Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi - Muhammad Satrio Nurrahman

Bapak Daryono, Cucu Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

Bapak Daryono (sebelah saya)

“berjuanglah semaksimal mungkin, jangan mengharap pamrih” ucap bapak Daryono selaku anggota dari perkumpulan IKPNI yang merupakan cucu dari salah satu pahlawan nasional yang telah berjuang dan berperan serta dalam kemerdekaan Indonesia, yaitu Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang mottonya adalah “usia bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi berapa lama kita akan dikenang dalam kehormatan...”. Pada kesempatan kali ini saya tidak dapat mewawancarai ataupun mendapatkan biografi langsung dari saksi sejarah, maupun pelaku sejarah, akan tetapi saya mendapatkan informasi dan menggalinya dari keluarga pelaku sejarah yang sangat berperan dalam kemerdekaan Indonesia.

Kesempatan yang saya dapatkan ini untuk mewawancarai Pak Daryono berawal tanpa rencana yang matang, hanya saja dari sebuah keberuntungan, karena sebenarnya saya dan beberapa teman saya yang sebenarnya hanya meminta izin dari sekolah hanya untuk ke museum untuk menyelesaikan tuntutan tugas yang telah diberikan, dan tidak berencana mengunjungi panti jompo untuk mencari saksi sejarah, namun akhirnya kami sekalian mengunjungi yayasan yang menampung orang-orang lansia yang terletak di jalan Brawijaya, namun salah seorang pengurus yayasan tersebut menjelaskan bahwa di tempat hanyalah berisi lansia-lansia yang tidak memahami sedikitpun sesuatu tentang kemerdekaan, apalagi menjadi seorang saksi dalam kemerdekaan negara kita. Lalu saya diberikan informasi dari pengurus yayasan tersebut untuk mengunjungi IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia) yang letaknya di daerah Matraman yang cukup jauh dari Brawijaya. Langsung saya dan yang lain menuju ke tempat itu dan kebetulan sekali disana ada 3 orang yang merupakan pengurus IKPNI tersebut yang juga merupakan salah seorang keturunan dari keluarga pahlawan nasional yang menjabat sebagai sekertaris di IKPNI, jadi kami memutuskan untuk melakukan wawancara ke ketiga keluarga pahlawan nasional tersebut.

BIOGRAFI

Pada tahun 1880 telah dilahirkan seorang anak yang merupakan salah seorang dari sekian banyak pahlawan nasional di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yaitu di kota Blora. Anak ini bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang pada masa kemerdekaan menjadi seorang pahlawan nasional yang berjalan dan memperjuangkan kemerdekaan melalui kegiatan surat kabar. Sosok ini merupakan sosok yang berani berbuat sesuatu dan berani dalam berbagai hal, beliau juga merupakan sosok yang senang serta gemar dalam membuat tulisan. Hal ini dapat dilihat pada saat beliau berumur 13 tahun yang sudah mulai mengirimkan tulisan-tulisan yang dibuatnya dalam bahasa belanda ke sejumlah surat kabar. Setelah itu beliau menikah dengan R.A. Siti Habibah, dan mereka tinggal di desa Pasircabe, yang letaknya tidak jauh dari ibu kota kabupaten Bandung. Setelah pindah ke desa Pasircabe, R.M. Tirto Adhi Soerjo ditawari oleh bupati Cianjur untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah itu terbitlah surat kabar pribumi pertama dengan bahasa Melayu. Beliau menjalankan pendidikan seperti halnya para pemuda lainnya pada masanya berawal dari sekolah HBS belanda, namun beliau melakukan hal yang berbeda dari kebanyakan orang yaitu melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan tidak mungkin pada saat itu yaitu ke sekolah dokter di Batavia yang dahulu dikenal dengan nama STOVIA. Beliau berani mencoba hal itu yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil dan gagal menjadi seorang dokter. Namun dengan kegagalan yang didapatinya itu dia tidak menyerah untuk terus berusaha memperjuangkan negara Indonesia dari gangguan pasukan kolonial belanda pada masa itu. Perjuangannya tidak berlangsung lama. Beliau pada akhirnya meninggal pada umur 36-37 tahun, setelah selesai masa pembuangannya di Maluku. Tepatnya pada tanggal 7 Desember 1918 di Batavia R.M. Tirto Adhi Soerjo meninggal di Hotel Medan Prijaji setelah sekian lama beliau terkena berbagai penyakit sejak pulang dari pembuangannya di Maluku. Dari awal hingga akhir perjuangan yang telah dilakukan oleh R.M Tirto Adhi Soerjo, banyak dari pihak masyarakat yang telah mengenal dia mengangkatnya menjadi perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia, dan bapak Pers Nasional. Kini, beliau juga mempunyai sebuah museum pers yang terletak di Solo, Jawa Timur yang didalamnya terdapat 100 jejak pers di Indonesia, dan juga ada koran pertama yang menuliskan dan mengajak warga Indonesia di Indonesia.

PERAN

Awal mula perjuangan dapat terlihat pada saat banyak golongan bangsawan pada saat itu yang bekerja sebagai pegawai negeri karena dianggap sebagai suatu pekerjaan yang dapat memerintah. Jarang sekali golongan bangsawan yang melanjutkan pendidikannya ke sekolah dokter, dikarenakan dokter dianggap sebagai pekerjaan pengabdian. Namun R.M. Tirto Adhi Soerjo berbeda, beliau melakukan apa yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu melanjutkan ke sekolah dokter yang dapat dianggap sebagai hal yang luar biasa.

Pada tahun 1894-1895 pada saat Tirto Adhi Soerjo berusia 14-15 tahun, beliau sudah mengirimkan berbagai tulisan ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi. Sehingga dapat dilihat bahwa ia telah biasa dan menyukai bidang tulis menulis, hanya saja dalam bahasa Belanda atau Jawa.

Pada tahun 1888-1897, R.M. Tirto Adhi Soerjo mulai membantu Chabar Hindia Olanda. Selanjutnya, ia membantu Pembrita Betawi pada tahun 1884-1996. R.M. Tirto Adhi Soerjo kemudian menjadi pembantu tetap Pewarta Priangan, terbitan Bandung dan karena hanya berumur pendek, ia kembali membantu harian Pembrita Betawi.

Pada tahun 1903, R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, yaitu Soenda Berita, pers pribumi pertama pada masa itu, yang diterbitkan di Cianjur. Berhubung surat kabar tersebut dimodali, dikelola dan diisi oleh tenaga pribumi, maka R.M. Tirto Adhi Soerjo dapat dikatakan sebagai pionir pers pribumi pertama.

R.M. Tirto Adhi Soerjo kemudia juga berjuang melalui surat kabar Medan Prijaji, yang diterbitkannya dengan modal sendiri, dan dikelola melalui NV Pribumi pertama dan merupakan surat kabar dengan visi nasional yang pertama di Nusantara.

Melalui surat kabar Medan Prijaji ini, R.M. Tirto Adhi Soerjo memperkenalkan cikal bakal nasionalisme dengan memperkenalkan istilah “anak Hindia”. R.M. Tirto Adhi Soerjo juga menyadarkan serta membangkitkan masyarakat Indonesia tentang hakikat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang selama ini telah dilakukan oleh pemerintah kolonial.

R.M. Tirto Adhi Soerjo telah melahirkan gagasan atau pemikiran yang cukup besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara. Selain itu, dapat dikatakan bahwa dengan mempelopori pers nasional, R.M. Tirto Adhi Soerjo telah menghasilkan karya terbesar yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Perjuangannya sangatlah berarti dalam membangun dan membangkitkan semangat juang para pemuda yang membaca surat kabarnya, dan juga membangun rasa Nasionalisme, dan R.M. Tirto Adhi Soerjo merupakan sosok pahlawan nasional yang sangat berani, yang sampai pada akhirnya akibat perjuangannya dalam bidang surat kabar, membuatnya menjadi diasingkan atau dibuang oleh pemerintah kolonial sebanyak dua kali yaitu ke Teluk Betung, dan ke Ambon.

Selain berjuang melalu surat kabar, R.M. Tirto Adhi Soerjo juga berjuang melalui Sarekat Dagang Islamiyah, dimana keduanya memiliki jangkauan yang cukup luas dan berdampak nasional. Sarekat Dagang Islamiyah sendiri adalah cikal bakal terbentuknya Sarekat Islam yang pada puncak kejayaannya memiliki anggota sebanyak hampir dua juta orang dari berbagai pelosok Nusantara.

Mengingat dharma bhaktinya sebagai wartawan yang telah merintis pertumbuhan dan perkembangan pers nasional di Indonesia, R.M. Tirto Adhi Soerjo pun kemudian dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia pada masa tahun 1973 oleh Dewan Pers RI.

Dan pada akhirnya, atas jasa-jasa yang telah beliau lakukan dan abadikan untuk negara Indonesia ini, pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan keputusan Presiden RI nomor : 085/TK/Tahun 2006 tanggal 3 November 2006

KESIMPULAN

Berdasarkan dari kisah yang diceritakan oleh cucu R.M. Tirto Adhi Soerjo yang bernama Bapak Daryono mengenai kakeknya tersebut dapat banyak sekali hikmah, kehebatan, keberanian, dan contoh-contoh positif yang dapat kita ambil, seperti halnya sifat dari R.M. Tirto Adhi Soerjo yang pantang menyerah dalam membuat tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar yang ada di Indonesia ini untuk membangun dan mengangkat semangat para pemuda di Indonesia, dan juga dapat kita lihat sisi kebaikannya yaitu beliau berjuang tanpa mengharapkan pamrih apapun dari siapapun dan untuk siapapun, beliau berusaha semaksimal mungkin untuk memerdekakan Indonesia, meskipun beliau harus dibuang atau diasingkan di Maluku hanya demi kemerdekaan yang tercipta untuk generasi selanjutnya. Selain itu, menurut kisah perjuangan ini kita juga seharusnya meresapi dan merubah sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan, yaitu melupakan jasa-jasa para pahlawan kita yang telah berjuang dan bertaruh nyawa hanya untuk kebahagiaan dan kemerdakaan yang tercipta bagi generasi penerus, kita harus terus mengenangnya, dan mengamalkan kelakuan-kelakuan yang patut kita contoh untuk kita saat ini. Disamping itu, kita juga tidak lupa harus selalu saling menghormati satu sama lain, karena kita semua mungkin saja dapat menjadi salah seorang yang berjasa meskipun bukan untuk negara. Selain itu, kita juga harus selalu menjaga bersama apa yang sudah diperjuangkan oleh leluhur kita, pahlawan-pahlawan kita seperti halnya negara Indonesia ini yang telah susah payah dengan bertaruh nyawa untuk mendapatkannya.


Demikian cerita singkat dari kisah perjalanan hidup salah satu pahlawan nasional yang sempat dilupakan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang saya dapatkan dari wawancara di Departemen Sosial dengan cucu dari pahlawan tersebut sendiri yaitu bapak Daryono yang tergabung menjadi bagian keluarga di Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia atau dapat disingkat IKPNI.

No comments:

Post a Comment