Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Muhammad Alen Irnawan B. XI IPA 2

Yusmaniar, Smash Keras Pembawa Kemenangan

Pada kesempatan kali ini, saya mewawancarai nenek saya untuk memenuhi tugas sejarah yaitu mewawancarai orang yang pernah menjadi pelaku sejarah atau orang yang pernah menjadi saksi sejarah.  Awalnya saya memilih mewawancarai nenek saya karena beliau dahulu adalah seorang atlet voli.  Dengan demikian saya menganggap beliau sebagai salah satu pelaku sejarah.  Tapi ternyata, beliau juga merupakan seorang saksi sejarah yaitu menyaksikan peristiwa pemberontakan Gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

BIOGRAFI
            Hj. Yusmaniar alias nenek saya lahir pada tanggal 10 Maret 1940 di Lintau, Sumatera Barat.  Putri dari Bakar Datuk Raja Mangkuto dan Nurniah ini merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara.  Beliau memiliki tiga adik laki-laki dan lima adik perempuan.

            Saat kecil, beliau bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 1 Tepiselo Lintau, Sumatera Barat.  Kemudian, beliau melanjutkan ke sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama yaitu Hollandsche Indische Kweekschool atau Sekolah Guru Bantu (SGB) di Padang Panjang.  Saat Sekolah Menengah Pertama inilah beliau pertama kali mengenal dan berlatih olahraga voli.  Tamat SMP, beliau melanjutkan ke KGA (Kursus Guru Atas).

            Pada tahun 1957, beliau bertanding di Pekan Olahraga Nasional IV Makassar cabang bola voli.  Kemudian tahun 1958, beliau mengajar di Sekolah Dasar Negeri 9 Padang Panjang, Sumatera Barat.  Tak sempat lama beliau mengajar, Sumatera Barat bergejolak karena adanya gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipelopori oleh Letnan Kolonel Ahmad Hussein.  Hal ini mengakibatkan nenek saya harus mengungsi ke hutan.

            Tahun 1960, gejolak pertentangan yang terjadi di Sumatera Barat telah mendingin.  Akhirnya, beliau kembali mengajar lagi di Sekolah Dasar Negeri 9 Padang Panjang, Sumatera Barat.  Satu tahun kemudian, beliau kembali mengikuti Pekan Olahraga Nasional yaitu yang ke V di Bandung.

            Beliau juga pernah mengikuti Pelatnas Asian Games di Jakarta pada tahun 1961.  Dan kemudian bertanding di Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta.  Akhir tahun 1962, beliau kembali ke Lintau untuk menikah.  Beliau menikah dengan H. Emran Ibrahim pada tanggal 14 Desember 1962.

            Pada tahun 1964, beliau bersama suaminya yang tak lain adalah kakek saya pindah ke Jakarta.  Mereka menetap di sebuah rumah di Jalan Dr. Susilo 2 no. 37 Grogol.  Empat tahun kemudian, mereka berpindah ke daerah tebet yaitu di Jalan Tebet Timur Dalam no. 4C.  Mereka memiliki empat orang anak yaitu Mutia Noviani, Ratna Yulfianti (ibu saya), Agusta Rinaldi, dan Yulian Fadly.  Setelah memiliki anak, nenek saya menjadi seorang ibu rumah tangga sambil mengurus usaha catering yang beliau dirikan.

            Tahun 2010, beliau berpindah lagi ke daerah ulujami yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah saya.  Kini beliau sudah memiliki sembilan orang cucu yaitu Nabila Radityanti, M. Alen Irnawan B. (saya), M. Fachreza Dwinanto, M. Rayhan Eagenthara, M. Daril Nofriansyah B. (adik saya), Syadzwina Alika Kianithara, M. Dirham Zakaria, Dhinar Zaharani, M. Dhinero Zulfandrie.


PERANAN
Banyak peranan yang telah beliau lakukan semasa hidupnya, khususnya dalam bidang olahraga.  Beliau dahulu adalah seorang atlet bola voli yang pernah bertanding di Pekan Olahraga Nasional IV Makassar, Pekan Olahraga Nasional V Bandung, dan Asian Games IV.  Dalam sebuah tim voli, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan).  Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan.  Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan.  Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net.  Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.  Nenek saya berperan sebagai seorang spiker.

Awalnya, beliau mengikuti latihan voli saat Sekolah Menengah Pertama disekolahnya yaitu Hollandsche Indische Kweekschool atau Sekolah Guru Bantu (SGB) di Padang Panjang.  Setelah itu, beliau terpilih mewakili kecamatannya untuk bertanding di tingkat provinsi.  Beliau pun meraih juara pertama dan alhasil terpilih sebagai perwakilan provinsi Sumatera Barat untuk bertanding di Pekan Olahraga Nasional.

Pada tanggal 27 September 1957 sampai dengan 6 Oktober 1957, beliau mengikuti Pekan Olahraga Nasional IV yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Pada tahun 1958, saat belum lama ia mengajar di Sekolah Dasar Negeri 9 Padang Panjang, terjadi gejolak pertentangan di Sumatera Barat yaitu adanya gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipelopori oleh Letnan Kolonel Ahmad Hussein.  Letnan Kolonel Ahmad Husein lahir di Padang, Sumatera Barat, 1 April 1925 dan meninggal di Padang, 28 November 1998 pada umur 73 tahun.  Adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan pemimpin militer PRRI.  Pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang dia membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dibawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri dengan tujuan mengoreksi pemerintahan otoriter Soekarno yang dianggap inkonstitusional dan mengabaikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah.  Tindakan koreksinya itu ternyata mendapat sambutan berupa aksi militer dari pemerintah pusat di Jakarta sehingga menimbulkan perang saudara di Sumatera Barat.

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.  Dan kemudian gerakan ini mendapat sambutan dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, dimana pada tanggal 17 Februari 1958 kawasan tersebut menyatakan mendukung PRRI.

Konflik yang terjadi ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan keinginan akan adanya otonomi daerah yang lebih luas.  Selain itu ultimatum yang dideklarasikan itu bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih kepada konstitusi dijalankan.  Pada masa bersamaan kondisi pemerintahan di Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda.  Hal ini juga memengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan, terutama pada daerah-daerah di luar pulau Jawa.

Dan sebelumnya bibit-bibit konflik tersebut dapat dilihat dengan dikeluarkannya Perda No. 50 tahun 1950 tentang pembentukan wilayah otonom oleh provinsi Sumatera Tengah waktu itu yang mencakup wilayah provinsi Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi sekarang.

Namun apa yang menjadi pertentangan ini, dianggap sebagai sebuah pemberontakan oleh pemerintah pusat yang menganggap ultimatum itu merupakan proklamasi pemerintahan tandingan dan kemudian dipukul habis dengan pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di dalam sejarah militer Indonesia.

Tahun 1961, beliau kembali mewakili provinsi Sumatera Barat untuk bertanding di Pekan Olahraga Nasional.  Kali ini PON V yang diselenggarakan pada tanggal 23 September 1961 sampai dengan 1 Oktober 1961 di Bandung, Jawa Barat.

Setelah dua kali mengikuti Pekan Olahraga Nasional, pada tahun 1962, beliau ditugaskan ke Jakarta sebagai utusan Sumatera Barat untuk Pelatihan Nasional Asian Games ke-4 cabang bola voli.  Akhirnya, beliau pun bertanding di Asian Games ke-4 yang diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus 1962 sampai dengan 4 September 1962.

Setelah mengikuti berbagai kejuaraan, beliau tidak begitu saja berhenti berlatih bermain voli.  Beliau masih terus berlatih sampai tahun 1985.


 

No comments:

Post a Comment