Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Mulia Ade Zulfadlan XI IPS 3

     Bapak Limonu Katili, Pendiri Perisai Diri Switzerland

   Tidak banyak rakyat dan masyarakat di negara kita ini yang cukup peduli dengan budaya dan perjuangan - perjuangan masa lalu. Budaya - budaya yang dahulu dianggap  sebuah hal yang dikagumi sekarang mulai menghilang dan ditinggalkan padahal budaya merupakan sebuah identitas suatu bangsa yang berarti, hilangnya suatu budaya merupakan hilangnya salah satu identitas dari bangsa tersebut.
     Terimakasih kepada bapak Shobirien yang telah memberikan kesempatan kepada murid SMA Labschool Kebayoran untuk dapat mencari ilmu pengetahuan dan mengenal sejarah dengan dapat mewawancarai tokoh - tokoh yang berjasa dalam bidang perjuangan dan tokoh - tokoh yang berhasil mengangkat nama Indonesia di mata negara lain.
     Saya memilih untuk mewawancarai tokoh yang sangat penting dalam dunia persilatan dan sekaligus guru silat di SMA Labschool Kebayoran, bapak Monu Katili. Alasan saya mewawancarai beliau karena beliau telah berhasil mengangkat dunia persilatan hingga ke dunia international, bahkan mendirikan perguruan silat di luar juga yang dilatih oleh murid - murid beliau. Dan pak Monu sendiri berkata bahwa dalam waktu dekat kira – kira bulan juli, insyallah beliau akan pergi untuk mengadakan latihan bersama di Switzerland dan perisai diri di negara lain.
      Pada hari kamis tanggal 30 bulan may tahun 2013, saya datang kesekolah pada pukul 9 pagi karena saya sakit, saya datang hanya untuk melakukan wawancara. Saat saya datang beliau baru saja akan ganti baju karena habis selesai melakukan latihan silat pada murid SMP. Beliau sedang bersama dengan beberapa murid SMP dan 2 pelatih silat yang bernama bapak Kasno dan bapak Agung yang berbeda satu tingkat dibawah bapak Monu. Saya meminta waktu kepada bapak Monu dan beliau memperbolehkan dengan ramah. Kebetulan saya pernah menjadi murid beliau saat saya SMP di Labschool Kebayoran jadi kami dapat lebih mudah dalam berkomunikasi.  Dan berikut ini adalah hasil wawancara yang saya dapat.

Biografi

     Beliau bernama panjang Limonu Katili atau akrab dipanggil dengan nama bapak monu, lahir di Jakarta, 25 april 1951, dengan usia 62 tahun beliau memiliki peran di dunia persilatan perguruan Perisai Diri di dunia international. Bapak Monu memiliki istri yang bernama ibu  Enny Irwanny Hulu, dan dilengkapi dengan tiga orang anak, 2 anak perempuan yang diberi nama Kachi Katili dan Dara Katili, dan seorang anak laki – laki yang diberi nama Muhammad Ghaiz. Bapak Limonu Katili mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas atau SMA di SMA 1 Makassar. Beliau lalu melanjutkan berkuliah di Universitas Indonesia. Bapak Monu Katili juga merupakan seorang pensiunan dari Bank Exim atau Bank Ekspor Impor Beliau sendiri sudah berada di perguruan perisai diri selama 45 tahun lamanya. Dan dalam waktu 45 tahun tersebut beliau berhasil mendidik murid murid yang menyebarkan Perisai Diri ke dunia international


     Beliau bercerita kepada saya, bahwa, awalnya yang dapat membuat beliau tertarik dan akhirnya mengikuti kegiatan silat merupakan pada saat beliau kelas 2 SMP, pada awalnya beliau tertarik saat melihat tetangga beliau yang berlatih silat. Tetangga beliau merupakan  seorang guru yang berlatih silat, tetapi guru tersebut berlatih tanpa memiliki perguruan, beliau mengatakan bahwa tetangga beliau hanya seperti pendekar - pendekar digunung saja. Dibawah bimbingan guru tersebut, bapak Monu Katili berlatih dan menghabiskan waktu selama 2 tahun mempelajari teknik – teknik yang diketahui guru beliau tersebut. Setelah 2 tahun lamanya berlatih silat dibawah bimbingan guru tersebut, guru beliau berkata "Habis ilmu saya, kamu cari guru lain, yang bisa melatih kamu lebih baik. Kalau kamu sudah jadi guru atau pelatih, silahkan ajari anak - anak saya". Beliau pun menepatinya dan pada akhirnya berhasil melatih anak guru beliau hingga tingkat 2 setengah tahun pada tahun 1966, dalam waktu 5 semester. Tetapi anak dari guru beliau tidak berlanjut hingga tingkat pelatih seperti pak Monu. Bapak Monu melatih anak dari guru beliau 2 tahun sebelum bapak Monu masuk kedalam Perisai Diri. Bapak Monu Katili pertama kali masuk dan pertama kali berlatih dalam perguruan Perisai Diri adalah pada umur 1968, di usia-nya pada umur 17 tahun dan masih terus berlanjut hingga hari ini.

     Selanjutnya beliau bercerita kepada saya mengenai pelatihan – pelatihan yang beliau dapat, merupakan salah satu alasan Perisai Diri unik. Beliau berkata bahwa pelatihan yang diterima di perisai diri berbeda dengan pelatihan yang didapat dari perguruan lain selain Perisai Diri. Jika di perguruan lain lebih mengenal jurus jurus silat, di perisai diri yang dikenal dan lebih diajarkan adalah teknik gerakan. Menurut perguruan – perguruan yang ada, jurus merupakan kumpulan beberapa teknik yang bisa dirangkai tersendiri hingga mendapat gerakan yang tidak putus putus. Perisai diri mengajarkan silat yang dapat di improvisasi sesuai keadaan dan situasinya, jika situasi tidak seperti yang dihafalan, maka dapat diubah sesuai situasi yang dibutuhkan. anak anak tingkat dasar diajarkan kreativitas bagaimana merangkai teknik sendiri dari pikirannya sendiri, yang awalnya dari hafalan, kemudian merangkai urutan gerangkai yang baru yang terdiri dari gerakan - gerakan yang sebelumnya sudah diajarkan tetapi tidak urut seperti hafalan lagi. pelatihan serang hindar merupakan pelatihan awal dari tingkat dasar sampai tingkat pendekar merupakan serang hindar dimana diajarkan bagaimana orang menyerang dan bagaimana orang menghindar sesuai dengan posisi yang ada pada saat itu. 

     Saya sendiri sempat diajari teknik – teknik silat oleh bapak Monu Katili dan saya cukup terkejut dengan kekuatan dan ketahanan fisik bapak Monu walau dengan usia yang dapat dikatakan sudah tidak muda lagi. Yang membuat saya terkejut juga adalah bahwa selama ini saya telah dilatih oleh salah satu dari segelintir orang yang dapat mencapai tingkatan pendekar yaitu tingkatan paling tinggi dalam perguruan Perisai Diri, dan juga berhasil mendirikan perguruan Perisai diri di Switzerland.

Peran Dalam Membawa Silat ke Dunia International

     Bapak Monu sendiri dalam Perisai Diri merupakan orang yang memiliki tingkat paling tinggi yaitu pendekar. Untuk mencapai tingkat pendekar, seseorang harus melewati 7 tingkatan sebelum dapat menjadi pelatih, saya sendiri baru sampai sabuk hitam saat saya berlatih di SMP yaitu tingkat kedua setelah sabuk dasar yaitu sabuk putih. Selanjutnya di tingkatan pelatih, mendapatkan sabuk biru, lalu setelah berlatih selama dua tahun, akan naik menjadi tingkatan biru merah dan berlatih lagi selama dua tahun. Setelah melewati tingkatan biru merah, maka akan naik ke tingkatan merah. Di tingkatan merah selama 3 tahun juga akan mencapi tingkatan merah kuning yang dimiliki oleh pak Kasno dan 3 tahun kemudian akan mendapat gelar pendekar muda seperti pak Agung. Pak Monu di tingkatan terakhir yaitu Pendekar atau tingkatan kuning emas. Tidak mudah untuk dapat pada tingkatan tersebut, perlu bertahun – tahun latihan dan pengalaman. Untuk mencapai tingkatan tersebut sudah cukup sulit, tetapi pak Monu berhasil mencapainya. Tidak berhenti disitu, pak Mono juga berhasil berperan penting di mancanegara.
     Peran bapak Monu Katili di dunia international bukanlah dalam mengikuti perlombaan – perlombaan di mancanegara, melainkan beliau membimbing generasi – generasi muda hingga dapat bersaing di tingkat international dan beliau juga berhasil mendirikan perguruan Perisai Diri di luar negri dan mengharumkan nama persilatan dan mempertahankan kebudayaan – kebudayaan Indonesia. Dalam bidang perlombaan sendiri, beliau baru hanya mengikuti hingga tingkat DKI Jakarta Selatan dan menjadi Juara Jakarta Selatan. Beliau berkata jika jika dalam suatu perlombaan melawan seseorang dari perguruan lain, beliau akan maju, tetapi jika lawannya dari perguruan sendiri dan lebih hebat, beliau akan mundur dan melepaskan kesempatan tersebut.

     Selama ini bapak Monu Katili telah melatih di Jakarta, lalu beliau juga sempat melakukan pelatihan perisai diri di daerah Makasar dengan sepupu sepupu beliau yang beliau latih tetapi tidak secara resmi, tetapi kebanyakan yang resmi dilakukan di Jakarta. Bapak Monu Katili sendiri hingga saat ini melatih di SMP Labschool Kebayoran dan silat dimasukan kedalam kurikulum atau pelajaran. Saya sendiri sangat menghargai keputusan untuk memasukan silat kedalam kegiatan – kegiatan kepada murid – murid SMP, karena pada saat SMP murid tidak terlalu sibuk seperti saat SMA dan sudah cukup dewasa tidak seperti anak SD. Pada tahun 1999 setelah pensiun dari Bank Exim, kemudian, dalam kurun waktu 15 hari, beliau dimintaitolong untuk melatih silat di Switzerland selama kurun waktu 3 bulan. Di Switzerland, pak Monu berkata bahwa murid - murid dari perguruan paman beliau  tertarik dan meminta untuk dilatih dibawah pelatihan bapak Limonu Katili. Setelah meminta izin paman beliau akhirnya beliau melatih murid – murid tersebut. Paman beliau juga memiliki perguruan silat di Switzerland yang bernama Haka Tahir yang ada di Switzerland terlebih dahulu. Lalu, selanjutnya beliau bersama 2 orang lainnya yang merupakan orang berkebangsaan asing, yang bernama Pascal Stiefenhoffer dan Chantal Mattes, berhasil mendirikan perguruan Perisai Diri di Switzerland pada bulan Oktober tahun 1999. Dan mereka masih melatih perguruan Perisai Diri hingga saat ini di Switzerland. Pada bulan juli yang akan datang, bapak Monu Katili akan diundang kembali ke Switzerland dan melakukan pelatihan bersawa selama 10 hari disana dan ditutup dengan ujian kenaikan tingkat seperti yang sudah di lakukan pada tahun 1999, 2002, 2012, dan Insyallah 2013 ini. 


     Adik seperguruan bapak Monu Katili ada juga yang sudah mendirikan Perguruan Perisai Diri di german sebelum bapak Monu mendirikan Perguruan Perisai Diri di Swiss. Perguruan Perisai Diri tersebut dibuka selama 11 tahun dan 11 bulan. Beliau juga memiliki seorang murid, murid beliau tersebut merupakan lulusan universitas itb, setelah lulus dari itb murid beliau kemudian mengambil s2 di German, dia mengambil gelar doctor di German. lalu pulang kembali ke Indonesia. Lalu diteruskan oleh adik seperguruannya yang merupakan ketua perguruan perisai diri di solo, kemudian menjadi ketua perisai diri di itb lalu berangkat ke German dan akhirnya membuka Perguruan Perisai diri di German.

     Kemudian beliau juga bercerita bahwa beliau pernah melatih seorang murid, yang sekarang berhasil mendirikan perguruan Perisai Diri di Inggris hingga mendapat dana dari kerajaan Inggris. Lalu murid dari murid bapak Monu, yang kemudian belajar di indonesia selama 9 bulan, pada akhirnya berhasil mendirikan perguruan Perisai Diri di Prancis. Adik seperguruan yang lain ada yang dilatih tidak secara langsung di Australia dan sekarang sudah menjadi seorang pelatih lalu tinggal di Swedia dan pada akhirnya berhasil mendirikan perguruan Perisai Diri di Swedia.
     Rencananya, Insyallah pada tahun ini bapak Limonu Katili akan mengunjungi beberapa perguruan Perisai Diri di mancanegara. Beliau telah menerima beberapa undangan dari perguruan Perisai Diri di  negara luar untuk melakukan latihan bersama dan ujian kenaikan tingkat. Beliau akan menetap dan melatih 10 hari Switzerland, selanjutnya akan berangkat, tinggal, dan melatih di german selama satu minggu, dan selanjutnya ke Prancis dalam waktu satu minggu juga.
     Jika kira – kira di hitung, bapak Limonu Katili berhasil mendirikan di satu negara secara langsung dan 4 negara secara tidak langsung. Bapak Monu mendirikan perisai diri di Switzerland tetapi berhasil mendidik murid – muridnya yang pada akhirnya berhasil mengikuti jejak bapak Monu Katili dan terimakasih kepada bapak Monu pada akhirnya perguruan Perisai Diri dapat tersebar lebih luas.
     Saat saya bertanya mengenai tingkatan beliau, pak Monu mengatakan: “Setelah tingkatan Pendekar tidak akan ada lagi tes kenaikan tingkat tetapi dalam ilmu tidak pernah habis, dia berkembang terus, makin kita cerdas makin ada ilmu yang kita peroleh kemudian. Bagaima lagi saya mau ikut aliran mana lagi lagi, wong disini nggak abis abis pelajarannya” begitulah kegigihan pak Monu dalam berlatih dan menuntut ilmu dalam dunia persilatan. Kita sendiri yang masih muda belum tentu dapat serajin itu dalam hal pelajaran, tetapi, pak Monu di usianya yang sudah 63 tahun masih berkata seperti itu dan terus berlatih hingga hari ini.

     Pak Monu juga memiliki pesan untuk anak muda dan siswa Labschool, beliau berkata:
“Untuk yang berbakat silat pelihara bakat kamu, diluar yang dipelajari disekolah kemahiran kita dan yang menyangkut kebudayaan itu akan berguna untuk menyebar keseluruh dunia. Sekarang silat termasuk perisai diri disukai oleh bangsa lain. Australia sudah menjadi multi nation, terdiri dari orang – orang dari berbagai budaya seperti Indonesia. Disana 4 negara bagian sudah terdapat perisai diri dan sudah membuat musyawarah nasional sendiri bahkan membuat kejuaraan nasional sendiri. Jika kita tidak belajar sungguh – sungguh, kita akan belajar dari mereka bukan sebaliknya”





"Latihan di PLN"

"Pak Monu saat menjabat sebagai Ketua Kelatnas Indonesia Perisai Diri DKI Jakarta Selatan 1993"


"Pak Monu saat tingkat Pendekar Muda"

"Pak Monu dengan 2 orang Pendekar dan Pendekar Muda (3 orang ber-badge kuning dengan tulisan "PD" merah Pendekar )"


"Pak Monu dan muridnya saat diundang kembali ke Switzerland pada tahun 2012 (Ke-4 dari kiri dengan badge Pendekar warna kuning)"






No comments:

Post a Comment