pegawainya, karena Jepang menghormati pelajar dan guru. Neklok juga diharuskan belajar bahasa Jepang untuk menyanyikan lagu-lagunya. Banyak rumah-rumah besar yang ditempati Jepang, sehingga ada penghuni terpaksa pindah rumah.

Dirumah neklok, terdapat 2 buah kuburan di pekarangan rumah beliau, kuburan ini digunakan untuk orang yang mati syahid. Yang pertama di kubur adalah Muhammad, adik ipar ayah neklok. Yang kedua T. Diwa Mahmud, kakak ipar / suami kakak neklok. Kakak neklok merupakan orang yang sangat gesit. Disamping rajin memasak kakak beliau juga sempat membuat kue-kue dari sagu, singkong yang dapat menghasilkan uang dan juga pandai membuat sabun cuci dengan menggunakan air abu dan lain-lain. Sewaktu tetangga-tetangga dibelakang rumah neklok berlindung di rumah neklok, ada beberapa orang yang tertembak luka, tidak mati. Termasuk seorang anak kecil keluarga orang tua neklok, oleh ibu neklok, mereka diobati dengan obat-obat yang ada di rumah, rumah neklok merangkap poliklinik kecil, untunglah ada persiapan makanan seperti ikan asin, minyak goreng, telur, ayam peliharaan untuk dimakan oleh warga.

Saat pagi-pagi, di tempat neklok tinggal terdapat suatu jadwal rutin yaitu apel. Neklok bercerita bahwa beliau dan teman-teman beliau akan berbaris menghadap timur, dan hormat kearah pimpinan Jepang dan menundukkan kepala. Walaupun dalam hati mereka tidak mau, tetapi bila mereka tidak melakukan hal tersebut, kepala mereka akan langsung ditembak.

Neklok  bercerita bahwa walaupun mereka sudah merdeka, tetap saja banyak pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di Aceh, hal ini karena perbedaan ideologi mereka, sayangnya, karena tidak saling mau menerima pendapat dari pihak yang lain, pertengkaraan inipun menjadi semakin parah, misalnya pertengkaran antara MU dan muhammadiyah. Diperlukan kerjasama antara alim ulama dan kepala-kepala daerah agar Aceh dapat damai, namun tetap saja tidak bisa sepenuhnya damai contoh organisasi yang menggambarkan hal tersebut adalah GAM (Gerakan Aceh Merdeka) mereka meminta agar Aceh dapat merdeka dari Indonesia dengan tujuan membuat kerajaan sendiri. Untuk menahan hal ini dalam petinggi-petinggi yang membuat keputusan penting di Aceh, setidaknya 1 orang GAM akan ditempatkan di dalamnya agar GAM dapat merasa puas. Tetapi neklok berpesan bahwa untuk maju, kita harus mundur 1 langkah terlebih dahulu.
                 
Saya mewawancara neklok:
http://www.fileden.com/files/2013/5/31/3448773//Myrecording.mp3


                 
                  

No comments:

Post a Comment