Thursday, 30 May 2013

TUGAS-2 BIOGRAFI MUHAMMAD RENDY R XI IPS 3


Kakek Atwi Suparman, Sang Pejuang Pendidikan



Pada kesempatan saya kali ini saya akan membahas tentang perjalanan hidup seorang manusia yang berperan dalam bidang pendidikan di Indonesia ini.  Sejujurnya awalnya saya sedikit bingung untuk mewawancarai siapa,karena saya kurang mengetahui link-link untuk bertemu para saksi sejarah ataupun orang yang berperan di bangsa ini. Setelah berpikir lama dan mencoba mencari-cari saya akhirnya diberikan pencerahan untuk tidak berpikir terlalu jauh karena sosok “pahlawan” yang saya cari ternyata ada di dekat saya selama ini.

Yak, saya memilih untuk membahas perjalanan hidup Prof. Dr. Haji Atwi Suparman yang merupakan kakek saya dari keluarga ibunda saya. Saya memilih untuk mewawancarai kakek saya karena hubungan kami amat dekat , bisa dibilang beliaulah anggota keluarga yang amat dekat dan sering saya kunjungi apalagi karena saya adalah cucu pertamanya.

 Saya juga memilih dia karena saya pernah “menguping” beberapa potongan cerita-cerita tentang kakek saya yang saya dengar dari ibu,om dan tante saya sejak kecil dan saya menganggap kisah hidupnya amat inspirasional hingga akhirnya saya memlih dia untuk mendapatkan potongan-potongan cerita lainnya untuk tugas ini.

Begitu memantapkan keputusan untuk mewawancarai kakek saya, saya langsung menelepon kakek saya untuk memberi kabar bahwa saya akan datang untuk mewawancarai beliau tentang kisah hidupnya. Saya juga ingin sekalian bersilahturahmi dengan kakek saya mengingat saya sudah jarang bertemu dengan kakek saya karena lebih sering bermain dengan teman-teman.

Seusai pulang sekolah saya langsung mengarahkan tujuan saya untuk mewawancarai beliau di rumahnya di daerah Cinere,Depok yang kebetulan amat sangat dekat dengan rumah saya, rumahnya sekomplek dengan saya dan bisa didatangi hanya dengan jalan kaki. Setelah kakek saya menyambut dengan tubuh yang masih sehat dan bugar untuk ukuran seorang orang tua itu, saya mengobrol dan menikmati makan malam lalu saya langsung menanyai tentang kisah hidupnya dan peranan-peranannya. Dengan senang hati akhirnya kakek saya langsung menceritakan berbagai pengalaman hidupnya yang akan saya tulis dibawah ini.

A.      Biografi

Prof. Dr. Haji Atwi Suparman adalah seorang laki-laki gagah yang merupakan kakek saya. Dia lahir pada tanggal 10 November 1944 di sebuah desa yang bernama Kebun Dadap,kabupaten Sumenep yang berada di dalam pulau Madura. Desa yang masih sederhana, begitu juga dengan kehidupan didalamnya.Dia adalah anak kelima dari enam bersaudara.Dibesarkan oleh orang tuanya dengan segala keterbatasan karena kehidupan desa yang masih tradisional. Ayahnya adalah seorang pelaut yang gagah dan ibunya adalah pedagang, seringkali dia diminta untuk membantu ibunya berdagang.

 Ayahnya yang merupakan seorang pelaut masih menggunakan kapal kayu yang amat tradisional untuk bekerja. Ayah dan ibunya tidak bersekolah dan tidak bisa baca tulis, namun mereka tetap berusaha sekeras mungkin untuk menyekolahkan semua anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang berpendidikan dan pintar. Ayah dan ibunya berusaha agar anak mereka menjadi sosok yang lebih baik dan berguna bagi orang lain.Perjuangan ayah dan ibunya demi pendidikan anak-anaknya benar-benar mencerminkan sosok orangtua yang patut diacungi jempol.

Dia memasuki Sekolah Rakyat(yang sekarang disebut SD) Kebun Dadap sampai akhirnya lulus pada tahun 1957. Sekolah yang masih sederhana tidak menyurutkan semangatnya untuk mendapatkan ilmu. Setelah lulus dari Sekolah Rakyat Kebun Dadap dia berjuang demi kelanjutan pendidikannya dan dia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru B yang berada di Sumenep. Dia memang memiliki minat yang besar dalam dunia pendidikan sehingga memasuki Sekolah Guru B.

 Sebenarnya untuk lulus Sekolah Guru B membutuhkan waktu 4 tahun, namun pada saat tahun ketiganya dia langsung melanjutkan ke Sekolah Guru Atas. Dia memasuki Sekolah Guru Atas mulai dari tahun 1960 sampai akhirnya lulus pada tahun 1963. Setelah lulus dari Sekolah Guru Atas dia langsung melanjutkan ke Universitas Gadjah Mada di kota Yogyakarta dan memasuki fakultas pendidikan jurusan pendidikan jasmani.

Setelah setahun di Universitas Gadjah Mada, dia langsung pergi ke Jakarta untuk memasuki Sekolah Tinggi Olahraga. Pada tahun 1966 dia sudah menjadi sarjana muda olah raga dan mulai mengajar di SMA 5 Boedi Oetomo sebagai guru olah raga. Akhirnya pada tahun 1969 perjuangannya di Sekolah Tinggi Olahraga berakhir,dia lulus menjadi seorang sarjana olah raga.Tanggal 18 Februari di tahun 1969 adalah hari yang amat penting bagi kakek saya,karena pada hari itu kakek saya membuka lembaran baru hidupnya dengan menikah dengan almarhumah nenek saya yang bernama Nuraini.

Setelah itu dia menjadi dosen di Sekolah Tinggi Olahraga.Dalam waktu yang singkat yaitu hanya setahun,  dia langsung menjadi pembantu dekan disitu. Saat itu juga pada tahun 1970 lahirlah anak pertamanya yang merupakan anak perempuan sekaligus ibu saya yang bernama Neny Asriany. Kata kakek saya anak adalah rezeki karena sejak punya anak karirnya menanjak naik dan naik. Pada tahun 1978 dia sudah dikaruniai 4 anak. Anak pertama dan ketiganya adalah anak perempuan, dan anak kedua dan keempatnya merupakan anak laki-laki. Sudah tentu anak-anak kakek saya adalah tante dan om saya.

Setelah bekerja cukup keras di Sekolah Tinggi Olahraga, perjuangannya terbayar dengan mendapat beasiswa dari pemerintah untuk pergi ke Amerika Serikat lebih tepatnya ke Syracuse University di kota New York. Dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya dengan gratis. Kata kakek saya mendapatkan beasiswa keluar negeri itu enak karena selain mendapatkan pendidikan gratis, dia juga diberikan uang saku untuk makan,jalan-jalan dan keperluan lainnya.

Untuk mendapat gelar master biasanya dibutuhkan waktu 2 tahun, tetapi kakek saya menyelesaikannya dalam waktu setahun kurang sehingga tahun 1978 akhir dia sudah kembali ke Jakarta. Perasaan tanggung jawab untuk mengurusi istri dan anaknya memacu dia untuk menyelesaikannya dengan cepat. Pada tahun 1980 dia melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan S3 di IKIP Jakarta. 

Setelah itu pada tahun 1982 kakek saya mendapatkan beasiswa lagi untuk pergi lagi ke Amerika Serikat. Dia pergi ke Stanford di negara bagian California lebih tepatnya ke Universitas Palo Alto. Akhirnya pada tahun 1983, pada bulan Oktober dia lulus menjadi bergelar doktor dengan predikat cum laude. Setelah lulus dia ikutserta dalam persiapan berdirinya Universitas Terbuka. Lalu pada tahun 1984 dia diangkat menjadi pembantu rektor Universitas Terbuka bidang kemahasiswaan dan alumni.

Pada tahun 1990 kakek saya menjadi bergelar profesor. Lalu pada tahun 1992 dia diperbantukan di Lembaga Administrasi Negara(LAN) dan menjadi ketua sekolah tinggi ilmu administrasi negara.  Pada tahun 1995 dia diangkat menjadi deputi Lembaga Administrasi Negara (LAN), posisi itu bisa dibilang setara dengan wakil ketua di Lembaga Administrasi Negara.

Akhirnya pada tahun 2001 kakek saya diangkat menjadi rektor Universitas Terbuka (UT). Menurut cerita kakek saya awalnya Universitas Terbuka bisa dibilang masih kurang baik. Fasilitasnya tidak lengkap, bangunan-bangunannya masih jelek dan belum seperti universitas yang baik dan modern. Melihat keadaan itu, kakek saya yang merupakan seorang rektor di tempat itu berusaha untuk memperbaiki Universitas Terbuka di seluruh Indonesia agar menjadi lebih baik dan berfasilitas lengkap.

Usaha kakek saya tidak sia-sia, pada tahun 2005 dibawah pimpinan kakek saya Universitas Terbuka mendapatkan penghargaan dari Intenational Council for Open  Distance Education (ICDE) lebih tepatnya adalah ICDE Standards Agency,sebuah lembaga yang berada di Oslo ,Norwegia. Universitas Terbuka berhasil mendapatkan sertifikat kualitas dan akreditasi internasional dari Intenational Council for Open  Distance Education (ICDE). Ini menandakan Universitas Terbuka sudah berkualitas internasional. Dia berhasil menaikkan Universitas Terbuka menjadi universitas berkualitas internasional padahal sebelumnya Universitas Terbuka masih kurang bagus dan fasilitasnya tidak lengkap.

Pada tahun 2006 Universitas Terbuka mendapatkan sertifikat lain dibawah pimpinan kakek saya, UT mendapatkan ISO 9001-2000 yang merupakan  penghargaan dari International Organization for Standardization atau organisasi standardisasi internasional. Lagi-lagi Universitas Terbuka diakui sebagai salah satu universitas berkualitas Internasional lewat pemberian sertifikat ini.Bahkan saat tahun 2008 Universitas Terbuka sudah mendapatkan 21 sertifikat ISO.

Saat tahun 2007 kakek saya diangkat menjadi presiden Asian Association of Open Universities (AAOU) atau asosiasi universitas terbuka seluruh Asia. Dia yang merupakan seorang warga negara Indonesia ditunjuk untuk memimpin asosiasi universitas terbuka di seluruh Asia. Di asosiasi ini ada banyak negara seperti India, Thailand, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Pakistan,Bangladesh dan negara-negara lainnya yang memiliki universitas terbuka.

Saya tidak tahu sejak kapan dan sampai kapan, tetapi saya diceritakan bahwa kakek saya adalah seorang anggota Board of Trustees yang merupakan dewan pengarah atau penasihat. Jumlah anggota Board of Trustees-nya hanya berjumlah lima orang di seluruh dunia dan dia salah satu dari mereka. Kakek saya merupakan wakil dari Asia-Pasifik untuk Intenational Council for Open  Distance Education (ICDE).

Orang cerdas tahu kapan saatnya untuk berhenti, pada tahun 2009 kakek saya memutuskan untuk meninggalkan jabatan sebagai rektor Universitas Terbuka. Dia juga sudah tidak bisa menjadi rektor lagi karena dia sudah mengalami dua kali masa jabatan. Dia memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab sebagai rektor kepada orang lain dan bekerja biasa di Universitas Terbuka mengingat umurnya juga sudah cukup tua.

Saat 2011 akhir terjadi sesuatu yang amat mengejutkan kakek dan keluarga saya. Nenek saya meninggal dan amat membuat kakek saya shock dan terpuruk. Awalnya nenek saya sakit biasa dan hanya dirawat biasa, lama-kelamaan keadaannya memburuk dan masuk ke ICU. Setelah beberapa minggu dirumah sakit akhirnya nenek saya dipanggil kembali oleh Tuhan dan meninggalkan dunia ini. Kakek saya amat sedih, dia sangat sedih untuk waktu yang cukup lama. Bagi kakek saya almarhumah nenek saya adalah orang yang paling berarti dihidupnya. Kakek saya pun berhasil bangkit kembali dan menjalankan kehidupannya seperti biasa sampai sekarang.

B.      Peranan

Prof. Dr. Haji Atwi Suparman memiliki beberapa peran bagi bangsa ini, usaha kerasnya berbuah hasil yang manis. Dia berhasil membuat salah satu universitas di Indonesia (Universitas Terbuka) menjadi universitas yang baik dan diakui sebagai universitas berkualitas internasional oleh lembaga International Council for Open Distance Education di Oslo,Norwegia lewat sertifikat kualitas dan akreditasi international.

Dia juga berhasil membuat Universitas Terbuka mendapat sertifikat ISO 9001-2000 dari organisasi standarisasi internasional yang makin memperjelas bahwa kualitas Universitas Terbuka sudah berkualitas internasional. Dua jenis sertifikat diatas membuktikan bahwa hasil usahanya berkontribusi dalam membuat Universitas Terbuka diakui berkualitas Internasional.

Dia diangkat menjadi presiden Asian Association of Open Universities (AAOU) atau asosiasi universitas terbuka seluruh Asia. Dia merupakan seorang warga Indonesia yang ditunjuk untuk memimpin asosiasi universitas terbuka di seluruh Asia. Negara di asosiasi ini antara lain adalah India, Thailand, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Pakistan,Bangladesh dan negara-negara lainnya yang memiliki universitas terbuka.

Dia sempat menjadi anggota board of trustees atau dewan penasihat untuk International Council for Open Distance Education(ICDE). Dia adalah salah satu dari lima orang di dunia ini yang dipilih untuk menjadi board of trustees ICDE. Dia menjadi anggota board of trustees ICDE sebagai wakil dari Asia-Pasifik.

Itu saja penjelasan tentang kisah dan peranan kakek saya, semoga bisa diambil hikmah dan amanat dari kisah-kisah diatas untuk masa depan yang lebih baik.

foto saya dan kakek saya

No comments:

Post a Comment