Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Muhammad Kahfi Ramadhan


Guru dari guru

Indonesia bisa mencapai kemerdekaannya bukan karena b
elas kasihan dari negara lain, namun karena perjuangan warga Indonesia yang pantang menyerah. Sejarah Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya begitu panjang, karena sumber daya Indonesia yang begitu melimpah banyak negara-negara asing yang memperebutkan Indonesia. Warga Indonesia tidak tinggal diam dalam menanggapi hal ini. Jika tentara asing terlalu kuat untuk dilawan di kota-kota, maka warga Indonesia berinisiatif untuk melawannya di pedalaman-pedalaman desa.

Banyak sekali warga Indonesia yang turut berperan serta dalam membantu Indonesia mencapai kemerdekaannya, pejuang-pejuang ini membantu Indonesia dalam bidang apapun dari militer hingga pendidikan. Pada kali ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai seorang pejuang dalam bidang pendidikan. Beliau merupakan eang dari teman saya yang bernama Inal. Saya pun mewawancarai beliau di hari Minggu tanggal 21 April di kediaman beliau tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara.  

Biografi


Beliau memiliki nama Sumiyati yang sekarang biasa di panggil eyang putri. Lahir tahun 1931 di Wonosobo, sejak tahun 1934 ayah beliau meninggal. Beliau merupakan anak ke-5 dari enam saudara.  Ayah beliau meninggal di Purworejo saat bertugas. Kematian ayah beliau membuat Eyang harus ikut ibu di wonosobo, waktu jaman belanda eyang menjalani sekolah dasar  sampai pendudukan jepang, sekitar tahun 1947an.    
                                                                                                                                                                             

Peranan


Beliau memulai perjuangannya sebagai pelajar SD pada tahun 1940an, tidak semua orang bisa seberuntung Eyang karena pada masa itu sangat susah seseorang untuk menjalani pendidikan akibat kurangnya sarana pendidikan seperti sekolah maupun guru, ditambah lagi beliau tinggal di daerah bukan di ibukota. Hal tersebut kerap mempersulit masalah pendidikan, namun dengan usaha gigih beliau bisa bersekolah. Beliau melalui dua zaman penjajahan selama menempuh jenjang sekolah dasar, karena pendidikan sempat terputus akibat peralihan zaman.  Beliau berpendapat bahwa  zaman Belanda lebih enak dari Jepang, karena Jepang merupakan negara yang sangat disiplin sehingga segala hal harus mengantri dan sesuai rencana. Tahun 1945 banyak warga yang melarikan diri ke pengungsian karena tentara Jepang terus mengejar-ngejar pribumi. Hal tersebut menyebabkan banyak warga Jakarta yang lalu kembali lagi ke Wonosobo. Lalu Beliau melanjuutkan sekolahnya di Wonosobo, pada zaman dahulu pengadaan upacara tujuh belasan kadang di cekal di beberapa daerah meski sudah merdeka. Jepang masuk Indonesia ketika Eyang masih duduk di bangku sekolah dasar.                                                    
                                                                              
Pada Tahun 1948 terjadi pengeboman oleh tentara sekutu yang masih ingin menguasai wilayah Indonesia dan membumi hanguskan Indonesia lalu kembali mengungsi. Pada pengungsian kali ini, keadaan dipersulit oleh banyaknya korban yang berjatuhan akibat peperangan. Orang-orang yang mengungsi pun dihantui oleh rasa takut karena tentara asing masih tetap mengejar-ngejar. Beliau beserta warga pengungsi yang lain secara terpaksa harus berpindah-pindah tempat juga.  Untungnya, pada saat itu kakak dari beliau merupakan seorang tentara sehingga bisa ditolerir jika bertemu dengan tentara asing suatu ketika. Anak laki-laki pada waktu itu yang sudah menginjak SMA di haruskan menjadi tentara pelajar atau TP untuk membantu melindungi negara.      
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
Ketika menginjak SMA Eyang juga membantu tentara dalam membuat lambang segitiga merah putih untuk seragam tentara. Sepulang sekolah, Eyang mulai menjahit lambang tersebut untuk nantinya dikirim ke tentara yang bertugas di pedalaman untuk di ambil malam harinya. Setelah mengambil, tentara akan memberi upah untuk nantinya dijadikan modal untuk membuat lambang tersebut lagi. Eyang harus melakukan hal tersebut secara diam-diam karena jika tentara musuh tahu, bisa kena hukum. Setelah sekolah, untuk menutupi kegiatan menjahitnya tersebut Eyang menaruh beberapa buku pelajaran sehingga tentara yang berpatroli mengira beliau sedang belajar. Karena sebagian tentara termasuk kedalam golongan anak kuliahan mereka senang melihat Eyang beserta teman-temannya belajar. Beberapa dari mereka bahkan memberikan kamus bahasa belanda untuk dipelajari Eyang dan teman-temannya. 

Eyang melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Guru Atas yang terletak di Semarang, karena biaya di Jakarta cukup mahal.  Lulus tahun 1954, Eyang mulai menekuni bidang guru dan di tempatkan di Yogya. Menjadi guru teladan selama empat tahun membuat Eyang terpilih menjadi perwakilan guru Indonesia untuk di kirim ke Australia tepatnya Perth untuk menjalani pendidikan lanjut guru demi menerapkan ajaran doktrinasi Bung Karno untuk pemuda Indonesia. Dari empat puluh orang yang di kirim ke Australia,  tujuh orang di saring lagi untuk menerapkan doktrinasi Bung Karno. Sayangnya, pemberitahuan tersebut begitu mendadak sehingga Eyang tidak sempat mengkonfirmasi orang tua beliau yang berada jauh di daerah. Dengan terpaksa, eyang pun harus pergi tanpa berpamitan. Zaman dahulu, rute pesawat dari Indonesia menuju Perth tidak langsung melainkan harus mengitari Australia melalui Brisbane.

Eyang harus pergi sendiri ke Perth tanpa teman-teman dari Indonesia yang lain karena mereka tidak bisa hadir karena berhalangan. Setibanya disana, eyang sempat bingung karena tidak menemukan orang yang seharusnya menjemput eyang disana. Namun pada akhirnya terdengar suara pemberitahuan yang memberi kabar bahwa Miss. Sumiyati telah ditunggu kedatangannya di ruang depan. Datang lah eyang ke ruangan tersebut dan memulai perjalanannya menuntut ilmu pendidikan untuk Indonesia. Kondisi yang serba modern disana membuat eyang kebingungan dan menyebabkan eyang bolak-balik menuju ruang informasi. Bus yang juga sangat banyak pada saat waktu itu di bandara turut membingungkan eyang untuk bis mana yang harus dimasuki. Kendala tidak berhenti sampai situ saja, ketika sudah naik bus eyang baru saja ingat bahwa beliau tidak membawa tas yang dibawanya dari Jakarta. Akhirnya kembali lah bus tersebut ke airport dan eyang turun untuk mencari. Ternyata, tas yang eyang bawa sudah dimasukan ke bagasi bus, hal tersebut membuat eyang malu dan merasa bersalah dengan teman-teman satu bis lainnya. Setelah itu eyang menuju ke kantor Commonwealth untuk mengkonfirmasi kamar hotel yang telah di pesan untuk beliau. Pada waktu itu, eyang mendapat teman sekamar yang berasal dari Uganda. Eyang merupakan satu-satunya orang yang mewakili Indonesia di Perth.  Tujuan utama eyang di terbangkan ke Perth adalah untuk mendapat ilmu yang nantinya akan digunakan untuk mengajar guru-guru di Indonesia. Tidak berlama-lama eyang disana beberapa hari kemudia eyang akhirnya pulang ke Indonesia.

Tak lama setelah eyang kembali ke Indonesia dari Perth, beliau akhirnya menikah. Namun di Indonesia, pengajaran yang nenek dapatkan dari Perth tidak terlalu digunakan meskpun manfaatnya begitu besar. Beberapa tahun kemudian lah, ajaran tersebut baru berguna untuk melatih para guru di Indonesia ini. Pengajaran ini nantinya berguna untuk membuat guru menjadi lebih disiplin dalam menyiapkan materi pembelajaran dan bagaimana cara memperluas wawasan mereka dalam cara mengajara yang baik. Metode yang digunakan merupakan ajaran dari negara-negara maju pada zaman itu. 

No comments:

Post a Comment