Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Muharam Kemal Adam XI IPA 4

KAKEK H. ZAIDAN ABU SAMAD, SANG DIPLOMAT TIMUR TENGAH

A.    BIOGRAFI
            Almarhum kakek saya, H. Zaidan Abu Samad di lahirkan di Candung, Bukittinggi, pada tanggal 27 Desember 1919, yang lahir dari pasangan yang bernama Engku Kari Samad dan Sjarifah. Pendidikan dasar dilalui dengan bersekolah agama (thawalib) di Payakumbuh. Sejak muda kakek saya ini bercita-cita ingin menuntut ilmu di luar negeri, karena dia ingin menambah wawasannya yang dia anggap perlu demi mencapai cita-citanya yang ingin menjadi seorang diplomat. Maka pada usia 16 tahun kakek saya bersama 3 orang temannya berangkat berlayar ke Arab. Dengan tekad bulat dan perjuangan yang tidak kenal putus asa serta masa pelayaran yang memakan waktu berbulan-bulan, mereka menyusuri Semenanjung Asia Tenggara lalu Asia Selatan dan akhirnya tiba di kota Mekkah, Saudi Arabia. Selama di sana dia hanya memikirkan tentang sekolah dan menuntut ilmu, namun karena masalah ekonomi dia harus membagi waktunya menjadi dua, maka disamping bersekolah ia pun juga bekerja dan berdagang untuk mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolah dan kehidupannya di sana.

            Pada tahun 1945, karena kakek saya ingin melanjutkan sekolahnya ketingkat yang lebih tinggi seperti perguruan tinggi, maka beliau menuju Irak dan bersekolah di Commercial College, Baghdad, dengan jurusan ekonomi perdagangan. Beliau lulus pada tahun 1952 pada usia 33 tahun. Sebelum memasuki awal karirnya didiplomatiknya di Departemen Luar Negeri dan mulai menempati pos pertama di negara Irak ini, pada tahun yang sama beliau (yang diwakilkan) menikah dengan nenek saya yang bernama Fadillah binti Amarullah dan pesta pernikahannya berlangsung di kampong Panca, Batutaba, Bukittinggi. Setelah pernikahan ini di langsungkan, nenek saya berangkat ke Irak untuk menyusul kakek saya.
               Setahun berlalu, akhirnya kakek dan nenek saya melahirkan anak pertamanya yang bernama Zufar Zaidan pada tanggal 27 Maret 1953 dan tahun berikutnya lahirlah paman saya yang bernama Zuheir Zaidan pada tanggal 8 Mei 1954 di negara Saddam Husein tersebut. Karena beliau bekerja di Departemen Luar Negeri, tepatnya di Direktorat Afrika dan Timur Tengah, semua keluarganya pun berkesempatan ikut beliau bertugas di beberapa negara di wilayah tersebut.

            Tahun 1956, mereka kembali ke tanah air dan menepati mess di Jl. Kemakmuran, Jakarta, selama setahun dan selama itu lahirlah tante saya yang bernama Faizah Zaidan pada tanggal 7 Maret 1956. Pada tahun 1957, kakek saya mendapatkan rumah dina dari Departemen Luar Negeri yag kini menjadi milik sendiri setelah berangsur membelinya dari Departemen Luar Negeri dan pada tahun ini lahirlah tante saya yang kedua pada tanggal 27 November 1957 yang bernama Fazianti Zaidan. Pada tahun berikutnya lahirlah paman saya yang ketiga pada tanggal 18 November 1958.

            Tahun 1961, sekeluarga   berangkat ke Khortoum, Sudan. Kakek saya bertugas disana sebagai Kuasa Usaha di Kedutaan RI. Disana cuacanya panas dingin yang berganti secara tidak menentu dank arena perubahan inilah tante saya yang ketiga yang bernama Fatmi jatuh sakit dan akhirnya meninggal kala berusia 2 tahun (1963), keesokkannya tante saya langsung disemayamkan di Khartoum. Namun, Tuhan Maha Penyayang setahun kemudian lahirlah ayah saya pada tanggal 14 Februari 1964 yang diberi nama Zamil Zaidan. Selama disana paman saya Zufar, Zuheir dan kedua tante saya Faizah dan Fazianti bersekolah di sekolah dasar di Clergy International School, karena disana belum ada sekolah Indonesia.

B.    PERANAN

            Kakek saya dahulu adalah seorang diplomat yang ditugaskan di Departemen Luar Negeri atau lebih tepatnya di Direktorat Afrika dan Timur Tengah. Beliau mengawali karirnya sebagai diplomat pada tahun 1952. Beliau untuk pertma kali ditempatkan di negara Irak. Kakek saya di tempatkan di daerah timur tengah karena kakek saya sangat fasih berbicara bahasa arab.
            Pada tahun 1955, kakek saya dan keluarganya kembali ke tanah air. Selama ditanah air ia tinggal di JL. Kemakmuran selama setahun. Setelah itu beliau mendapatkan rumah dinas dari Departemen Luar Negeri di Jl. Dr. Susilo II/25. Beliau dan sekeluarga tinggal di tanah air hanya 5 tahun.

            Pada tahun 1961, kakek saya kembali berdinas. Kali ini beliau ditugaskan di Sudan, beliau bertugas sebagai kuasa usaha di Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berkedudukan di Khartoum, ibu kota Sudan.

            Setelah mengemban tugasnya di Sudan selama 3 tahun, beliau kemudian dipindahkan ke Kairo, Mesir, atau lebih tepatnya pada tahun 1964. Mesir adalah kota yang indah dengan Piramida dan Spinx-nya yang terkenal. Beliau dikenal sebagai orang yang selalu tegas ke pada bawahannya, beliau selalu dapat membagi waktu yang mana waktunya bekerja dan yang mana waktunya untuk keluarga. Selama disana beliau betempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia yang letaknya berada tepat di tengah kota Kairo yang menempati bangunan kuno yang indah dan besar dengan halaman luas dimana setiap hari besar seperti 17 agustus, selalu diadakan penampilan tarian dan nyanyian lagu-lagu bersama masyarakat Indonesia yang berada di Kairo yang dimainkan oleh anak-anak Indonesia yang menetap disana. Awal tahun 1966 sebelum kembali ke tanah air, beliau dan keluarga sempat berkunjung ke Beirut (Lebanon), Damascus (Syria), dan Jerusslem (Israel) dan sekaligus melaksanakan sholat di Masjidil Aqsa. Setelah itu, beliau dan keluarga kembali ke tanah air dan tinggal di rumah baru yang beralamat Jl. Jembatan Selatan no. 25, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan atau yang lebih tepatnya rumah yang sampai saat ini masih saya dan keluarga saya tinggali.
            Pada tahun 1969, kakek saya dianugerahi oleh pemerintah Republik Indonesia bintang Satya Lencana Kemerdekaan, atas jasa beliau semasa menjadi pelajar di luar negeri dahulu yang ikut berjuang demi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, serta membela kepentingan Indonesia di luar negeri.

            Tahun 1970, kakek saya berangkat ke Saudi Arabia. Jauh sebelum hari keberangkatan, beliau pernah bertanya ke pada anak-anaknya,”Bapak ditawarkan pemerintah untuk menempati pos di Moscow (Rusia) atau di Jeddah (Saudi Arabia) , kalian pilih yang mana?”. Lalu anak-anaknya serentak menjawab “lebih baik kita ke Moscow saja pak, asyik juga nanti bias jalan-jalan ke eropa, abisnya kita bosan ke Timur Tengah melulu, panas dan kering”. Namun, kakek saya berpikir jika ia memilih Moscow bagaimana cara beliau dapat berinteraksi dengan orang-orang rusia yang bekerja di Departemen Luar Negeri Indonesia, dia tidak tahu sama sekali tentang bahasa Rusia ditambah lagi Rusia adalah Negara yang terkenal hamper selalu di selimuti saljunya dan keadaan itu sangat berbeda dengan keadaan dengan Negara-negara yang ada di Timur Tengah. Akhirnya kakek saya memilih Saudi Arabia dengan banyak pertimbangan tentu banyak manfaat yang didapat terutama kesempatan pergi naik haji selama berada di Saudi Arabia. Dengan penerbangan Alitalia beliau dan keluarga meninggalkan Jakarta untuk transit di kota Karachi, Pakistan dan akan dilanjutkan menuju ke Jeddah menggunakan pesawat Airways (PIA).

            Setelah sampai di Jeddah, perjalanan di lanjutkan menuju Kedutaan Besar Indonesia yang terletak di Riyadh ibu kota Saudi Arabia. Saudi Arabia adalah negara yang kaya akan minyaknya, semua barang yag tersedia adalah barang yang diimpor dari luar negeri dan tenaga kerjanya pun di bawa dari negara lain terutama tenaga kasar dari Yaman. Penduduk Saudi Arabia sendiri tidak ada yang mau menjadi pekerja kasar, karena mereka sudah dibuahi oleh kemakmuran negerina. Pendidikan, jaminan sosial, pengobatan, dll, semua dibiayai oleh Negara, sehingga kesejahteraan penduduk terjamin.

            Kondisi selama berada di Saudi Arabia memang jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia seperti udara yang berhembus terasa panas dan kering, tidak ada hiburan seperti acara televise yang menyajikan acara seperti nyanyian, film barat, dan sinetron local, tidak ada bioskop dan minimnya tempat rekreasi. Hiburan yang ada hanyalah perkumpulan antar remaja Indonesia dan pemutaran film-film Indonesia yang diputar di Kedutaan Besar Indonesia. Selama berada di Saudi Arabia beliau dan keluarga tinggal di kompleks perumahan yang disebut dengan Kampung Melayu dimana ada 6 keluarga yang menempati rumah yang cukup besar. Selama di Saudi Arabia beliau dan keluarga berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali.
            Namun,setahun sebelum menyelesaikan tugas yang diembannya atau lebih tepatnya pada tahun 1972, beliau wafat yang diakibatkan karena serangan jantung. Beliau di Beliau di makamkan dipemakaman Ma’la yang terletak di kota Mekkah. Walaupun Negara menyediakan pesawat terbang untuk membawa jenazah ke tanah air, keluarga memutuskan untuk menguburkan beliau di kota suci ini dan yang paling membanggakan dan mengharukan yaitu ketika jenazah beliau dibawa dari Jeddah dan kemudian disemayamkan di Wisma Indonesia Mekkah lalu diusung ramai-ramai ke Masjidil Haram. Ada beberapa jenazah yang diletakkan di samping Ka’bah selain jenazah beliau dan bayangkan berapa puluh ribu orang yang iktu mensholatkan beliau pada saat itu. Keluarga pada saat itu pun bersyukur kepada kehadhirat Allah S.W.T dan berdoa semoga arwah dan segala amal ibadah beliau diterima oleh Nya. Dan jabatan terakhir beliau di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Saudi Arabia adalah Counsellor. Sebulan setelah beliau meninggal, keluarga pulang ke tanah air. Bagi nenek saya, ada kenangan tersendiri pada diri kakek saya, yaitu pertemuan dengannya yang terjadi di luar negeri (Irak) dan berpisah dengan beliaunya pun di luar negeri juga(Saudi Arabia).

            Kini keluarga sadar bahwa pilihan beliau memilih untuk pergi ke Saudi Arabia adalah tepat. Keluarga pun bersyukur dapat mengunjungi beberapa Negara yang tentunya dapat menambah wawasan cakrawala. Sudah takdir Allah S.W.T bahwa kakek saya tercinta telah tiada, tapi yang pasti saya sangat bangga memiliki seorang kakek seperti beliau. Dan jika saya memiliki kesempatan untuk pergi ke Saudi Arabia, tempat yang pertama kali yang saya ingin kunjungi adalah makam kakek saya di tempat pemakaman Ma’la. Dan walaupun awalnya saya bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, namun, jika Allah S.W.T berkehendak lain, saya berharap jika kehendak Allah S.W.T yang lain itu adalah untuk menjadi seorang diplomat.


No comments:

Post a Comment