Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Muhammad Nur Alif


Tugas ini berjudul “Kesaksian Sejarah”. Di mana murid-murid Labschool Kebayoran ditugaskan untuk mewawancarai orang-orang yang segenerasi dengan kakeknya sendiri. Kemudian, membuat autobiografi dan peranan dari orang yang akan di wawancarai. Peranannya bisa di berbagai bidang.
 
Peristiwa yang terjadi ketika orang segenerasi kakek kita mungkin sudah kita ketahui garis besarnya. Sebagaimana kita pelajari dari mulai belajar dalam pelajaran Sejarah. Namun masih banyak peristiwa kecil yang mungkin berharga yang tidak tertulis di buku-buku sejarah manapun. Orang segenerasi kakek kita pasti sebagian besar lahir tidak jauh dari tahun kemerdekaan Indonesia, maupun sebelum atau sesudah. Pada masa-masa itu, campur tangan Jepang dan Sekutu masih bisa dibilang cukup besar. Mereka masih ingin merampas kemerdekaan negeri kita Indonesia ini. Tetapi peranan bagi Indonesia tidak hanya di bidang militer saja. Bisa juga di bidang ekonomi, pendidikan, dll.
 
Di tugas biografi kali ini saya mewawancarai Kakek saya sendiri. Beliau bernama Robert Siregar. Beliau memang bukan orang militer, tetapi merupakan aktivis pada saat mahasiswanya dan memajukan ekonomi Indonesia dan membuat lebih terkenal bagi negara-negara lain. Masa-masa suksesnya di gunakan untuk mendirikan dan mengembangkan PT. Gillette di Indonesia.


Sekarang Beliau sudah pension dari pekerjaannya. Mempunyai seorang istri dan tiga orang anak. Juga mempunyai enam cucu. Ibu saya merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara, dan saya merupakan cucu ketiga dan cucu laki-laki pertama.
 
Aktivitas yang rutin dan sekarang sedang dikerjakan oleh kakek saya adalah menulis blog di internet. Mengenai apa-apa saja yang menjadi topik-topik ramai di Indonesia.
 
Biografi
 
Kakek saya bernama lengkap Robert P. Siregar, biasanya di panggil Pak Siregar, dan biasa saya panggil “Ompung”. Beliau lahir di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 1940. Kakek saya memang orang Medan, namun tinggalnya di Bogor bersama 9 saudaranya. Pendidikan pertama dimulai di SD 24 Bogor. Kemudian melanjutkan SMP 2 Bogor. Lalu SMA di SMAN 1 Bogor (yang dulu baru ada 1 SMA di Bogor). Kemudian melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung.
 
Perjuangan untuk diterima di Institut Teknologi Bandung tersebut memang cukup besar. Sebagai keluarga yang hanya berkecukupan, Kakek Saya pergi ke Bandung sendiri. Ceritanya, awalnya kakek saya membeli dua  tiket kereta api. satu untuk penumpang dan satu lagi untung sepeda miliknya. Kereta api yang di tumpangi rutenya melewati Sukabumi. Sesampainya di Bandung kakek saya langsung mencari rumah saudaranya yang berada di Cipaganti. Kemudian memulai tes penerimaan siswa Institut Teknologi Bandung tersebut. Setelah selesai kembali ke Bogor dengan kereta lagi, dan ternyata Kakek saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung jurusan Teknologi Kimia. Akhirnya beliau memilih bersekolah di Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar S1 disana. Setelah lulus, kakek saya mulai bekerja di pabrik obat dikirim ke jerman dilatih ke Jerman bagian produksi. Kemudian bertemu seorang apoteker. Apoteker tersebut membantu kakek saya masuk ke pabrip perusahaan Gillette. Kemudian,  diwawancara oleh Gilette diterima di hotel Indonesia.
 
Peranan
 
Kakek saya mulai berperan aktif sejak mulai kuliah. Beliau menjadi ketua senat perhimpunan mahasiswa Bandung. Kakek saya juga bergabung dengan organisasi mahasiswa PPMI (Presidium Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) mewakili Bandung. Beliau juga berperan aktif dalam bidang politik semasa kuliahnya, kakek saya melawan orde lama PKI. Diceritakan pada zaman itu, PKI sedang termasuk yang berkuasa dan sendag kuat-kuatnya. PKI beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Barat adalah kapitalis. Karena sewaktu itu ITB merupakan universitas yang dibantu oleh University of Kentucky, perpustakaan, buku-buku, dan lain-lain diancam untuk dibakar. Para mahasiswa pada saat itu ketakutan, karena jika mereka bukan bagian dari PKI akan menjadi masalah jika melawan. Mereka tidak diizinkan untuk bercampur tangan terhadap urusan tersebut. Sehingga para mahasiswa di Indonesia mengadakan semacam pertemuan dan berlabelkan nama PPMI (Presidium Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Mahasiswa dari berbagai daerah-daerah lain seperti Bogor, Surabaya, dan lain-lain bertemu. Kakek saya adalah perwakilan dari Bandung.Tapi kenyataan banyak juga daerah yang tidak dating, hanya sedikit. Karena mereka memang sudah ketakutan. Akhirnya Kakek saya mengutarakan pendapatnya tentang perlawanan kepada PKI tersebut kepada orang-orang yang hadir di pertemuan tersebut. Perjuangan beliau terpaksa terhenti tidak jauh setelah itu. Karena kakek saya sudah menikah terlebih dahulu pada tahun 1965 yang merupakan tahun jatuhnya PKI.
 
Dampaknya, Banyak Muslim yang tak lagi memercayai Soekarno karena gagal dalam NASAKOM, dan pada awal 1966, Soeharto secara terbuka mulai menentang Soekarno, sebuah tindakan yang sebelumnya berusaha dihindari oleh para pemimpin militer. Soekarno berusaha untuk berpegang kepada kekuasaan dan mengurangi pengaruh baru dari angkatan bersenjata, namun dia tidak dapat membuat dirinya menyalahkan PKI atas usaha kudeta sesuai permintaan Soeharto. Pada 1 Februari 1966, Soekarno menaikkan pangkat Soeharto menjadi Letnan Jenderal. Dekrit Supersemar pada 11 Maret 1966 mengalihkan sebagian besar kekuasaan Soekarno atas parlemen dan angkatan bersenjata kepada Soeharto, memungkinkan Soeharto untuk melakukan apa saja untuk memulihkan ketertiban. Pada 12 Maret 1967 Soekarno dicopot dari sisa-sisa kekuasaannya oleh Parlemen sementara, dan Soeharto menjabat sebagai Presiden Sementara. Pada 21 Maret 1968, Majelis Permusyawaratan Rakyat secara resmi memilih Soeharto sebagai presiden.
 
Dalam berkarir, Kakek saya mempunyai pengaruh besar di bidang ekonomi dan membantu membuat nama Indonesia lebih terkenal di Negara-negara lain. Kakek saya waktu itu bekerja di PT. Gillette Indonesia. Sebenarnya waktu selesai kuliah, kakek saya bekerja terlebih dahulu di pabrik obat. Beliau kemudian dikirim ke Jerman untuk dilatih di bagian produksi. Lalu disana Kakek saya bertemu seorang apoteker dan membantu memasukkan ke Gillette. Wawancaranya tetap di lakukan di Jakarta di Hotel Indonesia. Setelah di terima, kakek saya langsung di terbangkan ke Malaysia dan Inggris untuk latihan. Kakek saya merupakan karyawan pertama di pabrik tersebut. Sepulangnya dari sana beliau langsung menjadi kepala pabrik PT. Gillette Indonesia. beliau langsung mulai mengangkat karyawan-karyawan dan pegawai-pegawai. Beliau juga membuka lapangan kerja bagi anak-anak STM yang ada di Jakarta. Banyak anak-anak STM yang berbakat dijadikan seorang manajer. Jabatan Kakek saya pada waktu itu adalah Production Manager dan kemudian naik menjadi Factory Manager atau Kepala Pabrik. Awalnya, produksi-produksi dari pabrik masih dibantu oleh orang-orang asing namun pada akhirnya bisa bekerja sendiri.
 
Kakek saya merupakan orang yang mendirikan PT. Gillette Indonesia dari 0 menjadi sebuah pabrik yang mempunyai banyak cabang. Seperti di Jakarta, Bogor, dan Cibinong. Pusatnya terletak di Pondok Cabe Ciputat. Seiring berjalannya waktu, PT. Gillette Indonesia sudah semakin berkembang dan bisa mengekspor hasil dari pabrik perusahaan tersebut ke 15 negara.
 
Pengalaman unik pada saat berkarir yaitu karena keterbatasan ruang kerja, kakek saya melakukan pekerjaan kantornya di Hotel Indonesia tempat orang Inggris yang merupakan bos kakek saya menginap. Selain itu, untuk rapat-rapat pekerja-pekerja masih dilakukan di atas rumah pohon.
 
Kemudian di bidang olahraga/games/permainan kartu, kakek saya merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Permainan kartu yang dimainkan oleh kakek saya adalah  Bridge atau contract bridge (permainan kartu yang mengandalkan baik kemampuan bermain maupun keuntungan). Teknisnya, Empat pemain berpasangan dan duduk berhadap-hadapan. Permainan ini terdiri dari lelang diikuti oleh permainan kartu. Peraturan-peraturannya cukup ringkas dan mirip dengan permainan kartu lainnya. Lelang berakhir dengan sebuah kontrak kecuali bila kartu di tangan dilewati. Sebuah kontrak adalah pernyataan oleh salah satu partner bahwa pihak mereka akan mengambil sejumlah (atau lebih) trik. Lelang ini menentukan pihak yang menyatakan, the strain of trump dan lokasi pemimpin untuk kartu di tangan. Turnamen bridge biasanya diatur untuk memaksimalkan penggunaan kecakapan satu tim dan meminimalkan pengaruh keberuntungan. Bridge telah dibandingkan dengan catur dalam pengertian bahwa harus digunakan akal sehat. (wikipedia.org)
 
Kakek saya pernah mengikuti kejuaraan nasional di Indonesia pada tanggal 20 s.d. 27 Juli 1968. Kakek saya berhasil menjadi juara ke dua dalam permainan 4 sekawan. Awal mula belajar, pada saat mahasiswa. Kakek saya dibilang belajarnya lumayan cepat karena dapat buku karangan Watson di mana sangat membantu dalam permainan Bridge tersebut. Buku karangan Watson tersebut juga merupakan buku yang jarang saat itu. Sehingga, sering disebut buku yang bisa bikin pinter. Selain itu juga memiliki buku tentang cara Bidding Neapolitan, yang berasal dari juara dunia bridge dari Itali. Itu merupakan sebuah trik dalam mengawali permainan. Kakek saya pernah bertanding di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. Setelah sudah lama berhenti bermain bridge, Kakek saya pernah berhubungan dengan bridge lagi dan menjadi ketua bidang luar negeri Bridge. Dimana ketua Bridge Indonesia pada saat itu adalah Wiranto. Kemudian Kakek saya berhasil mendatangkan pelatih terbaik dunia pada saat itu, yaitu pada tahun 1990.
 
Perkembangan Bridge Indonesia sekarang ini memang disegani Negara-negara lain. Akan tetapi olahraga ini seakan tenggelam. Kepopuleran olahraga ini jauh tertinggal ketimbang bulu tangkis, sepakbola dan cabang olahraga tenar lainnya. Disegani di luar tetapi tidak ada perkembangan bridge di tanah air. Hal ini disebabkan karena lemahnya sosialisasi dalam memanfaatkan bridge. Belum lagi banyak pihak yang menerjemahkan bridge kea rah yang salah.. Banyak anggapan yang timbul di masyarakat, bahwa olahraga ini identik dengan permainan judi karena pengunaan sarana kartu tersebut.
 
Bukan hanya itu, dari kalangan pecinta olahraga pun sering timbul anggapan bahwa bridge tak lebih dari sekedar permainan, bukan olahraga. Bahkan, para siswa yang sedianya menjadi target bibit pemain bridge handal kadang menganggap olahraga ini terkesan kuno dan hanya pantas dimainkan bagi kaum orangtua. Anggapan subyektif lainnya datang dari kalangan pendidik yang menyatakan olahraga ini sama sekali tidak mendidik. Semua itu terakumulasi dan merupakan beban besar bagi bridge untuk menanjak dan bersosialisasi di tanah air.
 
Demikian hasil dari wawancara saya dengan Kakek Robert P. Siregar. Sekian, Terima Kasih.


No comments:

Post a Comment