Monday, 20 May 2013

Tugas-2 Biografi Nabil Ahmad XI IPS 2


Nyai Zaleha, Kepala Sekolah yang Ahli Bermain Tennis.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Nyai Hj.Zaleha yang merupakan nenek saya dari keluarga bapak saya. Walaupun sebenarnya di keluarga saya ada yang merupakan mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), mantan Gubernur Provinsi Bengkulu, dan Mantan Hakim Tinggi kota Palembang, saya lebih memilih mewawancara nenek saya karena bukan hanya karena beliau masih hidup dan masih dapat mengingat kejadian-kejadian yang ada, beliau juga merupakan mantan kepala sekolah dan saya yang masih seorang pelajar sehingga mewawancara nenek saya sangat cocok buat saya karena beliau merupakan orang yang ikut berparisipasi dalam dunia pendidikan.
                Saya mewawancarai beliau di kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan tepatnya di rumah keluarga yang berada di Jalan Ariodillah No.4 RT 32 RW 11. Saya mewawancarai beliau di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan karena pada waktu itu saya sedang berada disana sehingga saya menyempatkan waktu saya untuk mewawancarai nenek saya

A. Biografi
                Nyai Hj.Zaleha lahir di Surulangun Rawas, kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia pada tanggal 6 bulan Juni tahun 1934. Beliau adalah anak dari (Almarhum) H. Ahmad dan (Almarhumah) Hj. Mariatulkoptia. Beliau adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara. Saudara beliau adalah: (Almarhum) Mohamad Hasan yang merupakan mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dengan masa jabatan pada dari tanggal 3 bulan Oktober tahun 1971 sampai dengan tanggal 24 bulan Juni tahun 1974, (Almarhum) Drs. Abdul Chalik yang merupakan mantan Gubernur Provinsi Bengkulu yang kedua dengan masa jabatan dari tahun 1974 hingga tahun 1979, (Almarhum) Abdullah Basri, S.H yang merupakan mantan Hakim Tinggi kota Palembang, (Almarhumah) Hj. Ning Cik,(Almarhumah) Hj. Khalifah, (Almarhumah) Hj. Zainona, Hj. Zaleha, dan Hj. Marsida.
Beliau tinggal di Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan hingga kelas 6 Sekolah Dasar(SD). Pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), pada tahun pertama beliau bersekolah di  Sekolah Menengah Pertama Negeri(SMPN) 1 kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, lalu kemudian beliau bersekolah di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) di Jogjakarta, tepatnya di Sekolah Guru Kepandaian Putri(SGKP) Jetis,Lempuyangan. Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) merupakan sekolah jurusan. Pada kelas 1 Sekolah Menengah atas, beliau berpindah lagi, yakni ke Ibukota Negara Indonesia yaitu Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta, Beliau tinggal di Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta hingga pendidikan beliau selesai. Pada saat di Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta, beliau tinggal di Jalan Teuku Umar.Pada saat muda, menurut beliau, beliau adalah orang yang sangat teliti dan sering menyimpan data-data penting, kebiasaan menyimpan data-data penting ini masih dilakukan hingga sekarang walaupun menurut beliau sendiri beliau merasa sudah tidak seteliti seperti saat masa mudanya. Setelah selesai bersekolah, beliau menganggur terlebih dahulu kurang lebih selama 1 tahun, lalu beliau menjadi Kepala Sekolah tanpa menjadi guru terlebih dahulu di SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan ini sekarang sudah tidak ada lagi.
Beliau menjadi Kepala Sekolah SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan hingga tahun 1963, beliau berhenti menjadi Kepala Sekolah SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan karena beliau menikah dengan (Almarhum) Eddy Parman Tirtoredjo yang merupakan kakek saya. Beliau menikah pada tanggal 1 bulan Maret tahun 1963 di Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Pada saat berhenti kerja, beliau tidak mendapat surat berhenti tetapi mendapat surat cuti diluar tanggungan Negara hingga sekarang. Setelah menikah, beliau pada saat itu tinggal di Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Surat Menikah Nyai Zaleha
Pada tahun 1965, beliau sering sekali berpergian ke Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta untuk bertemu dengan kakak beliau yaitu Mohamad Hasan karena pada saat itu beliau(Mohamad Hasan) bertugas di Jakarta. Pada tanggal 30 bulan September tahun 1965 tepatnya pada saat kejadian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) beliau sedang dalam perjalanan dari Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta untuk pulang ke Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Dengan (Almarhum) Eddy Parman, beliau memiliki 4 orang anak yakni (Almarhumah) Maimunah pada tahun 1965 yang meninggal sesaat setelah di lahirkan, yang kedua adalah Benny Eza Pahlevi Yusuf (Benny) yang merupakan Bapak saya pada tanggal 3, bulan Mei, tahun 1966, yang ketiga adalah Lydiana Yulianti (Lydia) yang lahir pada tanggal 21, bulan Juli pada tahun 1967, yang keempat adalah Deddy Alfiansa (Deddy). yang lahir pada tanggal 14 bulan Mei tahun 1968, Keempat anak beliau lahir di Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.


Kartu Keluarga Nyai Zaleha Pada Tahun 1994
 Pada tahun 1974, karena ada keperluan, beliau dan keluarga pindah ke Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Pada saat awal-awal tahun di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, beliau dan keluarga tinggal di Jalan Bay Salim, rumah di Jl.Bay Salim tersebut hingga sekarang masih dimiliki oleh keluarga saya. Pada tahun 1990-an, beliau dan keluarga akhirnya berpindah dari Jalan Bay Salim ke Jalan Ariodillah No.04 RT 32 RW 11 yang juga masih berada di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, beliau masih tinggal di rumah tersebut hingga sekarang bersama dengan adik bapak saya yaitu Lydiana Yulianti dan keluarga. Beliau memiliki 5 cucu (hingga sekarang), yakni 3 orang Laki-Laki dan 2 orang Perempuan (hingga sekarang) yakni Nabil Ahmad (saya), Nur Putri Bella (adik saya), Muhammad Arsyi Amriansyah ,Adis Puan Sativa, Dan Muhammad Fadli.
Pada tanggal 1 bulan Maret tahun 2010, tepatnya pada ulang tahun pernikahan beliau yang ke 47 dan ulang tahun saya yang ke 14 tahun , suami beliau yang merupakan kakek saya, (Almarhum) Eddy Parman Meninggal dunia. Pada saat beliau (Eddy Parman) meninggal, beliau baru memiliki 4 orang cucu. Beliau dimakamkan di TPU Kebun Bunga kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Surat Kematian Eddy Parman Yang Merupakan Suami Beliau dan Kakek Saya
Beliau memiliki beberapa hobby, pada saat masih muda, beliau memiliki hobby bermain tennis bahkan karena hobby bermain tennis ini, beliau berhasil mewakili Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan dalam pertandingan Pekan Olah Raga Daerah Sumatera Selatan cabang tennis Provinsi Sumatera Selatan. Pada Pertandingan Pekan Olah Raga Daerah Sumatera Selatan cabang tennis tersebut beliau berhasil menjadi juara 2 pada tahun 1969. Menurut beliau, pada saat beliau juara 2, beliau pada saat perjalanan pulang ke kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, beliau diikuti oleh iring-iringan yang sangat panjang dari kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan ke Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan yang berjarak cukup jauh. Pada pertandingan Pekan Olah Raga Daerah Sumatera Selatan tersebut beliau mengikuti pertandingan kelas Ganda Putri bersama dengan Istri dari Kapolres Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Beliau sudah tidak melanjutkan prestasinya ke tingkat nasional karena pada saat itu apabila ingin melanjutkan ke tingkat nasional maka beliau harus ke kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta sementara beliau harus mengurus anak-anak beliau. Hobby bermain tennis ini pun dihentikan. Beliau juga memiliki hobby lain seperti menanam tanaman dan juga hobby memasak. Kedua hobby tersebut masih beliau tekuni hingga sekarang.


Sertifikat Kemenangan Nyai Zaleha Pada Pertandingan Pekan Olah Raga Daerah Sumatera Selatan Tennis Sumatera Selatan Pada Tahun 1969
Beliau juga memiliki beberapa rumah dan tanah di Provinsi Sumatera Selatan. Beliau memiliki tanah di Kota Lubuk Linggau Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan, Di Ulak Sarung, Megang Sakti, Kota Lubuk Linggau Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan dan Rumah Sewa di Kota Lubuk Linggau Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Beliau juga memiliki tanah di kota Palembang ,Provinsi Sumatera Selatan,Indonesia.
Peran
Beliau memiliki peran penting dalam kesaksian-kesaksian atas kejadian-jadian yang ada di negara Indonesia ini. Beliau pada saat Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945, beliau pada saat itu masih berada di tingkat Sekolah Dasar (SD). Pada saat kejadian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI), beliau sedang ada di perjalanan dari kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta ke kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Menurut kesaksian beliau yang beliau dengar dari radio dan koran, kejadian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia(G30S PKI) tersebut, adalah gerakan penculikan beberapa jendral dan dibunuh dan di buang di Lubang Buaya. Pada masa penjajahan, beliau juga merasakan bagaimana penjajahan dari Negara Belanda, namun menurut beliau, pada saat pendudukan oleh negara Jepang, para tentara negara Jepang tidak sempat menduduki kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan sehingga beliau tidak sempat merasakan pendudukan oleh negara Jepang, yang artinya bahwa beliau juga termasuk saksi bahwa Jepang tidak sempat menduduki kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.
Seperti yang saya bilang pada awal tadi, beliau juga merupakan mantan Kepala Sekolah SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan,Indonesia. Peranan beliau dalam kepengurusan SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan ini sangat penting karena beliau adalah Kepala Sekolah Pertama dan setelah beliau berhenti menjadi kepala sekolah SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, SKP Negeri kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan,Indonesia, tersebut di ubah tidak menjadi SKP lagi karena berubahnya sistem pembelajaran di Negara Indonesia yang menjadi seperti sistem pendidikan yang ada pada saat ini.
Beliau juga berhasil membawa nama harum kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, karena telah memenangkan pertandingan Pekan Olah Raga Daerah Sumatera Selatan cabang tennis pada tahun 1969, di kelas ganda putri, berkat beliau, nama kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, menjadi terkenal walaupun beliau tidak melajutkan prestasi beliau ke tingkat nasional.
Sekian pembahasan saya kali ini, semoga dengan pembahasan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan yang baik dan diambil menjadi pembelajaran dalam hidup kita kedepan, semoga kita semua dapat hidup sukses dan bahagia hingga akhir hayat hidup kita. Amin.


Foto Nenek Saya dan Keluarga Saya

No comments:

Post a Comment