Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi M.Zhafran Adela XI IPA1



Roslaellah Sally, Saksi Pembantaian Westerling


Saya mendapat tugas sejarah dari SMA Labschool Kebayoran untuk mewawancarai seseorang yang pernah menjadi pelaku sejarah ataupun orang yang pernah menjadi saksi sejarah. Awalnya saya merasa kesulitan mencari narasumber sejarah. Saya sudah berkeliling untuk mencari panti jompo siapa tau saya bisa menemukan orang yang pernah menjadi pelaku sejarah namun saya ternyata mendapat kesulitan karena panti jompo yang biasanya saya temukan orang-orangnya tidak pernah menjadi pelaku sejarah ataupun menjadi saksi sejarah. Jika pun saya menemukan panti jompo yang berisi para veteran perang, pengurus panti jompo itu tidak mengizinkan para pelajar atau para mahasiswa untuk mewawancarai mereka karena umur mereka yang sudah diatas 80 tahunan dan mereka sudah sulit untuk berbicara.Lalu pada hari Rabu tanggal 29 Mei 2013 kemaren saya, Satrio, Rio, Norman, Eki, Ghibon sempat berkunjung ke museum Polri yang ada di daerah Blok M untuk membuat tugas mulok. Dari situ kami pergi ke panti jompo sosial yang ada di daerah Brawijaya. Disana kami bertemu dengan pak Heru. Pak Heru menyarankan kami untuk pergi ke IKPNI yang ada didaerah Matraman. Setelah sampai disana karena saya merasa lelah saya tidak ikut wawancara ke dalam kantor IKPNI-nya, saya hanya menunggu di mobil bersama Eki. Tapi setelah saya pikirkan orang yang harus diwawancara tidak harus keluarga pahlawan. Kerabat, saudara, keluarga pun bisa menjadi salah satu narasumber. Akhirnya saya memutuskan untuk mewawancarai nenek saya yang berasal dari ibu saya. Saya mewawancarai Ibu Ros yang pernah menjadi saksi pembantaian Westerling. Namun karena usia nenek saya saat itu masih sangat kecil sekali dia tidak ingat secara menyeluruh apa yang terjadi saat pembantaian Westerling itu.





BIOGRAFI

Nenek saya bernama Roslaellah Sally Beliau lahir tanggal 15 Mei 1942. Nenek saya ini biasa dipanggil dengan panggilan Ibu Ros. Beliau memiliki bapak yang bernama H.Abdullah Malik dan ibu yang bernama Hj.Idale . Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ibu Ros dan keluarganya tinggal di kota Cabenge Sulawesi Selatan. Bapak beliau adalah salah satu tentara angkatan darat di Sulawesi Selatan. Ibu Ros menikah dengan Abdullah Sally yang nantinya adalah tentara pelajar indonesia yang dikirim untuk belajar di Jepang. Ibu ros memiliki 3 anak yaitu Kartini Sally sebagai anak tertua dan juga merupakan ibu saya. Yang kedua adalah . dan yang ketiga adalah .Ibu Ros berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Beliau mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah SMP di Ujung Pandang dan SMA di Ujung Pandang. Beliau memiliki 5 cucu.Beliau pindah ke Jakarta pada bulan Februari tahun 1963 karena mengikuti pekerjaan suaminya.



KESAKSIAN

Sekitar akhir tahun 1946 terjadi Peristiwa Pembantaian Westerling oleh Belanda di Sulawesi Selatan. Ibu Ros yang masih berusia kurang lebih 5 tahun beserta keluarganya pada saat itu berencana pergi ke daerah Makassar. Beliau dan keluarga pergi kesana untuk mengungjungi keluarga mereka yang ada disana. Tapi akhirnya mereka batal pergi kesana karena ada kabar terjadi penyerangan di desa batua yang berada di dekat kota Makassar. Itulah awal dari peristiwa westerling. Karena masih kecil nenek saya tidak begitu ingat dengan kejadian-kejadian di sekitarnya. Tapi ada satu hal yang sampai sekarang dia ingat.



Kurang lebih seminggu setelah rencana mereka ke Makassar gagal, rumah mereka kedatangan seorang pria yang kalau tidak salah adalah teman ayah beliau. Ibu Ros lupa nama pria itu. Pria tersebut bercerita kepada ibu ros dan keluarga tentang apa yang dia alami ketika terjadi penyerangan westerling tersebut di beberapa desa dekat Makassar. Beberapa hari penyerangan terjadi pria tersebut yang bertempat tinggal di sebuah desa dekat desa batua sedang pergi keluar desa karena ada sebuah kepentingan. Ketika dia kembali ke desa tempat tinggal nya, dari kejauhan dia melihat kerusuhan terjadi di desa tersebut. Beberapa pasukan Belanda menggeledah rumah-rumah penduduk dan dibawa entah kemana. Melihat hal itu pria tersebut berlari menjauhi desa nya untuk menghindari para pasukan Belanda. Dia terus berkelana ke desa-desa yang aman dari para pasukan Belanda. Dan akhirnya dia sampai di desa cabenge dan bertemu ayah ibu ros dan beberapa temannya. Ayah ibu ros dan teman-temannya membantu pria tersebut mencukupi kebutuhan hidupnya.



Latar Belakang Peristiwa Westerling

Pada 9 November 1946, Letnan Jenderal Spoor dan Kepala Stafnya, Mayor Jenderal Buurman van Vreeden memanggil seluruh pimpinan pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Batavia. Diputuskan untuk mengirim pasukan khusus dari DST pimpinan Westerling untuk menghancurkan kekuatan bersenjata Republik serta mematahkan semangat rakyat yang mendukung Republik Indonesia. Westerling diberi kekuasaan penuh untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu.

Pada 15 November 1946, Letnan I Vermeulen memimpin rombongan yang terdiri dari 20 orang pasukan dari Depot Pasukan Khusus (DST) menuju Makassar. Sebelumnya, NEFIS telah mendirikan markasnya di Makassar. Pasukan khusus tersebut diperbantukan ke garnisun pasukan KNIL yang telah terbentuk sejak Oktober 1945. Anggota DST segera memulai tugas intelnya untuk melacak keberadaan pimpinan perjuangan Republik serta para pendukung mereka.

Westerling sendiri baru tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST. Dia mendirikan markasnya di desa Matoangin. Di sini dia menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), di mana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. Suatu buku pedoman resmi untuk Counter Insurgency.


Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu desa Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di desa Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.

Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.

Fase kedua dimulai, yaitu mencari "kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh". Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama "pemberontak" yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala Adat dan Kepala Desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama "Standrecht" “ pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir "pemberontak, teroris dan perampok". Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.

Demikianlah "sweeping a la Westerling". Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.

Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran desa Kalungkuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.



Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polombangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar berenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan desa Komara. Pasukan lain mengurung Polombangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Goa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerjasama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.

Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.

Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya "hanya" 600 orang.

Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh ijin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.

Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kadaluarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.



PENUTUP

Walaupun masih berumur 5 tahun Ibu Ros sudah merasakan betapa sulit dan pahitnya kehidupan bangsa Indonesia pada saat penjajahan. Apalagi banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya seperti peristiwa pembantaian westerling tersebut. Sampai sekarang Ibu Ros masih ingat betapa sedihnya wajah pria tersebut saat menceritakan pengalamannya melihat kekejaman pasukan belanda di desa tempat tinggalnya.

No comments:

Post a Comment